Koloni Semut

Bagian ketiga dari “Mind Your Elephant” menekankan sudut pandang “I am because you are because we are.” Setelah menyingkirkan ego bagi pribadi, kemudian dalam berhubungan dengan orang lain, kini saatnya kita menyingkirkan gajah dari sistem sosial kita.

Bagian ini menguatkan inspirasi praktis untuk membentuk sesuatu yang tidak kecil, yaitu kesatuan dalam komunitas, masyarakat dan pada akhirnya DUNIA. Binatang yang ada dalam bagian ini merupakan panutan yang mesti dicontoh oleh manusia. SEMUT.

Kadang koloni semut disebut sebagai superorganisme sebab mereka beroperasi sebagai kesatuan, bekerja secara kolektif bersama untuk mendukung koloninya. Mereka memiliki sistem yang mengambil bagian-bagiannya dari informasi lokal dan kemudian berjalan terarah dengan sendirinya.

Semut saling menginformasikan rute menuju lokasi sumber makanan. Lalu jika tiba-tiba ada sumber makanan baru, mereka tidak panik karena menganggap pekerjaannya kacau, akan tetapi otomatis sibuk menginformasikan dan menjalani rute baru.

Mereka langsung menjalankan perannya masing-masing sebagai pembawa makanan tanpa harus kebingungan. Mereka adalah komunitas yang terpusat dan dengan kekuatan keterhubungan mereka. Sesuatu yang belum bisa dilakukan oleh manusia.

Namun ada pula sebagian semut yang tidak melakukan apa-apa dan hanya ‘bermeditasi’. Mereka adalah para perencana, para pemikir, namun mereka tetap melayani komunitasnya dengan peran yang berbeda. Mereka adalah para Einstein yang menciptakan bom atom, dan teman-temannya yang bekerja adalah para tentara yang menjatuhkan bom atom itu ke Hiroshima.

Manusia sebenarnya sudah saling terhubung. Namun jika kita menginginkan masyarakat yang lebih memiliki ketahanan sosial dan adil kita tidak bisa mengharapkan budaya kontemporer untuk berfungsi di dalam sistem baru kita. Jika kita ingin meniru komunitas semut, kita harus berfungsi sebagai spesies yang eusosial, yaitu level tertinggi dari organisasi sosial dalam klasifikasi hirarki.

Mampukah kita terdefinisikan melalui hubungan kita dengan sistem dan bukan sebagai perorangan? Mampukah kita berfungsi melalui komunitas-komunitas kita sebagai entitas global, semua berkontribusi bagi kebaikan bersama?

Telah lama diklaim bahwa selama ada manusia maka akan selalu ada perang dan tindak kejahatan. Namun kepercayaan populer mengatakan lain, bahwa kejahatan dan keserakahan dan pola kebiasaan tidak jujur bukanlah sifat alami manusia. Budaya, kebiasaan dan nilai-nilai kita dibentuk oleh produk budaya kita sendiri. Jika lingkungan tidak diubah, masalah dan kebiasaan yang sama akan terus terulang kembali.

Bukannya bergantung pada ratusan sumber makanan, kini orang lebih suka menimbun produk makanan dengan cara yang tidak adil. Mindset kita berubah dari mengambil apa yang dibutuhkan dari komunitas/masyarakat menjadi menimbun bagi diri sendiri. Sedikit demi sedikit hal ini akan menjurus pada meningkatnya level ketidaksamarataan; sebagian bisa mendapatkan yang mereka butuhkan, sementara yang lain kekurangan segalanya.

Ada tiga contoh apresiatif perorangan, hubungan dan komunitas. Yaitu sejumlah orang mengubah dunia, hubungan yang bertanggungjawab dan komunitas kreatif.

