(Fiksi) Buku Komik Madea

Aku tidak pernah menyangka perbuatanku pada Madea duapuluh tahun lalu begitu meninggalkan bekas di hatiku. Tapi aku harus meluruskan satu hal padanya. Apapun yang harus kulalui, aku akan mencarinya sekarang. Sebelum terlambat.

Kupanggul ransel favoritku. Kukendarai VW Golf ’97 keluar dari halaman sempit rumahku. Aku menuju suatu tempat melampaui waktu dimana Ibuku masih hidup; orang-orang yang memakai baju ketat dan celana cutbray tidak dianggap norak namun justru trendi; dan Megaloman, Sentai, personil Voltus V adalah tokoh-tokoh panutan dalam imajinasi kehidupan alternatif setiap anak.

Rasanya semakin aneh ketika aku memasuki lingkungan ini lagi. Anehnya, semuanya tampak menyusut; jalanan menyempit, rumah-rumah mengecil, pohon-pohon berkurang jumlahnya.

Duapuluh tahun lalu, aku sering membawa komik ke sekolah. Dragon Ball dan Ranma ½ adalah favoritku. Kemudian teman-teman perempuan mulai memintaku membawakan komik Candy Candy. Aku bisa saja mengatakan aku tidak punya, tapi aku tahu Madea mengoleksi komik anak perempuan itu. Jadi aku katakan, “Besok ya.”

Aku bermain di rumah Madea keesokan sorenya. Kami bertiga bersama Lutfi adalah kawan akrab. Tiga Serangkai, kata orang-orang. Pada saat itulah aku mengambil komik Madea secara diam-diam. Karena aku tahu dia tidak suka orang lain meminjam komiknya selain orang-orang yang dekat dengannya. Aku tidak mau mengatakan bahwa aku akan meminjami komik-komik itu pada temanku di sekolah.

Madea sebenernya sudah SMP kelas satu di sekolah yang berbeda dengan kami. Jadi aku yakin dia tidak akan mencariku jika mencurigai bahwa aku yang mengambil komik-komiknya. Lagipula aku akan mengembalikan dengan cara yang sama, diam-diam, setelah kubawa ke sekolah.

Tapi tidak begitu keadaannya. Aku masih kecil dan konyol. Aku tidak tahu cara mengembalikan komik-komik itu setelahnya. Aku terlalu gugup dan takut jika Madea tahu. Jadi aku mengurungkan niatku untuk mengembalikan komiknya secara diam-diam. Aku menyimpannya. Selama setidaknya sepuluh tahun kemudian.

Sekarang komik-komik itu sudah hilang sejak aku pindah ke rumah yayasan setelah Ibuku meninggal. Sebelum keberangkatanku, tiba-tiba Lutfi mengatakan hal yang mengejutkan. “Sam, apa kamu tidak lupa sesuatu? Misalnya sesuatu yang kamu pinjam dari temanmu dan lupa kamu kembalikan?”

Bodohnya, saat itu aku tidak bisa mengingat komik-komik itu. Jadi aku menggeleng dan berkata tidak.

“Oke. Sampai jumpa lagi, Sam.” Lutfi menjabat tanganku. Dia selalu jadi anak yang cerdas dan dewasa melebihi umurnya. Meski terkesan pendiam, dia tahu ide-ide kreatif untuk kami bermain. Dan dia tahu aku mengambil komik-komik itu. Secara teknis, aku memang mencuri.

Mobilku kutepikan di depan rumah lamaku. Sekarang rumah itu tampak begitu lusuh dan rapuh. Ada sebuah keluarga lain yang tinggal disana. Tapi aku tidak akan menemui mereka. Aku hanya akan berjalan kaki mencari rumah Madea.

“Maaf, nama saya Abrisam. Saya mencari Madea yang pernah tinggal disini. Apa dia ada?” Aku berhadapan dengan seorang remaja laki-laki berusia 15-an tahun. Gayanya seenaknya, sambil mengunyah permen karet memandangku dengan remeh.

“Apa mau Bapak?” Berewokku pasti membuatku tampak dua kali lebih tua.

“Saya hanya ingin bertemu. Saya temannya saat masih kecil.” Aku tersenyum

Tiba-tiba pandangan anak itu meredup. Ia memandang ke bawah sambil berkata, “Ibuku sakit sejak lama. Dia ada di dalam. Tapi tolong jangan buat dia terlalu lelah.”

Aku menyentuh dadaku, merasakan hatiku mencelos.

Tidak banyak yang berubah dari rumah ini, kecuali sejumlah perabotan dan foto-foto. Aku memerhatikan sebuah foto sambil berlalu. Foto yang kutahu apa artinya, tapi aku menolak perasaan yang dibawanya, karena aku tidak mau membawa kesedihan. Aku tidak pantas bersedih atau cemburu pada orang yang pernah kurugikan.

Pria itu bertubuh kecil, mondar-mandir dengan tenang di dalam kamar. “Permisi,” kataku. Pria itu menoleh. Dia langsung mendatangiku dan menyalamiku dengan ramah. Kemudian ia memandang anaknya yang berdiri di sampingku, meminta penjelasan.

“Siapa ini, Yuda?” tanyanya.

“Pak Abrisam ini teman kecilnya Ibu, Yah,” anak itu menjawab setengah pongah. Kemudian ia sendiri pergi menuruni tangga.

