(Fiksi) Di Ujung Tebing

Ricky mematikan lampu mejanya, bersiap terlelap. Saat itu ia mendengar pintu depan dibuka. Anak itu menggeser posisinya menghadap dinding.

“Ricky… Ibu pulang… Kamu udah tidur?” ujar wanita yang menggendong plastik belanjaan besar.

Ricky tidak menjawab. Ia memejamkan matanya rapat-rapat.

Televisi terdengar menyala sampai larut malam. Ketika Ricky bangun, jam sudah menunjukkan pukul 2.08 dini hari. Jam dinding itu berdetak dengan suara sedemikian rupa yang menegaskan kesunyian malam. Terkadang membuat sedih.

Ricky bisa mendengar suara dengkuran halus ibunya. Haruskah ia membangunkannya? Tapi Ricky tidak ingin menarik perhatian ibunya dan melihat luka-luka di wajahnya.

Tapi ia menggoyang-goyangkan lutut ibunya, dan mematikan televisi dengan remot.

Ricky melindungi wajahnya dengan berpura-pura menggaruk dahinya. “Bangun, Bu… Pindah ke tempat tidur.”

Ketika ibunya bangun, Ricky lekas-lekas memisahkan diri dan berjalan cepat menaiki tangga. Sebentar ia berhenti, mengawasi ibunya menggeliat bangun dan memanggil namanya.

“Ky…?”

*

Matahari musim panas bersinar di pagi hari. Mengisi rumah mereka dengan kehangatan dan bayangan-bayangan kelabu.

“Prosesnya sudah hampir berakhir,” kata ibunya saat sarapan.

Diam-diam hati Ricky merasa terkikis. Jalan panjang proses perceraian orangtuanya sudah mencapai akhirnya.

Seluruh proses itu berhasil membuat ayahnya terlihat seperti karakter jahat yang berusaha mendapatkan warisan dari orangtua ibu. “Itu milik berdua, sama rata,” kata laki-laki itu. Meski yang dimintanya lebih dari 60% dan itu yang terus ia perjuangkan selama beberapa minggu belakangan.

“Jadi, kita akan tinggal berdua?” tanya Ricky ragu-ragu.

Ibunya mengangguk sambil menyeruput tehnya.

Jawaban itu entah bagaimana membuat hatinya merasa puas. Setidaknya lebih baik daripada harus memikirkan semua kekacauan ini. Ia takut melangkah kemanapun, karena Ricky berpikir itu akan memperburuk keadaan. Ia menjadi lebih pendiam sekaligus penyendiri di rumah maupun di sekolahnya.

Namun masalah mereka tidak sampai disitu. Hutang ibu dari seorang juragan tanah semakin menumpuk.

Orang tua itu kerap kali datang ke rumah untuk marah-marah menuntut hutangnya dilunasi. Jika tidak, ia mengancam akan menyita rumah itu. Ricky merasa serba salah dan mulai membuat keributan di sekolahnya sebagai pelampiasan kegusaran hatinya.

Perkelahian terakhirnya baru dua bulan lalu. Sekarang ia babak belur lagi dikeroyok dua orang anak sebayanya.

Pagi ini ibunya terkejut melihat luka-luka di wajah anaknya. Tapi reaksinya lebih menyedihkan dari sekedar marah. Sambil berurai airmata ia memohon agar Ricky mengerti dan berhenti berbuat ulah saat proses perceraian orangtuanya sudah berada di ujung jalan.

“Aku berangkat,” Ricky berujar sembari bangkit dari kursinya.

Tapi tangan ibunya menangkup diatas tangannya yang membuatnya berhenti. “Hati-hati, Nak.”

Ibunya menatap mata anaknya dalam-dalam, menunjukkan keseriusan ucapannya.

“Yeah.” Ujar Ricky, nyaris tak terdengar sebagai ucapan.

*

Ricky berjalan keluar dari kelas XI-A ketika seorang temannya berlari mendahuluinya. Mita.

