(Fiksi) Pulang

Daya sudah ikut pamannya yang seorang yogi sejak ia masih berumur 2.5 tahun. Orangtua Daya berpikir bahwa dengan menjadi yogi putranya akan terbebas dari kesusahan hidup dan kekurangan makanan yang mereka derita di desa Fanna.

Setelah pamannya meninggal dunia, Daya meninggalkan hutan tempat ia bermeditasi selama 18 tahun. Ia berniat pulang ke desanya untuk menemui orangtuanya. Ia kangen pada mereka meski apapun keadaan yang akan ia saksikan nanti.

Setelah sampai di desa, orang-orang Fanna memerhatikan penampilan Daya yang mencolok, dengan jubah putihnya yang lusuh dan rambut yang panjang seperti orang liar. Daya tetap berjalan dengan tenang dan mencoba mencapai rumah orangtuanya secepat mungkin.

Ia bertanya pada orang-orang dimana rumah keluarganya. “Tuan, dimanakah rumah Adithya Paley?” Daya bertanya pada seorang bapak.

“Maaf, aku tidak mengenalnya. Cobalah tanya orang-orang di kedai teh itu.” Pria itu kembali mengayuh sepedanya yang disesaki rumput untuk ternak.

Daya datang dan bertanya pada pemilik kedai yang seorang Muslim bernama Habib. “Hai, sudah lama aku tidak melihat seorang yogi dalam hidupku,” kata pria berkumis itu.

“Aku sedang mencari rumah keluarga Paley. Adithya Paley dan istrinya Asha.”

“Paley? Aku rasa aku tahu nama itu. Tapi mereka sudah tidak ada disini.”

“Bagaimana?” Daya mencoba mencerna jawaban Habib. “Mereka pindah?”

“Ya, aku rasa begitu.” Habib menggosok gelas teh dengan celemeknya. “Fanna mengalami kekeringan terburuk hingga sepuluh tahun yang lalu. Banyak orang yang memutuskan pergi dari desa untuk mencari lahan pertanian baru.”

Daya pergi ke rumah yang ditunjukkan sebagai bekas rumah orangtuanya dulu. Kini pondok reot itu telah menyatu dengan kandang kambing milik seorang saudagar.

“Tuan saudagar, kemanakah orang-orang pindah saat masa kekeringan?” tanya Daya pada sang saudagar.

“Aku rasa kebanyakan dari mereka pergi ke Gujarat. Itu Ashram Sabarmati.”

“Ashram?”

“Itu adalah sebutan untuk desa yang dibimbing oleh Gandhiji.”

Daya melamun sejenak.

“Kau mau susu kambing, anak muda?” pria itu menawari sambil menyodorkan segelas susu.

“Tidak, terimakasih.”

“Bagaimana kalau potongan rambut baru?” Pria itu tertawa. Kemudian mereguk susu kambing dari gelas di tangannya.

Daya berlalu pergi. Pikirannya menjadi semakin tidak beraturan. Ia butuh bermeditasi sebentar.

Dalam meditasinya, ia melepaskan semua kotoran kekhawatiran, ketidaksabaran, harapan, dan nafsu. Malam harinya ia berjalan dan menemukan dirinya berada di pusat kota yang ramai.

“Lihat, ada pertapa gila…” kata anak-anak remaja sambil menunjuk kearahnya.

“Berikan aku uang yang banyak dengan doamu, rabi,” ejek seorang wanita yang memakai sari hijau dan tas pinggang kulit, sambil berdiri di dekat tumpukan sayuran yang dijualnya.

Daya menghampiri seorang sopir bajaj. “Permisi tuan, aku mencoba pergi ke Gujarat, tapi aku tidak memiliki uang.”

“Heh? Kau pikir kau ini siapa? Mahatma Gandhi?! Tidak ada yang gratis di dunia nyata, Nak. Bangunlah dari pertapaanmu sekarang juga dan pergi sebelum kesabaranku habis!” repet sopir bajaj itu.

“Terimakasih,” ujar pemuda itu.

Daya tidak dapat memikirkan cara agar ia bisa pergi ke tempat dimana kemungkinan orangtuanya berada. Sampai ia teringat pada perkataan wanita tadi.

Ketika wanita penjual sayuran itu sudah pulang, Daya duduk di tempat dimana wanita tadi berjualan. Ia pun mulai melantunkan doa-doa kepada Sang Pencipta dengan khusyuk hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar. Tapi lama-kelamaan mereka pun bosan dan berlalu pergi.

Subuhnya, wanita yang bernama Priya itu terkejut mendapati orang berjubah yang dilihatnya kemarin berbaring tidur di lantai lapaknya. “Hey, kucing kurap, bangunlah! Seenaknya saja tidur di tempat milik orang!”

Priya mengomel sambil mengusir Daya pergi. Pemuda itu bangkit dan menyingkir ke sebuah gang. Disana ia menemukan ceruk sempit dari sebuah pintu dimana ia kemudian duduk dan bermeditasi.

