Hiro

Hiro tidak seperti kebanyakan anak diantara teman-temannya. Dia lebih suka berada di ‘bengkel’-nya ketimbang bermain bersama anak-anak lain. Di gudang kecil di belakang rumahnya itu dia gemar memperbaiki mainan-mainan lama seperti mobil-mobilan atau robot dengan batere.

Awalnya Ibu berpikir Hiro anak yang pemalu. Tapi saat dia hampir lulus SD, Ibu mulai lebih sering membujuknya untuk bermain di luar atau bercengkrama bersama sepupu-sepupunya. Hiro cuma jawab, “Nanti,” setiap kali.

Suatu hari sepulang sekolah, ia berbelok dengan sepedanya menuju jalan raya. Di jalan itu ia menelusuri etalase toko-toko dan bangunan kantor. Kemudian ia memperlambat lajunya saat mendekati toko perlatan bangunan dan pertukangan.

Ia menggeletakkan sepedanya di halaman toko, lalu menempelkan hidungnya di kaca etalase, di depan rak yang menyimpan VICTORINOX Tinker Swiss Army Knife dengan 12 fungsi. Benda mungil yang merangkap pisau, pembuka botol, obeng plus, dan lain-lain.

Tapi label harganya membuat kecil hatinya. Darimana dia bisa mendapat uang Rp140,000 untuk membeli pisau multi-alat itu?

Hiro mengungkapkan keinginannya pada Ibu. Tapi Ibu berkata, “Aduh, Nak, kenapa mahal sekali. Ibu belum bisa belikan. Seragam adikmu aja belum Ibu beli. Belum lagi buku-buku sekolah dia nanti.” Utami adik Hiro satu-satunya baru saja naik ke kelas 3.

Esok harinya Ibu menemui Hiro di kamarnya. “Ibu bukan menyuruh, tapi ini terserah kamu. Kamu tahu kan Nenek Halimah yang rumahnya di ujung gang?” Hiro mengangguk. “Dia menawarkan pekerjaan membersihkan rumah.”

“Kerjanya ngapain?” tanya Hiro.

“Nanti Nenek Halimah yang kasih tahu. Kamu kerja empat atau enam hari paling lama. Mau nggak kamu? Dibayarnya 30 ribu lho. Lumayan kan buat tambahan uang tabungan kamu. Minggu depan pas ultah kamu kan bisa dapet lagi dari paman atau bibi.”

Senyuman Ibu meyakinkan hati Hiro. Anak itu membulatkan tekad dan mengambil pekerjaan di rumah Nenek Halimah.

Nenek Halimah tinggal sendiri di rumah sederhananya. Dulu anak-cucunya masih sering mengunjungi. Tapi sejak suaminya, Kakek Abdullah meninggal dunia, dan membagikan warisan kepada keluarganya, sebuah sepeda motor pun tidak pernah lagi tampak di halaman yang asri berhiaskan tanaman bunga itu.

“Kamu Hiro? Ayo masuk.” Nenek Halimah berjalan dengan lincah dalam sarung batiknya, membimbing Hiro ke pintu belakang rumahnya. “Mari sini. Tolong kamu bersihkan rumput-rumput liarnya, ya.”

Halaman belakang itu penuh rumput liar hingga ke sudut. Hiro menelan ludah menghadapi pekerjaannya.

Dengan sebuat arit kecil, Hiro membabat tiap inci rumput liar yang ada dan memotong ranting pohon sesuai instruksi Nenek Halimah.

Selama tiga hari sepulang sekolah, Hiro bergelut dengan pekerjaan-pekerjaan lain di rumah Nenek Halimah hingga pukul 5 atau 6 sore.

“Hiro, ayo masuk dulu,” panggil Nenek Halimah.

Mereka minum es teh manis ditemani sepiring bakwan. “Cucu-cucu Nenek nggak pernah main kesini lagi?” tanya Hiro.