Diam-diam Ricky naksir padanya sejak kelas X. Tapi ia tidak berani melakukan apa-apa dengan perasaannya itu. Ia takut jika itu bisa merusak perasaannya dan berubah menjadi kejenuhan. Tindakan yang gegabah bisa mengubah khayalan indah menjadi gelap dan membosankan.

Lagipula ia sudah banyak mengecewakan ibunya, satu-satunya perempuan yang berarti dalam hidupnya. Tapi ia diam tentang apapun yang dirasakannya. Menggali lubang di hatinya untuk mengubur semua itu sendiri.

Ricky berjalan melewati pelataran parkir motor para murid.

“Oy, Ky, butuh tumpangan?” Tiba-tiba Mita berada di sampingnya, berjalan pelan dengan motor matic hitamnya.

Ricky tersenyum dan menggeleng. Ia senang karena dia  satu-satunya temannya yang mau menegurnya selama di kelas XI. Dan ia senang terlebih karena yang menegur itu Mita.

“Yah…okelah, kalo gitu aku duluan ya.”

Anak laki-laki itu mengangguk.

Sesampainya di rumah, ia kaget karena pintunya tidak dikunci. Ia masuk lewat pintu depan, langsung berjalan ke pintu belakang yang juga terbuka. “Bu…? Ibu…?? Ibu dimana?”

Ia heran karena tidak biasanya ibunya pulang dari bekerja sedini ini, jika bukan karena izin sakit atau ada urusan penting berkaitan pengadilan perceraiannya.

Ricky berlari keatas, tapi tidak bisa menemukan ibunya dimana-mana.

Ia panik. Tidak tahu harus menghubungi siapa. Kemudian ia berpikir…

“Pasti orang tua itu.”

Astaga, orang tua itu pasti telah kehilangan akalnya sampai nekad menculik ibunya. Hutang mereka memang tidak sedikit. Tapi ini terlalu mengerikan dan keji, merampas manusia bernyawa dan memiliki hak begitu saja.

Orang tua itu memang kelihatan agak gila karena selalu marah-marah. Ricky tahu dimana rumahnya, tapi ia tidak tahu bagaimana bisa sampai kesana. Uangnya tidak cukup untuk membayar taksi. Apa dia harus menelepon polisi?

Ricky mulai mengangkat gagang telepon tapi masih tidak tahu harus menghubungi siapa. Ia menutup lagi telepon dan berlari keluar. Dahinya berkeringat dan jantungnya berdegup kencang karena tegang. Ia masuk lagi kedalam rumah untuk menghubungi seseorang yang tidak pernah dihubunginya lagi dalam berminggu-minggu dan berbulan-bulan.

“Ayah?” Ricky bicara di telepon. “Ayah, bisa bicara sebentar?”

“Ricky, maaf sekali Nak, Ayah sedang sibuk sekali ini. Bisa telepon lagi nanti, ya. Nanti kita akan jalan-jalan sama-sama lagi.” Ujar lelaki di telepon satunya. Perawakannya kurus, kecil dan berkumis. Duduk diatas kursi putar mengenakan celana jins dan kaos polo putih.

“Yah, Ibu diculik!”

“Apa?? Apa maksud kamu?”

“Aku pulang dan menemukan pintu rumah terbuka. Dan ibu nggak ada.”

“Tenang, tenang. Mungkin dia sedang berbelanja diluar. Kamu sama siapa sekarang?”

“Sendirian, Yah. Apa aku harus telepon polisi?”

“Jangan, Ricky. Biar kamu tunggu dulu di rumah, siapa tahu ibu kamu bakal pulang. Polisi baru akan mengurusnya jika ibu kamu sudah menghilang setidaknya satu sampai tiga hari.”

“Apa?? Tapi Yah, bagaimana kalau ada apa-apa…” Ricky mengusap cepat keringat di dahi dan wajahnya.

“Maaf, Nak. Ayah benar-benar harus bekerja sekarang. Kabari Ayah lagi nanti, ya.”

Ricky menutup telepon dengan penuh keputus-asaan. Ia terduduk di lengan sofa dengan pasrah. Jantungnya masih berdegup kencang.

