Skala Prioritas feat. Confidence

Hari ini, dan sepertinya untuk seterusnya, aku pergi konsultasi sendirian lagi, tanpa ditemani Emak. Saat tiba di tempat, dokter baru aja keluar dari rumahnya. Dan sudah ada pasien lain yang sudah menunggu lebih lama. Jadi mau tidak mau aku harus nunggu giliran.

Nunggunya lumayan lama. Pasien pertama itu bapak-bapak dua orang, salah satunya hanya pendamping. Nah mereka ini lama banget konsulnya. Ampir setengah jam, mungkin (perhitungan yang agak lebay). Setelah itu ada pasien lain yang datang. Orang keturunan India, laki-laki sama ibu-ibu.

Akhirnya datang juga giliranku. Tapi pas baru mulai ngemeng-ngemeng sama dokter, eh bapak-bapak yang tadi masuk lagi,”Maaf ya,” katanya sama aku. Trus dia duduk dan nanya-nanya lagi sama dokter. Tapi dokter tetap mau meladeni. Aku cuma bisa pasrah. :?

Tak lama kemudian, obrolanku dengan dokter kembali terusik oleh insiden penemuan uang palsu. Hah?? Iya, jadi kan mbak suster tiba-tiba lari-lari kecil masuk ke ruangan sambil nunjukin duit seratus ribuan, kata dia uang dari bapak-bapak tadi. Memang ada yang beda sama duit kertas itu. Pas dibandingin sama duit seratus ribu yang lain, uang yang satu ada bintik-bintiknya, yang satu enggak ada. Trus kata dokter uang yang ada bintik-bintik itu nggak ada tandatangannya. Weh weh weh… Kenapa bisa gitu yak??

Akhirnya dokter nyuruh suster minta tukar duitnya sama bapak-bapak yang tadi.

Nah, akhirnya obrolan dengan dokter pun berlanjut.

Hari ini aku kembali dapet banyak masukan dan pelajaran berharga dari dokter. Awalnya aku membicarakan tentang keinginan dan rencanaku, dan juga keinginan orangtuaku menyangkut masa depanku. Ceila.

Dokter nggak pernah memperhitungkan keterbatasan yang ada, kecuali sebagai acuan dalam merumuskan dan kemudian mendorong pasien untuk mencari/menjalankan solusi-solusi secara bijak.

“Ada skala prioritas, hidup itu,” katanya dengan gayanya yang khas. “Kadang kita bisa menjalankan dua hal, kadang kita harus milih salah satu.” Jadi kita harus tahu mana yang paling penting.

Intinya, kita harus memperhitungkan usaha yang kita kerjakan. Jika resolusi yang ingin kita capai lebih dari satu, usahakan dijalankan bersamaan, namun pastikan resikonya bisa kita terima. Karena ketika pada akhirnya kita harus memilih hanya salah satunya, kita nggak akan rugi besar.

Kira-kira itulah yang kutangkap dari perkataan dokter tadi.Oh, dan dokter menyuruhku melatih kepercayaan diri untuk menghilangkan kecemasan/kegelisahan saat berada diantara orang-orang lain (social anxiety). Ugh, :? that has been my eternal lack as an imperfect me.

Hari ini, kembali aku mendapat motivasi baru plus pencerahan untuk menemukan ‘realitas’ bagi masalahku. Ketidakpastian dalam lingkunganku cukup menggangguku. Tapi sekarang aku sudah punya harapan baru dan gambaran praktis tentang apa yang harus kufokuskan. Thnx, dok. Semoga berkah buat hidupmu, dan buat hidupku juga pastinya. :D

About these ads

7 pemikiran pada “Skala Prioritas feat. Confidence

  1. awalnya masih bingung,, ke dokter kok kayak konsultasi ke psikiater..
    baru ngeh setelah baa komen pertama he he…

    yup belajar untuk menentukan skala prioritas.. menelaah mana penting dan ga penting..
    semangat mas..

    • iya betul mas. kita kadang punya banyak keinginan dan rencana. dan menentukan prioritas adalah cara untuk merelisasikan yang paling penting dan terbaik bagi kita.
      semangat juga. :) thnx komennya…

  2. Ping balik: Hal-Hal Yang Kupelajari Dari Game Angry Birds (Rio) « The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s