(Fiksi) Jarak

“Aku butuh waktu,” ujar Ronin di telepon.

Vanita merengek. “Kamu tidak menepati janji…”

Sebentara Leo, ayah Ronin akan keluar dari rehab dan kemungkinan bahwa ketiganya akan bertemu bisa menciptakan bencana.

Mereka tidak mau berpura-pura lagi. Keduanya berencana kabur meninggalkan Leo.

Beberapa minggu kemudian, Ronin sedang membaca papan pengumuman di kampusnya. Ketika sebuah tangan berjari panjang dan halus menepuk bahunya.

Itu Vanita, dengan tampang setengah kesal. “Aku tidak tahan berkelana sendirian seperti orang bodoh. Jadi aku kesini. Kamu senang aku disini kan?”

Ronin telah mengubah wanita itu menjadi melekat padanya. Semua hubungan dan kemesraan intim itu telah mengubah keduanya, menjadi lebih indah sekaligus berbahaya.

“Apa yang-…” sebelum Ronin selesai bicara, Vanita menyergap memeluknya. “Hei, ini kampus! Kamu tidak bisa muncul begitu saja dengan rok mini dan memeluk laki-laki.”

Vanita tersenyum sinis, sambil mengeluarkan sebatang rokok.

“Dan jangan merokok!” Ronin merampas serta membuang batang rokok itu ke rumput.

“Menyebalkan,” umpat si wanita.

Vanita tadinya adalah kekasih Leo. Ia muncul sebagai perwalian bersama dinas sosial yang mengurus hak asuh kembali Leo terhadap Ronin. Ayahnya telah terpisah darinya selama bertahun-tahun. Ronin bahkan tidak bisa mengingatnya lagi. Dia sudah melupakan ayahnya.

Sebenernya malam itu ketika Ronin masih berusia 10 tahun, ayahnya memukulinya dengan sebatang kayu dibawah pengaruh alkohol. Sejak itu ia ditahan, dilepaskan, terlibat narkoba, ditahan lagi, begitu berulang kali hingga akhirnya ia setuju untuk menjalani rehabilitasi untuk menjadi orang yang bersih.

Dia sadar sudah terlalu lama ia menyesali kematian istrinya. Dia tidak ingin kehilangan putranya juga. Sebelum ia sendiri mati di selokan karena mabuk dan tidak bisa menjumpai darah dagingnya.

Vanita hendak menikah dengan Leo begitu pria itu keluar dari rehab. Dan mereka bertiga bersama Ronin pada akhirnya akan menjadi sebuah keluarga normal yang utuh. Itulah rencana awalnya. Sampai semuanya menjadi lebih gila dari yang bisa dipikirkan siapapun.

Ronin dan Vanita mulai berhubungan intim sejak pertama kali mereka bertemu secara pribadi. Vanita adalah wanita glamor yang murahan, dan Ronin adalah anak bermasalah yang cabul. Jadi keduanya menemukan kecocokan satu sama lain.

Setelah ‘merampok’ uang dan barang berharga dari rumah orangtua asuh terakhirnya, Ronin pergi untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Jogja. Dia memutuskan untuk berpisah sejenak dari Vanita, karena dia tidak ingin orang dinas sosial curiga dengan kedekatan mereka dan membuat Leo jadi gila.

“Carilah motel atau apapun, kita bertemu akhir pekan ini,” Ronin berujar.

“Kau anak kecil pertama yang selalu memberitahuku apa yang harus kulakukan,” cibir Vanita. “Dan menurutku itu sangat menarik.”

Mereka berciuman setelah memastikan tidak ada yang melihat. Kemudian keduanya berpisah.

Beberapa hari kemudian mereka bertemu di sebuah kafe.

Ronin sibuk menghisap rokoknya sementara Vanita mengutak-atik ponselnya. “Aku rasa orang dinas sosial mencari-carimu. Lagi,” kata Vanita. “Mereka bilang kamu mencuri dari rumah orangtua asuhmu. Apa itu benar?”

“Ya. Lalu apa masalahnya? Mereka tidak tahu aku ada dimana.”

“Aku yang tiap kali harus repot berbohong pada mereka, bodoh!”

Ronin tidak menggubris.

“Bagaimana dengan ayahku? Ada kabar darinya?”

“Tumben sekali kamu tanya-tanya soal dia. Apa kamu mengharapkan bertemu dengannya?” Vanita menggoda Ronin.

“Terserahlah.”

“Dia akan keluar dua minggu lagi. Kata mereka bisa lebih cepat jika ayahmu meunjukkan kemajuan perubahan.”

Ronin terdiam sejenak. “Apa yang harus kita lakukan?” Kali ini dia bicara menatap Vanita.

“Seperti yang kamu bilang, tidak ada yang tahu kamu ada dimana.” Vanita menjelaskan dengan gampang. “Aku hanya harus berada bersama Leo selama sebulan, kemudian aku pergi menyusulmu.”

Ronin menyentuh dan mengelus tangan Vanita. “Aku lelah kita harus terpisah jarak seperti itu terus, Vanita. Aku harap semoga semua ini lekas berakhir.”

