Tarot

Sebenernya aku udah lama niat mau nulis tentang topik ini. Tapi aku selalu ragu memikirkan bagaimana respon atau reaksi orang-orang yang membacanya. Dan kenapa sekarang aku menulisnya, aku juga nggak punya alasan khusus. Hanya aku berharap ceritaku tentang Tarot kali ini ada manfaatnya. Eak… Eaak… Eaaak… :razz:

Sebenernya hobi Tarot ini hanya sebagian kecil dari hal-hal yang ‘tak pernah aku selesaikan’. Berkat penyakit cepat bosan yang lumayan kronis :roll:, aku belum sampai mendalami Tarot. Jadi harap maklum kalau pembahasan disini kurang dalem sampai ke akar-akarnya.

Awalnya, seperti mungkin kebanyakan orang, aku kenal Tarot cuma dari film-film. Waktu SMA, aku sama temen-temen pernah nyoba bikin film (yang ujung-ujungnya nggak jadi). Di film itu kita pengennya bisa menghadirkan kartu Tarot, tapi nggak bisa terwujud karena belum ada yang punya benda yang bersangkutan.

Sejak itu aku makin penasaran pengen tahu dan megang wujudnya kartu Tarot itu kayak apa sih. Akhirnya aku kesampean membeli dek pertamaku pada tahun 2010 awal. Aku beli dek Rider-Waite (yang ternyata versi bajakan :? ) di toko sulap didalam sebuah mal. Tapi setelah itu aku masih sangat jarang menyentuh kartu-kartu itu. Alasannya sangat kentara, yaitu karena nggak ngerti cara pakenya. Wakakak.

Sebenernya aku punya buku kecil berisi panduan Tarot yang udah aku beli jauh sebelumnya. Tapi tetep aja, masih males berkonsentrasi mempelajarinya.

Sampai suatu hari di bulan Oktober 2010, aku ketemu istilah Tarot Psikologi yang dipelopori oleh pak Hisyam Fahri. Sejak itu aku mulai fokus mempelajari sedikit-sedikit kartu-kartu Tarot yang udah kubeli.

Belajar Tarot nggak pake mistik-mistik-an

Mulailah aku sering ketemu nama parapsikolog terkenal Carl Jung yang terkenal dengan Doppelgänger-nya. Ia juga memprakarsai sebuah analisa tentang kepribadian manusia. Menurut Jung, ada empat arketip utama kepribadian yang dimiliki setiap manusia (Jungian archetypes), yaitu The Self, The Shadows, Anima/Animus dan Persona.

image: jungcurrents.com

Keempat arketip utama itu disimbolkan oleh empat elemen dalam Tarot: Wands (tongkat) yang mewakili elemen Api; Cups (cawan/piala) yang mewakili elemen Air; Swords (pedang) yang mewakili elemen Udara; dan Pentacles/Coins (bintang segi-lima) yang mewakili elemen Tanah. Dahulu keempat negara…lho, lho?? Beda cerita, cuy… :lol:

Umumnya, kartu Tarot terdiri dari 78 kartu. 22 diantaranya adalah kartu arkana mayor. Kemudian setiap dari empat kartu kerajaan yang disebut diatas dibagi atas 14 kartu sehingga jumlahnya 56 kartu arkana minor. Jadi misalnya, untuk kartu Wands: Ace of Wands sampai Ten of Wands, kemudian Page, Knight, Queen dan King of Wands.

Seperti yang tadi aku bilang, pada dasarnya nggak ada mistik-mistik-an dalam membaca kartu yang diduga berasal dari Mesir ini. Cara kerja kartu Tarot lebih banyak melibatkan alam bawah sadar dan intuisi ketimbang mistik-mistikan seperti yang mungkin kita duga selama ini. Dan fungsi Tarot juga nggak harus selalu diasosiakikan dengan ‘meramal masa depan’, melainkan kecenderungan-kecenderungan yang dipicu oleh tindakan kita saat ini.

Satu hal yang pasti, semua orang sangat bisa belajar membaca Tarot asal punya kemauan dan minat. Ada banyak ebook, buku dan sumber informasi lainnya yang bisa didapatkan untuk mempelajari Tarot secara otodidak seperti yang kulakukan. Jadi nggak harus punya wangsit atau kelebihan menerawang, meskipun itu bisa sangat membantu terutama dalam kepentingan profesional seperti Tarot Reader (Indonesia-nya: Pewacana Tarot) profesional.

