Time Machine & Irony

Waktu SMP saya lagi seneng-senengnya nonton telenovela anak kayak Amigos dan Aventuras en el Tiempo. Yang terakhir itu berhasil membuat saya terinspirasi untuk mengejar mimpi membangun mesin waktu!

Ketika perpustakaan sekolah kami diperbaharui, alias difungsikan kembali sebagaimana mestinya setelah terbengkalai (cuma dipake buat guru-guru staf untuk kerja dan bergosip istirahat), sejumlah buku baru masuk ke koleksi perpus. Anak-anak pun banyak juga yang sering mampir ke perpus saat istirahat. Walau sekedar untuk liat-liat novel jadul.

Salah satu dari buku-buku itu adalah seri ensiklopedia sains. Termasuk tentang Ruang & Waktu. Saya udah berkali-kali liat buku itu setiap jam istirahat. Tapi tetep nggak nangkep apa isinya. Emang dasar otak batu kali ya. Rasanya tuh kayak nyimak cermah satu jam tapi yang terdengar cuma, “Bla bla bla…” yang bergema dari jauuuh sekali. …. *hening*

Tapi satu yang saya tahu, dan saya rasa itu cukup sebagai informasi dasar bagi saya untuk membuat mesin waktu. Yaitu bahwa lubang hitam itu bisa diciptakan dari benda langit yang memiliki massa setidaknya 3x dari matahari kita. Jika berhasil dipadatkan, maka benda itu akan berubah menjadi sebuah lubang hitam yang diameternya nggak lebih dari 4 sentimeter. Cool! pikir saya.

Sejak itu saya cerita-cerita ngayal sama temen sekelas saya tentang seandainya saya bikin mesin waktu. Teman saya ini, sebut saja dengan nama panggilannya, Chuckie, karena dia memang mirip karakter di kartun Rugrats. Anaknya pinter, geeky, tapi kurang bisa diajak ‘gila’. :lol: Jadi dia cuma bisa diajak gila-gilaan lewat khayalan nonverbal.

Beberapa bulan lalu, saya ketemu sama si Chuckie waktu shalat Jum’at di mesjid. Dan ternyata dia udah jadi guru Matematika di sekolah SMA di dekat rumah saya! Lagi-lagi hati saya merasa bagai ditabrak becak. Sebagai pengangguran profesional yang nggak memiliki pendidikan tinggi, saya sudah melewatkan momen-momen ketika teman-teman lama saya bertransformasi menjadi “orang”. Mulai dari saat mereka lulus kuliah, memiliki pekerjaan yang layak, atau menikah dan bahkan ada yang sudah punya anak.

Ketika saya bertemu Chuckie, saya masih bisa merasakan sosok dia yang dulu, walau secara fisik dia udah berubah. Dari yang dulu kecil kurus, sekarang dia hampir ‘secara misterius’ jadi tinggi dan berisi, plus berjenggot ala ustad muda. Kalo nggak liat mukanya saya mungkin nggak akan kenal. Satu-satunya yang tetap menjadi ciri khasnya adalah kacamata yang entah minus berapa. :lol: Dan gigi depannya yang memang mirip Chuckie. Saya nggak bermaksud menghina atau apa, karena gigi saya sendiri juga lumayan ancur. Lagipula saya nggak pernah tertarik mengkritik sesuatu yang menjadi ciri khasnya itu.

Walaupun dia bukan tipe yang brainless-risk-taker seperti saya dulu, dia selalu senang dengan bualan-bualan ngayal yang saya ocehkan. Apalagi dulu kami sama-sama suka kartun seperti Rugrats. Dan setiap ketemu, dia selalu inget ketika kami membahas kenapa di setiap kemunculan Ultraman selalu dimulai dengan kata, “Ctjh-a!” It amused him, like a guilty pleasure for smart people. Bahkan dia masih ingat sampai saat kami bertemu terakhir kali di mesjid waktu itu.

Sikap dan sifat dia itulah yang langsung bikin keminderan saya seketika lenyap terhadap dia. Tapi suasana hatinya itu langsung berubah drastis ketika mengetahui bahwa saya nggak pernah menyelesaikan kuliah ataupun punya pekerjaan tetap. Kalau boleh dibilang, saya seolah bisa melihat kilatan petir menyambar di depan kacamatanya ketika berusaha menyerap informasi itu. Tatapannya sesaat kayak orang bingung kearah lantai mesjid. Saat itulah saya kembali merasa super galau. Ada banyak orang di sekitar saya, teman-teman hingga keluarga saya, yang sulit memahami dan mengakui jenis masalah yang saya hadapi. Dan Chuckie adalah salah satu teman baik saya yang sulit percaya dengan ‘hasil’ yang saya dapatkan saat ini, karena dia mungkin merasa saya mampu. Mungkin dia melihat kesenangan saya berkhayal sebagai semacam tanda kecerdasan. Dan bahwa saya, bagaimanpun, akhirnya akan menjadi seseorang, maybe not a scientist at NASA, but just be enough to settle well and working out some kind of normal life.

Seiring dimulainya shalat, saya semakin bisa merasakan keterguncangan di benak Chuckie (lebay). Seakan tiba-tiba dia tidak lagi mengenal saya. Tidak ada lagi “time machine” yang dia ucapkan dengan huruf “c”, tidak ada lagi Chukie sahabat Tommy, dan tidak ada lagi Ultraman yang muncul dengan kata seruan yang heroik. Saya semakin merasa mengecewakan satu orang lagi yang dekat dengan saya.

Sampai sekarang saya masih sulit menerjemahkan ekspresinya yang kayak baru ngeliat familinya kecelakaan itu. Entah karena kaget oleh ‘kegagalan hidup’ saya, atau perlahan dia menghapus saya dari daftar orang-orang yang dia hormati karena bakat khusus yang mereka miliki. Tidak jauh dari mesjid itu, dulu ada toko Serbu (serba lima ribu) yang pada saat itu sedang marak-maraknya. Dulu kami berdua pernah ke toko itu sepulang sekolah setelah saya menceritakan tentang Rubik Cube yang saya beli dengan harga hanya 5ribu di toko itu. Hati saya makin menciut mengingatnya sementara saya meninggalkan mesjid dan menaiki motor pulang.

“A man’s growth is seen in the successive choirs of his friends.” ~ Ralph Waldo Emerson

About these ads

4 pemikiran pada “Time Machine & Irony

  1. Tapi aku yakin, kehidupan kakak ngga bermuara disana. Kan semuanya belom berakhir… Kakak pasti punya alasan yang tepat dn udh diperhitungkan dg matang ketika kakak jalani hidup.
    Semangat ya kak… :)

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s