Nenek Halimah mereguk minumannya dengan bibir gemetar khas orang lansia. “Yah, anak-anak Nenek kan sudah punya urusan masing-masing. Pasti sibuk dengan pekerjaannya.”

Hiro mengunyah bakwannya sambil menatap berkeliling ruang tamu. Lalu matanya menangkap sebuah foto hitam putih seorang pria memakai seragam kemeja dan celana pendek putih. “Itu siapa, Nek?”

“Itu…” jari Nenek Halimah menunjuk ragu. “Itu Kakek Abdullah, masih mudanya. Dulu Kakek masuk Sekolah Rakyat tiga tahun di Solo.”

“Waktu meninggal Kakek sakit apa?”

Embuh, iku. Nenek nggak ngerti omongan dokter. Komplikasi opo ngono. Yah namanya udah tua, Hiro…”

Setelah itu Nenek Halimah terlihat mengambang pikirannya. Ia menatap ke jendela yang terang benderang oleh cahaya matahari sore.

Tiba-tiba Hiro merasa bersalah menanyakan tentang mendiang suami Nenek Halimah.

Hiro kelelahan luarbiasa setiap pulang ke rumah. Ia sering kerepotan mengerjakan PR karena ketiduran selepas Maghrib. Akibatnya dia sering terjaga tengah malam lalu kemudian tidur lagi sekitar jam 2 atau 3 pagi. Tapi ia tidak berhenti memikirkan benda impiannya. Suatu hari ia bermimpi memiliki pisau Swiss Army itu dan tidak pernah melepasnya dari tangannya.

Ini hari keenam Hiro bekerja di rumah Nenek Halimah. Dia tidak mengatakan senang mengerjakan semua pekerjaan itu, tapi dia senang bisa membantu Nenek Halimah yang tidak punya siapa-siapa untuk dimintai bantuan.

Saat Hiro datang ke rumah Nenek itu, ada seorang laki-laki dan anak perempuan kecil berusia sekitar 2 tahun. Laki-laki itu bicara tegang dengan Nenek Halimah di meja makan. Nada suaranya pelan tapi tinggi. Ngotot minta sesuatu. “Masa’ nggak ada, Mak? Kami semua tahu tanah yang dibeli terakhir sama Bapak waktu itu. Adekku tahu, Mbakku pun tahu. Tapi mereka pikir hasil tanah itu sudah Emak makan semua.”

“Ya tapi setahu Emak nggak ada tanah yang kamu bilang itu, Dir…” tutur Nenek Halimah memohon. “Tanah itu nggak jadi dibeli. Bapakmu udah sakit-sakitan, jadi Emak bilang buat apa lagi tanah buat dijadikan kebon saja kok. Akhirnya nggak jadi dibeli.”

Dada laki-laki itu naik-turun menahan marah. Tatapan matanya berpindah-pindah dengan gelisah. “Emak jangan sembunyi-sembunyi begitu. Kalau bukan saya yang ngurus tanah itu, siapa lagi. Nanti kalau Mbak dan adek-adekku tahu tanah itu masih ada, bisa ribut lagi, Mak.”

“Yah, Khaidir, Emak nggak tahu harus bilang apa lagi. Makan dulu lah sana. Emak ada ikan asin kesukaanmu itu. Anakmu udah makan belum ini?” Nenek Halimah mencoba bermain-main dengan cucunya yang malah menangis saat ia pegang. Rupanya si kecil lelah karena perjalanan panjang.

“Percuma sampe tak bawa-bawa anakku kesini. Emak nggak bisa diajak kompromi. Aku mau pulang saja!” Laki-laki itu menggendong anak perempuannya keluar. Mereka melewati Hiro yang duduk kaku di salah satu kursi ruang tamu. Mobil Toyota lama diluar bergerung halus, kemudian pergi meninggalkan halaman.

Hiro kaget ketika mendengar suara tangisan menyembur dari Nenek Halimah. Tangisannya penuh getaran, campuran antara keterkejutan dan ketidak-berdayaan. Tapi tangisan Nenek Halimah dengan cepat pula reda sambil disapukannya kain batiknya ke wajahnya yang berurai airmata.

