(Fiksi) Visionem Mortis

Etta mengendarai Yaris silver-nya dengan kecepatan 160 km/jam. Tangannya keram memegang setir. Ia meraih kompartemen kecil penyimpan minuman di belakang joknya. Ia berpikir soda akan membuat matanya tetap melek.

Sibuk meraih apa yang ada di belakangnya, ia tidak melihat apa yang ada di depannya. Truk yang menampung kayu gelondongan besar-besar itu tiba-tiba mengerem. Sebatang kayu sebesar dua kali tiang listrik menghantam kaca depan mobil, menembus kearah kursi supir.

Drrrr…

Ponselnya berdering. Etta membuka mata. Ia bangkit duduk, bersyukur yang tadi itu cuma mimpi. Dengan jantung masih berdegupan, ia meraih Blackberry-nya. Puluhan PING dan pesan BBM tampil di layarnya.

Are you joining the party or what… Jangan telat, Taaaa…. Luv u. begitulah nada sebagian besar pesan-pesan itu.

Etta bergegas mengganti pakaian. Dan saat berikutnya ia telah melaju dengan mobilnya.

Di jalan, ia berhenti di sebuah lampu merah. Akibat ketiduran, kepalanya masih terasa agak pusing dan mengantuk. Ia butuh sesuatu untuk menyegarkannya. Ia mengecek kompartemen minuman di belakang joknya. Kosong.

“Bang!” Etta memanggil tukang asongan yang meski menjelang petang masih saja berjualan.

Darinya ia membeli sekaleng soda, sekotak minuman jus dan sebungkus rokok.

Tak berapa lama kemudian, datang seorang pengemis tua mengenakan kemaja lurik compang-camping, menyodorkan tangan di depan kaca.

Karena tak mendapat respon, ia mengetuk kaca itu beberapa kali, hingga Etta terpaksa membukanya. Bukannya memberikan uang receh, ia malah menyembur lelaki tua itu dengan omelan dan cercaan. “Makanya bapak belajar kerja dong! Ngapain kek, jualan rokok kek, minuman… Seenaknya minta uang gratis sama orang!” Etta melirik balutan perban di kaki pria itu. Mana mungkin orang miskin bisa mendapatkan perawatan seperti itu, kecuali luka itu palsu. “Semoga Tuhan bikin bapak cacat beneran ya!”

“Kalau gitu saya minta minumannya aja, neng… Yang tadi neng beli dari temen saya…” kata bapak tua itu parau.

Etta menaikkan jendela mobilnya sambil memberikan jari tengah kearah bapak itu. Namun anehnya, si bapak justru tersenyum misterius.

“Hati-hati saja, neng. Bala bencana bisa datang tanpa permisi,” ujar bapak tua itu pelan selagi mobil Etta melaju saat lampu hijau menyala.

Memasuki jalan tol yang sepi, rasa kantuk yang menyerangnya semakin menjadi-jadi. Jus jeruk yang tadi ia minum tidak mempan menghilangkan kantuknya. Ia mencoba meraih kompartemen minuman di belakang joknya. Etta menoleh ke belakang sambil melengos, berusaha mencapai minuman soda yang tadi dimasukkan di kompartemen berisi es itu.

Tiiinnnn…..

Suara klakson mobil di belakangnya mengagetkan Etta. Ia kembali tegak di kursinya untuk menyadari bahwa ia hanya berjarak satu setengah meter dari truk pengangkut kayu gelondongan.

Tak sempat mengerem, salah satu kayu besar itu menembus kaca depan. Etta menjerit lalu mengelak ke samping. Kayu gelondongan yang menabrak jok pengemudi memukul kepala Etta hingga dahinya membentur kaca mobilnya. Ia tidak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.

*

Suara-suara dan langkah kaki memenuhi kepalanya. Ia tidak tahan lagi. Ia harus bangun.

“Etta.” Sebuah suara yang dikenalinya.

“Denis?” Etta tersenyum senang. Ia berusaha bangkit duduk meski menyadari kepalanya terbalut perban.

“Jangan banyak bergerak dulu lah. Kamu geger otak tuh kata dokter. Haha.”

“Sialan kamu. Temen sakit malah ngetawain.” Etta menyenggol lutut Denis dengan kakinya.

Tiba-tiba keduanya tersipu mendengar kata “teman”. Karena mereka sebenarnya sudah saling suka sejak diperkenalkan teman masing-masing.

“Hei, dimana yang lain?” tanya Etta.

