Roro

Dulu, ada sebuah kejadian di tanah Jawa. Pelangi muncul selama siang dan malam. Orang-orang percaya bahwa ada bidadari yang sedang turun ke bumi.

Pelangi itu sendiri milik Dewi Tasima, atau masyarakat lain di suku Chumash menyebutnya dewi Hutash*.

Namun intinya, ya, memang ada tujuh bidadari yang menghuni khayangan.

Suatu hari, salah satu dari bidadari-bidadari itu terjebak di mayapada atau dunia manusia karena kehilangan selendangnya. Sejak peristiwa itu ia kehilangan separuh kekuatannya. Namanya adalah Nawangwulan.

Dalam kebingungannya, ia kemudian diselamatkan dan kemudian dipersunting seorang lelaki yang disebut Jaka Tarub.

Mereka menikah dan memiliki seorang putri yang diberi nama Nawangsih. Mereka hidup damai, berkecukupan, dan saling mengasihi.

Namun ini adalah kisah bagaimana Nawangwulan menemukan bahwa suaminya lah yang mencuri selendang saktinya.

Di negeri khayangan, tidak semua orang bersikap tenang atas peristiwa yang menimpa salah satu bidadarinya. Terutama bungsu dari ke-7 bersaudari itu, Roro Nesia.

Roro Nesia adalah seorang bidadari yang sangat cantik. Wajahnya bulat, dagunya kecil, matanya cemerlang berbentuk daun.

Ia adalah bidadari yang bersinar setiap hari bersama matahari pagi. Selendang hijaunya memiliki berkat kemakmuran, kesuburan dan masa panen.

Meski begitu cantik, ia iri pada kakaknya, Nawangwulan.

Semenjak tinggal di mayapada, Nawang mendapatkan berkah yang berturut-turut. Menikah dengan manusia yang gagah, baik hati dan amat mencintainya. Sampai memiliki anak yang rupawan seperti ibunya.

Roro pun menyampaikan kegusarannya ini kepada sang ayah, Panglima Adibangsa. “Mengapa Ayahanda membiarkan Nawang melalaikan tugasnya, sementara ia bersenang-senang dengan keluarganya di bumi?”

Panglima tersenyum. “Keiri-hati-anmu membuatku terhibur, putriku. Bukankah kau memiliki berkah yang jauh lebih melimpah disini? Lagipula, jika sudah waktunya, kau juga akan memiliki keluarga yang kau cintai dan mencintaimu.”

“Tapi bukan pilihanku. Ayah akan menerima lamaran dewa berpangkat kecil dari negeri antah barantah.”

Senyuman Panglima lenyap. “Kau berani meragukan penilaianku?”

“Ananda tidak berani,” Roro Nesia bersimpuh memohon ampun. “Tapi biarkanlah hamba setidaknya membantu Nawang kembali ke khayangan, Ayahanda.”

“Lakumu, tanggungjawabmu,” jawab Panglima Adibangsa. “Aku tidak memberikan titah, tapi aku membolehkanmu menjalankan kehendakmu.”

Setelah mendapat ijin dari ayahnya, Roro pergi mendatangi Dewi Tasima.

“Dewi yang Agung, maukah kau membuatkanku jembatan pelangi menuju bumi?”

Sang dewi yang duduk di singgasana awannya langsung bertanya-tanya. “Katakan padaku, bidadari yang cantik rupawan, mengapa kau membutuhkan bantuan semacam itu dariku? Pelangiku hanya bisa dilalui oleh manusia atas ijinku. Lagipula engkau dapat dengan mudah terbang turun ke bumi untuk melaksanakan keperluanmu.”

“Benar, Dewi. Ayahandaku meminta mendatangkan seorang manusia ke khayangan. Tapi seperti yang engkau tahu, aku tak dapat membawa manusia dalam wujud bertuahku. Kecuali aku melepaskan selendangku dan tak dapat sama sekali terbang kembali ke khayangan.”

Dewi Tasima mengerutkan dahi. “Aku mengenal Panglima Adibangsa, ayahmu. Dan permintaannya sedemikian aneh. Tapi jika itu memang titahnya, maka akan aku mempersembahkan pelangi terbaikku untukmu.”

Roro Nesia senang permintaannya dikabulkan. Ia pun bersiap turun ke bumi mayapada.

~

“Jangan buka kukusan itu sampai aku kembali,” ujar Nawangwulan kepada suaminya tercinta. Ia keluar dari pintu belakang membawa bakul berisi pakaian.

Tidak menyadari ketika kaki telanjang Roro Nesia mendarat tak bersuara di belakangnya.

Setelah Nawang menghilang kedalam hutan, Roro menyelinap kedalam rumah untuk mengambil Nawangsih secara diam-diam.

Roro Nesia mengubah dirinya menjadi asap tipis dan merasuk kedalam tubuh Jaka Tarub. “Bukalah penutup kukusan itu,” bisiknya kedalam batin Jaka Tarub.

Kemudian Roro meninggalkan tubuh si pemuda dan berpindah ke kamar dimana Nawangsih tidur.