Matanya bergerak-gerak liar ketika menyadari sebuah gagasan. Yang mungkin cukup gila, dan tidak sepenuhnya akan berhasil. Tapi layak dicoba.

Ia mengambil ponselnya dan mencari nama Mita di daftar buku telepon.

“Halo? Mita?” RIcky menyapa dengan nafas terengah-engah. “Aku mungkin butuh tumpangan sekarang.”

Mita menepi di halaman rumah kecil diantara deretan rumah-rumah lainnya itu hampir satu jam kemudian.

“Ricky?”

“Hey… Terimakasih udah mau kesini,” Ricky yang sudah berganti pakaian dan makan siang mengejar Mita di pintu depan. “Apa…Apa kamu udah makan?”

“Udah, Ky, udah. Terus ada apa sebenernya? Kelihatannya kamu khawatir sekali.”

Ricky menjelaskan keadaannya. Hal itu membuat Mita ikut terbebalak cemas. “Apa kamu sudah menelepon…um…polisi mungkin?”

Ricky menggeleng. “Ibuku belum terlalu lama menghilang. Tapi ini sama sekali nggak biasa. Pintu-pintu terbuka, aku tidak tahu sejak kapan. Yah selain itu rumah baik-baik aja.”

“Jadi, kamu mau aku antar kemana?”

“Ke rumah seseorang yang aku duga menculik Ibuku.”

Mita terdiam sejenak. “Ricky, janga main-main… Ini berbahaya.”

“Plis, biar aku yang bawa motornya.” Anak laki-laki itu memohon.

Dua remaja itu menaiki motor sesudahnya.

Dua jam kemudian, setelah Ricky membayar untuk mengisi bahan bakar, mereka tiba di rumah orang tua eksentrik itu.

Rumahnya besar, dan halamannya luas, dihiasi taman dan jalur menyetir yang melandai menuju gerbang yang tinggi dan hitam.

Mereka diijinkan masuk oleh satpam setelah Ricky bilang in mengenai hutang yang ibunya pinjam dari si majikan.

Orang tua itu adalah keturunan Indo-Belanda, dan dinamakan Yohan Mangkunegara oleh orangtuanya, terutama sang ibu yang  menghormati budaya Indonesia meski ia putri gentry* Belanda.

Yohan sedang berada di rumah, dengan jubah tidur satin berwarna biru royal dan dalaman piyama biru muda. “Apa mau ibumu lagi?”

Ricky terkejut. Ia memandang Mita sekilas yang berdiri dengan tatapan cemas.

“Dimana ibuku?” kata Ricky, mencoba bernada galak.

“Apa maksudmu? Tiba-tiba datang bertanya aneh seperti itu.”

“Ibuku hilang dan aku tahu bapak yang menculiknya. Ini semua karena hutang-hutangnya, kan?”

“Bodoh. Aku bahkan tak bisa menemuinya. Seharusnya kamu yang memberitahuku dimana dia sekarang.”

“Apa maksud bapak?”

“Aku datang pagi tadi untuk menagih hutangku. Saat itu ada beberapa orang pria sedang menggiring ibumu ke sebuah mobil Avanza biru. Aku tida sempat berkata apa-apa. Mereka pergi begitu saja. Maka aku pun pergi.”

Ricky mendelik ngeri. Ini lebih buruk dari dugaannya. Ibu… Dimana…

“Ky…” Mita menggamit lengan temannya. “Ayolah, kita lapor polisi saja. Plis…”

Ricky menoleh menatap Mita. “Tidak. Pak Yohan yang harus membantu kita.”

“Apa? Berani-beraninya kamu bicara…” Orang tua itu wajahnya memerah bersiap meledak.

“Apa bapak tega membiarkan seorang perempuan lemah diculik orang-orang tak dikenal? Bagaimana jika dia putri bapak?”

“Maaf, Nak. Saya tidak tersentuh! Teman kamu benar, panggil saja polisi!”

