Pilihlah “Orang-Orangmu” Secara Bijak

Para tukang yang dipekerjakan orangtua saya selama beberapa bulan ini beda-beda karakter dan cara kerjanya. Ada yang kerjanya cepat selesai, ada yang agak lambat plus sambil nyuri barang-barang, ada pula yang bersikap semaunya…

Yang terakhir ini, kami sedang membangun kolam tambahan di samping rumah. Luasanya sebenarnya cuma 1×10 meter, untuk digunakan sebagai tempat proses pemijahan ikan-ikan yang sudah dewasa.

Tukang yang mengerjakan adalah saudara dari tetangga depan rumah. Dia bekerja sama seorang asisten. Jadi ada dua orang. Orang ini dibayar harian sama ortu saya, dengan seharinya 150ribu. Karena anggapan orangtua saya kolam tambahan yang dibangun ini nggak bakal makan waktu lama pengerjaannya. Mungkin karena alasan itu, kerjanya si tukang ini jadi lama banget. Sampai hari ini sudah sampai 10 hari. Padahal kolam yang pertama itu dulu selesai dalam 7 hari pengerjaan, padahal luasnya 3×9 meter, lebih luas dari yang dia kerjakan sekarang.

Lucunya lagi, dia melebih-lebihkan biaya pengeluaran. Dia bilang butuh 5000 bata. Emak saya kontan terkejut. Karena rumah petak yang baru selesai kemarin aja cuma menghabiskan 4000 bata, sementara kolam ini luasnya cuma 1×10 meter masa’ butuh sampe sebanyak itu?!

Dan akhirnya, Emak saya memesan 2000 bata aja, 1000 batanya langsung dipake, setengahnya lagi minta disimpen dulu di tokonya. Dan akhirnya lagi, terbukti bahwa kolam dan sebuah sekat sepanjang kira-kira satu meter menghabiskan nggak sampe 1000 bata. Akhirnya lagi lagi, 1000 bata yang masih di toko tadi di-request Emak saya untuk dituker dengan semen. (Kayaknya minta dibata tuh orang…)

Untuk pekerjaannya ini dia ‘berhasil’ mendapatkan gaji 1,3 juta dari total pengeluaran sekitar 2juta. Padahal kolam pertama yang notabene lebih luas, orangtua saya hanya harus membayar untuk tukang sebesar 1juta50ribu rupiah.

Persepi terhadap orang ini pun jadi makin random ketika saya mendengar bahwa katanya si tukang ini juga seorang ustadz. Tapi anehnya, pas hari Jum’at kemaren cuma asistennya yang kelihatan pergi shalat. Bapak yang lebih tua itu sampe bawa batik sama peci dari rumah. Dia juga yang setiap hari selalu kelihatan ramah, menyapa dan senyum sama saya setiap berpapasan. Jujur saya ngerasa dia yang lebih pantes jadi mandornya. :?

Hari ini rencananya si tukang yang nyeleneh itu mau ditegesin, mau diberhentiin. Kerjaannya memang udah hampir selesai, tapi masih ada yang belum diplaster. Jadi nantinya diselesaikan sama Bapak saya aja.

Kalo tukang yang suka nyuri barang-barang itu ceritanya juga lumayan unik. (Aduh ini kenapa jadi ngomongin orang yak… Astagfirullah…) Hehehe yah singkatnya, ada beberapa barang/bahan bangunan yang, menurut semua petunjuk dan kecurigaan yang ada, tukang itu yang mencuri.

Kejadian yang awkward itu adalah, selama dia bekerja membangun rumah petak kecil di samping halaman rumah kemaren-kemaren, ada dua orang, pada hari yang berbeda, yang lewat trus kenal sama tukang itu, eh terusnya mereka teriak-teriak sambil maki-maki ke tukang itu. :shock: Saya sih nggak menyaksikan sendiri, tapi Bapak saya yang cerita.

Orang-orang yang tiba-tiba maki-maki itu bilang mereka pernah memperkerjakan dia dan mereka mengalami kerugian karena banyak barang bangunan yang dicuri. Entah itu kayu, keramik, pegangan pintu, dan sodara-sodaranya lah. Usut punya ucup, ternyata si tukang yang merangkap “Robin Hood” ini lagi merenovasi rumahnya, tapi bahan-bahannya mereteli dari punya orang yang memperkerjakan dia.

Dan bukannya bereaksi membantah atau gimana, itu orang kata Bapak saya cuma cengar-cengir doang pas diteriakin sama orang-orang tadi.

Begitulah macem-macemnya tukang yang selama beberapa bulan belakangan ini mengerjakan pembangunan di rumah kami. Memang susah-susah gampang memilih orang yang bisa dipercaya untuk dipekerjakan. Salah-salah, karena kita dianggap butuh, akhirnya si tukang atau orang yang dipekerjakan itu jadi males-malesan atau kerjanya nggak bener.

Yang penting adalah ketegasan dari yang memperkerjakan. Bagaimana hasil yang diinginkan dan target waktu selesainya. Serta memilih orang-orang yang ingin dipekerjaan dengan lebih bijak lagi.

Kamu, yang unyu-unyu, saya pilih kamu!

About these ads

6 pemikiran pada “Pilihlah “Orang-Orangmu” Secara Bijak

  1. Haha :D situkang ada2 aja..
    Tp kadang memang gt ya, udah ngerasa milih yg bagus, ternyata msh aja ada mis-nya. Kdg punya niat baik mw nolong, akhirnya malah dikerjain balik, ckckck

    • iya kak rahma. kadang kita bayar orang atas dasar kekeluargaan karena masih familinya tetangga. tapi gimanapun tetep harus profesional biar gak ada yang rugi.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s