Kewirausahaan sosial

Ide-ide bisnis sosial didasari oleh menyelesaikan masalah sosial atau lingkungan; menggabungkan keuntungan, orang-orang dan planet bumi. Kewirausahaan sosial mampu mencakup jangakauan yang luas dari berbagai masalah, tergantung hasrat dari para pelaksananya. Mereka bisa mulai berusaha menjamin kebersihan air dan nutrisi masyarakat, jaminan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu, membina para mantan narapidana agar tidak melakukan kejahatan lagi, dan masih banyak lagi.

Polyamory

Helen Fisher telah mempelajari otak manusia untuk mendapati bahwa, “Tiga sistem dalam otak – nafsu, cinta yang romantis dan kasih sayang – tidak selalu terhubung bersama. Anda bisa merasakan kasih sayang yang dalam kepada pasangan jangka-panjang, sementara Anda merasakan cinta romantis yang inten pada orang lain, sementara Anda merasakan dorongan sex kepada orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan pasangan-pasangan Anda lainnya. Singkatnya, kita mampu mencintai lebih dari satu orang sekaligus.”

Polyamory adalah gaya hidup dimana seseorang memiliki lebih dari satu hubungan cinta dan intim di saat bersamaan dengan kesadaran penuh dan dengan persetujuan semua orang yang terlibat di dalamnya. Contohnya poligami (khususnya dalam ajaran Islam yang menekankan tanggungjawab pelaku poligami). Polyamory berbeda dari selingkuh atau ‘seks satu malam’.

Ini adalah hubungan cinta dan kasih sayang yang non-posesif dengan beberapa orang sekaligus dengan penuh tanggungjawab. Hubungan polyamory bervariasi dalam spektrum yang luas tergantung pada orang-orang yang terlibat dan persetujuan yang mereka buat.

Namun terdapat nilai-nilai tertentu yang mendasari hubungan ini, dan itulah yang membedakannya dari sekedar “hubungan terbuka”, yaitu: kesetiaan, respek dan dukungan, komunikasi yang jujur dan pemahaman bahwa pasangannya bisa mendapatkan kepuasan dari orang lain.

Dalam komunitas polyamory, semua jenis orang disambut dan dipersilahkan membagikan pemikiran mereka. Tidak masalah jika mereka gay, lesbian, ataupun biseksual dalam orientasi hubungan polyamory yang mereka jalani.

Mengingat budaya kita yang cenderung agamais, hal ini mungkin agak jauh dari mungkin. Namun bisa kita wujudkannya melalui kasih sayang antar sesama dan mencintai pasangan tanpa syarat dan penuh empati serta sikap menghargai.

Komunitas sumber-terbuka

Saat ini perkembangan dunia sumber-terbuka sangatlah pesat. Dalam kolaborasi yang memungkinkan Internet didalamnya tidak hanya hasilnya yang gratis; tapi juga partisipasinya. Semakin menjadi umum bahwa orang memiliki komunitas-komunitas kolaboratifnya di Internet sehingga tidak terasa seperti pekerjaan. Tidak heran jika partisipasi terbuka dan gratis ini dimungkinkan oleh Internet, sebuah platform yang dibuat mampu diakses oleh semua orang tanpa larangan apapun. Karena bisa saja Tim Berners-Lee, penemu protokol HTTP dan HTTML dan para karyawannya di CERN menjadi egois dan menjadikan kita tak seterhubung secara global seperti sekarang.

Dalam komunitas sumber-terbuka setiap orang saling membantu untuk menciptakan sesuatu bersama dalam skala global. Semua orang dapat bergabung dalam proyek yang berdasarkan motivasi dan bakatnya masing-masing. Solusi-solusi yang dihasilkan benar-benar murni berdasarkan kebutuhan orang-orang dan bukan sekedar untuk membuat pihak tertentu terkesan dan senang menggunakannya.

Kualitas open-source juga sangat dijaga dalam bentuk kestabilan penggunaannya, keamanan dan update-update-nya yang gratis membuatnya bisa bertahan dalam jangka panjang. Dan yang tak kalah penting sumber-terbuka juga terdiri dari orang-orang yang interaktif karena mereka mengutamakan komunikasi sebagai cara untuk menyelesaikan masalah masing-masing serta berbagi informasi secara terbuka.

