Awasi Gajahmu

Kemarin, saat menelusuri blog-blog di WordPress membawaku pada mendownload ebook “Mind Your Elephant” oleh Tomi Astikaine, dari halaman blog seorang Guru Inspirator.

Selain karena tampilan sampulnya yang sederhana, awalnya aku nggak begitu ngeh sama ebook ini, karena berada dibawah tema psikologi yang biasanya menuntut perubahan pola pikir besar-besaran. Jadi aku berusaha untuk tidak terlalu terkejut (sok kuat mental XD).

Tapi setelah kubaca lebih lanjut, well, dengan melewatkan beberapa bagian, aku langsung menyukai buku ini dan tertarik untuk mempelajarinya lebih lanjut.

Subjudul ebooknya adalah:

HOW TO GET RID OF YOUR EGO, CONNECT WITH OTHERS AND SAVE THE WORLD

Ya, buku ini memang menegaskan kembali bahwa kita, manusia, adalah makhluk yang amat dikuasai oleh ego kita sendiri. Dan disinilah buku ini membantu kita keluar dan mengenali diri kita sendiri yang sesungguhnya.

Aku tidak bisa bicara terlalu banyak, karena aku juga baru baca sedikit dan bahasanya yang masih dalam Bahasa Inggris juga agak mempersulit. Tapi aku akan mencoba ‘menayangkan’ ulang isinya sebaik mungkin disini.

Awasi Gajahmu

Gajah dalam hal ini adalah representasi dari ego manusia. Keinginan, kekhawatiran, penyesalan, harapan, cita-cita dan pengaruh-pengaruh lingkungan serta budaya tempat kita hidup dan tumbuh tanpa sadar telah menjadi beban kita dalam menjalani hidup.

Kita inget kan sejak kecil saudara-saudara kita sering menanyakan apa cita-citamu jika sudah besar nanti. Itu menunjukkan sejak kecil kita udah dibuat khawatir tentang masa depan, dan yang kemudian menciptakan pola pikir dimana kita cenderung melemahkan potensi-potensi masa kini dengan kekhawatiran-kekhawatiran yang tidak perlu dan bermanfaat.

Menjadi marah karena tidak memahami masalah yang menimpa, mengasihani diri agar menarik perhatian, berusaha membuat orang terkesan dengan berbagai cara, kesal karena hal-hal tidak berjalan sesuai dengan kehendak, mengeluh yang membuat orang terlihat salah adalah makanan-makanan favorit ‘gajah’ di dalam kepala kita.

The life is NOW

Kehidupan yang berjalan adalah SEKARANG. Bukan kemarin atau besok.

Tumbuhkanlah kewaspadaan terhadap pikiran kita sendiri untuk melunturkan pola-pola adiktif/candu, yang membuat kita sering bertindak kompulsif alias melakukan sesuatu hal (yang kadang dengan agak memaksa) tanpa tujuan dan manfaat yang jelas bagi diri sendiri.

Lalu bagaimana kita tahu mana yang ego dan mana yang merupakan pikiran kita sendiri?

Berikut definisinya:

  • Ego adalah gambaran mental dirimu. Yang terbentuk berdasarkan lingkungan dan kondisi. Ini adalah apa yang selama ini kamu kira adalah ‘dirimu’. Kamu menilai segala sesuatu dengan egoisme melalui gambaran mental tentang siapa dirimu.
  • Pikiran adalah alat untuk berpikir secara rasional. Tapi seringnya pikiran tidak banyak bekerja dan ego memanfaatkannya untuk menciptakan pikiran-pikiran yang tak terkontrol (brain chatter, rushing thoughts).
  • Alam sadar adalah kekuatan dari kewaspadaan, sebuah kemampuan untuk waspada terhadap pikiran dan proses berpikir.
  • Kesadaran adalah proses bertahan ketika kamu mulai melepaskan ego dari cara mengidentifikasi segala sesuatu dan belajar tentang siapa diri kamu yang sesungguhnya.

Ketika kita berusaha melawan ego, tanyakanlah pada diri sendiri: siapa yang bicara? Kamu atau gajahmu?

Ketika kita marah atau merasa tidak aman terhadap situasi dan masalah yang menghimpit, merasa gondok karena semua orang tampaknya tidak memahami apa yang kamu pahami, merasa kesepian dan terasing dari keramaian, lihatlah kedalam diri sendiri. Kemarahan adalah usaha pikiran untuk bertahan hidup. Tapi kita bukan pikiran kita. Gantikan marah dengan cinta dan kasih sayang yang akan membunuh pikiran yang dipengaruhi oleh ego.

Kamu adalah apa yang SEDANG kamu lakukan sekarang. Bukan kemarin atau besok.

