(Fiksi) Supernatural Dream

Alif bermimpi seru sekali. Ia bermimpi bisa menggerakkan koin dengan kekuatan telekinetik dari panas tubuhnya.

“Aku dong bisa sulap,” katanya dalam mimpi itu, menunjukkan pada teman-teman perempuan di teras sekolahnya. Lalu dia menunjukkan pada mereka trik sederhana mengangkat sebuah koin hingga melayang diantara kedua telapak tangannya.

Itu tidak semudah yang dikira. Alif harus berkonsentrasi agar ia tidak kehilangan kendali pada objeknya. Kemampuannya semakin berkembang ketika ia mencoba mengangkat seorang anak kecil bergaun ungu. Meski kalau dipikir untuk apa ada anak kecil berpakaian seformal itu di sekolah. Mungkin anak guru atau pegawai.

Tapi kemudian ia merasakan pengalaman yang aneh sekaligus mengerikan. Ketika ia menggerakkan pandangannya ke kiri, mimpinya seolah terbentur pada sesuatu yang bersinar hijau terang. Gambaran sekolahnya buyar oleh pemandangan hijau yang misterius. Seperti menyaksikan dua mimpi bertemu dan berlangsung bersamaan.

Mimpi Alif sekarang seakan terbagi dua. Di sisi kirinya, cahaya hijau itu berasal dari bawah. Seakan ada jurang tak kasat mata tepat di sebelah kakinya. Dan saat ia menyadari hal itu, kakinya menginjak tanah yang menjadi serapuh kaca tipis, dan saat pecah Alif terperosok kedalam cahaya hijau yang terasa merasuk kedalam tubuhnya seperti asap.

Alif terbatuk-batuk. Ia terbangun dari tidurnya. Pastilah ia tersedak liurnya sendiri. Lagi. Diatas PR yang belum setengah dikerjakan.

“Ugh…” lenguhnya. Matanya yang terasa pedas karena kantuk tiba-tiba mendelik melihat jam weker. Sudah jam setengah satu! Oke, oke, pikirnya. Dia kerjakan seberapa banyak yang ia bisa, besok masih bisa dilanjutkan dengan menyontek teman. Sempurna.

Hey…

Alif mengangkat tangan kanannya dengan telapak menghadap ke bawah. Pulpennya menempel disana seakan terikat magnet.

“Apa aku punya kekuatan super?” katanya, mengingat mimpinya barusan.

Pluk! Si pulpen hitam jatuh dari lapisan keringat di tangan Alif.

Anak kelas XI itu tertawa pada dirinya sendiri, kemudian bangkit dari kursi. Alif membuat segelas teh lalu lanjut mengerjakan PR-nya.

*

Esoknya, sepulang sekolah, Alif naik angkot seperti biasa. Mungkin cuma perasaannya, tapi sepertinya ada yang mengikutinya dari belakang.

Tapi setiap dia menoleh, tidak ada siapa-siapa kecuali anak-anak sekolah yang berjalan keluar dari gerbang.

Dia tidak begitu memikirkannya lagi ketika sebuah tangan menggamit bahunya. “Dek, masih ingat saya?”

Kaget, Alif terhuyung ke samping menatap sosok berjenggot dan berjubah ala dukun yang menyapanya.

“Enggak, kok, Pak,” jawabnya buru-buru. “Saya nggak ingat.”

“Adek tahu nggak, kamu itu sudah membuat kekacauan,” sergah pria separuh baya itu. “Dan sekarang ada orang-orang yang mau membunuhmu.”

Otak Alif berputar. Mungkin saja itu tipuan, supaya dia mau percaya dan ikut dengan laki-laki itu.

“Enggak apa-apa, Pak. Saya bisa lapor polisi kalo ada apa-apa,” kata Alif.

“Polisi tidak bisa membantumu, apa kamu tidak mengerti?!” Sekarang laki-laki itu mulau agak memaksa.

Alif menutup bibirnya, berusaha berpikir. “Um…”

“Cahaya hijau yang kamu lihat semalam bukan hanya mimpi.”

“Masa’ sih pak?” suara Alif berubah mencicit, matanya mendelik tegang.

