Hari ini saya jalan-jalan sama ortu ke sebuah tempat rekreasi memancing Siombak. Jam sembilan pagi kami berangkat dari rumah dengan van tua era 90an.
Saya sudah beberapa kali ke Siombak. Sejak masuk gapuranya di Kecamatan Medan Marelan, kita udah bisa ngeliat banyak kolam-kolam memancing harian dan kiloan. Iya, jadi sistem pembayarannya itu beda-beda.


Danau Siombak ini adalah danau air payau, yang artinya tempat bermuaranya air tawar dan air laut. Ketika masuk jam siang air akan pasang dan bercampur dengan air asin.
Kalo mancing di danaunya justru nggak bayar. Kecuali uang masuknya aja 8ribu rupiah. Itu juga karena hari Minggu. Kalo hari biasa malah nggak bayar sama sekali, kata Bapak saya.
Dari dulu saya memang kurang hobi mancing. Karena saya orangnya sangat nggak sabaran. Tapi hari ini saya mencoba belajar lagi dari Bapak saya. Dan ternyata belum berapa lama kail pancing saya ditarik. Jreng jreng! Eit, yah lepas~… Tapi waktu saya mau ngeluarin kailnya dari air malah kena seekor ikan kecil.
Saya lupa apa nama jenis ikannya (apalagi nama sesuai akte kelahirannya). Tapi walaupun kecil saya udah seneng bisa dapet ikan dari danau Siombak.
Dan walau ternyata selama seharian itu cuma satu ekor itu yang ketangkep, alias nggak tercapailah cita-cita mulia kami untuk nangkep minimal 4kg ikan.
Di danau Siombak ini suasananya sangat tenang, kalo nggak pake pentas musik organ tunggal di halaman depannya.
Anginnya semilir, bisa bikin ngantuk. Apalagi liat pemandangan danau yang permukaannya tenang kayak kaca, luas dan sesekali bergelombang ditiup angin. Romantis banget deh.
Di areal tersebut juga ada sejumlah fasilitas bermain anak-anak, seperti ayunan dan kuda-kudaan (komedi puter).
Terakhir kali ke tempat ini arealnya belum sebagus ini. Kami menempati gubug/pondok yang sama dengan saat terakhir kali kami datang kesini.
Dulu di belakang gubug kami itu ada genangan air yang juga ada ikannya, tapi kesannya itu yah rawa-rawa banget. Tapi sekarang udah bersih bahkan ada toiletnya juga.
Satu lagi yang lumayan saya perhatikan yaitu kalo mesen makanan disini seperti nasi goreng, mi goreng, mi instan jangan harap dapet porsi yang banyak atau seperti di rumah-rumah makan.
Bahkan piringnya aja kecil dari plastik, dan masih ada label harganya. =.=’ Yah seenggaknya ada makanan. Tapi mending sih bawa makanan dari rumah.
Beberapa jam di tempat itu lumayan nggak kerasa, karena suasananya yang tenang dengan angin semilirnya. Sementara itu Emak saya tetep ‘ngejer setoran’ bacaan Al-Qur’an-nya doi.
Selama disana Emak saya sukses dapet 1 juz. Sementara kail Bapak dan saya belum juga kecantol sama ikan. Sekalinya kecantol, lepas lagi. Bikin galau tuh ikan.
Waktu saya Google, saya membaca tajuk (ceila tajuk) berita tentang sengketa tanah di lokasi ini. Kata Bapak saya, tanah ini dimiliki seorang Haji bersuku Batak Mandailing. Tapi diatas dia, tanah disini masih dimiliki oleh keturunan raja-raja Melayu jaman dulu dan mereka punya surat resminya.
Apapun ceritanya, yang penting semoga tempat ini jangan sampai ditutup. Karena lumayan buat rekreasi orang-orang di sekitar. Daripada harus jauh-jauh ke kota untuk sekedar ke mal.
Setelah adzan Dzuhur kita memutuskan pulang. Saya rasa Bapak masih ingin berlama-lama. Tapi akhirnya kita pulang juga sekitar jam satuan siang.
Sebelum berangkat saya sempat memfoto pemandangan yang selalu ada di tempat ini. Nggak jauh dari pondok kami ada semacam rawa atau muara yang terlindungi peopohonan. Dan di muara kecil itu ad sebuah kapal yang terdampar dengan setengah badan masuk ke air.