Hiro berjalan mendekati Nenek Halimah. Ia hanya bisa terduduk lesu di kursi makan, memandangi Nenek Halimah menghadapi kesedihannya. Tangisan orang yang sudah tua itu lugu seperti anak kecil, tapi dua kali lebih menyedihkan dari tangisan orang dewasa.

Hari ketujuh. Hiro berulangtahun yang ke-12.

“Sudah seminggu ya, Nak Hiro. Waktunya Nenek membayar kamu.” Nenek Halimah mengeluarkan sejumlah uang dari dompet kecilnya.

“50 ribu?” Hiro kaget setelah menghitung uang di tangannya.

“Ia, kan sudah lebih dari 3 hari. Nggak apa-apa. Daripada bayar tukang, Nenek bisa bayar lebih.”

Hiro merasa belajar sesuatu hari itu. Dan dengan segala keyakinannya, ia mengembalikan uang itu. “Um…maaf, Nek. Tapi jika Nenek tidak keberatan… Saya tidak usah dibayar saja, Nek.”

“Lho, kenapa?” Nenek Halimah memegang siku anak itu.

“Nggak apa-apa.” Hiro tersenyum. “Hari ini hari ulangtahunku. Aku ingin sekali-sekali memberi hadiah, bukan menerima hadiah.”

“Duh…cah bagus. Anak, kok-…” Nenek Halimah mengecup ubun-ubun Hiro dengan bersemangat.

Hiro pulang dengan perasaan lega yang aneh. Di halaman, Ayah sedang mencuci sepeda motornya. Selain itu, sebuah mobil sedan yang familiar terparkir diluar pagar. “Eh, ada paman tuh,” kata Ayah, mendorong kacamata di hidungnya.

“Nah ini dia yang ulangtahun,” kata paman ketika Hiro masuk ke rumah. “Selamat ulangtahun, ya Hiro. Kasih, Mbak.” Ia memberi isyarat pada anak sulungnya.

“Selamat ulangtahun, ya Mas Hiro.” Sepupunya itu sebaya dengannya. Tapi karena paman adalah adik Ibu, jadi anak-anak paman memanggi Hiro dengan sebutan Mas.

Hiro menerima sebuah kotak persegi panjang yang relatif kecil. Ia begitu terkejut ketika mengetahui isinya. “Pisau Swiss Army 12 fungsi?!” serunya senang.

“17,” Paman meralat.

“Te-..terimakasih, Paman!” Hiro menyalami paman dan bibinya.

“Um…paman nggak sendirian, lho. Ibumu juga menyumbang bujet setengahnya.”

Hiro tersenyum memandang ibunya. Ibu mengulurkan tangannya, kemudian menarik putranya ke dalam pelukan.

“Gimana kalau malam ini kita makan diluar?” usul Bibi.

Hiro mengangguk-angguk. “Tapi…boleh nggak kalau aku bawa teman?”

Setelah dibujuk sedemikian rupa, akhirnya Nenek Halimah mau ikut makan malam bersama keluarga Hiro.

Keikhlasan anak laki-laki itu membuahkan hasil yang lebih dari harapannya. Namun masih banyak ketulusan hati yang masih menghadapi pencobaan. Tuhan tahu, tapi menunggu hingga saat pengungkapan bahwa kasih sayang lah yang dapat membuat segala persoalan menjadi lebih baik. Bukan keserakahan dan ketidak-damaian hati yang lalai bersyukur.

Ditulis untuk meramaikan #WriterChallenge tema: “Ketulusan”

gambar: ubdavid.org; flickriver.com; merdeka.com

About these ads

26 pemikiran pada “Hiro

  1. Ketulusan memang hadir di hati-hati yang mereka yang mengerti bagaimana seharusnya menyikapi apa pun yang datang kepada mereka.

    Cerita yang menarik, Ham. :’)

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s