(Fiksi) Bayangan Peter

Usia gadis itu sudah 16 tahun, telah siap untuk mencari suami. Namun Wendy justru ingin menyelesaikan sekolah khusus anak perempuan hingga ia setidaknya 17 tahun.

“Celaka,” kata Bibi Millicent. “Bagaimana nanti kata para tetangga? 17 tahun dan belum menikah!”

“Tenanglah, Bibi, aku masih punya waktu,” kata Wendy, lembut. Ia memiliki senyuman yang sama dengan ibunya. Ciuman di sudut bibir yang membuat seorang bocah merasakan kekuatan sesungguhnya.

John dan Michael, adik-adiknya pulang saat liburan dari asrama mereka. Biasanya ketiganya menghabiskan waktu melepas kangen di kamar lama mereka di lantai atas. Kamar dimana sebuah petualangan liar dan menakjubkan dimulai. Ketika seorang anak laki-laki berselimut daun muncul di jendela bersama seberkas sinar melayang diatas bahunya.

Saat ini ketiga kakak-beradik itu memandangi jendela yang sama. “John, Michael, kalian masih ingat?” ujar Wendy.

Michael yang pertama mengangguk. Kemudian disusul John yang tampak setengah yakin.

“Dimana dia sekarang? Atau apakah semua itu hanya mimpi?” tanya Michael yang kini berusia 10 tahun.

Tentu saja itu bukan mimpi. Bahkan Wendy masih menyimpan bagian penting dari petualangan itu.

Pada bulan kedua setelah ulangtahunnya, sudah ada tiga pelamar yang datang ke rumah keluarga Darling dengan beragam penampilan dan tingkah-polah mereka.

Seorang pelaut Inggris yang pandai menyanyikan opera dengan suara tenor; pemilik tanah di koloni Inggris di Amerika Selatan yang terlihat jelas seorang pemabuk; pengusaha ekspor-impor yang sopan tapi sedikit sekali bicara.

Mungkin Wendy tidak benar-benar yakin bagaimana sosok pria idamannya. Bibi Millicent merestui pernikahannya dengan si pelaut muda, sementara Tuan dan Nyonya Darling menyerahkan pilihan sepenuhnya pada Wendy, asal cepat.

Apakah Wendy masih teringat padanya? Peter Pan… Wendy menyayanginya. Kini, sebagai seorang adik kecil, dan sesungguhnya dia merasa kasihan pada bocah laki-laki itu.

Bahkan Anak-Anak Yang Hilang telah memutuskan memulai hidup barunya di dunia nyata, dan kini semuanya sudah bekerja dalam berbagai profesi. Curly menjadi pencukur sekaligus pemilik kedai teh terkenal di Bloomsbury, Tootles bekerja sebagai manajer penerbitan, Nibs berakhir di sekolah sebagai guru sains…

Tapi bagaimanapun rindu dan sayangnya Wendy pada Peter, dia tetaplah bukan seorang pria dewasa yang bisa mengisi kemungkinan sebagai pelamar dirinya.

Rahasia besar Wendy ketika meninggalkan Neverland adalah ia masih menyimpan potongan diri Peter Pan dalam bentuk bayangannya! Ia menyimpannya di laci bersama lilin dan perlatan menjahit. Wendy membiarkannya keluar berkeliling rumah jika tak ada orang.

Ia mengawasi bayangan itu terbang mengitari dinding dan plafon. Awalnya ia mencoba kabur tapi akhirnya setelah Wendy merayunya dengan berpura-pura menangis sedih, si bayangan tidak lagi terbang melebihi pintu depan rumah keluarga Darling.

Sewaktu-waktu, Wendy akan menyentuh bayangan itu, membayangkan ia menyentuh Peter Pan yang legendaris. Bagaimana si legenda menangis ketika bayangannya robek dan kemudian Wendy menjahitkannya untuknya.

“Peter…mengapa kau tidak tinggal bersamaku…” Wendy menangisi keadaan yang ia pikir bisa menjadi lebih baik.

Seusai pelajaran pianonya hari itu, Wendy menjadi sangat lelah dan memutuskan untuk tidur di kamar atas. Tapi tak ada yang membangunkannya untuk makan malam.

Menjelang tengah malam, jendela besar itu terbuka lagi, seperti malam empat tahun lalu. Dan berdirilah di tengah-tengahnya seorang anak laki-laki dengan peri berkeliaran di sekitar lehernya.

Wendy terbangun dan langsung turun dari tempat tidur. “Pe..peter? Apakah itu kau?”

Sosok itu terangkat dari lantai dan melayang hingga wajahnya tertangkap cahaya lilin di ruangan itu.

“Itu memang kau!” Wendy berlari dan memeluk bocah lelaki itu.

“Aku pikir kau mungkin merindukanku,” kata Peter lembut.

“Aku memang merindukanmu. Kenapa kau tidak berkunjung lebih sering?”

“Ini saatnya bersih-bersih musim gugur. Aku bisa menggunakan bantuanmu untuk membersihkan rumah pohon dan rumah para peri.”

“Oh, Peter! Aku senang kau datang menemuiku.”

Peter tersenyum bangga pada dirinya sendiri.

“Kau sudah menjadi wanita dewasa….Wendy,” ujar Peter ragu-ragu.

“Yah…” Wendy menyahut. “Aku memang sudah dewasa.”

“Kalau begitu ayo pergi. Jangan membuang waktu.” Peter mengulurkan tangannya sambil bersiap menghadap jendela. Sama seperti empat tahun lalu.