Mungkin terdengar sulit dipercaya. Dan aku nggak bisa jelasin lebih detil lagi gimana cara kerja Tarot sebagai simbol alam bawah sadar. Dan karena disini aku nggak bermaksud meyakinkan siapapun tentang apapun. Pokoknya, kalo udah nyoba pasti ngerti deh maksudku. Halah. :D

Melihat kedalam diri

Terkadang, apa yang ‘diceritakan’ kartu-kartu bisa membuat kita sendiri takjub sekaligus tercerahkan, lho. Seringkali hasil pembacaan Tarot membuat kita merenung tentang apa masalah kita yang sebenarnya. Pada satu titik aku pernah merasa bahwa untuk pertama kalinya aku mengenal diriku sendiri melalui Tarot. Hahaseekk. :D

image: learntaot.com

Dalam kartu Tarot banyak terdapat nasehat-nasehat dan petuah. Berikut juga peringatan dan kecenderungan negatif. Misalnya, Ten of Wands (10 tongkat) yang mengingatkan kita untuk jangan bertindak egois. Bukan (hanya) egois dalam mengambil sesuatu yang bisa kita nikmati, tapi juga egois dalam hal yang justru membebani kita. Misalnya mengambil banyak pekerjaan sekaligus, atau, ehem, macarin lebih dari satu cewek. :razz: Kartu ini juga bisa berarti kegiatan atau pekerjaan yang tadinya kita nikmati berubah menjadi pekerjaan yang membebani. Contoh nyatanya seperti Briptu Norman Kamaru waktu baru-baru jadi artis, :razz: awalnya dia hanya iseng karena seneng nyanyi lagu-lagu India, tapi setelah terkenal, kesehatannya sampe sempat ngedrop karena jadwal ngartis yang kian padat.

Dari belajar Tarot aku juga menyadari suatu pemahaman stereotip yang bisa dibilang keliru (namun dapat dipahami) mengenai kartu arkana mayor ke-XIII, The Death. Seringkali, biasanya di film-film holiwut, The Death digambarkan mengindikasikan suatu skenario kematian yang mengenaskan. Contoh adegan: “It’s The Death!” desis Madam Esmeralda, wanita gypsy di trailer rombongan sirkus. “Omigawd… I should totally post it on twitter,” ujar cewek pirang yang nggak mudeng apa yang bakal terjadi. PRANG!! tiba-tiba semua kaca jendela di mobil trailer itu meledak dan pecahannya menusuk-nusuk leher si peramal dan si cewek pirang. :shock: (Judulnya “I Know What You Tweet Last Summer”. :razz: )

Nah, The Death ini bisa bermakna kematian secara harafiah. Tapi biasanya lebih ditekankan pada sisi psikologisnya. Kartu ini melambangkan bahwa seseorang telah melewati suatu fase dalam hidupnya, dan fase itu kini sudah berakhir. Dia mungkin masih berduka atas hal-hal buruk yang ia tinggalkan/lakukan di masa lalunya, namun ini saatnya untuk meneruskan perjalanan. Singkatnya, kartu ini mengindikasikan kehidupan baru setelah kematian dari kehidupan lama. Time to move on. Kartu ini juga bisa menggambarkan sosok anak abege yang lagi galau-galaunya menjelang memasuki fase kehidupan dimana ia menjadi lebih ‘stabil’ dan melanjutkan kehidupannya sebagai young adult.

Hal terburuk yang bisa terjadi tidak pernah datang dari kartu Tarot sendiri. Tapi justru proses yang dialami seseorang yang mungkin membuatnya sulit menerima nasehat apapun. Seperti The Devil yang biasanya mengindikasikan kecenderungan seseorang untuk terikat pada nafsunya sendiri. Atau, yang menurutku kartu yang paling membuat ‘takut’, The Tower, yang melambangkan sebuah kejatuhan, keruntuhan dari apa yang sebelumnya kita percayai, kini kebenarannya tersingkap dengan cara yang mungkin ‘keji’ dan membuat kita sangat down. Tapi setelah melewati semua itu, kita akan memiliki pandangan yang lebih jernih dan cara berpikir yang lebih baik. Ternyata ada pemandangan indah dibalik menara yang sudah runtuh tadi. :)

