(Fiksi) Pernikahan Lisa

Tiada apapun yang menjadi milikku di dunia ini

Aku tak bisa menggenggam waktu untuk bersama keluargaku

Aku bahkan tak bisa berjalan lebih dari 15 menit

Mungkin aku tidak dimaksudkan Tuhan untuk bahagia

Mungkin aku hanya perantara pesan-Nya bahwa

dunia tak selalu indah bagi setiap orang.

Lisa menulis di buku hariannya seharian penuh. Dan itu membuatnya kakaknya khawatir. Indah menjenguk adiknya di kamar dengan sebungkus biskuit cokelat. “Dek, mau ke taman nggak? Lagi ada pentas seni tuh. Band-band-an…”

Lisa menggeleng sambil bertelungkup di tempat tidurnya. Suara kakaknya mengunyah membuatnya terganggu. “Aku mau sendiri,” katanya.

“Kalau ke toko buku? Ada novel Isabel Allende yang baru lho.”

“Kak, aku mau sendiri.” Lisa menatap kakaknya dengan tatapan dingin.

Indah menghela nafas dan menepuk betis adiknya. “Oke.” Indah berjalan keluar kamar, kemudian berhenti di ambang pintu. “Jangan lupa minum obatmu.”

Setelah kakaknya pergi, Lisa menutup kepalanya dengan bantal. Ia ingin sekali berteriak, tapi malu. Dia tidak mau disebut perengek. Meski dengan penyakitnya, usianya sudah 20 tahun. Dan ia akan segera bertunangan.

Pria itu adalah teman kuliah kakaknya dulu. Setelah lulus ia bekerja di bagian pemasaran sebah perusahaan elektronik. Namanya Erwin. Ketika mengetahui kondisi Lisa dengan kanker otaknya, ia merasa tersenyuh. Perasaan itu berubah menjadi simpati. Dan akhirnya dapat diduga rasa simpati itu berubah menjadi rasa sayang dan rasa memiliki yang tak terbendung.

Mereka tidak begitu sering bertemu, tapi itu sudah cukup bagi Lisa. Ia hanya ingin bisa menikah sebelum ia meninggal dunia. Ia tahu dia akan meninggal, cepat atau lambat. Penyakitnya hanya alasan yang sangat bagus untuk itu terjadi padanya. Yang penting dia menyayangi Erwin dan begitu juga sebaliknya. Bagaimana mereka akan menghabiskan sisa hidup mereka nanti setelah menikah, itu terserah waktu dan Tuhan.

Indah tidak selalu sabar dan penyayang. Terkadang ia juga bertengkar dengan Lisa karena sikap dan kelakukan adiknya yang terkadang tidak begitu sensitif. Tapi ia selalu setia mendampingi adiknya dan menjadi pelindungnya dari kesepian. Ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor saluran pipa dan betap hidup sendiri hingga usianya yang ke-25.

Kanker otak Lisa menyebabkannya sering pingsan jika beraktivitas terlalu banyak. Ia juga menderita sakit kepala dan mata berdenyut, terutama jika membaca. Tapi dia suka membaca sejak kecil. Sehingga dia tetap membaca banyak buku meski dengan rentang waktu yang tidak lama tiap kali.

Acara pertunangannya adalah malam ini. Keluarga dari kedua pihak datang untuk menyerahkan dan menerima cincin pertunangan dan anak masing-masing.

Lisa tampak begitu cantik diatas kursi rodanya, meski dengan wajah yang sepucat kertas dan rambut palsu pendek. Ya, kepalanya sudah dibotak ketika menjalani operasi pertamanya. Sel kanker yang masih tersisa dan berkembang membuat bagian atas kepalanya sedikit membengkak sehingga ia harus memakai wig pada sebagian besar waktu.

Acara pertunangan itu berlangsung tenang. Lisa dan Erwin bertatapan dan mulai cekikikan geli. “Aku kira kamu mau pakai batik yang waktu itu,” kata Lisa.

“Aku berubah pikiran. Kata Papa lebih baik pakai jas.” Erwin kemudian menyuapi Lisa dengan sebuah anggur.

Bagaimanapun, Erwin sering mengalami bosan untuk menghabiskan waktu terlalu lama bersama Lisa. Ia kemudian bangkit dan mengobrol bersama Indah di ruang makan. Mereka mengobrol akrab seputar persiapan penikahan yang akan berlangsung beberapa bulan lagi.

“Apa kamu gugup?” tanya Indah.

“ya, sedikit,” jawab laki-laki berberewok tipis itu.