Siang harinya terjadi kehebohan di pasar kota itu. Seseorang memborong semua sayuran Priya untuk keperluan hajatan. Bahkan orang itu membayar lebih untuk bumbu kari siap pakai yang juga dijualnya.

Priya begitu girang, memberitahukan semua orang di toko-toko di sekitarnya tentang rejeki nomplok yang baru memberkahinya.

Saat itulah seorang lelaki kurus penjaja rokok memberitahukan apa yang terjadi semalam. “Pertapa muda itu berdoa semalaman di lapakmu. Aku tidak pernah melihat seorang manusia bisa berdoa sekhusyuk itu.”

“Astaga…” ujar Priya. Kali ini ia merasa bersalah atas sikap kasarnya pada Daya. Hatinya bergetar oleh pancaran kasih dan energi spiritual yang diwariskan dari tubuh dan jiwa pemuda itu. “Rabi, atau siapapun kau,” kata Priya menghampiri Daya. “Bangunlah. Aku minta maaf atas sikap jahatku padamu. Berkat doamu, hari ini aku mendapatkan keberuntungan. Ayo, katakan apa yang bisa kulakukan untuk membalas dermamu.”

“Sesungguhnya aku telah mengotori niatku dengan berharap balasan darimu. Tapi aku butuh menemui orangtuaku di Gujarat. Kerinduanku pada mereka telah melampaui semua pencapaian spiritualku. Semoga aku diampuni oleh-Nya,” Daya bertutur lembut.

Priya menyerahkan sejumlah uang dari tas pinggangnya. “Ini, pergilah menggunakan bajaj menuju stasiun kereta. Lalu mintalah taksi untuk mengantarmu ke tempat tujuanmu.”

“Terimakasih, nyonya.” Daya tersenyum pada Priya.

Aku tidak pernah menyaksikan senyuman yang menerangi hati seperti itu. Pikir wanita itu.

Setelah melewati perjalanan yang penuh kerinduan, Daya akhirnya tiba di Ashram Sabarmati. Tapi Gandhi sedang tidak berada disana.

Daya menemui kepala kelompok masyarakat yang bernama Sanjit Chakravarty. Ia menanyakan mengenai orangtuanya. Tak disangka-sangka, Daya meneteskan airmata menceritakan betapa inginnya ia berjumpa dengan orangtuanya lagi walau hanya sekali. Namun jawaban pak Chakravarty justru semakin membekukan hati Daya.

“Asha ibumu, sudah meninggal… Dalam perjalanan menuju Ashram, rombongan mereka menghadapi pertikaian dengan kelompok gerakan nasionalisme karena ada sepasang Muslim diantara mereka,” ujar Sanjit.

Daya tidak dapat menahan tangisannya. Ia merasa sesuatu direnggut darinya dan jiwanya menjadi begitu berat oleh hasrat yang gagal dan kenestapaan.

“Apakah abu mereka dibuang ke sungai Gangga?”

“Tentu saja. Tapi…Nak…sebenarnya ayahmu masih hidup. Dia ada disini.”

Daya menatap Sanjit dalam-dalam. Tiba-tiba ia merasa harus mengatur ulang harapan di hatinya.

Sanjit mengajak Daya ke sebuah rumah. “Adithya! Keluarlah, ada seseorang yang ingin menemuimu.”

Daya jatuh berlutut menyaksikan ayahnya yang buta dan kehilangan sebelah kakinya. Lelaki tua itu berjalan dengan bantuan tongkat dan ditemani seekor anjing hitam. “Siapa? Apakah itu Gandhiji?”

“Ini aku, Ayah. Aku Daya, putramu…” Pemuda itu berlutut dan menciumi tangan ayahnya sambil berurai airmata.

“Daya… Putraku…” suara Adithya menjadi parau oleh keharuan.

“Aku disini, Ayah. Aku sudah pulang…”

Daya hidup damai bersama ayahnya di Ashram. Ia menjadi salah satu guru spiritual dan memiliki banyak pengikut dari kalangan remaja serta dewasa.

Ditulis untuk #WriterChallenge, tema: “Pulang”.

Waduh nggak nyangka jadinya panjang. Intinya, kisah ini menceritakan tentang kembalinya seorang anak ke pelukan orangtuanya. Tidak peduli meski keadaan orangtuanya sudah tidak lengkap dan sempurna, Daya menemukan rumah pada apa yang tersisa dari orangtua yang dikasihinya. Setinggi apapun ilmu seorang anak, kemanapun ia telah berpetualang, rumah yang paling layak untuk tempat ia berpulang di dunia ini adalah pelukan kedua orangtuanya.

About these ads

6 pemikiran pada “(Fiksi) Pulang

  1. Melepas seorang anak pergi sesungguhnya adalah hal terberat yang dilakukan oleh orangtua, *sigh* tiba-tiba saja saya teringat orangtua saya yang sudah saya tinggalkan sejak masuk SMP. Begitu malu dengan Daya yang dengan gigihnya pulang, sementara saya kadang ogah2an kalau di suruh pulang karena jarak yang jauh. *malu banget*

    Terima kasih suguhannya yang telah membuka mata saya ya Kak Ilham ^^

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s