Si bapak menghela nafas. Ia kemudian merebut lengan Alif dan menggiringnya berjalan. “Kami sedang mengadakan ritual ketika rohmu menganggu aktivitas kami tadi malam. Dan terjadi sesuatu yang membuat sebagian dari kelompok kami sangat marah. Mereka tidak terima dan siap melakukan apa saja untuk menghabisimu.”

“Tapi kenapa? Apa yang saya lakukan?”

Si bapak berhenti melangkah, begitu juga Alif. “Energi yang kami transfer ke alam semesta merasuk ke tubuhmu.”

“Ti..tidak bisakah kalian ambil kembali? Kalian kelihatannya sakti.”

“Hampir mustahil. Energi itu adalah energi murni dari jiwa manusia. Karena itulah begitu ia keluar dan bersarang di tubuh manusia lainnya, sulit untuk mengeluarkannya.”

Alif mengangguk-angguk, berlagak mengerti sambil menahan rasa takutnya.

“Saya tahu kamu sulit mengerti. Tapi saya hanya ingin melindungimu. Sebagian teman-teman saya tidak sependapat dengan saya. Mereka tidak bisa mengambil kembali sebagian kekuatan mereka yang telah ditransfer ke tubuhmu, jadi mereka memilih untuk membunuhmu.”

“Bapak serius? A..apa yang harus saya lakukan?”

“Ikutlah dengan saya. Kamu boleh pulang lalu minta diantarkan oleh supir atau orangtuamu jika kamu ragu. Saya akan berikan alamat saya.”

Alif berpikir keras. “Oke. Tapi saya mau pulang dulu…”

Bapak itu menatap kedua mata Alif sebentar kemudian berkiata, “Baik. Siapa namamu?”

“Alif. Haha..saya kira tadinya bapak tahu nama saya, dengan telepati atau semacamnya.”

“Saya tahu nama kamu Alif Hafizul Karim, tapi saya hanya ingin memastikan.”

Alif mengacungkan jempolnya sambil tersenyum kaku, setengah mengagumi, setengah karena kehabisan kata-kata untuk mengekspresikan keheranannya.

“Panggil saya Ki Sani,” ujar paranormal itu.

*

“Apa yang diinginkan seorang dukun, jika Ki Sani benar-benar dukun, dari orang sepertiku?” benak Alif.

Sebagai anak tunggal dengan kedua orangtua bekerja, Alif terbiasa tinggal sendirian di rumah dan membawa kunci setiap hari ke sekolah. Ia pun mengeluarkan kunci itu dari tasnya. Lalu tiba-tiba sebongkah kertas jatuh dari kantong celananya.

Alif memungutnya. Alamat Ki Sani yang misterius.

Anak itu memutuskan untuk membuangnya ke tempat sampah. Dia tidak ingin terlibat masalah. Persoalan mimpi itu hanya omong kosong. Mungkin dukun yang menipu, atau lebih buruk, menculik, dengan modus paranormal.

Tiba-tiba ada suara orang menghela nafas. “Sudah kuduga,” kata suara itu.

Alif berbalik spontan. Ranselnya membentur pintu hingga kuncinya terjatuh. “I…Ibu ini siapa ya?”

Ada seorang wanita berkacamata hitam dan bergaya agak glamor berdiri di depan teras rumah itu. Ia kemudian memperkenalkan diri dengan anggunnya, “Saya Nyi Lalita.”

“Saya Alif.”

“Saya tahu. Tapi kamu nggak tahu betapa susahnya mencari alamat kamu ini. Kami berusaha menemukanmu sebelum terlambat,” kata wanita itu, dengan gaya yang membuat nyali Alif menciut.

“Oh, tidak…” gumam Alif. “Ibu pasti temennya Ki Sani. Aduh, ada apa ini sebenarnya? Apa kalian mau menculik saya?”

“Satu-satunya yang mau mencelakakan kamu adalah tiga orang yang dulunya adalah teman kami. Ki Jitheng, Ki Ruyat dan Ki Sebrang.” Nyi Lalita menatap Alif dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kamu masih muda, masih polos. Memang sangat sayang terlibat hal seperti ini. Tapi kamu harus segera belajar mengendalikan kekuatanmu sebelum orang lain mencelakakanmu dengan kekuatan mereka. Sebelum kamu bisa melakukannya, kamu adalah target yang mudah.”