Denis menunjuk keluar pintu. “Mereka sedang beli makanan katanya.”

Etta dan Denis bertukar senyum. Terkadang dalam, terkadang malu-malu.

Etta tidak pernah memberikan harapan terlalu besar pada laki-laki. Ia bukan tipe seperti itu.

Etta sudah bekerja keras sejak berusia 16 tahun. Orangtuanya bercerai saat ia berusia 12 tahun. Jadi, ia dan almarhum kakaknya harus ikut mencari nafkah tambahan demi membantu ibu mereka. Ia pun tumbuh menjadi wanita muda yang mandiri, sedikit kaku dan terkadang galak. Begitulah teman-temannya suka meledeknya, Nenek Galak.

Malam hari di rumahsakit, Etta bermimpi aneh. Ia melihat laki-laki tua tadi. Ia mendengar ucapan yang belakangan ia katakan yang tidak di dengarnya saat di lampu merah tadi.

Bala bencana bisa datang tanpa permisi…

Kemudian ia melihat bapak tua tadi menyeberang jalan pada suatu siang. Tanggal 23. Besok. Tiba-tiba sebuah truk pick-up yang mengangkut sayuran tergelincir di jalan pasar yang licin. Bapak tua tadi terhantam bagian depan truk dan meregang nyawa setelah kepalanya terbentur aspal.

Etta membuka mata dengan jantung berdegupan, keringat bercucuran, dan darah…. Darah menetes dari luka di kepalanya. “Aghh… Suster… Suster…” ujarnya panik. Ia memencet-mencet tombol di samping tempat tidurnya.

Ia mendapat perawatan dan perban baru setelahnya.

Namun Etta tidak bisa berhenti memikirkan apa yang ia lihat dalam mimpinya. Ia ingat ia bermimpi serupa ketika ia ketiduran di rumah, dan kejadian dalam mimpinya menjadi kenyataan. Kecuali ia selamat dalam kecelakaan itu.

“Denis, kamu datang kesini sekarang nggak…”

Denis datang jam 4 subuh ke rumahsakit dengan air muka bingung bercampur cemas. “Ada apa, Ta?”

Etta menjelaskan tentang mimpinya dan bahwa ia merasa harus melakukan sesuatu, tapi tidak tahu bagaimana caranya.

“Aku…aku nggak tahu, Den. Aku bingung harus percaya atau enggak. Tapi aku punya perasaan yang kuat kalo itu bakal bener-bener terjadi…” Etta mulai sesenggukan.

“Wajah kamu pucat sekali. Udahlah, lebih baik kamu istirahat.”

Etta menatap Denis. “Kamu nggak percaya kan sama aku?”

“Ta, kenapa kamu ngomong gitu… Kamu jangan terlalu mi-…”

“Denis… Lebih baik kamu pulang.” Etta mulai berbaring lagi.

“Ta…aku cuma mau membantu.”

“Bagaimana kamu bisa membantuku kalau kamu tidak percaya sama aku.” Etta berujar dingin, kemudian membelakangi Denis dan memejamkan mata. Diam-diam airmatanya menetes.

*

Esok paginya, Etta terkejut ketika mendapati Denis sudah duduk di samping tempat tidurnya. “Ayo kita pergi.”

“Tapi bagaimana-…”

“Ssstt… Aku sudah membawakan pakaianmu.”

Senyuman Etta mengembang. Ia memeluk Denis erat-erat oleh rasa gembiranya.

Saat berikutnya, mereka menyusuri lorong-lorong rumahsakit yang dingin. Etta memakai kerudung untuk menutupi perban di kepalanya.

Di depan mereka berjalan ibu dan anak kecilnya membawa sebungkus roti.

Etta menggamit jaket Denis. “Lihat. Anak ibu itu akan jatuh dan ibu itu lupa menaruh rotinya di lantai.”

Sesaat berikutnya, hal yang digambarkan Etta benar-benar terjadi. Denis melongo tidak percaya.

Denis kemudian memanggil ibu tadi untuk memungut rotinya yang tertinggal. Pemuda itu memandang Etta dengan tatapan bertanya. “Bagaimana kamu bisa…?”

Etta hanya menjawab dengan tersenyum, kemudian merapatkan dirinya ke tubuh Denis yang hangat.

Mereka berhasil keluar dari rumahsakit. “Dimana?” tanya Denis.

“Aku pernah lihat pasar dalam mimpiku itu, tapi aku nggak begitu ingat.”

