(Fiksi) Konspirasi

Darwis memutar tubuhnya, berlari mundur sambil menghembuskan nafas dari mulutnya. Kaos tipis yang dikenakannya melekat di tubuhnya oleh keringat. Pria berusia 84 tahun itu mengelap dahinya yang botak hingga ke puncak kepala, kemudian membalik badan menuju pinggir lintasan.

“Kakekku percaya kalau Indonesia masih belum aman,” kata Rafi kepada temannya, Safitri. “Dia percaya bahwa penjajah akan kembali sewaktu-waktu.”

Safitri tersenyum mendengarkan remaja laki-laki itu. “Kedengarannya kakek kamu manis sekali. Nasionalismenya tinggi, ya.”

“Manis? Dia tidak pernah menelepon kalau keluar-keluar rumah. Kami sampai panik dibuatnya dan pernah tanteku menelepon polisi untuk mencarinya.”

“Oke, oke…” Safitri menempelkan telunjuk di dagunya. “Biasanya dia suka melakukan apa?”

Di rumahnya, Darwis membaca buku-buku tentang sejarah dan nasionalisme. Menandai bagian-bagian kejadian yang ia kenali dengan spidol highlighter. Tentang bagaimana dulu kawan-kawan seperjuangannya bertempur mati-matian untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara.

“Tentara NICA menggunakan nama RAPWI (Recovery of Allied Prisoners of War and Internees) sebagai kedok. Mereka itu adalah orang-orang yang mencoba menyerahkan kembali Indonesia ke tangan Belanda setelah kekalahan Jepang,” ceritanya kepada anak-cucunya.

Darwis masih bisa merasakan panas api di wajahnya ketika pertempuran sengit mewarnai garis rel demarkasi di Bandung. Malam-malam itu belum berakhir baginya. Hari ini adalah hari lain dimana ia harus tetap bersiap melawan tangan-tangan yang mencoba menguasai kembali negaranya.

“Bukan tidak mungkin Cina dan Soviet akan kembali menumbuhkan PKI di Republik Indonesia kita ini. Bukan mustahil Inggris, Amerika dan Belanda mencoba menguasai kembali Indonesia dan seantero Asia Tenggara. Ingat itu.”

Selama tangannya masih bisa terkepal, ia siap membangun kembali dinding pertahanan yang terdiri dari pejuang-pejuang yang tidak takut mati demi negara tercinta.

*

“Gimana kalo bantal kesehatan ini?” Safitri memberi usul.

“Dia udah punya dua.” Rafi menjawab, setengah kecewa.

“Tadi apa kamu bilang soal alasan ngasih hadiah ulangtahun kakekmu?”

“Supaya kakekku lebih memerhatikan keluarganya, dan bukan khayalan-khayalan masa lalunya.” Rafi menghela nafas.

Safitri memerhatikan temannya. “Udah, kamu jangan ikutan mikirin beban kakekmu. Yang penting kan kamu sebagai cucu harus bersabar merawat dan menemani kakekmu supaya dia nggak terus-terusan galau.”

Keduanya tertawa pendek.

Rafi menatap Safitri. Ia merasa malu ketika menyadari figur cantik teman sekelasnya itu.

“Udah mutusin mau beli yang mana?” Safitri bertanya.

“Aa..yeah.” Rafi pun meraih sebuah alat pijat mungil bertenaga batere di depannya.

*

“Kamu masih nggak percaya sama Kakek, kan?” kata Darwis pelan. Rafi berhenti membuka hadiah-hadiah dari anggota keluarga yang lain.

“Rafi juga belajar sejarah secara reguler di sekolah, Kek. Kan Rafi udah bilang.” Remaja kelas XII itu membuka kado darinya yang ia beli tadi siang.

“Kamu pikir kamu aman, tapi coba lihat di sekitar meja belajarmu di rumah. Telepon seluler, komputer, pemutar musik kamu dan teman-temanmu,…semua itu produk-produk canggih yang dibuat sebagai langkah untuk menjajah negara-negara Asia Tenggara!”

Pikiran Rafi tersentak mendengar kata-kata kakeknya. Tangannya sibuk membuka kemasan kotak alat pijat mungil itu, tapi pikirannya tertambat pada suara kakeknya.

“Tahukah kamu kalau Inggris Raya mengincar untuk menjajah kita seperti yang dia lakukan pada Malaysia? Belanda pun masih ingin merebut kembali negara Indonesia ini jika kita lalai sedikit saja. Kamu tidak tahu nilai negeri kita ini sampai kamu sadar betapa banyak orang yang ingin memilikinya. Dan bagaimana mereka bisa bertindak keji kepada orang-orang yang mencoba menghalangi rencana mereka.” Dada Darwis naik-turun.