“Um…” Alif berdiri gelisah. Tiba-tiba saja mulutnya mengecap rasa yang aneh, seperti ada rasa logam yang kuat. Kemudian ia merasakan perutnya bergemuruh. Ia menyentuh dan memandangnya dengan wajah pucat. “Perut saya…”

Alif meraba hidungnya. Berdarah!

Tubuh Alif roboh saat tiba-tiba saja kepalanya terkulai ke samping.

Nyi Lalita berlari panik menjemput tubuh anak itu. Tapi Alif sudah terbaring di lantai, tak sadarkan diri. “Alif… Alif… Nak…”

*

Alif terbangun di rumah sakit. Untungnya.

“Ma…” Ia menatap bayangan buram di samping tempat tidurnya.

“Bukan, orangtuamu sedang menuju kesini,” jawab bayangan itu yang ternyata Nyi Lalita.

“Alif, sekarang adalah saat yang tepat untuk mengungkap kebenaran,” kata suara lain di ruangan itu. Ki Sani.

“Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku baru saja pingsan tanpa sebab…” keluh anak itu.

“Kamu pingsan karena maag. Itulah yang diyakini dokter. Dan kami memang ingin orang berpikir begitu. Tapi sebenarnya kamu baru saja mendapatkan serangan,” Nyi Lalita berujar sambil memotongkan apel untuk Alif. Namun bisa terlihat bahwa tindakannya itu hanya mimik saja.

Suara kipas angin yang terpasang di langit-langit lorong diluar serta tetesan air infus di sebelahnya terasa begitu keras dan memekakkan di telinga Alif.

“Alif,” ujar Ki Sani, mendekati anak itu. “Buka tanganmu.”

Alif menurutinya. Kemudian Ki Sani menaruh sebuah koin diatasnya.

“Terimakasih,” kata Alif.

“Bukan itu maksud saya. Angkat koin itu.”

Alif memandang Nyi Lalita dan Ki Sani bergantian. “Apa?”

Nyi Lalita menggulir matanya keatas. “Angkat koin itu ke udara dengan pikiranmu.”

Benarkah Alif bisa melakukan itu? Semalam semua itu hanya sekedar mimpi. Dan itu memang terasa sangat kuat, tapi setidaknya Alif tahu itu hanyalah mimpi semata.

Kali ini, dengan apa yang mungkin sedang terjadi padanya, benarkah ia bisa melakukannya?

Alif mulai memusatkan perhatiannya seperti saat ia sedang bermimpi. Ia berusaha fokus dan tetap tenang.

Tiba-tiba Alif merasakan aliran panas dari tulang punggungnya, mengalir ke tangan yang memegang koin. Kemudian koin seribu rupiah itu mulai bergerak-gerak seperti dalam adegan sulap. Lalu Alif mulai lebih mengkonsentrasikan untuk mengangkat koin itu ke udara. Dan akhirnya koin di tangannya terangkat lepas setinggi satu senti, lalu jatuh lagi.

“Aku berhasil! Ya kan?” ujar Alif senang.

Nyi Lalita bertepuk tangan pelan sambil tersenyum memberi semangat.

“Tapi untuk menghadapi musuh-musuhmu, kamu perlu lebih dari itu,” kata Ki Sani. “Datanglah ke rumahku malam ini.”

“Tapi aku tidak bisa…” Alif mengeluh.

“Kenapa?” tanya Nyi Lalita.

“Kami akan mengadakan acara ulangtahun Nenek di rumahku malam ini.”

Nyi Lalita dan Ki Sani bertatapan.

Lalu pintu kamar terbuka. Orangtua Alif masuk dan memeriksa keadaan putra mereka. “Terimakasih ya Pak, Bu, sudah membawa anak saya ke rumahsakit. Tetangga saya bilang Alif ditolong orangtua temen sekolahnya,” kata sang ibu bernada cemas.