“Win…” Indah berubah serius. “Tolong jaga adikku ya. Dan harap kamu bersabar menghadapinya.”

“Aku tahu,” Erwin tersenyum sambil menepuk-nepuk halus tangan Indah diatas meja.

Tanpa sepengetahuan keduanya, Lisa memerhatikan dari kursi rodanya di ruang tamu. Ia tersenyum. Kemudian ia mendorong kursinya keluar ke teras.

Mungkin misiku sudah berubah, pikirnya.

Mungkin hidupku tidak benar-benar sia-sia. Dan aku tahu cara melakukannya. Bersama Erwin di sampingku, dan kakaku Indah. Siapa sangka mereka lah yang selama ini dekat denganku yang sekaligus menjadi inspirasiku malam ini. Terimakasih, Kak. Terimakasih, Erwin.

Terimakasih, Tuhan.

Beberapa bulan kemudian…

Akad nikah itu dilangsungkan di sebuah mesjid besar tidak jauh dari kediaman mereka. Meja penghulu menggunakan meja ukuran biasa untuk mengimbangi tinggi kursi roda Lisa.

Kedua mempelai telah duduk di hadapan penghulu. Jantung Lisa berdegup kencang sekaligus merasakan haru. Erwin berkali-kali menggenggam-genggam tangannya sendiri karena gugup.

Lisa memejamkan mata. Ia mengingat kembali bagaimana orang-orang di sekitarnya begitu bersemangat dan tanpa lelah mempersiapkan pernikahannya. Terutama kakaknya. Indah.

Lisa meneteskan airmata, kali ini bukan haru, tapi penuh inspirasi di hatinya. Ia menarik mundur kursi rodanya dan mendekati kakaknya. “Kak, sini.” Ia kemudian memandang Erwin. “Apa Kakak mencintai Erwin?”

Semua orang di mesjid itu tercekat. “Lisa..kamu ngomong apa?”

“Kak, tolong buat keputusan sekarang atau tidak sama sekali. Aku tahu kalian saling menyayangi, tapi tidak tahu bagaimana menerjemahkan perasaan kalian berdua karena menghormatiku.”

Indah bertatapan dengan Erwin dan gadis itu mulai menangis. Kemudian ia mengangguk.

Lisa memeluk kakaknya. “Kalau begitu nikahilah dia sekarang.” Lisa beralih kepada si pria.  “Erwin, apakah kamu mencintai kakakku?”

Erwin berjalan mendekati keduanya. Kemudian ia berlutut di hadapan Lisa. Dan ia sendiri pun mulai terisak. “Maafkan aku, Lisa… Tapi aku sungguh menyayangimu. Aku bingung dengan dua perasaan yang kurasakan bersamaan.”

“Jujurlah pada dirimu sendiri. Itu saja yang kamu butuhkan sekarang,” ujar Lisa, mengelus sisi wajah pria itu.

Erwin menatap Indah sejenak. Kemudian mengangguk. “Aku memang mencintai Indah. Aku memang mencintainya sejak awal bertemu.”

Lisa tersenyum lega. “Ayah, Ibu, Om, Tante…”

Orangtua kedua belah pihak menyetujui keputusan itu dalam haru. Dan pernikahan dilangsungkan dengan mempelai wanitanya digantikan oleh Indah.

Pernikahan ini adalah pernikahan yang sempurna bagi Lisa. Ia tidak akan melupakan momen ini sampai detik terakhir hidupnya di dunia. Momen terindah yang bisa ia bayangkan.

Dua bulan kemudian Lisa menghembuskan nafas terakhirnya ketika sel kanker terus berkembang merusak sebagian besar fungsi penting otaknya. Dia menulis buku harian hingga akhir hidupnya. Bab terakhir hidupnya bertuliskan bait puisi yang menunjukkan kepuasan terhadap kehidupan.

Aku menemukan keindahan dalam hal-hal terkecil

Aku tak pernah merasa seperti ini sejak masih kanak-anak

Sekarang aku tahu apa yang baik bagi hidupku

Aku tak bisa membiarkan apapun menghentikanku

dalam berbagi dengan orang lain, sesedikit apapun itu.

Karena dengan begitu aku tetap hidup

Aku hidup dalam kenangan orang-orang yang menyayangiku

dan senantiasa melindungiku

Sekarang aku tak pernah sendirian lagi,

bahkan di dalam kuburku.

Sebab cinta mereka adalah tetesan hujan

yang terus membasahi hatiku.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Wedding.”

gambar: fineartamerica.com

About these ads

5 pemikiran pada “(Fiksi) Pernikahan Lisa

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s