Kesempatan yang sama-rata bagi setiap orang adalah kunci bagi dunia yang bebas dari egoisme. Namun kenyataannya saat ini, orang-orang memiliki banyak uang semakin senang berinvestasi pada lembaga-lembaga keuangan dan bisnis yang tidak memberikan kontribusi yang signifikan bagi khalayak ramai, sementara orang-orang kurang mampu tidak memiliki cukup uang untuk menginvestasikannya pada hal-hal semacam itu. Si kaya semakin kaya, si miskin semakin miskin.

Lebih lanjut ebook ini membahas secara lebih kompleks mengenai sistem moneter dan rancangan-rancangan bisnis yang mungkin muncul di masa depan. Dan bahwa setiap orang bisa menjalankan beberapa peran sekaligus tanpa harus memiliki titel-titel identifikasi yang egoistis. Seorang pelajar bisa menjadi pengembang software sumber-terbuka yang bermanfaat bagi orang banyak. Seorang koki atau ibu rumah tangga bisa membentuk komunitas yang menawarkan menu-menu makanan sehat dan murah bagi masyarakat kurang mampu. Dan banyak lagi peran yang bisa kita lakukan secara bersamaan demi kepentingan bersama.

Mungkin aku tidak bisa merangkum semua isi ebook ini. Bagian keempat ebook ini menyatakan bahwa segalanya dari ekonomi hingga pendidikan dan dari sains hingga spiritualitas harus diatur dengan arah bersama. Dan dengan mengubah dirimu menjadi manusia baru tanpa ‘si gajah’, kamu sudah bergabung dalam transisi masyarakat itu. Kamu adalah seorang pencipta budaya baru.

Ebook ini layak dipelajari lebih lanjut untuk menginspirasi rancangan usaha-usaha yang melibatkan semua orang tanpa egoisme.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan demi terwujudnya ketahanan sosial yang lebih menjamin kesejahteraan yang merata jika masing-masing dari kita mampu menghilangkan ego/si gajah dari dalam diri kita. Kita harus berhenti menanyakan, “Kapan masyarakat akan berkembang menjadi lebih baik?” dan berganti menanyakan pada diri sendiri, “Apa yang bisa kita lakukan untuk komunitas masyarakat?”

Sudah saatnya kita menggunakan keterhubungan kita untuk mewujudkan sistem ketahanan global yang menjunjung kepentingan bersama, sebagai umat manusia yang diberi kelebihan akal oleh Sang Khalik dibanding makhluk lainnya. Semoga kita diberi kekuatan untuk memantaskan terjadinya perubahan itu dalam masyarakat kita segera. Amin.

 

About these ads

4 pemikiran pada “Koloni Semut

  1. ulasan yang bagus mengenai semut. Memang kerjasama yang luarbiasa kompak dan bagus bisa kita ambil dari cerita analogi ini. hanya saja, yang perlu kita ingat bahwa semut, dengan tak menafikan perilaku kesatuannya yang top, ada sisi yang jelek. yakni semut suka menimbun makanan yang melebihi kapasitas yang dibutuhkan. Maka saya akan lebih cocok jika kita ambil contoh pada kelakuan lebah madu. tak mematahkan ranting yang dihinggapinya, membantu penyerbukan buah, dan hasilnya sangat bermanfaat. plus management ruang. konon rumah/sarang lebah yang berbentuk segi enam sangat efisien dalampemanfaatan ruang. sekali lagi, bukan berarti saya menafikan cerminan kerja sama yang ada pada semut. hehe..

    kunjungan balikku, Gan.
    salam kenal kembali,
    SR

    • iya pak. saya juga setuju dengan analogi lebah yang bapak sebutkan. itulah hebatnya makhluk-makhuk ciptaan Tuhan. kita bisa mengambil teladan satu sama lain dari komunitas yang kecil manusia sampai komunitas besar hewan. Allahuakbar.
      terimakasih atas kunjungan dan komennya. :)

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s