“Nggak apa-apa, kok, Bu,” ujar Nyi Lalita. “Saya kan juga punya anak sebaya dengan Alif. Ohya, tadi saya sudah terlanjur membayar biaya rumahsakitnya. Nggak apa-apa ya, Bu. Saya nggak bermaksud-…”

“Aduh…terimakasih banyak lagi, Bu… Ibu… Ibu siapa ya namanya?”

“Saya Lalita. Ini…suami saya, Sani.”

Ki Sani tersenyum memberi salam.

Kemudian kedua paranormal itu pamit. Alif tersenyum pada Nyi Lalita. Bukan senyuman biasa, tapi senyuman penuh rasa terimakasih dan kepercayaan.

*

“Selamat tahun ya, Nek…” Alif mencium kedua pipi neneknya yang kini berusia 81 tahun.

Alif tidak bisa berhenti memikirkan Nyi Lalita dan Ki Sani. Ia terus berpikir bahwa apa yang mereka katakan benar-benar mungkin terjadi. Tapi setidaknya hingga saat ini belum terjadi apa-apa yang mengerikan atau berdarah-darah. Alif membayangkan jika dia mengalami hal seperti yang dialami orang-orang di TV dengan benda-benda aneh keluar dari tubuh mereka.

Tapi saat ini ia makan sepotong besar black forest dengan lahap dan minum jus jeruk. Rasanya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia berharap bisa melupakan apa yang terjadi hari ini. Besok dia ada ulangan Sejarah dan hidupnya akan kembali normal.

“Tapi koin itu…” Alif bergumam dalam hati.

Ia memelankan kunyahannya dan menegakkan posisi duduknya. Setelah memastikan tidak ada yang melihat, Alif mencoba dan berhasil menggeser garpu di piring kuenya. Itu terasa sedikit melelahkan, tapi menyenangkan. Dahinya berkeringat tapi lebih karena gugup sekaligus senang.

Alif pergi ke kamarnya dan mengunci pintu. Kemudian ia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya dari mulut. Ia mengarahkan tangannya terbuka ke rak buku yang tergantung di dinding, lalu ia melepaskan energi cukup besar, yang ternyata terlalu besar, hingga mengakibatkan rak buku itu hancur di salah satu sudutnya dan jatuh berserakan di lantai. Alif nyaris kehilangan keseimbangan akibat dorongan energi besar tersebut.

Mendengar keributan, orang-orang bergegas menuju kamar anak itu.

“Alif, ada apa?” Mama berseru.

“Alif…kamu nggak apa-apa?” tanya Papa.

Alif menjelaskan bahwa rak buku itu tiba-tiba saja roboh saat dia menambahkan kamus kedalamnya. Meski sulit diterima, semua orang setuju dengan penjelasan itu.

Sekarang Alif tahu bahwa dirinya benar-benar memiliki sesuatu. Tapi ia butuh penjelasan lebih lanjut. Terutama tentang bagaimana ia bisa jauh dari bahaya dengan kekuatan yang kini dimilikinya. Dan mengapa mimpinya bisa membuatnya jadi seperti sekarang. Ada begitu banyak pertanyaan.

*

“Saya Alfredo,” ujar laki-laki muda bermata sipit berusia 20-an yang menyambut Alif di rumah besar bergaya kolonial itu.

Alif pamit pergi pada keluarganya dengan alasan ingin meminjam buku pelajaran dari temannya. Ia kemudian diantarkan oleh salah seorang sepupunya menggunakan mobil ke alamat yang Alif temukan di tempat sampah di depan rumahnya.

“Apa Ki Sani ada?” tanya Alif sambil berjalan bersama Alfredo yang langkah kakinya begitu halus hingga tak bersuara.

“Alif, cepat kesini!” Ki Sani tiba-tiba berteriak di belakangnya. “Dia bukan Alfredo! Dia Ki Jitheng! Awas!!”

Alif langsung melancarkan lari secepat yang ia bisa menuju Ki Sani. Namun langkahnya dihentikan oleh serangan Ki Jitheng yang sudah berubah wujud ke rupa aslinya. Laki-laki yang memakai celak mata itu meremas udara di depannya, dan tiba-tiba saja Alif merasa pahanya sedang dihancurkan oleh mesin penghancur mobil.