“Sam? Abrisam?!” Pria itu memelukku dengan erat. Tiba-tiba aku tahu siapa dia. Pikiran asosiatifku bekerja… Lutfi tidak pernah tampak mengagumi Madea dengan cara apapun. Tapi kini dia adalah suami dari wanita yang tengah berbaring di tempat tidur itu. “Aku Lutfi, Sam. Kamu ingat aku? Aku menikahi Madea setelah lulus kuliah…”

Aku mengangguk dan tersenyum lebar. “Aku tahu… Dari gayamu, ciri khasmu… Dan tinggi badanmu…” Lutfi tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. “Jadi…bagaimana keadaannya?” tanyaku. Lutfi membimbingku duduk di kursi di sebelah tempat tidur.

“Liver,” Lutfi menjawab sambil tersenyum, senyuman tabah. “Keadaannya lebih buruk dari sebelumnya. Tapi dia bersemangat.”

Madea membuka mata. Matanya bergerak-gerak cepat ketika menyaksikan orang didepannya. Aku ikut gelisah, tapi langsung menyapanya. “Hai..Madea… Ini aku, Abrisam.”

“Sam…” suara Madea serak. Ia tampak menjaga potongan rambut pendeknya, yang kali ini kusut karena terlalu sering berbaring. Tangannya menggenggam tanganku dan menggoyang-goyangkannya. “Kapan kesini?”

“Aku ke bawah dulu, ya, Sam.” Lutfi pergi meninggalkan ruangan. Pandanganku mengikutinya menghilang ke arah tangga.

Madea mencoba bangkit duduk. Aku membantunya meluruskan bantal. “Kamu lain.” Madea menggamit berewokku. Kami berdua tertawa.

“Aku baru kesini tadi. Kepikiran aja sama teman-teman lamaku,” kataku.

Madea tersenyum. “Aku sakit, Sam… Udah tiga tahun…”

Aku mengangguk-angguk. “Madea, aku ingin mengatakan sesuatu.”

Madea tampak mendengarkan dengan serius. Alis matanya berkerut hingga tampak menyatu.

“Aku yang mengambil komik-komikmu dulu. Ketika kita masih kecil.” Aku menggeleng-geleng mengekspresikan penyesalanku. “Tapi…aku tidak pernah bermaksud mencurinya.”

Madea berusaha mencerna kata-kataku sejenak. Kemudian ia bertanya heran, “Kenapa kamu mengambilnya, Sam?” Ia melepas genggaman tangannya dari tanganku.

“Aku ingin meminjamkannya pada teman-temanku di sekolah. Aku tahu kamu tidak akan mengijinkan jika aku beritahu. Makanya aku mengambilnya diam-diam.” Aku menundukkan pandanganku. “Aku melakukannya hanya agar teman-temanku senang. Aku sangat bodoh.”

“Sam…”

“Aku benar-benar minta maaf… Madea…” Aku tak bisa menahan airmataku. Kututup wajahku dengan kedua tangan dan membungkuk di hadapannya.

“Sam…” Madea mengelap tetesan airmatanya saat aku memberanikan diri memandang wajahnya. “Tidak apa-apa. Tidak usah dipikirkan. Kita masih kecil, dan… Yah, aku memang sedih dan kesal ketika mengetahui komik-komikku hilang. Aku menyayangi koleksiku melebihi kucing piaraanku.” Madea setengah tertawa. “Tapi sudah tidak apa-apa, sekarang.” Ia menyentuh sisi wajahku dan menyapukan tangannya dengan lembut. “Aku menyayangimu sebelum aku mencintai Lutfi. Sudah lama aku ingin menyampaikannya, tapi aku tidak berani. Aku takut kamu tidak menyukai cara-cara anak perempuan seperti itu.”

“Tapi aku melakukan dosa besar. Dan sekarang aku tidak bisa mengembalikan apa yang kuambil darimu. Karena ketika mereka membawaku pergi…”

“…Ketika mereka membawamu pergi,” potong Madea. Ia menggeleng dan mulai menangis. “Kamu tidak tahu betapa kehilangannya aku dan Lutfi. Terutama aku. Sejak itu aku mengumpulkan uang agar suatu hari, mungkin saat aku lebih besar, aku bisa mencarimu.”

Aku menegakkan punggungku, menahan rasa terkejut. Kemudian aku mencondongkan tubuhku lagi untuk menangkupkan tanganku di tangan Madea. “Hey, aku sudah disini…” Tanganku bergerak menghapus airmatanya. “Dan kita bertiga sudah berkumpul lagi seperti dulu.”

“Aku tahu. Aku sayang kamu, Sam…”

Kami berdua berpandangan. Gambar-gambar dari masa kecil kami merasuk membayang di bola-bola mata kami, aroma tanah yang kering berdebu dan panas matahari meliputi rasa. Dua puluh tahun yang lalu memampat seolah terjadi lagi pada saat ini. Dan itu sangat menyenangkan.

“Hey, apa kalian mau berpelukan tanpa aku?” Lutfi memasuki kamar dengan tiga gelas minuman diatas nampan. “Kita kan Tiga Serangkai.”

Dan ya, itulah yang kami lakukan. Berpelukan, bertiga. Saat ini aku merasakan menjadi Lutfi, menjadi Madea. Begitu pula mereka berdua merasakan menjadi diriku. Kami adalah satu jiwa dalam tiga tubuh yang berbeda.

Ditulis untuk #WriterChallenge, tema: “Maaf.”

Dalam persahabatan dan persaudaraan sering terjadi kesalahan. Kegelisahan dan rasa bersalah menghantui orang yang berbuat salah, tapi ia harus tetap berpihak pada apa yang benar. Dan terkadang kasih sayang lebih besar pada jiwa-jiwa yang memaafkan.

gambar: tomatoproductions.com

About these ads

6 pemikiran pada “(Fiksi) Buku Komik Madea

  1. Ping-balik: Sebab Penyakit | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s