(Fiksi) Pahlawan Yang Dipeluk Tuhan

Seorang murid sedang memoderatori diskusi pelajaran Bahasa Indonesia di kelas X-2. Sementara itu anak-anak yang lain sibuk mengobrol dengan kelompoknya sendiri. Suasana rutin sekolah menjelang jam makan siang.

“Heh!” Anita, gadis berkacamata dengan rambut panjang, tebal dan ikal seperti singa memukul kepala Reza dengan sebatang pulpen. “Baru baca bukunya sekarang ya? Ngapain aja kamu selama liburan?”

“Ah, kamu.” Reza mengusap-ngusap kepalanya yang dipukul. “Aku bingung.”

“Apanya yang dibingungin?”

“Kenapa sih tokoh-tokoh di buku ini banyak yang mati?” kata Reza di meja bersama kelompoknya. “Vasili mati melindungi pelayannya, Aksionov tewas di selnya saat akan dibebaskan…”

Dimana Ada Cinta, Disana Tuhan Ada. Begitulah judul buku yang diletakkan anak itu diatas meja.

“Sastra lama memang begitu, Reza,” kata Anita. “Tokoh-tokoh utamanya dibuat mati untuk menciptakan kesan heroik… Jaman dulu kan lagi musim-musimnya perang. Jadi seseorang yang mati karena alasan kebaikan itu dianggap sebagai semacam pahlawan.”

*

“Kenapa sih orang bisa mati?’ tanya Reza saat jam istirahat. Ia dan Anita duduk di bangku depan kelas, mengamati daun-daun pohon gamal berguguran ke halaman sekolah. “Maksudku, aku kira Tuhan sayang pada cipataan-Nya. Tapi kenapa diberi penderitaan dan kematian?”

Anita menghela nafas. “Tidakkan kamu lihat bahwa semua itu juga karena Tuhan sayang kita.”

“Kok bisa?”

“Tuhan memperkenalkan kita pada dunia dengan segala nikmat di dalamnya,” kata Anita menjelaskan. “Kita diberi akal untuk mengelola dan membangun dunia hingga seperti sekarang. Supaya manusia bisa mengoptimalkan nikmat dan semakin mensyukuri pemberian Tuhan.

Namun karena selama di dunia ada banyak godaan, manusia berbuat dosa. Penyakit atau rasa sakit itu ya salah satu cara Tuhan membersihkan dosa-dosa kita.”

“Hm..masuk akal juga sih. Berarti kematian itu buat orang yang dosanya gede banget ya?”

“Nggak juga. Justru kematian itu tanda bahwa Tuhan saya pada umatnya. Dia tidak ingin orang itu ternoda lagi oleh dosa dunia ini. Makanya buru-buru diambil dan disimpan dalam pelukan-Nya. Begitu, Za.”

Reza mengamati wajah Anita. “Kamu kok bisa tahu sih hal-hal kayak gini?”

Anita balas menatap Reza. “Ketika…” ia tampak berpikir. “Intinya… Aku memutuskan untuk memahami sudut pandang Tuhan ketika Dia mengambil kakek dan ibuku.” Gadis imut itu tersenyum. “Aku ingin hidup sebagai orang yang ikhlas, Za. Aku nggak mau terus-terusan menyesali hal yang nggak bisa kuubah.”

Reza mengalihkan pandangannya gelisah. Ia berpikir sejenak. “Mungkin…Tuhan menganggap kakek dan ibumu adalah pahlawan yang pantas dipeluk karena kebaikannya. Seperti dalam cerita-cerita Leo Tolstoy.”

“Yeah,” Anita tersenyum bersemangat.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Kematian.”

About these ads

2 pemikiran pada “(Fiksi) Pahlawan Yang Dipeluk Tuhan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s