“Dekat dengan bangunan yang kamu kenal nggak?”

“Tunggu dulu…” Etta mencoba mengingat-ingat kembali mimpinya. “Bank! Aku ingat sekarang. Ada bank di ujung pasar itu.”

Keduanya saling bertatapan menyadari tempat yang dimaksud. Mobil melaju lebih cepat.

Jalanan macet. Ketika mereka sampai, hari sudah siang. Matahari menggantung diatas kepala orang-orang. “Kita harus menemukan bapak tua itu. Dia pasti bisa menjelaskan apa yang terjadi padaku.”

Kemudian Etta melihatnya. Bapak tua itu. Mereka berlari menyusuri pasar, mengejar bapak tua yang berjalan pincang hendak menyeberangi jalan. Perban di kakinya telah lenyap, menampakkan luka menganga, kering sepanjang 10cm diatas mata kakinya. Ternyata bapak tua itu tidak memalsukan luka di kakinya.

Etta berlari sambil meneteskan airmata membayangkan kata-kata kejamnya pada bapak tua itu hari sebelumnya.

“Pak…!” Etta berhenti sambil menangis terengah-engah. Ia mengejar laki-laki tua itu dengan langkah-langkah lemah. Ia kemudian meraih tangan laki-laki itu dan meminta maaf. “Saya menyesal. Saya ingin bertobat, pak…”

Bapak tua itu berdiri tanpa ekspresi memandangi Etta. “Neng ini siapa? Kok mendadak minta maaf sama saya…?”

Etta terkejut menatap bapak tua itu tidak mengenalinya. Tentu saja, ada ratusan orang yang laki-laki tua itu temui di jalanan. “Bagaimana saya menghentikan kutukan ini, Pak?”

“Bersabarlah, neng. Semua ada jalannya. Mari…” Bapak tua itu berjalan terpincang-pincang menyeberangi jalan.

Sebuah mobil pick-up hitam tergelincir di jalanan pasar. Etta mendelik ketika mendengar suara ban yang menyapu lapisan lumpur diatas aspal. Ia berlari mengejar bapak tua itu dengan sekuat tenaga.

“Etta!” teriak Dimas. Ia hendak berlari tapi bahunya tertabrak kaca spion truk pick-up yang bergerak-gerak liar. Pemuda itu pun jatuh terduduk di trotoar.

Ketika akhirnya benda beroda empat itu berhenti, Dimas buru-buru mengejar untuk memeriksa keadaan Etta. Untunglah keduanya selamat, terduduk di aspal sambil Etta memegangi tangan si bapak tua.

Etta membantu bapak tua itu berdiri. Kemudian mereka berjalan menuju tempat praktek pengobatan ala Cina di seberang jalanan itu. Etta menoleh kepada Denis, “Sebentar ya.” Gadis itu tersenyum puas memandang teman tersayangnya.

Setelah keduanya masuk ke tempat yang dipenuhi lemari kaca itu, tiba-tiba orang-orang di dalamnya berlarian keluar.

“Ada kebocoran gas! Menjauh, bu! Menjauh!” seru mereka kepada para pedagang.

Belum sempat Denis berjalan satu langkah, suara ledakan yang memekakkan telinga pecah di udara. Seketika tempat itu dipenuhi api, menyambar-nyambar atap dan meja-meja kayu.

Siang itu, ledakan gas menewaskan 13 orang termasuk seorang gadis cantik berambut sebahu yang membawa seorang bapak tua yang pincang.

*

Masa depan adalah rahasia Tuhan. Kita tidak bisa mengelak dari kehendak-Nya, bahkan jika kita diberi kanugrahan dapat mengetahui sebagian kecil dari rahasia-Nya. Kebisaan yang terkadang menjadi beban itu mengajarkan kita untuk menjadi lebih bijaksana dan menghargai setiap bentuk kehidupan ciptaan-Nya. Karena bagaimanapun, yang bisa kita lakukan hanyalah menjalani masa kini untuk menghasilkan yang terbaik di masa depan.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Masa Depan.”

Duh sori kalo kepanjangan. Tadinya sampe mau dibikin 2 bagian segala. :? Tulisan ini juga saya buat alignment-nya justified alias rata tengah supaya lebih mudah dibaca. Mudah-mudahan ada yang betah bacanya. :razz:

gambar: newscenter.berkeley.edu; huffingtonpost.com

Visionem Mortis = vision of death; penglihatan kematian.

About these ads

7 pemikiran pada “(Fiksi) Visionem Mortis

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s