Ricky pasti telah ikut gila dengan mengatakan ini. Tapi ia merasa putus asa dan butuh bantuan. “Ibuku diculik karena ia memegang harta warisan dari orangtuanya. Jika kita berhasil menemukannya, itu artinya hutang bapak akan dibayar lunas.”

“Benarkah? Waw itu baru bagus. Tapi saya tetap tidak harus membantumu. Bantu saja ibumu sendiri dan…”

Ricky tiba-tiba menjatuhkan dirinya berlutut di lantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis. “Ibu… Ibu dimana….?”

“He, he! Sudahlah…” Yohan merepet kesal. Akhirnya ia menghela nafas lelah dan berkata, “Anak sinting. Baiklah, aku akan mengantarmu mencari ibumu. Tapi jika sampai pukul 10 tidak ketemu, pencarian akan kita hentikan. Setuju?”

Ricky mengangkat wajahnya dan berkata penuh haru. “Te..terimakasih Pak Yohan… Ternyata bapak baik sekali orangnya…”

Ricky menerjang Yohan dengan pelukan erat di perutnya yang langsing.

“Sudah, sudah.”

Mita terbengong menyasikannya.

*

“Seharusnya kamu dapat piala Citra untuk akting tadi,” ujar Mita.

Ricky ketawa kecil. “Aku kehabisan akal.”

“Jadi, kemana kita akan pergi?” tanya Mita ketika mereka masuk kedalam mobil yang dikendarai sopir pribadi Yohan. Orang tua itu duduk di jok belakang bersama Ricky, sementara Mita duduk di depan.

Ricky terdiam sejenak sebelum menjawab. “Sebenarnya aku tidak mau memikirkan gagasan ini, tapi…” Ia memejamkan mata lalu membukanya lagi. “Kita ke rumah ayahku.”

Mobil bergerak menuju alamat yang diarahkan Ricky. Siang berubah sore, dan sore menembus malam.

Ketika mereka tiba di tempat tujuan, Ricky merasa aneh karena kembali ke lingkungan lama tempat ia tumbuh. Rasanya baru kemarin ia dan ibunya pindah ke rumah kecil sederhana itu.

Tiba-tiba saja pagar depan rumah terbuka. Sebuah mobil berjalan keluar, lalu berhenti. Sang sopir keluar dari kendaraan untuk menutup pagar.

Ricky buru-buru keluar dari mobil dan mengejar mobil itu sebelum terlambat.

“Ricky!” Mita berseru dari dalam mobil, yang tentunya tak didengar anak laki-laki itu.

Ricky buru-buru membuka pintu tengah mobil itu dan menggedor-gedornya. Wajah ayahnya muncul dengan ekspresi kaget dari jok depan. “Ricky? Apa yang kamu lakukan disini?”

“Dimana Ibu?!”

“Umph… Umph….” Terdengar suara erangan teredam dari jok tengah. Ricky melongok kedalam dan melihat tubuh ibunya terikat dan mulutnya tertutup kain merah.

“Ibu! Astaga, Ayah tega sekali! Lepaskan dia. Keluarkan ibu dari mobil!”

“Nak… jangan… Jangan salah sangka, Ricky…”

“Akan kulakukan sendiri.” Anak itu berkeras.

Ketika Ricky merogoh tangannya mencoba menekan tombol kunci, ayahnya mencegahnya dan berkata, “Jangan… Biar ayah bukakan kunci otomatisnya, supaya kamu juga bisa naik. Ayah menemukan ibu dalam keadaan begini dan sekarang kita akan ke kantor polisi, oke?”

Ricky melemah. Ia mendengar kata-kata ayahnya, yang entah bagaimana dirindukannya, dan percaya apapun yang keluar dari mulutnya.

Ricky mengeluarkan tangannya. Si sopir telah masuk kembali ke dalam mobil. Dan bukannya membuka kunci otomatis, ia menancap gas mobil Avanza itu meninggalkan Ricky yang terkejut.