“Sialan!” Ki Sani berlari mendekati Alif dan mengusap kakinya dengan telapak tangan yang sudah dibacai doa-doa.

Setelah pulih, keduanya berlari dan berbelok ke arah tangga.

Siapa sangka Ki Ruyat telah menunggu di tengah anak tangga. “Kalian pikir kalian mau kemana?” ujarnya parau.

Ia kemudian menghempaskan pukulan gaib yang merobek baju dan sedikit kulit Ki Sani. Paranormal itu membuang dirinya ke samping agar tidak jatuh ke bawah.

“Kau berutang kekuatan kami yang bersarang di tubuhmu,” ujar Ki Sebrang pada Alif sambil berjalan bersama Ki Jitheng. “Manusia rendah sepertimu lebih pantas mati.”

Alif mengayunkan tangannya dan sebuah guci besar di selasar jatuh menjadi berkeping-keping di hadapan kedua orang jahat itu.

“Wah, wah… Anak kecil ini baru belajar menggunakan kekuatannya rupanya. Apa yang bisa kamu lakukan selain merusak barang-barang!? Hah!!?” Ki Ruyat membentuk cakar dengan tangannya. Lalu tiba-tiba saja tubuh Alif terenggut oleh kekuatan tak kasat mata. Dadanya serasa ditarik menuju Ki Ruyat berdiri sambil mendelikkan matanya.

Merasa marah, Alif menghantamkan pukulan kearah Ki Ruyat, tapi energi yang dihasilkannya begitu kecil.

“Kamu harus tenang, Lif,” kata Ki Sani. “Ayo, bersama-sama.”

Alif menghela nafas. Ia kemudian naik beberapa anak tangga dan berhasil menarik satu kaki Ki Ruyat hingga terjatuh dengan gerakan seperti kung fu yang halus.

“Hey, darimana kamu belajar itu? Itu kung fu ya?”

“Kartun Avatar: The Last Airbender.” Alif tersenyum.

Ki Ruyat mengerang kesakitan saat ia merosot ke bawah. Sementara Alif dan Ki Sani berlari keatas.

Di ruangan di lantai atas, tiga orang kawanan paranormal telah berkumpul. Salah satunya adalah Nyi Lalita. “Alif, kemari.” Nyi Lalita memperkenalkan dua temannya yang lain yang tampak lebih muda. “Alfredo dan Abi.”

“Kita harus menghentikan mereka,” ujar Nyi Lalita.

“Apa rencananya?” tanya Alif.

Alfredo, pemuda tionghoa itu menjawab, “Kita akan menyerang Spirit mereka. Dengan begitu kekuatan mereka tidak akan ada artinya.”

“Spirit?” Alif bertanya.

“Jin,” sahut Ki Sani.

“Ayo kita semua ke atap,” ujar Abi sambil memegang tasbih kecil berbiji hitam.

Mereka berlima menaiki tangga menuju atap. Tiang bendera terpancang diatas dan terasa dingin ketika Alif menyentuhnya untuk bersandar dan menarik nafas.

Langit bisu. Bulan pucat, sementara angin berhembus kecil-kecil seperti menggoda. Suasana itu begitu membuat Alif tegang.

“Siapa sebenarnya mereka?” tanya Alif pada Ki Sani. “Nyi Lalita bilang mereka dulu teman-teman kalian.”

Nyi Lalita dan juga Alfredo sekilas menatap Alif. Anak itu berhak mendapatkan penjelasan, ungkap tatapan mereka.

“Yah, mereka dulu memang teman-teman kami. Tapi tidak selalu se-visi.” Ki Sani bercerita. “Malam kemarin, kami sedang mempersembahkan energi positif untuk bangsa ini. Sekedar doa-doa untuk kebaikan dan energi murni dari pengharapan yang tulus akan kebaikan. Kami paranormal juga diam-diam memberikan kontribusi kepada negeri dengan cara yang kami kuasai. Ritual itu kami lakukan setiap beberapa kali dalam setahun. Lalu tiba-tiba saja, malam kemarin, rohmu muncul diatas langit.”