Rafi menurunkan kedua kakinya dari tempat tidur yang penuh kado. Ia menggeleng untuk ‘mengeluarkan’ suara kakeknya dari kepalanya. “Um…apa kakek mau istirahat sekarang?”

Darwis menatap cucunya dengan teliti. “Kakek seumuran kamu ketika berjuang bersama teman-teman di Bandung, Desember 1945… Jangan sia-siakan usia mudamu, Rafi. Lakukan sesuatu walau sedikit untuk negaramu.”

Dada kaos pria tua itu basah oleh keringat seusai berbicara dengan bersemangat. Ia menaikkan kedua kakinya keatas tempat tidur dan berbaring.

“Biar Rafi bereskan sebentar kado-kadonya…”

*

Senyuman Rafi melebar di depan layar ponselnya. “Bun…!” Ia berlari menuju kamar orangtuanya.

Bunda yang sedang menghitung biaya bulanan mendongak kaget. “Ada apa?”

“Aku diterima, Bunda! Beasiswaku di Leiden diterima… Aku akan ke Belanda!”

“Subhanallah… Sinih!” Bunda menarik kepala anaknya kemudian mengecup keningnya berkali-kali dengan bersemangat. “Alhamdulillah… Kasih tahu Ayahmu sana.”

Kita sudah tahu jika Darwis mendengar kabar ini, dia akan jauh dari gembira. Tapi Rafi tidak merasa harus menghindari dari memberitahu kakeknya. Ia justru berusaha memberi pengertian bahwa hubungan Indonesia dan Belanda itu sudah baik. Bahwa banyak budaya Indonesia yang dipelajari dan dilestarikan disana.

Darwis mendengarkan, tapi sambil bersiap menyembur cucunya dengan argumen-argumen yang menunjukkan betapa celakanya peristiwa ini bagi dirinya dan seluruh bangsa Indonesia.

Rafi menceritakan tentang universitas yang akan ia masuki. Menceritakan tokoh-tokoh Indonesia di masa lalu yang juga belajar disana. Soetan Sjahrir, Achmad Soebardjo, Mr. Teuku Muhammad Hasan, Sri Sultan Hamengkubuwono IX…

Namun pada akhirnya ia tidak dapat memenangkan hati dan restu dari sang kakek.

Alih-alih menyemburnya dengan argumen dan diskusi panjang, Darwis berpaling dari cucunya, beranjak pergi dari kursinya dengan sikap yang paling memilukan yang bisa dirasakan cucu manapun.

Beberapa bulan kemudian Rafi berangkat ke Belanda untuk meraih pendidikannya.

Suatu hari, Darwis jatuh ketika melakukan latihan rutin di taman olahraga yang biasa ia datangi. Tak lama setelahnya dokter memvonisnya menderita sklerosis ganda yang membuat Darwis sulit bergerak.

Setahun kemudian Darwis meninggal saat sedang mencoba menandai buku sejarah yang ia baca dengan highlighter.

Rafi pulang ke tanah air untuk menyaksikan pemakaman kakeknya.

Safitri yang mengambil studi ilmu perpustakaan ada disana untuk memberi dukungan kepada sahabat tersayangnya. Gadis itu meraih dan menggenggam tangan Rafi di depan makam kakeknya, menggoyang-goyang tangan Rafi untuk mengalihkan perhatian pemuda itu.

Rafi menatap Safitri yang tersenyum memberi semangat.

“Kamu tahu apa yang akan kita lakukan?” Safitri berujar.

Bibir Rafi terbuka perlahan, tapi ia gagal menemukan kata untuk merespon pertanyaan itu.

“Kita akan hidup untuk masa kini dan masa depan. Dengan semangat luarbiasa yang diwariskan orang-orang hebat seperti kakekmu, kita akan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan untuk negara ini.”

Rafi tersenyum.

Kita sudah merdeka 67 tahun lalu. Tapi bukan berarti perjuangan berhenti disitu. Kemerdekaan adalah sesuatu yang harus dipertahankan dengan menaati peraturan dan membangun dalam kebersamaan.

Ditulis untuk #WriterChallenge dengan tema: “Merdeka”.

Selamat merayakan Hari Kemerdekaan RI yang ke-67! Jayalah Indonesia dalam kebersamaan dan persatuan. Merdeka!

Sumber inspirasi dan referensi: 1 2 3 4 5 6

About these ads

12 pemikiran pada “(Fiksi) Konspirasi

  1. Ping balik: Konspirasi | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s