image: mindbodyspiritonline.co.uk

Selain Tarot, ada juga dek kartu yang disebutnya Oracle. Jenis kartu ini biasanya punya keunikan sendiri-sendiri. Dan jumlahnya juga nggak tentu, tapi biasanya lebih sedikit dari Tarot. Namun fungsinya tidak jauh berbeda dengan Tarot, kecuali pemaknaan tiap kartunya yang cenderung tidak menggunakan pakem-pakem umum seperti Rider-Waite. Oracle sengaja dibuat dengan dedikasi khusus oleh artisnya terhadap tema tertentu. Temanya macem-macem, ada hewan-hewanan, Malaikat, batu-batu mulia, sampai anime juga ada.

Tarot hanyalah alat untuk memproyeksikan alam bawah sadar. Sebuah wahana untuk menyelami ke kedalaman diri. Dimana kita bisa belajar untuk kemudian mengambil tindakan yang terbaik. Karena takdir tidak menunggu untuk sekedar kita jalani, tapi juga untuk kita buat.

About these ads

34 pemikiran pada “Tarot

  1. jadi bener yah gak pake mistik2?
    soale ada yang bener ada yang engga sih
    apa yang aku alami sekarang dulu pas dibacain kartu tarotnya
    kok ndilalah bener hiihhiih
    padahal itu cuma having fun doang,
    karena si pembaca tarot buka stand di sebelah stand kami
    gak bayar pun :D

    • betul mbak. itu karena tarot menggunakan bawah sadar kita. gak pake hocus-focus atau jompa-jampi. hehe. sebenernya itu mengungkapkan bahwa kemampuan bawah sadar kita itu sangat hebat, bisa menjangkau apa yang tidak bisa kita jangkau secara fisik. :D

  2. Aku paling keder sama yang namanya kartu-kartuan gini, mas. :) Entah kenapa aku paling tidak suka diramal ini itu. Tapi menarik juga kalau ini dijadikan hobi.

    • asyik kok bli buat dijadiin hobi atau sekedar buat pas kumpul2 sama temen2. hehe. dan gak mesti mbaca ‘masa depan’, karena biasanya malah aspek masa kini dan masa lalunya yang menyimpan banyak pelajaran dan nasehat. it’s cool. :cool:

  3. saya belum mengerti cara kerja kartu Tarot, apakah tentang ramalan tentang apa yang terjadi nanti atau mengindetifikasi psikologi seseorang ?

    well, ulasan karu tarot nya bagus, mas ilham
    sebelumnya saya tidak tahu sama sekali tentang kartu tarot selain yang ada di Film.he :D

    • hehe. yah disini saya nggak bisa cerita banyak tapi sedikit ingin meluruskan bahwa cara kerja tarot itu sebenernya pendekatannya lebih psikologis untuk disebut sebagai perangkat untuk meramal. sebuah cara yang menurut saya sangat baik dan asyik untuk mengeksplorasi diri. hehe. :wink:

    • seperti yang ceritakan diatas, sebenernya tarot gak mesti kok digunakan untuk ramalan. tapi sebagai media untuk menganalisa kondisi psikologis melalui alam bawah sadar. :D

    • iya, mbak kalo tarot reader profesional emang biasanya tarifnya lumayan mahal. dan pengalaman mereka biasanya udah lebih dari 5 tahun. tapi emang wajar sih. soalnya kerjanya konsultan tarot itu mirip2 kayak psikolog yang harus menampung curhatan banyak orang. hehe.

  4. belum pernah baca tarot, tapi klo baca postingannya, jadi inget kata Permadi di acara just alvin semalam; salah satu jenis atau cara mendapatkan ilmu “supranatural” itu bisa lewat hal2 yg ilmiah, alias sekarang sudah diilmiahkan. mungkin seeh, hanya pendapat saja, karna liat dan pegang kartu tarot pun saya lum pernah he3

  5. Ping-balik: Just For Fun: “Analisa Kepribadian Berdasarkan Tanggal Lahir” | The Moon Head

  6. Ping-balik: Reproduksi: Ace of Swords « The Moon Head

  7. Ping-balik: Just For Fun: “Analisa Kepribadian Berdasarkan Tanggal Lahir” « The Moon Head

  8. Ping-balik: Fun With The Cards | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s