Catch-22

Aku sadar bagaimana ide dan keyakinan yang mungkin ‘menyimpang’ sering merasuki kepalaku. Entah bagaimana aku tahu itu bukan masalah karena aku yakin ketika orang memahaminya, tujuanku akan dipahami dan dibenarkan. Dan aku percaya bahwa semua hal memiliki penjelasan jika kita mau berpikir dan merasakan hal-hal diluar diri.

Tak perlu lagi berhenti pada kebingungan.

Tapi semua itu tidak ada gunanya karena bagaimanapun aku harus tetap berusaha untuk lebih menjadi bagian dari ‘kalian‘.

Dan kunikmati menjalani usaha itu.

***

Catch-22 adalah situasi dimana ketika seseorang memiliki pilihan-pilihan yang tampak rasional namun tetap harus mendapatkan hal yang sama, bahkan jika untuk membuktikan bahwa pilihan/cara lain itu dapat direalisasikan.

Misalnya, suatu hari di negara kita Indonesia sedang diberlakukan wajib militer. Semua laki-laki diatas 17 tahun harus melalui tes untuk ‘uji kelayakan’ untuk bergabung dengan militer.

Meskipun kita tidak mau, kita tetap harus melalui pengujian untuk membuktikan bahwa kita memang ‘tidak layak’. Dan jika kita dinyatakan layak, kita harus bergabung dengan militer meskipun kita tidak menginginkannya. Dan, sekali lagi, jika kita dinyatakan tidak layak, kita tetap harus melakukan pengujian. Namun besar kemungkinannya para pemimpin di jawatan TNI akan berusaha sekeras (atau semenyebalkan) mungkin agar kita dinyatakan layak dan bergabung dengan pasukan.

Kasarnya, mereka tidak peduli bahwa nyawa kita akan melayang di medan perang. Mereka hanya menjaring aset sebanyak yang bisa mereka dapat untuk membantu kemenangan negara (or to have fun).

Konsep ini diperkenalkan oleh Joseph Heller dalam novelnya Catch-22 yang terbit pada tahun 1961. Novel bernada satir ini sangat dikenal di dunia sastra dan menjadi karya seni yang membudaya di masyarakat Amerika. Terbukti dengan diadaptasinya istilah Catch-22 sebagai konsep logis untuk menjelaskan situasi tertentu seperti yang dijelaskan diatas.

Ada banyak istilah dan pemaknaan lain yang mengacu pada istilah Catch-22. Alternatifnya bersifat subjektif, entah itu pilihan untuk memutuskan yang lebih baik atau lebih buruk atau sama baik/buruknya.

Misalnya, seorang gadis yang harus memilih dua pria yang sama-sama baik, atau harus memilih pria yang buruk untuk menyelamatkan keluarganya. Atau pilihan yang yang tidak menguntungkan siapapun alias no-win situation.

Seorang gelandangan menggunakan frase Catch-22 pada karton yang dipegangnya untuk mengundang simpati orang-orang lewat. [sumber gambar: beforeitsnews.vom]

__________________________________________________________

Penafsiranku diatas mungkin masih ada yang kurang. Jika kamu memiliki tambahan yang mencerahkan mengenai logika Catch-22, silahkan tulis di komentar, yah…

About these ads

14 pemikiran pada “Catch-22

  1. Penjelasannya ringkas tapi cukup jelas. Istilah Catch-22 memang sudah sering saya dengar, tapi setelah baca bahasan yang menarik ini saya jadi terdorong untuk mencoba membaca bukunya. Kurang lebih seperti konsep konflik psikologis ya… (avoidance-avoidance conflict dan double approach-avoidance conflict).

    • wow i have no idea what are those types of conflict.. :shock:
      ya kira2 begitulah. mungkin ada banyak cara atau situasi unik yang bisa dijelaskan sebagai catch-22. tapi aku sendiri pun belum banyak tahu contoh2nya.

  2. Ping-balik: (FIKSI) “Orang Di Perahu” | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s