Wild Things: There’s One In All of Us

Kamu pernah nggak nonton film Where The Wild Things Are? Film arahan Spike Jonze itu mengangkat cerita dari buku karangan Maurice Sendak yang berjudul sama.

Ceritanya sebenernya sangat simpel karena memang ditujukan sebagai cerita anak-anak (buku cerita bergambar). Tapi cara penyajian Jonze yang ‘beda’ di versi filmnya banyak menuai kritik sekaligus pujian.

Dikritik karena dinilai terlalu ‘dewasa’ dan bernuansa depresif (beberapa laporan mengatakan anak-anak kecil nangis di bioskop saat nonton film ini…wew).

Memang tidak salah jika dikatakan film ini menyorot sisi psikologis seorang anak yang bermasalah dengan emosinya, dan bagaimana ia melampiaskannya kepada orang-orang terdekat. Namun selain kritikan, film ini tentu juga menerima banyak pujian, salah satunya karena dengan bujet yang kecil (kalo nggak salah nggak sampai $100juta), Jonze dinilai berhasil membuat sebuah karya fim yang ‘nyeni’ dan meaningful.

Tapi lagi-lagi, justru itu yang membuat bingung, apakah film ini ditujukan untuk anak-anak atau orang dewasa.

Film ini adalah jenis film ‘nyeleneh’ yang mungkin bakal dicari-cari orang di masa depan karena kelangkaannya, alias rare movie. Dan yang pasti film ini adalah salah satu favoritku sepanjang masa. :)

WTWTA bercerita tentang Max, 10 tahun, yang dihukum ibunya pergi ke kamar tanpa makan malam. Alih-alih menurut, dia malah kabur dan pergi menggunakan perahu layar ke pulau yang dihuni para Wild Thing, Monster-monster ‘labil’ yang masing-masing sifatnya, menurutku, mencerminkan gejolak ego yang ada dalam diri Max sendiri.

Ada Carol yang suka menghancurkan apapun saat sedang kesal, tapi bisa menjadi teman yang sangat baik dalam keadaan tenang. Kemudian ada Douglas yang sifatnya lebih ‘dewasa’ dan berwibawa yang selalu setia menemani Carol. Ada Judith yang culas dan pesimistis. Sementara kekasihnya, Ira cenderung lebih nice dan kooperatif tapi tetep setia pada pasangannya. Alexander si kambing adalah sosok yang sering tidak diperdulikan oleh kelompoknya. Dialah “perasaan diasingkan dan tidak didengar”.

K.W. adalah wild thing cewek lainnya selain Judith. Mungkin banyak yang menganggap K.W. adalah pacarnya Carol. Tapi aku lebih suka menganggap K.W. adalah cerminan sosok Claire, kakak Max yang sifatnya khas remaja broken home yang lebih memilih menghindar dari kawasan yang bermasalah.

Yang terakhir adalah The Bull, si banteng yang bertampang serem tapi pendiam dan nggak pernah ngomong. Bahkan di film dialognya cuma satu di akhir film, “Hey, Max. When you go home. Will you say good things about us?” dan Max menjawab, “Yeah. I will.” Sweet! :)

Wild thing favoritku adalah Carol. Karena karakternya mirip sepertiku. Wakaka. Walau lebih mirip lagi kalo aku merelasikan masa kecilku dengan Max sendiri: anak kecil “tukang ngamuk” yang akhirnya selalu menyesali tindakannya. Makanya kadang-kadang aku sampai mikir dua kali kalo mau nonton DVDnya, karena takut ngungkit-ngungkit emosi masa kecil. Takutnya kebawa-bawa sama mood dan malah berubah jadi episode (depresi). Wakakak. :D

Film yang dirilis tahun 2009 ini layaknya karnaval ‘orang aneh’ yang menawarkan sisa-sisa perasaan mereka yang ada sebagai pertunjukan utama. Kita mengenal emosi-emosi dalam film ini. Frustasi, ketidakseimbangan dunia yang didiami Max sebagai anak kecil, dan berbagai penyesalan yang di kemudian hari menjadi ingatan-ingatan yang menyayat hati ketika kita mengenang sejarah diri kita.

Namun itulah yang menggambarkan dunia anak-anak yang sesungguhnya yang tidak selalu ceria dan penuh warna. Tapi juga ada rasa takut, kesepian, merasa dikucilkan, dan dianggap ‘bermasalah’ karena menunjukkan perasaannya. Akhirnya jadi serba salah, seperti yang juga digambarkan dalam lirik lagu “Worried Shoes” yang mengisi soundtrack filmnya, “Every step that I take is another mistake…”

Soundtrack film ini sendiri digarap oleh Karen O yang notabene adalah vokalis band indie rock Yeah Yeah Yeahs. Jonze tertarik mengajak Karen bekerjasama karena dia menganggap Karen memiliki sisi “anak-anak” yang alami dalam dirinya di setiap penampilannya.

Film ini adalah sebuah potongan kehidupan yang akhirnya diangkat dan dipertunjukkan kepada dunia. Dan menggoda kita untuk kembali mengeksplor dunia anak-anak yang mungkin sudah lama kita tinggalkan.

Kenyataannya kita pernah melewati fase ini. Kita pernah hidup di dunia seperti ini. Sebuah dunia yang penuh keputusasaan tapi juga penuh harapan dan impian. Dimana setiap hal sepele bisa menjadi sesuatu yang diributkan. Penyesalan-penyesalan yang miris but finally we smile at them.

Ini seperti sebuah permainan yang menegangkan dan penuh kontradiksi dengan dunianya sendiri. Tapi ketika keluar darinya, kita sadar kita menjadi pribadi yang mungkin lebih tidak berharap sebanyak sebelumnya. Kita meninggalkannya di belakang kita. We left all the magic.

Tapi, kita masih selalu punya SATU didalam diri kita masing-masing…

The wildness of childhood. :D

About these ads

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s