Wolf Totem: Akhirnya Selesai Juga Baca Ni Buku

Haha sesuai judulnya, butuh berbulan-bulan bagi saya untuk selesai membaca novel karangan Jiang Rong ini.

WOLF TOTEM
Penerbit      :  Hikmah
Pengarang  :  Jiang Rong
Halaman      : 616 hal.
ISBN              :  978-979-3714-65-3

Sinopsis singkatnya pernah saya bahas di postingan ini: Sampul. Bayangin, postingan tadi saya tulis di bulan Desember 2011. Jadi udah lebih dari lima bulan saya habiskan untuk baca ini buku. :lol:

Ceritanya emang cukup panjang. Tentang pelajar Cina yang belajar hidup ala orang Mongol di pedalaman Olonbulag. Pada masa itu adalah era awal 70an. Sistem-sistem kesukuan tradisional mulai digantikan dengan sistem organisasi militer. Jadi istilah kayak kelompok atau rombongan disebut sebagai brigade, yang dipimpin oleh kepala suku dibawah otoritas militer dari Korps pengawasan produksi.

Aduh ribet nggak ya bahasanya. Saya juga nggak begitu nangkep tentang sistem organisasi militer ini. Intinya, para militer ini adalah the bad guy yang lama-lama makin mengikis tradisi masyarakat padang rumput Mongolia Dalam.

Singkatnya: suatu hari ada perintah untuk membasmi semua serigala di padang rumput. Sementara Chen Zhen menculik anak serigala untuk dipelihara. Dia ingin mempelajari lebih dalam tentang serigala yang menjadi totem atau sosok yang dihormati sekaligus ditakuti masyarakat padang rumput.

Novel ini memiliki kisah tentang perusakan lingkungan yang memilukan. Saya sampai ikut berkaca-kaca membayangkan kesedihan Papa Bilgee, sang kepala suku. Juga perjuangan Chen memelihara si Serigala Kecil yang unyu-unyu, memberinya makan, jalan-jalan, dan melindunginya dari anggota korps yang ingin membunuhnya. Endingnya pokoknya sedih deh. Sedih, tapi mengharukan, juga menginspirasi.

Banyak yang bisa kita pelajari dari buku ini tentang fungsi serigala dalam menjaga keseimbangan alam padang rumput. Misalnya saja, mereka lah yang memangsa para rusa, marmot dan tikus sehingga masih ada cukup rumput untuk ternak. Serigala juga yang mendorong para penggembala melatih kuda-kuda mereka sehingga menghasilkan kuda-kuda jantan yang tangguh, kuat dan dapat diandalkan untuk bertempur melawan para serigala dan menjaga para ternak. Jadi, membunuh semua serigala berarti membunuh seluruh penghuni padang rumput.

Hal inilah yang tidak diindahkan oleh kesombongan kelompok militer. Mereka bertindak sesukanya, mengganti perangkat alam dengan mesin dan pestisida. Orang-orang ini ingin mengubah padang rumput menjadi hunian bagi masyarakat pertanian Cina Han. Mereka tidak mengerti bahwa masyarakat padang rumput sudah hidup secara nomaden sejak ribuan tahun lalu. Jika dibuatkan hunian permanen, sumber kehidupan yang tersedia di lingkungan akan cepat habis dan rusak, dan alam tidak memiliki kesempatan untuk memperbaharui diri.

Sedikit spoiler, untuk bagian endingnya, yah pada akhirnya padang rumput memang mengalami kerusakan dan 80%nya kering. Penggembala tak lagi menggunakan kuda melainka sepeda motor. Masa-masa kejayaan padang rumput telah selesai.

Buku ini sebenarnya adalah semi-biografinya Jiang Rong sendiri, yang sekarang udah tua. Di era 70-an beberapa pelajar dari Cina, termasuk Jiang Rong, dikirim untuk hidup di pedalaman Mongolia untuk menumbuhkan rasa kecintaan terhadap alam dan melatih generasi muda menjadi pribadi yang mandiri serta kuat. Tapi pada akhirnya, bangsa Cina sendiri yang merusak kelestarian alam padang rumput tersebut.

Bisa dibilang novel ini sangat sukses menumbuhkan kesadaran tentang menjaga kelestarian alam. Karena kita bener-bener dikasihtau cara kerjanya alam itu seperti apa. Kalo dari sisi pribadi saya, memang ciptaan Allah itu nggak ada yang sia-sia. Semuanya berhubungan dengan cara-cara yang unik. Contohnya aja nyamuk. Walau suka gigit, tapi gara-gara itu kita belajar untuk menjaga lingkungan yang sehat. Dan banyak contoh-contoh lainnya.

Jiang Rong menghabiskan 6 tahun untuk menyelesaikan buku ini oleh karena harus melakukan riset yang mendalam, serta menggali dokumen-dokumen pribadinya selama tinggal di pedalaman Mongolia yang keras, namun indah.

Jadi, kata-kata mutiara yang cocok untuk kesimpulan novel ini adalah, “Stop screwing up our nature!” *diucapkan sambil nyekek-nyekek kelinci dengan semangat* <- loh, loh.

Buku ini terbit sudah agak lama (2009). Tapi masih layak untuk dicari. Disebutkan buku ini adalah fenomena penerbitan di Cina. Bahkan versi bajakannya juga laris. Di cover-nya disebutkan “Segera Difilmkan”. Tapi setelah saya google, saya nggak nemu informasi soal versi filmnya. Hanya ada satu informasi resmi dan statusnya masih in development.

Sementara itu, kita bisa menyimak video berikut berisi penuturan Jiang Rong mengenai buku fenomenalnya.

About these ads

16 pemikiran pada “Wolf Totem: Akhirnya Selesai Juga Baca Ni Buku

  1. saya suka sedih kalau ada tulisan yg mengangkat isuisu kelestarian alam
    manusia itu memang serakah, semuasemuanya diambil tanpa memikirkan nantinya ke depannya bagaimana :(
    terima kasih Ilham buat reviewnya semoga pembaca yg lain bisa ambil pelajaran dari review kamu ini :)

  2. jd ingin baca bukunya nih

    btw, kalau tengah malam, pas kubuka pintu jendela , terkadang aku msh bisa mendengar lolongan serigala loh
    soalnya di dekat desaku sini ada taman alami buat serigala, seneng mendengarnya

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s