Testimonial

Hari ini saya pergi terapi sendirian. Nggak taunya saya lupa membawa kartu klien. Walhasil saya menghabiskan 1 jam lagi pulang-pergi hanya untuk mengambil kartu tersebut. Sungguh merepotkan, tapi hikmahnya, ketika saya kembali ke tempat terapi, pasien yang tadinya ramai sudah jadi sepi.

Saya menjalani refleksi dan akupuntur. Kemudian diberi obat. Sama seperti hari-hari biasanya, bedanya hanya lokasi pijatannya aja, kali ini di leher. Hampir secara harafiah saya dicekek-cekek di ruang refleksi itu. Pijat refleksi yang dilakukan pak Fudin maupun yang saya lakukan di rumah membuat saya jadi sadar bahwa bagian yang paling sakit dipijat itu adalah bagian tubuh kiri saya. Kaki kiri, leher kiri, kepala kiri…

Kemudian hari ini saya diminta untuk mengisi buku testimoni. Sangat menarik melihat laporan dari pasien-pasien lainnya, yang ternyata banyak juga yang menderita masalah kejiwaan, seperti halusinasi dan OCD (Obsessive Compulsive Disorder).

Sebagai orang yang hobi nulis, jujur saya merasa testimoni saya tadi agak kikuk dan kurang memuaskan. Testimoni saya memang nggak ‘sedramatis’ iklan klinik yang di tivi-tivi itu, tapi seenggaknya saya nggak mengurangi kredibilitas tempat terapi tersebut, semoga. Di testimoni tersebut saya tulis tentang masalah halusinasi yang dianalisa oleh pak Fudin, dan Bipolar yang merupakan diagnosa awal saya. Pak Fudin sempat bertanya siapa yang mendiagnosa saya Bipolar. Saya pun menjawab psikiater dan menyebutkan nama dokter psikiater saya.

Awalnya saya memang menganggap pak Fudin memiliki metode yang jauh berbeda dengan pengobatan medis, tapi ternyata terapinya merangkap konsultasi psikologi yang belum pernah saya cicipi dan terapi psikologi ini memberikan perhatian lebih mendalam terhadap kondisi kejiwaan, ketimbang hanya datang + beli obat di psikiater. Well, saya nggak bilang psikiater itu buruk. Setiap dokter, terapis, hingga ‘orang pintar’ yang pernah saya datangi semuanya memiliki kelebihan masing-masing, saya hanya berusaha mengambil positifnya saja.

Saya tahu masih banyak masalah/kekurangan yang belum bisa saya atasi dalam diri saya, dan saya tidak bisa mengubah apa yang sebenarnya mengakari permasalahan saya, yaitu otak (kecuali mungkin dengan operasi). Semua yang saya lakukan adalah mengikis gejala-gejala negatifnya saja dan melihat apa yang bisa saya lakukan dan capai dalam setiap perkembangannya.

Terapi yang sedang saya jalani membantu saya untuk lebih calm dan percaya pada potensi-potensi yang lebih besar. Saya semakin menyadari bahwa hidup itu adalah setiap detik yang berjalan dan dilalui dengan usaha. Meskipun kita memiliki banyak kelemahan, hidup tidak akan menunggu kita untuk pulih, kita lah yang harus mengejar, sebanyak atau sesedikit apapun hasilnya nanti. Karena Tuhan suka hamba-Nya yang berusaha.

gambar: arrowaste.com

About these ads

22 pemikiran pada “Testimonial

  1. kalimat penutupmu tak kutip jadi status di fb, boleh ya :) Karena pas banget dengan seseorang yang sedang membutuhkan kalimat itu untuk memotivasinya agar move on :)

    semangat selalu ya untuk terapinya.

  2. Saya sendiri belum pernah diterapi akupuntur. Sampai sekarang masih merasa agak segan gimana… gitu mengenai terapi yang satu ini. Mungkin saya akan mencobanya suatu saat nanti… :)

    PS: Izin quote kalimat penutupnya ya.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s