Ketika Roro sudah berada di luar rumah membawa Nawangsih, si ibu telah kembali dan mendapati anaknya berada dalam dekapan orang yang telah dikenalnya. “Roro!” pekiknya.

Karena terkjut, Roro Nesia meninggalkan Nawangsih dan bergegas terbang kembali ke khayangan.

Nangwulan berlari dan mengangkat anaknya dari tanah, kemudian bergegas menuju rumah. “Kakanda, bukankah sudah kubilang agar jangan membuka kukusan itu….”

Jaka Tarub terkesima menyadari bahwa hanya dari sebatang padi itu Nawangwulan setiap hari mengubahnya menjadi sebakul nasi. Pantaslah persediaan beras mereka tidak lekas habis.

Sekarang karena suaminya sudah mengetahui rahasianya, Nawangwulan kehilangan seluruh kekuatan sihirnya.

Nawang menjadi sangat sedih. Ia keluar dan menangis memandangi bulan. Saat itulah Roro Nesia, adiknya muncul.

“Roro, mengapa kau mau melakukan pengkhianatan kepadaku, kakakmu?” tanya Nawang sambil bersedih.

“Ketahuilah, kakangmbok, kau tidak pantas berada di tempat ini,” jawab Roro pongah.

“Tapi aku sangat mencintai suami dan anakku.”

“Sekarang kekuatan sihirmu sudah sirna. Kau sama tidak berguna seperti manusia yang paling lemah.”

“Pengabdianku pada keluargaku tidak memerlukan semua sihir di dunia,” kata Nawang. “Selama aku masih memiliki cinta di hatiku, apapun kulakukan untuk menjaga mereka.”

“Kembalilah ke khayangan.”

“Tidak, aku tidak mau.”

Roro Nesia menjadi berang. “Dengarlah, kakangmbok. Aku memiliki jembatan pelangi Dewi Tasima dan bisa dengan mudah menculik putrimu dari mayapada. Aku akan melakukannya di depan matamu jika kau tidak segera meninggalkan suamimu dan kembali ke khayangan bersamaku.”

Nawangwulan menjadi semakin sedih. Tapi ia sadar itu adalah satu-satunya cara agar ia bisa kembali memiliki kekuatan untuk menjaga keluarga yang dicintainya.

“Baiklah,” kata Nawangwulan. “Aku akan kembali ke khayangan bersamamu. Tapi aku tidak dapat menemukan selendangku yang telah hilang.”

Dengan kekuatan saktinya, Roro Nesia dapat melihat dimana selendang ungu itu disembunyikan.

Nawangwulan sangat terkejut ketika Roro memberitahu bahwa suaminya, Jaka Tarub lah yang mencuri selendangnya dan menyembunyikannya dibawah tumpukan padi.

Nawang mengenakan selendangnya dan berpamitan pada Jaka Tarub. “Kakanda, kau telah menyebabkanku kehilangan kekuatan untuk menjagamu dan anakku. Sekarang aku akan kembali ke khayangan. Tolong laksanakanlah satu hal untukku. Bangunlah sebuah dangau** kecil di dekat rumah. Setiap malam aku akan menemui Nawangsih disana untuk menyusuinya. Tapi engkau tidak boleh menemuiku.”

Jaka Tarub menelan ludah, merasa kalah sekaligus menyesal. Ia tidak bisa membayangkan berpisah dari istri yang dicintainya.

Demikianlah Nawangwulan menemui putri kecilnya setiap malam, menyusui dan bermain-main dengannya. Sementara Jaka Tarub hanya bisa memandangi mereka lewat jendela.

Panglima Adibangsa murka mengetahui kebohongan yang dilakukan Roro Nesia dan mengatasnamakan dirinya. Ia pun menghukum putri bungsunya itu menjadi pelayan Dewi Tasima.

Oleh karenanya, Nawangwulan diberi tanggungjawab menjalankan dua tugas sekaligus untuk menggantikan adiknya. Sebagai penjaga kesuburan sekaligus melindungi para pasangan yang saling mencintai.

Sejak itu ia berhenti menemui putrinya yang sudah beranjak besar. Akan tetapi, dari khayangan ia selalu melindungi keluarga yang dicintainya, dan memberikan mereka bantuan saat  dalam kesusahan.

—————————————-

#7HariMendongeng

Tema hari ke-6: (Remake) Dongeng

*Hutash adalah dewi dalam kepercayaan suku Chumash, sebuah suku kuno yang mendiami kawasan yang sekarang adalah California, Amerika Serikat. Menurut cerita, suatu hari Hutash membuat jembatan dari pelangi untuk menyeberangkan penduduk menuju tanah utama untuk tinggal. Anak-anak dari penduduk itu menyeberang sambil bermain-main hingga beberapa dari mereka terjatuh ke laut. Karena kasihan, Hutash mengubah anak-anak itu menjadi lumba-lumba. (dikutip dari adegan film “Dolphin Tale” oleh Disney)

**Semacam gubug kecil

About these ads

3 pemikiran pada “Roro

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s