Ia buru-buru berlari kembali ke mobil Yohan. “Itu memang ayahku! Astaga…memang ayahku yang menculik ibu…”

“Kenapa dia mau menculik ibumu?” Yohan bertanya.

“Pasti karena warisan itu. Tapi aku tidak pernah tahu lebih jauh tentang itu.”

“Ayo kita kejar mereka.” Yohan memberi perintah pada sopirnya.

Kejar-kejaran itu berlangsung hingga hampir 3 jam. Melewati jalan raya, perumahan, hingga melewati hutan. Dan akhirnya jalan hutan itu buntu, lenyap pada dinding sebuah bukit. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Mobil Avanza biru itu berhenti disana. Kemudian tiga orang didalamnya, termasuk ayah Ricky keluar dari mobil. Pria yang duduk di jok tengah mengeluarkan wanita itu dengan kasar dan menjatuhkannya di tanah. Sementara si sopir menodongkan pistol kearah mobil sedan Yohan.

Yohan, Ricky, Mita dan si sopir keluar dari mobil sambil secara naluriah mengangkat kedua tangan mereka di udara.

Keempatnya digiring untuk menyaksikan penyiksaan terhadap ibu Ricky.

“Kenapa ayah tega, Yah?” Ricky berkata penuh kebencian.

“Ayah melakukan ini untukmu, Nak. Jika ayah berhasil mendapatkan surat tanah itu, ayah akan punya cukup uang untuk mendapatkan hak asuhmu dan hidup sejahtera bersama kamu, Nak.”

“Ferdian, tolong jangan lakukan ini di depan anakku,” rintih Winda, sang istri.

“Biarkan dia tahu betapa berat perjuanganku untuk mendapatkannya kembali.”

“Kau cuma bajingan serakah yang menginginkan harta ayahku!”

Ferdian menampar Winda dengan keras. Ricky shock menyaksikan pemandangan itu dan nyaris tidak sanggup membuka mata.

Jalan buntu bukit itu berupa tebing yang mengarah ke sebuah lembah yang dalam. Ricky tidak berani memikirkan kemungkinan apa yang akan dilakukan ayahnya terhadap Ibu.

“Katakan saja dimana kamu menyimpan surat itu dan kamu bisa bebas. Tapi Ricky ikut bersamaku.” Ferdian menodongkan pistolnya ke arah wanita itu.

“Tidak mungkin dia mau ikut bersamamu setelah menyaksikan apa yang kamu lakukan. Pengecut kasar sepertimu tidak pantas menjadi seorang suami apalagi ayah!” Winda meludahkan darah dari mulutnya ke tanah yang berdebu.

Ricky menatap Mita dan Yohan, bahkan si sopir. Ia berkata, “Kalian dengar itu?”

Mereka dan dua pria bersenjata di belakang mereka menoleh ke belakang. Cahaya berkerlap-kerlip. Sirene. Itu polisi!

“Syukurlah!” pekik Mita. “Aku menelepon polisi ketika kamu keluar dari mobil tadi. Aku bilang saja ayahmu kemungkinan bersenjata.”

Tak berapa lama dua mobil polisi berhenti di tempat kejadian dan mereka keluar sambil menodongkan senjata-senjata mereka.

Tak punya pilihan, kedua pria bersenjata antek-antek Ferdian menjatuhkan pistol-pistol mereka ke tanah dan digiring oleh dua orang petugas polri.

Ferdian lekas-lekas mencoba kembali ke mobilnya, tapi ledakan pistol Kapten polisi mengejutkannya dan ia terhuyung ke belakang di sebelah Winda.

“Kau sudah tamat, Ferdian,” ujar Winda sinis.

“Tidak. Tidak! Aku akan mendapatkannya!” Ferdian bangkit berdiri dan menodongkan kembali pistolnya kearah Winda. “Aku akan menembaknya jika kalian berani menangkapku.”

Ferdian kalap, menari pemicu senjata manualnya bersiap menembak. Matanya membelalak oleh keserakahan.

Dor! Dor!!

