(Fiksi) Taubat Ayah

Ayah Romi adalah pemabuk dan suka berjudi. Saban hari selalu pulang dalam keadaan tidak sadar. Lebih parah lagi, dia suka memukul istrinya. Wanita itu juga sering melawan atau balas marah-marah. Tapi itu justru membuat Leman semakin mengamuk dan mendorong serta memukul lebih keras.

Namun tak jarang Romi mendapati ayahnya menangis di tengah kemabukannya.

Orang-orang yang mendatangi rumah untuk menagih hutang merupakan peristiwa yang biasa.

Ketika Romi di kamar orangtuanya, ia berniat mencuri sejumlah uang dari tas ibunya. Tari masuk memergoki anaknya sedang melakukan hal yang menghancurkan hatinya itu. Dia memukul-mukul Romi sambil menangis pilu, menyesalkan perbuatan putra semata wayangnya. “Kamu jangan jadi seperti ayahmu! Kamu itu mesti sekolah yang bener biar jadi orang… Jangan seperti ini, Romi…”

Usia Romi hampir 17 tahun. Seharusnya dia kelas XII SMA saat ini, tapi karena masalah ekonomi, dia sedang tidak bersekolah selama satu setengah tahun belakangan.

Mengetahui perbuatan Romi, ayahnya secara mengejutkan menjadi melankolis di hadapan putranya. “Kamu butuh uang berapa? Biar Ayah usahakan…”

Awalnya Romi ragu. Kemudian ia akhirnya menjawab, “100 ribu. Mau beli jaket sama celana panjang.”

Ayahnya mengeluarkan sekuwel uang pecahan lima ribu dan seribuan. “Ini ada 80ribu. Dipake dulu. Nanti kalo ada uang lagi-…”

“Utang Ayah dimana-mana menumpuk, tidak usah memberiku uang segala. Nggak pantes!” Romi melompat berdiri dan berjalan pergi.

“Romi!” Leman berseru. Anaknya berhenti dan menoleh dengan ekspresi ketus. “Tolong jangan lakukan lagi… Jangan mencuri…”

Romi memandang ayahnya dari ujung kepala ke ujung kaki dengan tatapan membenci, kemudian melanjutkan langkahnya.

Suatu malam Leman pulang dalam keadaan mabuk parah. Ia menendang pintu kamar dan menggeret Tari keluar dari kamar. Terdengar suara gaduh di dapur. Romi berlari untuk melihat apa yang terjadi. Sepertinya ayahnya berusaha ‘menyetubuhi’ istrinya sendiri dengan cara layaknya pemerkosa yang tidak beradab.

Dipenuhi amarah, Romi meraih sebuah vas bunga dan menyerang kepala ayahnya. “Sialan!”

Vas bunga kecil itu hancur berkeping-keping.

Tari lari menuju kamarnya. Disana ia buru-buru mengepak pakaian-pakaiannya dalam sebuah tas. Kemudian keluar dari rumah sambil menangis tersedu sedan.

“Ibu…! Ibu mau kemana, Bu?” Romi berlari menyusul ibunya.

Ibunya tidak menjawab. Terus berlari sambil menangis. Romi mengejarnya hingga ke jalan raya. Jalanan basah karena hujan. Saat ibunya menyeberang, sebuah angkot tiba-tiba mengerem namun ban-ban depannya terselip di jalan raya yang licin. Tubuh angkot berwarna hijau itu menghantam Tari hingga ia terhempas ke aspal dengan keras.

Wanita malang itu meninggal disana. Dibawah rintik hujan dalam pelukan malam yang dingin.

*

Semua peziarah telah pulang. Tinggal Romi sendirian menatapi makam ibunya yang bertabur bunga dan daun pandan.

Tatapannya kosong. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya. Ketika menoleh, ia tidak bisa menahan amarahnya. Ia menghujani ayahnya dengan pukulan, namun ditahan oleh ayahnya dengan sekuat tenaga.

“Maaf… Maafkan Ayah, Romi….” Leman memohon lemah. Romi terduduk di tanah, merangkul kayu nisan ibunya sambil menangis tanpa suara. Airmatanya menetes jatuh ke tanah kuburan.

“Ayah tahu ayah melakukan banyak sekali kesalahan besar,” Leman berkata lemah. “Tapi Ayah tidak mau kamu menjadi seperti aku. Ayah tidak ingin kamu tidak menghormati ibumu dengan perbuatan buruk seperti mencuri. Cukup benci Ayah… Tapi jangan sakiti seseorang seperti ibumu.”

“Apa gunanya! Ibu meninggal ya karena Ayah!” Romi berkata dalam tangisnya.

Leman mengangguk-angguk sambil menutup wajahnya dengan satu tangan. “Ayah janji Ayah akan berubah, Rom. Ada sebuah pekerjaan yang ditawarkan oleh teman Ayah. Dan Ayah ingin kita pindah dekat tempat kerja Ayah itu. Ayah akan mulai berusaha melunasi hutang-hutang. Ayah akan memasukkanmu lagi ke sekolah.”

Romi menatap ayahnya dalam pandangan samar terhalang oleh airmata. “Ayah sungguh-sungguh?”

“Kalau kamu setuju. Kita akan pergi, Nak. Kita akan pergi dari sini dan memulai kehidupan baru. Ayah janji…”

Leman mengulurkan tangannya, mengajak bersalaman. Romi meraih tangan ayahnya itu dan balas menyalaminya.

Kemudian ia menaruh tangan kasar ayahnya di wajahnya, menciumnya. Perlahan kemudian ia memeluk tubuh kurus itu. Untuk pertama kalinya, Romi merasa memiliki seorang ayah secara sempurna.

Menjadi seorang ayah adalah pekerjaan hati. Ayah yang sempurna bukanlah yang selalu bisa memberikan kita barang-barang bagus, melainkan seorang ayah yang berkomitmen mengusahakan kebaikan bagi keluarganya.

Ditulis untuk #WriterChallenge tema: “Ayah”

gambar: fathers.com

About these ads

22 pemikiran pada “(Fiksi) Taubat Ayah

  1. cerpen ini hebat, dan ketahuan keprofesioanalan penulisnya. Alurnya bergerak sangat cepat tidak neko-neko membuat pembacanya ingin segera menyelesaikannya dalam sekali baca. pesan moralnya sangat ok..thanks salam dariku

  2. Hihi. Sudah dapat lebih dari satu pujian kan Ham? :P
    Eksekusinya di cerita kali ini bagus. :D

    Apalagi bagian tulisan penutupnya. ;)

  3. Ceritanya mengalir mas, bagus bgt, keren.. Tapi ada sedikit suasana kelu yang terselip ya, ane rasa suasana itulah yang menghidupkan cerita ini..

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s