“Aku juga, Ronin.” Vanita mengelus jari-jari Ronin dengan ibu jarinya. “Aku harap tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Lalu kita akan menikah segera setelah aku meninggalkan Leo.”

“Tidak!” Ronin menyentak tangannya ke dadanya. “Aku ingin menyelesaikan kuliahku dulu. Baru setelah itu kita menikah. Itu keputusanku. Titik.”

“Itu terlalu lama…! Aku keburu tua dan mati. Memangnya kamu bisa menyelesaikan kuliahmu selama kurang dari 4 tahun?”

“Aku tidak peduli. Aku harus mendapatkan gelar sarjana sebelum mengurus semuanya.”

“Jangan sok mengatur, Ronin. Akulah yang selama ini mengurus semuanya untukmu seperti pengasuh mengganti popok bayi.”

Vanita kemudian kembali ke Jakarta dan mereka berpisah selama sebulan. Mereka tidak pernah menyimpan nomor satu sama lain kecuali dalam bentuk catatan di kertas kecil yang sudah diingat masing-masing di luar kepala. Dan setiap seminggu, mereka menghapus inbox pesan dari ponsel mereka agar tidak ada yang bisa melacak.

Ketika mereka bertemu, Ronin mendatangi Vanita di Jakarta. Di rumah kontrakannya yang sempit itu ternyata ia tidak sendiri. Ada seorang pria yang bicara dengan suara keras.

Nafas Ronin tercekat. Itu pasti Leo! Ayahnya…

Ronin menempelkan punggung di dekat jendela untuk mendengar percakapan mereka.

“Nomor siapa ini?! Katakan padaku, perempuan sialan! Kau berselingkuh dariku ya. Kau pikir bisa macam-macam denganku?! Aku bisa membunuh orang itu jika aku mau. Katakan siapa dia, berengsek!”

PLAK! Terdengar pukulan yang diikuting tangis putus asa Vanita.

“Biar kubunuh saja kau sekarang! Aku benci perempuan murahan sepertimu!”

Mata Ronin membelalak. Secara refleks ia langsung berlari dan menerobos ke dalam rumah.

“Ayah!” serunya.

Mata Leo berkaca-kaca oleh amarah. Namun pandangannya meneduh ketika matanya menyaksikan anak muda yang berdiri di belakangnya. “Ronin… Ini kamu, Nak? Ronin…” Ia buru-buru memeluk putranya sambil berlutut di perut Ronin. “Maafkan Ayah… Meninggalkanmu sejak kecil…”

“Berengsek!!” jerit Vanita.

Dalam sekejap, pisau kecil itu menancap di leher pria berotot itu. Tubuhnya yang kokoh rubuh seperti pohon beringin.

Vanita gemetar menatap cipratan darah di tangan dan pakaiannya. “Astaga…apa yang kulakukan?”

Ronin mendelik ke arah wanita itu. “Perempuan bodoh!” Kemudian berlutut untuk memeriksa ayahnya.

“Jangan! Ronin! Sidik jarimu… Bi..biarkan aku…” Vanita mulai menangis. “Pergilah… Pergilah, Ronin… Pergi!” Airmatanya tak terbendung. Vanita menangis sambil menarik-narik rambutnya dengan panik.

Ronin terdiam sejenak menatap Vanita dan jasad ayahnya bergantian. Namun kemudian ia merapatkan resleting dan memakai tudung jaketnya dan mulai berlari keluar.

Ia lari. Lagi. Dan kali ini entah untuk berapa lama. Dia tidak tahu apa yang harus diharapkannya sekarang. Vanita akan dipenjara. Mereka akan terpisah, mungkin untuk selama-lamanya. Jarak dan waktu bisa sangat menyebalkan. Kesempatan bertemu seseorang yang penting dalam hidupmu bisa hancur seketika oleh tindakan tanpa perhitungan.

Mungkin dia tidak dimaksudkan untuk bahagia. Seperti yang selalu Ronin pikirkan sejak kecil. Ia membuat masalah seumur hidupnya di sekolah, di tiap keluarga yang mengasuhnya, bahkan dengan kekasih dan ayahnya sendiri. Dan ketika ia pikir kali ini semuanya akan beres, keadaan justru membuatnya nyaris terlibat dengan masalah baru.

Sekarang dia harus menghilang. Membuat jarak dengan semua di belakangnya untuk waktu selama yang ia bisa. Hingga akhirnya ia menemukan kebebasannya sendiri.

Ditulis untuk #WriterChallenge, tema: “Jarak.”

Jangan sia-siakan waktu dan kesempatan untuk berbuat hal-hal curang, karena itu akan berbalik padamu, menjadikan keadaan justru lebih buruk dan lebih sulit diperbaiki. Isilah setiap kesempatan dengan kebaikan walau sedikit karena itu akan bermanfaat suatu saat kelak.

gambar: wentrupgallery.com

About these ads

5 pemikiran pada “(Fiksi) Jarak

  1. Ping balik: Lukisan? | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s