Namun tembakan itu bukanlah dari pistolnya melainkan dari petugas polisi yang mengenai kedua lututnya. Ferdian menjerit keras, suaranya menggema di udara yang gelap dan kosong.

Ia terhuyung ke belakang dan tersandung bebatuan karang. Tubuhnya terjun bebas di ujung tebing seolah ditelan kegelapan lembah yang bagaikan mulut raksasa hitam. Keheningan yang menyusul berubah mencekam ketika semua orang menyaksikan Ferdian jatuh ke dasar lembah, entah akan hidup atau berakhir selamanya.

Ketika tim medis dan forensik tiba, tubuh Ferdian yang telah diangkut kembali ke atas dinyatakan tidak bernyawa. Kepalanya membentur bebaturan di dasar lembah dan ia menderita patah tulang di sekitar paha dan lengan.

“Bu, kenapa Ayah begitu menginginkan surat tanah itu?” tanya Ricky di dalam mobil ambulans yang merawat luka-luka Winda. Mita, Yohan dan supirnya ikut bersama polisi untuk dimintai keterangan.

“Tanah itu sebenarnya bernilai murah pada saat ini. Tapi berada di sebuah lokasi yang nantinya akan dijadikan tempat bandara kota dipindahkan. Sehingga nilainya akan melonjak naik. Tapi belum banyak yang tahu soal itu karena memang sengaja dirahasiakan. Kakekmu tahu soal potensi tanah itu karena ia sempat bekerja sebagai kontraktor listrik untuk bandara itu nantinya, sehingga ia menyerahkan sebagian tanah yang dibelinya pada ibu karena ia tahu itu akan berguna suatu hari. Kini ibu hanya tinggal menunggu hingga proyek itu dijalankan secara terbuka.”

Ricky tersenyum sambil menggenggam tangan ibunya. Ia mengangguk-angguk dan berkata lembut, “Aku senang ibu selamat.” Ia menatap keluar sejenak melalu jendela depan ambulans. “Begitu juga pak Yohan yang sudah tidak sabar hutangnya dilunasi.”

Keduanya tertawa, Winda menitikkan airmata di sela-sela tawa bahagianya.

“Dan prosesnya sudah berakhir.”

Ricky tahu maksudnya. Sehingga ia menggenggam erat tangan ibunya lagi.

“Tapi, ini juga merupakan awal yang baru.”

“Mari kita lakukan lebih baik lagi dari sebelumnya. Setuju?”

Winda mengelus sisi wajah putranya yang masih meninggalkan bekas-bekas perkelahiannya. Dan Ricky tersenyum. Ia mengangguk setuju sambil memeluk tangan ibunya erat.

Ditulis untuk #WriterChallenge; tema: “Akhir.”

————————————————————————–

Akhirnya tiba juga di hari ke-15 #WriterChallenge. Hari terakhir proyek menulis yang diadakan oleh mas Teguh Puja.

Mumpung hari terakhir, jadinya sengaja dibikin agak panjang ceritanya. He. Walau sebenernya saya ragu ceritanya rada nggak nyambung sama temanya. :lol:

Ringkasan cerita

Cerpen diatas bercerita tentang seorang anak remaja yang hidup bersama ibunya yang sedang berada di masa akhir proses perceraiannya dengan suaminya yang serakah. Lalu tiba-tiba semuanya berubah ketika negara api menyerang ibunya tiba-tiba saja menghilang.

Dan semua peristiwa itu pun berakhir di ujung sebuah tebing.

Dor-doran

Nggak nyangka bisa dor-doran (terus menerus) nulis tiap hari selama 15 hari. Nulis fiksi, lagi. Sesuatu yang awalnya saya ragu saya bisa melakukannya.

Ternyata bisa kalo terus dicoba. Nggak usah peduli bagus apa enggaknya, yang penting seneng ngerjainnya.

So, ayo nulis fiksi.

*Gentry = sebutan kelas keluarga terhormat dibawah bangsawan

gambar: privateofficernews.wordpress.com

About these ads

12 pemikiran pada “(Fiksi) Di Ujung Tebing

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s