Hari senin lalu, ketika saya mengunjungi dokter untuk pertama kalinya setelah lima bulan, tanpa sengaja saya mendengar percakapan dua orang yang juga sedang menunggu giliran di rumah praktek Dr. Donald F. Sitompul, Sp.Kj.
Keduanya ibu-ibu, tapi yang satu lebih muda, satunya udah agak tua. Kita sebut saja ibu X dan Y.
Si ibu X yang berambut pendek mengatakan alasannya datang ke dokter, dia bilang nggak bisa tidur dan pikiran gelisah.
Sementara ibu Y, yang rambutnya sudah lumayan beruban, menceritakan tentang anaknya yang tingkah lakunya membuat pusing. Anaknya yang berusia 35 tahun memiliki obsesi ingin jadi “kaya”. Setiap diberi uang akan selalu habis dalam waktu singkat, seolah nggak pernah cukup.
Akhirnya, karena hasratnya itu nggak kunjung tercapai, mentalnya jadi terganggu. Dan itu sudah berlangsung cukup lama, kalo saya nggak salah denger, udah belasan atau 20an tahun.
Ketika mendengar cerita ibu Y, saya langsung terpikir episode mania dalam Bipolar.
Episode ini ditandai dengan energi yang berlebihan, membuat keputusan-keputusan yang riskan dan tanpa perhitungan, serta mengambur-hamburkan uang alias boros.
Saya nggak tahu pasti apa kata dokter mengenai masalah yang dialami anak ibu Y. Tapi dari komentar ibu Y tentang anaknya, dan saat ia mengomentari masalah ibu X, menunjukkan bahwa ia masih menganggap bahwa penyakit anaknya adalah akibat dari sifat dan pola pikirnya yang menyimpang, bukan sebaliknya. Padahal pola pikir tersebut bisa terbentuk oleh ketidakseimbangan kimiawi dalam otaknya yang membuat dia merespon sesuatu secara keliru atau berlebihan.
Dalam menghadapi masalah gangguan mental, yang terpenting adalah kita harus berani membuka hati untuk menerima pemahaman baru mengenai gangguan mental dan cara menanganinya. Bukan seolah-olah kita orang luar dan tidak tahu-menahu soal apa yang dihadapi kerabat/anggota keluarga kita.
Kita tidak ingin si pasien merasa seperti hewan buas yang dihindari karena perangainya yang emosional. Yang perlu dilakukan hanyalah memberikan alasan-alasan yang rasional dan tegas tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya saat emosional. Dan bahwa dia selalu punya ruang dan kesempatan untuk mengutarakan gagasannya. Se-rancu atau sememalukan apapun itu, terutama kepada orangtuanya atau orang-orang terdekat seperti pacar dan sahabat.
Karena kita semua sama dalam hal ingin didengarkan, dan menjadi bagian dari hidup.

sumber gambar: mhei.hubpages.com; healthcentral.com
berarti ini masuk ranah medis..? bukan ranah psikologi.. ?
iya mas, mungkin psikiatri lebih tepatnya. sepemahaman saya psikolog dan psikiater itu beda di cara penanganannya. dan tergantung masalah si pasien juga.
kalo di psikolog kita bisa bebas curhat lalu diberikan terapi yang tepat secara psikologis. tapi biasanya nggak pake obat.
kalo psikiater lebih melihat gejala dan ciri-ciri yang tampak atau dirasakan pasien, lalu disesuaikan dengan pengobatan yang tepat. tapi kita tetep bisa konsultasi sama dokter psikiater tentang hal2 yang umum kayak masalah masa depan pendidikan atau pekerjaan.
itu berobat ke dokter spesialis kejiwaan yach sob….
iya mas bens.
oh jadi seperti itu ya gan….
kita harus mau jadi pendengar, tapi terkadang dianya sendiri tidak mau cerita tentang apa yg ada dalam pikiranya…
wah iya emang kadang spt itu. yg penting kita yakinkan bahwa dia bisa cerita sama kita tentang apapun.
wah org kyk gtu ada lho di sekitarku..
tiap dikasih modal selalu aja habis…pas ada duit dihambur-kan…minjem sana sini..ckckck
waduh repot ya kalo gitu. semoga aja ada yang bisa membantu dia mengerti menggunakan uang.
Inilah Ane yang mau ikut berpartisipasi nongkrong, ngunjungin setia dan berkomentar.. Hehehehe..
sip monggo… bentar lagi bandreknya dibagi. *jadi wiridan*
Wahhh,, Om Ane Suka Om Cara Pemilihan Judulnya..
Sangat Variatif Sekali.. :/
…thnx.
pernah denger juga cerita tiep orang spt ini .. susah juga ya
iya. seperti kata-kata…jika seseorang diberi ikan, dia bisa makan untuk satu hari. tapi jika diajari menangkap ikan dia bisa makan berhari-hari…
Jujur sampe sekarang saya masih ga ngerti dan bingung dengan bipolar itu >.<
iya gejalanya emang bisa macem2 mas.. tapi intinya..
bi=dua
polar=kutub
jadinya dua kutub. kutub manic (enerjik, semangat ber-lebay-an) sama depresif (lesu, putus asa, dsb). moodnya gampang berubah scr bertolak belakang alias drastis.