(Fiksi) Dua Sahabat Pengembara

Dua sahabat pengembara telah melintasi padang pasir selama enam bulan mengendarai unta-unta yang sudah kelelahan. Mereka melakukan perjalanan hanya mengandalkan keyakinan pada peta yang menunjukkan letak sebuah reruntuhan desa yang menyimpan banyak emas.

Kasim menenggak botol airnya, tapi menemukan bahwa ia kehabisan air minum. Sahabatnya, Ramnur melihat sahabatnya kehabisan air, menyerahkan botol airnya yang masih berisi seperlimanya.

“Terimakasih, sahabatku,” ujar Kasim.

“Semoga Allah melindungi kita.”

“Semoga Allah melindungi kita.”

Mereka melewati sebuah pemandangan aneh. Ada sebuah kapal besar yang tampak karam di tengah gurun pasir yang gersang. Layarnya telah berubah menjadi semburat-semburat hitam legam, meliuk-liuk ditiup angin.

“Apakah ini… Ini tandanya kan?”

Ramnur memeriksa peta. “Benar,” katanya. Kemudian ia menggulung peta itu kembali. “Kita hampir sampai.”

Maka tibalah keduanya di tempat yang dituju selama berbulan-bulan. Desa itu tampak begitu kumuh sekaligus menyimpan energi misterius mengambang di udaranya. Seperti dihuni hantu-hantu yang keluar saat hujan di malam hari.

Tiada seorang pun tampak di desa yang semrawut itu. Menurut peta, emas itu ada di halaman belakang sebuah pondok. Keduanya berjalan menyusuri desa menuju arah yang dimaksud.

Akhirnya sampailah dua pemuda gagah berani itu di lokasi yang diimpi-impikan oleh mereka selama ini.

Keduanya menggali dan menggali, hingga tampaklah sebuah peti kayu kuno. Di dalam peti itu tersimpan penuh koin emas dan perhiasaan seperti tidak pernah telihat oleh mata manusia.

Tanpa sepengetahuan Ramnur, sahabat karibnya Kasim menyimpan rencana jahat. Ia berniat mengambil semua emas itu dan melarikannya saat di tengah perjalanan mereka pulang.

Mereka kemudian membawa peti itu menggunakan alat yang sudah mereka siapkan dari rumah. Perangkat kayu dengan roda yang kemudian diikat pada kedua unta mereka.

Namun di tengah perjalanan, Ramnur tiba-tiba jatuh dari unta yang dinaikinya. Ia menderita kelelahan dan kelaparan.

“Kasim, pergilah.” Kata Ramnur. “Bawalah untaku dan emas itu bersamamu. Namun berjanjilah kau kembali untuk menolongku meskipun saat itu sudah terlambat.”

Kasim terenyuh hatinya. Ia kagum dengan keikhlasan sahabatnya yang membiarkannya membawa emas-emas itu.

“Baiklah. Begini saja,” kata Kasim yang telah tersadar hatinya. “Aku akan pergi ke desa yang kita lewati waktu itu. Satu hari satu malam perjalanan. Aku akan kembali membawa makanan dan air. Bertahanlah, Ramnur, sahabatku.”

Maka pergilah Kasim dengan meninggalkan dua potong jubah untuk pelindung bagi Ramnur selama ia pergi.

Kasim kembali keesokan malamnya dengan membawa beberapa orang berkuda dan makanan serta air. Namun Ramnur telah meninggal dunia sambil meringkuk dalam jubah pemberian sahabatnya.

Sungguhlah kepercayaan seorang sahabat lebih berharga dari emas dan permata.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Kepercayaan.”

Wah tadi saya nggak ngeliat kalo mas Teguh Puja yang menggalang hajatan #WriterChallenge ngasih dua tema sekaligus hari ini.

Semoga cerita singkat diatas bisa menghibur.

gambar: illustrationsource.com

About these ads

8 pemikiran pada “(Fiksi) Dua Sahabat Pengembara

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s