“Bagaimana bisa rohku muncul?” Alif kebingungan.

“Ketika orang tidur, rohnya bisa terlepas dari badan. Astral projection. Dan rohnya itu bisa berkelana kemanapun ia suka.” Ki Sani menutup matanya.

“Padahal mimpiku hanya semacam khayalan tentang…sesuatu yang biasa.” Kata Alif.

“Khayalanmu itu pasti memiliki tipe dan aura yang cocok dengan energi supranatural, sehingga tertarik ke area ini,” kata Nyi Lalita.

“Mereka datang,” ujar Ki Sani dan Abi bersamaan.

Tiga sosok itu berjalan pongah muncul dari pintu yang gelap. Mata mereka menggambarkan keliaran dan dorongan membabi-buta untuk menghancurkan.

PTHAR!!

Ki Ruyat melempar sesuatu dan meledak menjadi kepulan asap. Dari asap itu muncul cipratan cairan hitam yang panas membakar ketika mengenai kulit. Itu adalah darah Banaspati, makhluk gaib yang identik dengan elemen api.

Kelima orang termasuk Alif bergerak menghindar. Jantung Alif berdegup begitu kencang sehingga ia pikir ia akan mati karena serangan jantung ketimbang dibunuh oleh ketiga dukun itu.

Ki Sani dan yang lainnya terkena cipratan cairan panas itu namun segera memulihkan diri dengan gaya mirip pencak silat.

“Tunggu,” kata Alif memberanikan diri. Ia maju menghadapi ketiga orang itu. “Jika kalian hanya ingin kekuatan kalian kembali, maka ambillah, bagaimanapun caranya. Mengapa harus membunuhku?”

Ketiga orang itu tertawa terbahak-bahak. Salah satunya berjalan maju. Ki Jitheng yang berbadan jangkung berkata sinis, “Karena membunuhmu jauh lebih mudah dan tidak menguras lebih banyak tenaga kami, anak bodoh.”

Kemudian Ki Jitheng mencengkeram bahu Alif begitu keras hingga sulit untuk melepaskannya.

Alif memekik dan seketika bisa melepaskan diri dari cengkraman yang siap membunuhnya itu.

“Jangan ganggu anak ini, Jitheng,” ujar Ki Sani. “Mengapa kalian tidak bisa menerimanya sebagai salah satu dari kita. Kita bersama bisa membinanya sebagai murid.”

“Omong kosong,” sahut Ki Sebrang yang gemuk pendek dan botak. “Kowe nggak ngerti yo, San. Anak ini bisa jadi bencana jika ketahuan orang-orang. Dia bisa jadi orang sakti di mata masyarakat tapi tidak bisa mempertanggungjawabkannya. Tidak tahu cara menggunakannya untuk kepentingan orang lain. Beda dengan kita, San. Yang menghabiskan waktu dan tenaga bertahun-tahun untuk mendapatkan anugerah ini dan menggunakannya secara benar-benar. Itulah bodohnya kamu! Tidak bisa membedakan orang sakti dengan manusia biasa!”

Nyi Lalita berjalan kedepan Alif seolah melindunginya. “Itu sudah takdir, Ki. Anak ini memang dimaksudkan untuk kita bimbing oleh Yang Maha Kuasa. Sudah sepantasnya kita menolong dia.”

“Ah! Kalian terlalu mengulur waktu,” ujar suara dingin Ki Ruyat. “Biar kuurus anak ini sekarang. Minggir!”

Ki Ruyat memegang perutnya dengan kedua tangannya. Kemudian ia menggeser tangannya keatas dan tiba-tiba dia terlihat seperti akan muntah. Dan dari mulutnya muncul pancaran sinar merah, seolah ada yang menaruh lampu didalam tenggorokannya.

“Bhahh!!” semburan api besar terkembang di udara, membakar lantai atap menjadi hitam legam.

Ki Sani buru-buru menarik Alif ke belakang sementara Nyi Lalita menghadang semburan api itu dengan kekuatan kanuragannya.

“Astagfirullah…” wanita itu terjatuh ke belakang. Wajahnya panas dan terbakar di bagian dahi.

