(Fiksi) Wanita Biasa

Aku memulai aktivitasku hari ini. Sebuah pagi biasa yang hangat. Burung-burung besar terbang jauh diatasku, mencari makan untuk anak-anak mereka.

Begitu juga aku. Aku bersiap mencari mangsa. Seorang anak lelaki bersiap berangkat sekolah. Mataku yang besar terasa bergelenyar oleh gairah rasa lapar.

Ahh… Sedapnya darah seorang manusia muda. Beda dengan orang tua yang lapisan kulitnya hanya berisi gas dan kapur. Seperti tambang minyak yang kering.

Usiaku sudah matang meski hanya 11 hari yang lalu aku baru memulai hidupku sebagai larva.

Ini adalah jam-jam favoritku dalam mencari mangsa. Pagi hingga tengah hari. Lalu kumulai lagi pada sore hingga menjelang petang.

Salah satu tantanganku adalah kecekatan tangan-tangan manusia yang berusaha membunuhku. Meski itu tidak bisa mengalahkan kepekaanku yang luarbiasa diatas manusia rata-rata.

Aku tidak habis pikir bagaimana bisa para pria tidak harus menghadapi hal yang sama dengan kami. Berjuang mencari makan, melahirkan keturunan, lalu mati. Lingkaran setan yang tak putus-putus. Sementara mereka, setiap hari hanya memilih bunga-bunga kemudian menyesap sarinya.

Kami para wanita harus mengerahkan tenaga agar tidak terbunuh. Meski sesekali juga ikut menghisap bunga-bunga. Namun aku butuh asupan protein dalam darah manusia untuk bisa bereproduksi.

Pada pukul 9 lebih, seorang pemuda yang sedang menulis di laptopnya tidak menyadari kehadiranku yang terbang di sekitarnya. Ia menulis sepotong fiksi, rupanya. Ah, seandainya aku bisa memperbaiki tulisannya itu. Ia gagal menggambarkan keanggunanku… Tapi aku tahu yang lebih baik dari itu: tubuhnya yang tertutup lemak. Lemak dalam aliran darahnya.

Aku bisa mencium aroma darah itu mengalir di pembuluh di tubuhnya melalui keringat dan panas tubuhnya.

“Auw!” katanya mengaduh ketika kugigit mata kakinya.

Aku coba menukik lagi di lengannya. Mendarat dengan mulus. Kulitnya begitu empuk dan ditumbuhi bulu-bulu halus yang bagiku seperti rumput lapangan bermain.

Inilah kelebihanku dari para pria. Aku bisa menusukkan jarum penghisap ke kulit manusia, sementara mereka tidak memilikinya.

Pelan-pelan aku menjaga agar pemuda itu tidak menyadari keberadaanku. Kubiarkan ia terus mengetik tanpa curiga.

Lalu…ini dia. Perlahan tapi pasti jarum penghisapku masuk ke lapisan kulitnya, menembus pembuluh darahnya. Jarum penghisapku langsung dibasahi oleh darah pada ujungnya. Rasanya membahagiakan, seperti manusia yang memasukkan ujung kakinya ke dalam sungai yang mengalir.

Kebahagiaanku hampir mencapai puncak dan darah terus mengalir masuk melalui jarum penghisap yang semakin dalam kubenamkan, mencari lebih banyak darah.

Deg! Inderaku bereaksi.

Astaga, pemuda itu melayangkan tangannya ke sumber rasa gatal yang dirasakannya. Aku buru-buru mencabut keluar alat penghisapku dan lepas landas menuju ke lipatan gelap sebuah peci hitam.

Aku mengamati sambil merasakan gerakan-gerakan yang dibuat pemuda tadi. Ia menggaruk lengannya. Meminum cappucino yang mulai mendingin. Lalu mulai menulis lagi.

Bagian terbaik dari rutinitasku ini adalah ketika aku bisa membebaskan diriku dari hantaman tangan manusia. Mereka mendengarnya PLAK, aku mendengarnya seperti ledakan. Terlebih jika mereka mulai menggunakan raket beraliran listrik. Itu membuatku gemetar. Tapi aku harus terus melanjutkan perjalananku. Aku tidak punya banyak waktu di dunia ini. Paling lama tiga hari lagi aku sudah memasuki masa tuaku. Tak sampai seminggu aku sudah menemui ajalku.

Ini hidup yang menarik. Aku tidak tahu akan berada dimana setelah kematianku. Apakah aku akan ke surga, atau harus dihukum karena menghisap darah manusia. Tapi jika tidak ada aku, manusia tidak akan belajar menjaga kebersihan tempat tinggalnya.

Dan aku, aku hanyalah wanita biasa yang memperjuangkan kebebasanku dalam menjalankan peranku tanpa harus celaka; sebagai ibu, sekaligus sebagai pencari nafkah.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Kebebasan.”

sumber gambar: http://fkm.uad.ac.id/serba-serbi-fkm/info-kesehatan/info-nyamuk/

About these ads

17 pemikiran pada “(Fiksi) Wanita Biasa

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s