Jangan letakkan pikiran pada posisi yang mengharuskannya bertahan hidup, seperti kekhawatiran yang tidak perlu, kecemasan akan masa depan, dan penyesalan akan masa lalu.

Untuk menjadi pribadi yang baik, gunakanlah dirimu saja untuk melakukan usaha pada saat sekarang. Salah satu caranya adalah dengan mengawasi kata-kata “aku akan, harus, ingin, harap, seharusnya…” yang muncul dalam pikiran. Itu adalah kata-kata kondisional yang sering membuat kita gelisah dan bahkan stres.

Ketika kita memiliki rencana dan cita-cita, kita sering dikhawatirkan dengan cara mencapainya, bagaimana jika gagal, apa yang dilakukan untuk mempersiapkan diri. Satu-satunya cara mencapainya adalah mulai melakukan dari sekarang. Jika kamu menetapkan hati pada suatu rencana dan cita-cita sebagai tujuan, maka otomatis kamu akan dibawa pada usaha-usaha dalam mencapainya, berbekal motivasi dan apa saja yang kamu dapat dan pelajari selama menjalankan usaha untuk mendapatkannya.

Yang ada hanyalah kamu melakukan atau tidak melakukan. Karena itu janganlah membuang waktu dengan merasa khawatir dan gelisah. Tapi isilah dengan usaha-usaha yang sesungguhnya.

Sekedar menambahkan, yang aku tahu sebagai muslim kita wajib mengidentifikasi diri kita sendiri sebagai seorang MUSLIM lebih dulu sebelum nama ataupun profesi kita. Karena itu nggak salah kalau buku ini juga menuntun kita untuk kembali ke ‘aslinya kita’ yang membuat kita jadi lebih dekat dengan Sang Pencipta, Allah Sang Khalik.

***

Pada tahap pertama ini kita dikuatkan untuk fokus pada masa kini dan melakukan yang terbaik yang kita bisa untuk menghasilkan masa depan yang kita harapakan. Kita yang sesungguhnya berada di saat sekarang, bukan nanti atau kemarin.

Pada tahap selanjutnya buku ini membahas tentang bagaimana kita berhubungan dengan orang lain dan komunitas yang lebih besar dan menyelamatkan dunia (?).

Sebesar itukah pengaruh ego? Aku belum tahu.

Aku belum membaca bagian keduanya. Aku mencoba mempelajari satu bab setiap kali. Dan kemudian Insya Allah membagikannya di blog ini. Semoga aku mampu menyajikan poin-poin pentingnya disini dengan sebaik-baiknya.

Semoga bermanfaat. Dan jangan lupa…be your truly self. :)

About these ads

9 pemikiran pada “Awasi Gajahmu

  1. Wah hebat… menulis tiap hari ya??
    Wah saya rasanya tidak mungkin seperti agan…
    bs update 1 minggu sekali aja udah bagus… hehehe…
    tapi akan saya usahakan 1/2 minggu skali untuk update. :)

    Terkait tulisan diatas. memang kadang ego mengalahkan pikiran manusia.
    Ego manusia akan keluar disaat2 terdesak. seperti film 2012 yg umumnya masing2 menyelamatkan diri sendiri dari bencana.

    Namun saya agak kurang setuju gan untuk kata2 “Untuk menjadi pribadi yang baik, gunakanlah dirimu saja untuk melakukan usaha pada saat sekarang. Hilangkan kata-kata “aku akan, harus, ingin, seharusnya…” dari pikiran, karena itu adalah makanan gajah/ego.”

    Saya kurang setuju karena setiap manusia mempunyai impian masing2…. jika kita hanya memikirkan saat sekarang dan tidak memikirkan masa depan seolah-olah terkesan kita tidak memiliki tujuan hidup dan akan menjadi mindset “sekarang ya nikmati aja besok ya besok aja”

    jadi agak kurang setuju kalau kita hanya memikirkan saat sekarang :D

    • hehe iya gan, saya anggep ngeblog sebagai ‘terapi menulis’. biar saya juga termotivasi buat belajar hal-hal baru. :)

      oh iya gan. maaf sebenarnya saya yang kurang jelas menjabarkannya. :D
      maksudnya disini adalah bentuk-bentuk kata kondisional seperti itu termasuk pemikiran-pemikiran dari ego yang bisa bikin kita pusing mikirinnya.

      maka yang ditekankan disini kira-kira, jika kita memiliki impian dan rencana-rencana dalam hidup, caranya dalah fokus sama usaha dan pelaksanaannya di masa kini.

      makasih gan, komennya jadi ngingetin sama poin yang terlewatkan itu. biar saya edit.

  2. Ping balik: Dokter Gigi Buaya « The Moon Head

  3. Ping balik: Koloni Semut « The Moon Head

  4. Ping balik: I Am Part of You, You Are Part of Me | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s