Ketiga pria yang tersisa menghadapi tiga pria lainnya. Ini adalah pertempuran kanuragan para ahli supranatural. Alif hanya bisa menyaksikan dengan tatapan terkesima melihat kehebohan yang ada.

Ledakan asap dan percikan cairan hitam itu terjadi lagi dua kali.

“Alif…” Nyi Lalita merintih, meraih-raih dengan tangannya yang gemetar. Segaris aliran darah tampak di dekat bibirnya.

“Nyi…” Alif menangis, memegangi tangan Nyi Lalita yang kurus dan terasa dingin. “Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin semuanya jadi seperti ini…”

“Kamu harus menghadapinya, Lif. Ini sudah takdirmu. Jadikan kekuatanmu berguna bagi orang lain.”

Sejenak Alif memandangi kedua bola mata Nyi Lalita yang berurai airmata, bukan karena sedih tapi karena menahan sakit.

“Anak kecil!” teriak Ki Jitheng. Ia membuka kedua lengannya diatas dan dibawah, membentuk seperti mulut yang terbuka. Ki Jitheng menggeram seiring ia menggerakkan kedua tangannya kedepan, kearah Alif.

Seketika itu juga Alif berdiri, menghapus airmatanya, dan mengingat mimpi telekinesis-nya. “Aku memiliki kekuatan itu. Dan itu bukan khayalan.”

Alif berkonsentrasi pada manipulasi energi yang dikirimkan oleh Ki Jitheng. Dengan tenang ia membelahnya menjadi dua. Kemudian dengan sekuat keyakinannya, ia menghantam pukulan ke seluruh tubuh Ki Jitheng hingga membuatnya terkapar di lantai atap yang lembab.

Saat itu Alfredo dan Abi sudah meringkuk gemetar di pinggiran atap, tidak sanggup melanjutkan pertarungan. Sementara Ki Sani yang kehabisan jurus, terpental ke belakang dan membentur pinggiran atap hingga tidak sadarkan diri.

Ki Ruyat dan Ki Sebrang berjalan menghadapi Alif.

Anak itu tidak lagi takut, tapi justru tersenyum. Ia mengingat kegiatannya setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Nickelodeon. Avatar: The Last Airbender.

“Kung fu…” gumam Alif, sambil tetap menjaga senyumannya.

Sebelum sempat menyerang, Alif menyerang Ki Ruyat meniru gaya pengendalian air dengan berkonsentrasi pada organ dalamnya. Ia nyaris berhasil mencabut pankreasnya sebelum laki-laki yang menggunakan sebaris cincin di jemarinya itu menjerit kesakitan dan jatuh terpekur di lantai.

Sementara itu Ki Sebrang menyiapkan jurus yang bisa menciptakan angin ribut di sekitar musuhnya.

Sampai titik ini, Alif baru ingat untuk benar-benar berdoa pada Tuhan agar ia berhasil membela dirinya. Ia memejamkan mata, seperti yang dilakukan Ki Sani, dan berdoa.

Ketika ia membuka mata, terpaan angin kencang membutakan pandangannya. Dadanya sesak bagaikana dihantam ribuan tangan kecil.

Alif menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan dirinya sendiri. Tanpa sadar, ia telah melayang beberapa senti di udara. Sementara itu ia berpikir dimana titik kendali dari jurus yang dilakukan Ki Sebrang.

Ia mengerahkan kekuatan supranaturalnya dan mampu melihat bahwa dada pria itu terisi oleh udara yang berputar-putar dan mengalir melalui kerongkongannya.

Alif ‘menyentuh’ kerongkongan laki-laki itu dan perlahan menjepitnya agar aliran udara itu berhenti. Ketika matanya terbuka, ia menjepit kerongkongan Ki Sebrang lebih keras hingga Alif berteriak mengerahkan seluruh tenaganya.

Dan tiba-tiba saja hembusan angin kencang itu berhenti. Ki Sebrang terduduk di lantai sambil membatukkan darah.