Wendy tersenyum menyambut uluran tangan bocah laki-laki itu. Tink tak mau kalah aksi dengan menaburkan debu perinya ke sekeliling Wendy, dan membuat tubuhnya melayang. Mereka bertiga lepas landas menembus langit Bloomsbury yang biru kelabu. Sekali lagi menuju Neverland.

Neverland tidak banyak berubah. Jolly Rogers, bekas kapal Kapten Hook masih tertambat di sebuah muara, menjadi hunian para peri. Setelah acara bersih-bersih selesai, Peter dan Wendy duduk di tepi kapal Jolly Rogers sambil menatap bintang-bintang yang bekerlipan begitu ceria, berbeda dengan yang ada di dunia manusia.

“Peter, mengapa kau tidak tinggal bersamaku dulu?” tanya Wendy.

“Karena aku bisa mati. Tua dan mati. Bersamamu, Wendy.”

“Setidaknya kita bisa tua bersama.”

Peter berganti menatap laut di bawahnya. “Apa gunanya tumbuh dewasa? Tidak ada petualangan, hanya ada pekerjaan dan pekerjaan.”

“Kau benar. Tapi terkadang kita harus melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan. Dan itu tidak apa-apa, selama kau memiliki teman-teman dan…”

“Hei, ayo kita mengunjungi buaya yang menelan Kapten Hook!” Peter terbang beberapa meter ke depan.

“Peter… Aku akan menikah.” Wendy tertunduk, seakan menyesal atas apa yang diucapkannya.

Peter berhenti dan berbalik. Ia mungkin tidak mengerti apa itu artinya. Mungkin saja, ia mengerti tapi tidak mau percaya.

“Kau akan memiliki suami?”

“Ya.”

Peter berpikir sejenak. “Maka berarti Kapten Hook benar,” ia mengatakannya sambil tersenyum ikhlas. “Aku tidak bisa mendampingimu, Wendy. Suami lah yang bisa mendampingimu.”

“Aku harap kita bisa memiliki petualangan lagi seperti dulu.”

“Kita bisa, Wendy. Tinggallah disini lebih lama lagi…” Peter mendekati gadis itu.

“Peter, aku harus pulang, sebelum orangtuaku mencari-cariku lagi.”

Maka keduanya kembali ke Bloomsbury sebelum subuh.

“Peter,” Wendy mengeluarkan sesuatu dari kantungnya. “Ini milikmu.”

Wendy menyerahkan bayangan Peter pada empunya. Dan bayangan itu tampak senang bukan main sehingga ia dapat menyatu begitu mudahnya tanpa harus dijahit.

“Dan ini, juga masih milikmu,” ujar Wendy sambil mendekatkan wajahnya lalu mengecup kedua pipi Peter.

Peter tersenyum. “Kau berjanji padaku untuk bercerita.”

“Yah,” Wendy tersenyum cerah. “Bercerita tentang Peter Pan.”

“Itu bagus.”

“Ya, sangat bagus.”

“Dah, Wendy.”

Tink pun membuat suara gemerincing halus mengucapkan selamat tinggal.

“Dah, Peter.” Wendy menyentuh makhluk kecil bercahaya di bahu Peter. “Dah, Tink.”

“Ingatlah aku sebagai petualangan terbaik yang pernah kau miliki dalam hidupmu…” kata Peter sembari terbang menjauh. Ia pun melesat menembus langit malam dan menghilang sebagai cahaya bintang.

“Aku akan selalu mengingatmu, Peter Pan…”

Semangat Peter yang masih segar kembali merasuki diri Wendy. Kini dia tidak ragu lagi, seolah sebelumnya ia merasa ragu akan segala sesuatu. Tapi setelah malam itu, ia lebih menikmati pertunjukan yang dilakukan para pelamar untuk mendapatkan hati gadis cantik berambut coklat itu.

Dan hingga pada akhirnya ia menikah dengan pelaut Inggris, James Cornway, Wendy masih menyimpan semangat Peter Pan di dalam hatinya. Meskipun ia tidak lagi menyimpan bayangannya di laci, atau membuat bocah itu tinggal bersamanya di dunia nyata yang juga penuh warna dan petualangan.

Dan pada akhirnya, Wendy menceritakan kisah Peter Pan pada anak-anaknya, anak-anaknya pada cucu-cucunya, dan begitu seterusnya hingga semua anak tumbuh dewasa. Kecuali seorang anak laki-laki.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Bayangan.”

gambar: favim.com

About these ads

6 pemikiran pada “(Fiksi) Bayangan Peter

  1. Halo, saia sekadar berkeliling, terus menemui fiksi manis ini. Aduh, saia penggemar berat dongeng Peter Pan. Membaca fiksi ini rasanya seperti bernostalgia, dan yang paling saia acungi jempol adalah perebendaharaan karakternya. Sempurna. Wendy dengan karakter yang tidak berubah tapi ditempatkan dalam situasi yang berbeda… saia berharap dia bakal bersatu lagi dengan Peter Pan, tapi lagi-lagi dia kembali. Dan memang, seorang seperti Wendy selayaknya menikah. Neverland, cuma bisa menjadi daftar tempat perjalanannya. FIksinya keren sekali deh :D
    Terus menulis.

    • terimakasih banyak mbak… iya saya juga mikir pasti menyenangkan kalo Wendy selalu bisa jalan2 ke Neverland walau dia udah dewasa. :) walau Peter tetep gak mau hidup di dunia nyata. (jadi inget Peter Pan syndrome :lol: )
      thnx again.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s