Ngeliat dari modelnya kapal ini dulu pasti sering dipakai waktu kawasan danau Siombak masih banyak dikelilingi rawa-rawa. Ngingetin saya sama kapal di film Anacondas: The Hunt for Blood Orchid.

Wah, mancing mania ya mas
Jangan-jangan itu tempat pembuatan film Anacanda-nya mas
hehe
hwehehe saya jusru kurang hobi mancing. tapi kayaknya mau juga mulai belajar2. sapatau bisa masuk acara Mancing Mak Inah…mantaaab!
kok kelihatannya tempatnya ga kerawat ya? padahal bagus tuh
iya emang masih banyak sampah di danaunya. yang digeber justru hiburannya, kayak wahana anak sama panggung organ tunggal. gubugnya juga goyang2 jadi berasa anemia.
mancing, salah satu hobi saya ni. kalo dulu suka mancing di pulau sanghiyang, ikannya besar-besar. hehe
mancing mania, mantap…
wah pasti mantap ya ikannya besar2..
iya sob, kalo hobi mancing jg. pulau sanghiyang tu bs jd alternatif yg bagus. hehe
sya juga gag hobi ama mancing sob….
btw dapat banyak gag…?
wakak cuman atu mas bens. itupun kecil trus dilepas lagi.
Paling suka liat air bening seperti itu. Kepengen angkut ke kota.
kolam renang kan bening juga. hehehe. iya saya juga jarang2 ke tempat2 wisata yang ‘berair’ spt ini.
wah .. seneng ya masih bisa bercengkerama dengan ke dua orang tua di danau, sungguh sangat beruntung sekali kamu .
btw. kapalnya antik juga, apa ndak ada niat untuk dientaskan dari danau itu ? atau memang sengaja dibiarkan begitu saja ?
di kampungku sini ada 9 danau, masih sgt asri, tapi biasanya cuma aku dan suamiku ynag menikmatinya, ditemani ratusan burung aneka warna, jadi kayak danau milik pribadi
waah romantis.
iya itu gaktau kapal punya siapa, dibiarin aja disitu dari dulu. mungkin dulunya kapal buat disewa untuk nyari ikan di danau.
ortu atau keluarganya di indo sekali2 diajak mbak ke danau disana. buat rekreasi keluarga.
Kami pernah ke kota cina namun tidak sempat mengunjungi danau siombak. Sepertinya danau siombak cukup menarik untuk dijadikan tempat tujuan wisata buat warga Medan. Sayang info nya tidak banyak diketahui bahkan oleh warga kota Medan sendiri. Mudah2an tempat wisata ini bisa berkembang. Kan sayang juga tempat yg punya potensi seperti ini tidak bisa diberdayakan untuk kemajuan wisata kota Medan. Apalagi menurut info, danau siombak termasuk kedalam salah satu tempat dalam program visit medan year 2012.
waw keren. iya ya semoga danau siombak berkembang jadi salah satu tujuan wisata utama di kota medan.
wah semoga tempat2 kayak gini lebih berkembang lagi jadi tempat wisata dan makin banyak fasilitas buat pengunjung.
Btw, itu emaknya so sweet ya, jalan2 aja masih sempet baca alqur’an..subhanallah..
salam kenal
iya doi suka kejar setoran bacaan Alqur’an-nya. pengen bisa khatam lebih banyak.
danau siombak ini emang punya potensi yang bagus. tapi mayoritas orang lebih mengenalnya dengan kolam2 pancingnya.
Salut buat emak
iya Alhamdulillah.
tempatnya agak ngeri deh, sepertinya si…
gimana mau serem. di belakang kami karyawan2 disitu pada nyanyi pake organ tunggal.
Ping-balik: White Light Light « The Moon Head
salam
nice trip…
kayaknya tempatnya enak buat kontemplasi, soalnya sy suka mancing, lihat danau begitu trs jd kepengin
iya emang pas banget tempat itu tenang apalagi kalo belum banyak pengunjung. sesekali ada suara kecipak air dari ikan atau orang yang mancing.. ada juga yang sewa perahu buat nyari ikan.
sayangnya jauh dari jawa
kapan2 kesini…
alamatnya dmna ya???
dr kmaren search g dapat2
Medan Marelan. ntar di gapuranya ada tulisannya kok, Kelurahan Paya Pasir gitu.