Dokter Gigi Buaya

Ini adalah bagian kedua dari ebook “Mind Your Elephant”oleh Tom Astikainen. Baca bagian pertamanya di post ini.

Buaya tidak bisa membersihkan giginya sendiri. Maka datanglah burung kecil yang memakan sisa-sisa makanan dari mulut buaya. Ia tidak takut buaya itu akan memakannya. Karena buaya memahami bahwa si burung kecil bermanfaat bagi dirinya.

Bagian kedua ini membicarakan tidak ada ke-diri-an dalam orang lain dan pentingnya hubungan simbiosis mutualisme.

I am because you are. Keberadaanku adalah keberadaanmu.

Bagian kedua ini juga langsung menyentuhku karena rasa gugupku setiap kali akan menemui Psikiater seperti hari ini, Insya Allah, berubah menjadi rasa kebutuhan yang membebaskan. Dan tentunya ini juga berpengaruh pada hubungan sosial secara umum. :)

Sudut pandang global

Lama kita berhubungan dengan satu sama lain berdasarkan rasa tidak aman dan jangkauan indera kita yang sempit: penglihatan, penciuman, pengecapan dan sentuhan. Tapi ketika kita melihat dengan sudut pandang global, tidak ada lagi orang asing. Aku adalah semua orang. Semua orang adalah aku. Kesatuan yang tidak dapat dipersepsi oleh pemikiran yang dibebani oleh ‘gajah’.

Kita hidup di jaman yang penuh  kekacauan dan bencana global. Dan satu-satunya cara untuk mengatasi ini adalah dengan kebersamaan, kesatuan yang tanpa dihalangi oleh ego/gajah.

Kita tentu sering mendengar betapa manusia adalah makhluk sosial, tidak bisa hidup tanpa yang lainnya. Itu adalah benar dan konsep ketergantungan terhadap orang lain bukanlah hal yang buruk jika kita tahu bagaimana memahaminya dengan benar.

Memberi dan menerima

Sangat penting kita melihat orang lain dan berpikir bagaimana ia bisa membantu kita dan memberi manfaat bagi diri kita.

Memberi dengan tulus adalah memberi tanpa mengharap pamrih. Kita harus menyingkirkan si gajah dari niatan kita dalam memberi kepada orang lain dalam komunitas kita tanpa mengharap lebih dihargai atau dinilai lebih. Pikirkan bahwa pemberianmu itu adalah baik untuk semua orang.

Menerima pemberian orang lain bukan dilihat dari sudut pandang egoisme. Tapi menyenangkan orang lain dengan merasa bebas menerima apa yang disediakan oleh kita. Kita bisa membuat orang yang memberi kita senang dengan hidup dalam keterpenuhan, menyelesaikan niat baik orang tersebut dengan menerima pemberiannya dengan senang hati dan penuh perasaan.

Kita terbiasa tanpa sadar ‘mengajarkan’ orang lain bagaimana harus bersikap kepada kita. Kita berusaha membentuk orang lain menjadi seperti yang kita mau. Itu adalah gajah. Sementara burung kecil yang membersihkan gigi buaya adalah ketika kita berpikir bahwa hubungan kita dengan orang lain hanya bisa memengaruhi diri kita sendiri.

Maka perhatikanlah dalam setiap hubungan, siapa yang sedang bertindak, burung kecil atau gajah yang menyamar menjadi burung.

Komunikasi assertive/tegas

Dalam komunikasi asertif, kita mempertahankan hak-hak kita tapi juga menghargai orang lain. Menghargai diri sendiri dan jujur mengungkapkan perasaan menunjukkan kepedulian kita pada sensitifitas. Bersikaplah bertanggungjawab terhadap hak-hak orang lain. Ini akan membuat orang merasa bernilai dan dihargai sekaligus memudahkannya memahami posisimu dan dengan demikian menaruh kepercayaan dan rasa penghargaan kepadamu.

Merasa sendirian

Semakin besar ego, semakin kita merasa terpisah dari orang lain. Dengan menyingkirkan ego, kita sadar kita tidak memiliki apapun di dunia ini untuk diri kita sendiri. Tapi kitalah yang milik dunia, milik semua orang, bukan secara terpisah, tapi sebagai satu kesatuan.

Penyelidikan apresiatif

Penyelidikan apresiatif adalah bersikap waspada dengan menyegerakan menyelesaikan masalah dengan orang lain.

Misalnya, kamu ada janji sama pacar mau jalan bareng. Eh ternyata ada saudara kamu yang meninggal dan kamu sama keluarga akan pergi ke rumah saudara itu di hari yang kamu janjikan untuk pergi sama pacar. Segeralah konfirmasi perubahan rencana itu sama pacar kamu. Bangun empati dan pahamilah perasaannya. Jika mungkin, tawarkan rencana lain atau hari lain untuk kalian berdua, atau diskusikan hingga masalah antara kalian berdua selesai.

Orangtua dan anak

Tentu kita sering merasa frustasi dalam mengasuh anak-anak. Jangan anggap itu beban. Tapi anggaplah itu pemberian, wujud permintaan anak untuk diterima dalam kesatuan. Tugas penting orangtua adalah memberitahu batas-batas mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Ini akan percuma jika orangtua tidak bersedia membantu karena sibuk dengan memberi makan ego/gajahnya dengan pemikiran bahwa anak-anaknya selalu membuat stres.

Bersabarlah dengan cara konsisten terhadap perintah dan hukuman yang Anda terapkan pada anak, untuk memberitahu mereka bahwa orangtuanya selalu ada untuk menasehati sekaligus memberi dukungan.

Perlakukan anak-anak sama seperti orang lainnya. Sama-ratakan hak dan kewajiban antara anak dan orangtua sehingga masing-masing belajar bertanggungjawab pada dirinya sendiri dan membantu untuk saling mengingatkan.

Butuh kerjasama dan saling dukung antara anak dan orangtua untuk menciptakan hubungan yang harmonis. Jika masing-masing bisa menyingkirkan egonya, orangtua bisa menjadi sumber pengetahuan, mentor, pelatih sekaligus guru bagi anak-anaknya. Dan anak bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan baru bagi orangtuanya.

Melepaskan ego

Untuk membantu kita melepaskan ego, kita bisa mencoba membuat daftar barang-barang yang kita miliki, kemudian buang atau berikan atau jual barang-barang yang tidak kita perlukan tanpa ego. Kita akan sadar bahwa ego teridentifikasi oleh benda-benda tersebut.

Belajarlah menilai kebutuhan antara satu sampai sepuluh. Mengenali prioritas pribadi akan membuat kita merasa lebih bebas dan jauh dari rasa khawatir dan gelisah akan kebutuhan-kebutuhan yang tidak perlu.

About these ads

3 pemikiran pada “Dokter Gigi Buaya

  1. Saya menyimak beberapa tulisan Ilham yg menurut saya berat dan perlu ditelaah lebih dalam.
    Sebagai newbie, saya bisa belajar dari Ilham yg produktif dan runut dalam bahasa penulisan.
    Selamat, n maju terus.

    • terimakasih sebelumnya, mbak Ummilia. :)
      saya pun senang jika post2 saya bisa bermanfaat. dan saya lebih senang lagi belajar dari penulis-penulis yang lebih kukuh dedikasinya dalam hal menulis.
      mari kita sama-sama maju dan berbagi inspirasi. :D

  2. Ping-balik: Koloni Semut « The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s