Kemudian ia bangkit berdiri sambil tergopoh-gopoh mengajak kedua temannya untuk kabur. Ketiganya sulit berjalan atau hampir sama sekali tidak bisa berdiri. Kemudian mereka menghilang kedalam pintu atap yang masih gelap seperti semula. Seolah mereka baru saja muncul dari sana beberapa detik yang lalu.

Bahkan malam masih bisu. Angin kembali berhembus dengan kecepatan yang sama.

Setelah ribut-ribut itu, Alif membantu keempat paranormal yang terluka untuk bangkit berdiri dan kembali ke dalam rumah.

Ia sendiri tidak pernah merasa selelah malam itu. Tapi ia lega.

Telinganya terasa dingin oleh angin malam. “Ki Sani… Bisa Ki berdiri? Ayo, saya bantu.”

“Terimakasih, Alif. Dan selamat. Kamu sudah berhasil menggunakan kekuatanmu dengan sangat baik,” ujarnya, terdengar kelelahan.

Alif menghampiri Nyi Lalita yang masih duduk bersandar di pinggiran atap. “Nyi…”

Nyi Lalita langsung memberikan pelukan hangat kepada Alif. “Saya sangat bangga padamu, Alif…” ujarnya sambil menangis.

“Saya juga.” Alif tersenyum lega.

*

“Apakah ini berarti kekuatan mereka dalam diri saya sudah habis digunakan? Seperti batere?” Alif bertanya saat mereka sudah berkumpul.

“Kemungkinan besar, ya,” sahut Alfredo.

Alif menunduk sambil berpikir. “Hm, mungkin itu yang terbaik.Setidaknya mereka tidak akan mengejar-ngejar saya lagi.” Ia kemudian bangkit berdiri. “Sebaiknya saya pulang sekarang. Sudah malam.”

Alif memungut ranselnya.

“Sering-seringlah kesini,” kata Alfredo.

“Apa boleh, Mas? Saya kan bukan pemakai kekuatan supra lagi.”

“Jangan konyol, kamu bisa banyak belajar disini. Tapi ya itu terserah kamu. Kami tidak memaksa,” sahut Abi.

“Ada banyak hal yang bisa dilakukan dengan kekuatan hati yang bersih dan terjaga, Alif,” kata Ki Sani. “Bahkan hal-hal yang tadinya sekedar khayalan manusia saja. Bukan berarti berupa kekuatan-kekuatan supranatural. Tapi menjadi lebih arif dan berkewaskitaan serta punya kesadaran untuk menolong sesama dengan apapun yang kita punya. Mengerti, kamu?”

Alif hanya tersenyum dan mengangguk.

“Janji ya kamu sering kesini,” kata Nyi Lalita.

“Insya Allah,” ujar Alif, halus.

“Ehem, ehem,” sahut ketiga lelaki lainnya, menggoda.

Alif tertawa sambil menahan malu karena sebenarnya usia Alif lebih pantas menjadi anak bagi wanita ramping itu.

Malam semakin dingin. Tapi untunglah masih ada angkota yang lewat.

Dalam keadaan mulai mengantuk, Alif setia berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan kota. Ia menolak Ki Sani mengantarnya karena mengerti keadaan mereka masih membutuhkan pertolongan.

Ketika angkot yang dimaksudkan Alif muncul dari kegelapan jalan, anak itu terkejut dan seketika terbangun dari kantuknya. Ia buru-buru menjulurkan tangannya. Tapi apa yang terjadi sungguh diluar dugaan. Angkota biru itu tiba-tiba berjalan terseok-seok tak terkendali, hingga akhirnya berhenti ketika terjeblos kedalam parit.

Jari-jari Alif serasa berkedut oleh energi panas yang mengalir dari tulang belakangnya. Ia tertawa ringan menyadari apa yang terjadi. Ia menatap rumah besar Ki Sani di depannya dan berpikir mungkin dia memang harus sering-sering datang ke tempat ini untuk memperoleh bimbingan.

Dan mungkin sekarang ia bisa membantu si sopir mengembalikan angkotnya ke jalur aspal.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Khayalan.”

-maap kalo ceritanya rada random. :lol: -

gambar: http://www.myspace.com/redsin7/photos/

 

About these ads

4 pemikiran pada “(Fiksi) Supernatural Dream

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s