Kebohongan Kecil

Siang tadi saya pergi untuk menjemput kakak sepupu saya. Ceritanya dia mau minta temenin saya dan Bapak saya untuk membeli bibit ikan. Dia lagi bikin kolam juga soalnya (mudah-mudahan sukses, Amin).

Sebenarnya dari pagi kakak sepupu saya itu, saya manggilnya Mbak Yayuk, dari pagi udah SMS, tapi saya jam segitu mah lagi tidur. :lol: Makanya baru habis dzuhur saya berangkat.

Sampai di rumahnya, saya panggil-panggil nggak ada jawaban. Pagarnya juga digembok. Akhirnya saya pun pulang.

Di rumah, kata Mamak saya tadi Mbak Yayuknya telepon. Dia bilang tadi lagi di jalan. Jalan dari mana saya nggak tahu. Pokoknya tadi si Mbak emang lagi nggak ada di rumah. Trus Mamak saya telepon lagi ke Mbak Yayuk. Bilangin bahwa saya udah sampe rumah. Trus Mamak saya bilang supaya Mbak Yayuk pergi sendiri aja ke sini naik angkot, karena saya lagi kurang sehat.

Saya agak kaget mendengarnya. Selesai telepon saya langsung tanya dengan nada setengah protes kenapa Mamak sampai harus bohong. Kata Mamak saya nggak apa-apa. Hm…

Diam-diam pikiran saya riweuh mikirin kenapa Mamak saya mesti bohong, sekaligus nggak enak hati sama Mbak Yayuk karena nggak jemput dia dari pagi.

Saya merasa nggak nyaman dengan tindakan Mamak saya. Karena saya pikir itu seperti ngajarin bohong. Tapi ya untungnya saya bukan anak kecil lagi (tapi anak tua bangka). XD

Sebenernya saya juga mengerti bahwa tujuan Mamak saya berbohong seperti itu supaya saya nggak perlu repot bolak-balik lagi.

Habis itu, Mbak Yayuk SMS bilang kalo dia kesininya besok-besok aja karena disana hujan dan lagipula (dia kira) saya sedang nggak enak badan. Saya bilang oke, kalau Mbak Yayuk mau ke rumah, SMS aja biar saya jemput.

Meski awalnya jujur saya merasa agak malas, tapi setelah gagal menjemput plus kebohongan kecil Mamak saya, saya makin merasa bertanggungjawab untuk membayar janji yang tertunda.

Pada dasarnya saya selalu ingin sebuah urusan itu cepat beres, tanpa melibatkan banyak hal-hal tambahan lainnya, meski cara-caranya kurang efisien. Saya berpikir bahwa lebih baik saya sedikit repot asalkan urusannya bisa selesai hari itu juga.

Kebohongan kecil Mamak saya mungkin hanya bagian dari seni dalam berkomunikasi yang tidak saya pahami, dan itupun demi kebaikan saya sendiri.

Secara tidak langsung Mamak saya mengajarkan cara berpikir yang praktis dan bertahap, tidak perlu merepotkan diri sendiri, tidak perlu melakukan segalanya secara terburu-buru. Yang penting semua orang terjamin akan dipenuhi kebutuhannya walau tidak harus diberikan saat itu juga.

Intinya saya harus belajar hidup secara seimbang. Tidak ada gunanya bersikap perfeksionis jika pengerjaannya terburu-buru, dan hasilnya malah kacau.

About these ads

12 pemikiran pada “Kebohongan Kecil

  1. White lie… hahaha…
    Saya seringnya gini, pergi sama teman utk main2, tapi bilangnya ke Toko Buku, biar gak berasa bohong, pulangnya harus ke toko buku walau cuma sebentar bgt ada di sana, hahaha…

  2. kalau saya pribadi sih tetap berpikir, kebohongan “kecil” bukan cara berpikir praktis. Bisa jadi sekarang permasalahan selesai, tapi di kemudian hari siapa tau :) dan sesuatu yang kecil lama-lama bisa menjadi besar *IMHO*

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s