Satu Malam Di Neverland

Ada begitu banyak sisi diriku. Tapi ini yang terburuk. Aku harap aku bisa berlari ke tempat dimana aku tidak harus tumbuh dewasa.

Pikiran tentang tumbuh dewasa dan menjadi tua sungguh membuatku muak. Aku tidak mau jambang, kumis atau janggut mengganggu penampilanku. Dan rambut juga bulu-bulu baru di banyak tempat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Apakah tidak ada cara apa pun yang bisa membuatku tetap muda?

Dari langit, terdengar gelegar petir yang membahana. Hari sudah berganti, malam sudah datang. Suara gelegarnya terasa seperti sedang bersahut-sahutan. Tak seperti biasanya.

Bagaikan monster-monster bersisik yang bertengkar membahas bagaimana caraku akan mati. Dan pada musim kemarau berikutnya mereka akan menjemputku dengan menepuk bahuku.

Mungkin aku tidak ingin selalu menjadi anak kecil seperti Peter Pan. Tapi aku juga tidak ingin sedewasa dan sedingin Batman.

Angin kencang mengetuk-ngetuk kaca jendelaku. Kututup tirainya lalu aku menyalakan laptop. Di Internet, kutemui beragam kisah. Ada yang lelah, bosan, mendapat kegembiraan… Aku bertanya-tanya, apakah kita butuh semua masalah ini, jika pada akhirnya tidak ada yang selamat di dunia. Kehidupan ini seperti musik yang dimainkan playback. Tuhan tahu durasinya, Ia hanya menunggu semuanya berakhir.

Rrrriiing… Ponselku berdering.

Aku terperanjat kaget. Sepertinya baru saja aku bermimpi sangat aneh. Serangkaian pikiran berlarian dalam benakku. Apa yang baru saja terjadi? Dan mengapa aku memimpikan semua hal itu?

Pikiranku tampaknya menipuku, untuk kesekian kalinya. Kurebahkan lagi tubuhku dan kuraih ponselku disamping bantal. Ternyata ada sebuah panggilan tak terjawab.

Dari Putri.

Putri sudah menjadi seperti ibu keduaku, selain menjadi pacarku. Dia mengomel sepanjang waktu. Cewek yang rambutnya ikal panjang itu menasehatiku soal menjadi laki-laki dewasa. Supaya aku berhenti mengeluh dan menarik diri.

Mungkin dia benar. Mungkin aku harus meluangkan sedikit lebih banyak waktu untuknya, atau orang lain. Tapi ada satu masalah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menjadi pria dewasa. Dan aku tidak cukup nyaman untuk membicarakan hal itu pada Putri.

Aku sendiri tidak tahu harus berbicara apa lagi ketika bersamanya. Putri selalu saja mendominasi perbincangan kami berdua. Aku tidak cukup punya keberanian untuk menyelanya. Hanya anggukan saja yang bisa kulakukan ketika bersamanya. Berharap dengan cara seperti itu dia kemudian melunak dan tidak terus-menerus mengomel kepadaku.

Seringkali terasa aneh. Apa sebenarnya yang bisa membuat seseorang itu akhirnya menjadi dewasa. Kedewasaan tidak seharusnya dipaksakan bukan? Biarlah aku sendiri menjadi dewasa ketika memang sudah waktunya.

Sampai suatu hari aku memperoleh pelajaranku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi tiba-tiba saja seorang sahabatku dikabarkan dirawat di rumahsakit. Angga adalah sahabatku sejak SMA. Aku selalu berpikir bahwa dia anak yang nyeleneh dan cuek. Tapi aku tidak menyangka ternyata dia juga menggunakan narkoba.

Ia dirawat karena overdosis. Ia menggunakan beragam jenis sabu-sabu dan ganja sekaligus. Setelah makan malam, aku menjenguknya di rumahsakit umum tidak jauh dari rumahku.

“Hei, bro… Gimana keadaanmu?” tanyaku sambil menyentuh bahunya.

Ia hanya bisa mengangguk dan mengacungkan ibu jarinya.

Kepalaku berputar. Aku bertanya-tanya apa yang membuat Angga sampai terjerumus pada hal seperti ini. Mungkin sebagai sahabat aku tidak cukup mengenalnya. Atau mungkin aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri dan duniaku sehingga tidak memerhatikannya.

Aku hanya bisa tertawa lirih. Menjadi dewasa memang tidak pernah mudah. Semua orang selalu berusaha menjadi dewasa dengan caranya sendiri. Kadang itu memang benar, tapi tak sedikit ada juga yang akhirnya memilih menjalaninya dengan cara yang tidak seharusnya. Lalu, ada dalam bagian yang mana aku? Aku hanya bisa menggeleng, tanda aku memang tak sepenuhnya paham dengan diriku sendiri.

Ponselku berdering lagi. Masih dari orang yang sama. Putri. Aku kemudian mengangkatnya.

“Ayo keluar dan mengenal dunia luar. Jangan sampai kamu menjadi busuk karena ulahmu sendiri.”
“Aku bukan apel yang mudah membusuk karena disimpan terlalu lama, Put.”
“Aku mengerti. Tapi berinteraksi dengan dunia luar juga tetap kamu butuhkan. Aku tunggu kamu di depan rumah. Ayo keluar.”

Aku menatap pada Angga yang terbaring nyris tak berdaya. “Oke,” kataku. “Oke, Put. Aku mengerti sekarang.”

Aku menggenggam tangan sahabatku dan berkata, “Kamu udah jadi inspirasiku malam ini. Cepat sembuh ya, Ngga. Aku ingin kita sama-sama berjuang sebagai orang yang baru. Kita katakan pada dunia untuk bersiap menyambut kita.”

Kemudian aku pamit pergi. Aku menjemput Putri di depan rumahku dan kami berlalu menembus malam. Langkah-langkahku kini terasa besar-besar dan anggun, tegas tapi siap mencinta.

Menjadi dewasa berarti menyisihkan sebagian dari dirimu untuk orang lain, untuk mendengarkan mereka, menikmati bagian dari diri orang lain yang mereka berikan kepada kita.

Sebab ketika kita berbagi, dunia menjadi baik-baik saja.

Ini adalah tulisan kolaborasi pertama saya dengan mas Teguh Puja.

About these ads

6 pemikiran pada “Satu Malam Di Neverland

  1. aaaa~ kak ilham.. :DD
    saya adis. *eaa~ sok kenal amat yak sayanya.* hehe..

    saya gulung-gulung bacanya. *dalem ati aja sih gulung2nya.* hehe…
    I mean, dewasa emang nggak ditentukan oleh umur kan ya. bahkan sering kali kita sudah menganggap diri kita dewasa, padahal untuk mendengarkan orang lain saja sulit. atau malah, takut untuk menjadi dewasa.
    ujung2nya, tua aja sih yang iya. dewasanya belum.

    saya suka sih bacanya, ngalir. :)
    ini kalo kolaborasi nulisnya gimana sih kak? soalnya kok saya ngerasanya taste nya kak teguh mayan kuat di sini. :D

    • eh makasih lho ya… padahal saya juga guling2 karena kurang puas sama hasilnya. saya masih belum bisa nyatu dalam kolaborasi ini. iya mas teguh itu emang penulis yang keren. coba deh kamu hubungi dia kalo mau kolaborasi. selamat nulis! :)

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s