(Fiksi) Intentionally Witch

Alika bukan orang yang suka kejutan. Ia lebih suka melakukan semuanya secara berurutan. Mulai dari bangun pagi, memakai sendal, membuka jendela-jendela, hingga kendaraan yang ingin ditumpanginya hari itu ke sekolah. Biasanya dia naik mobil bersama ayahnya, di lain hari dia lebih memilih naik angkot, karena terkadang ia bisa berjumpa dengan teman-temannya yang juga naik kendaraan umum.

Tapi semua itu sudah berakhir sekarang. Tidak ada lagi wajah-wajah yang ia kenal. Kamar tidurnya pun sudah berubah. Ia dan orangtuanya pindah sejak akhir pekan lalu. Dan hari ini ia harus berulangtahun yang ke-17 sendirian tanpa teman-temannya lagi. Sekarang ia tidak tahu siapa dirinya tanpa mereka.

Sekolah barunya lumayan. Tampaknya SMA khusus anak-anak kalangan atas. Tapi Alika langsung mengalami kesulitan khususnya mencari teman baru yang bisa langsung diakrabinya. Tampaknya semua anak disini cenderung individualis atau semacamnya. Makanya Alika sumringah ketika melihat sekumpulan anak perempuan berjalan bersama dalam satu rombongan.

Dandanan mereka kelihatan menarik. Kemungkinan bukan jenis geng anak usil atau nakal. Tapi lebih kepada gothik. Walau agak sulit dibedakan.

“Kamu anak baru kan?” kata seorang murid perempuan. “Kamu jangan deket-deket mereka, ya.”

“Emang kenapa?” tanya Alika.

“Pokoknya jangan.”

Kemudian anak itu pergi.

Alika justru menjadi semakin penasaran. Sepulang sekolah, ia mengikuti anak-anak itu. Tidak sulit ditemukan karena mereka selalu berjalan dalam satu rombongan.

Tapi anehnya ketika ia mengikuti mereka ke gudang belakang sekolah, tiba-tiba saja mereka menghilang. Penjaga sekolah tampak menyapu lantai dan kemudian menutup pintu gudang.

“Pak, Pak!” panggil Alika. “Bapak lihat ada anak-anak sekolah disini?”

Laki-laki itu menggeleng. “Kayaknya sudah pulang semua, neng.”

Alika berbalik, kecewa.

Tiba-tiba ketika ia melewati bangunan kelas, seseorang menggamit sikunya. “He, disini.”

Terkejut, Alika berbalik. Gadis berambut pendek dengan make up gothik menatapnya balik sambil tersenyum lebar. “Nina,” katanya, memberikan tangannya.

“Eh..um..Alika.” Mereka bersalaman canggung.

“Ayo, kamu mau tahu ekskul kita kan?”

“Ekskul?” Alika mencium aroma aneh namun menyenangkan dari tubuh Nina. Seperti asap wewangian.

“Iya. Kita punya ekskul magic.”

“Sulap?”

Lalu Nina tertawa dan menjawab, “Ya semacam itulah. Yok.”

Gudang yang tadi sudah dikunci penjaga sekolah kini pintunya terbuka lebar.

“Kami punya kunci duplikat. Jangan sampai kepala sekolah tahu. Hihihi.” Nina berbisik.

Di dalam gudang semua orang telah berkumpul di tengah keremangan cahaya. Anak yang berambut panjang, kurus, pendek, gemuk. Semuanya perempuan. Mereka berdandan serba mirip, seperti hantu yang keluar dari kuburan.

Nina memperkenalkan Alika kepada teman-temannya.

Ekskul itu bukan tempat main-main, kata Nina. Mereka benar-benar melakukan praktek sihir di gudang selepas sekolah dan malam hari. Tidak ada yang tahu selain mereka sendiri.

Alika menyaksikan anak-anak perempuan membuat ramuan di kuali hitam legam, merapalkan mantra-mantra dari buku tebal bersampul kuit, menyalakan lilin, dan tiba-tiba saja muncul kepulan asap dari tengah-tengah lingkaran 7 anak perempuan.

“Lebih baik aku pergi, Nina,” ujar Alika. “Aku tidak tertarik dengan ekskulmu.”

Alika menyambar ranselnya dan berjalan pergi.

“Alika…!” seru Nina, atau lebih tepatnya menjerit dengan nada kesal. Lalu wajahnya berubah lagi menjadi begitu manis, seperti ibu yang membujuk anaknya setelah dimarahi. “Maukah kamu…menerima cinderemata? Kenang-kenangan dari ekskul magic.”

Nina menyerahkan sebuah pendulum kristal. Dengan mata batu berwarna hitam dan gantungan rantai silver.

Alika bisa saja menolak pemberian itu dan pergi. Tapi di dasar hatinya, ia senang bahkan terkesan dengan apa yang dilakukan anak-anak perempuan di ekskul magic. Meski bersamaan dengan itu ia menyadari resiko yang mungkin saja terjadi.

“Te..terimakasih.” Alika menerima pendulum itu dan pergi meninggalkan gudang.

*

Jantung Alika hampir lepas ketika ia membuka pintu rumahnya, teman-teman dari rumah lamanya telah berkumpul sambil memberikan kejutan dengan sebuah kue tart. “Surprise! Happy birthday to you…” Mereka serentak menyanyikan lagu ulangtahun.

Senyuman Alika terkembang. Awalnya karena senang teman-temannya ada disini. Tapi setelah mendengar pesan-pesan yang dibisikkan pendulum sepanjang perjalanannya, ia sudah berubah pikiran. Sekarang ia tahu apa yang dia inginkan, apa yang dia rencanakan. Ia pun mengirim pesan kembali kepada teman-temannya melalui pendulum yang terasa hangat di tangannya.

“Surprise to you too…” ujar Alika. “Teman-teman…saatnya memanen jiwa…”

Dari dinding-dinding yang kosong, muncul sosok-sosok berbentuk asap hitam yang berubah wujud menjadi anak-anak perempuan yang mendesis-desis seperti ular, menyerang orang-orang di dalam ruangan itu, merenggut jiwa mereka seperti lalat yang terbang dan hinggap pada makanan sisa makan malam.

Alika memandang datar saat menyaksikan teman-temannya menjerit dan berjatuhan ke lantai.

Ketika ‘panen’ itu telah selesai, Alika melemparkan pendulum itu ke tengah-tengah kumpulan tubuh teman-temannya. Ia tidak membutuhkan benda itu lagi. Kekuatan sihir didalamnya telah merasuk ke tubuhnya. Sekarang ia tahu siapa dirinya. Alika, pada usia 17 tahun, adalah seorang penyihir.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Kesengajaan.”

Pikir dua (ribu) kali apa yang baik bagimu, terutama ketika kamu sudah tahu apa akibatnya. Jangan sengaja melibatkan diri pada hal yang kamu tahu akan menyesatkan.

gambar: dpchallenge.com

About these ads

9 pemikiran pada “(Fiksi) Intentionally Witch

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s