Disiplin Mental Sebagai Anak Tunggal Dengan Bipolar

disiplin mental

Hari ini 30 Maret 2014 ditetapkan sebagai HARI BIPOLAR SE-DUNIA. Tapi saya disini bukan mau cerita tentang Bipolar secara khusus. Melainkan sesuatu yang nggak kalah pribadi maknanya bagi saya, yaitu disiplin mental sebagai anak tunggal.

Mungkin ini salah satu efek menjadi anak tunggal: saya terbiasa berusaha melakukan semuanya sendiri.

Meski saya canggung secara sosial, sebagai orang yang terbiasa sendirian jujur aja saya masih suka punya penilaian yang agak nyinyir terhadap “ketergantungan” orang terhadap orang lain dalam kehidupan sosial. Karena kadang orang mudah terpengaruh dan menjadi lemah karena bergantung pada opini, tren dan standar orang lain.

Kadang saya berpikir kenapa orang nggak berusaha menyokong kebahagiaannya sendiri dengan memanipulasi atau menerapkan disiplin pada mental. Tapi akhirnya saya sadar, bahwa sebenernya saya yang memiliki mental yang lemah karena saya takut, nggak mau membiasakan dan akhirnya nggak mampu meng-handle berbagai jenis manusia, situasi dan keadaan.

Dalam situasi yang terlalu menyita emosi, saya bisa benar-benar pergi meninggalkan situasi dan tempat tersebut dan nggak kembali lagi. Saya lebih mudah berada di sekitar orang-orang yang “mampu menghargai dirinya sendiri” dalam arti orang-orang yang berhati besar yang mampu dan terbiasa menghandle orang-orang lemah dan insecure seperti saya.

Namun kebanyakan waktu saya lebih suka sibuk sendiri dengan pikiran sendiri. Kalau disimpulkan, mungkin saya bukan mencoba menerapkan disiplin mental, tapi saya hanya berusaha terlalu keras melindungi diri dan mengendalikan segalanya secara sadar karena takut gangguan mental saya mengacaukannya. Walau mungkin bisa juga dibilang sebaliknya, bahwa gangguan kejiwaan saya membuat saya lebih waspada terhadap tidakan-tindakan saya.

kognitif

Semua berawal dari pikiran.

Intinya, disiplin mental itu adalah kebiasaan yang sangat bermanfaat. Semua tindakan, kebiasaan dan perasaan berasal dari pikiran (lihat grafik diatas). Kita bisa mulai mengolah mental dari situ. Jika biasanya kamu gampang curiga atau patah hati jika hal-hal nggak terjadi sesuai keinginan, kamu bisa memikirkan kemungkinan lain dari situasinya yang lebih mendamaikan, supaya kamu bisa ngerjain hal lain yang lebih bermanfaat. Ingat aja, lebih baik merasa damai daripada merasa benar.

Apalagi jika kamu adalah rekan penderita gangguan kejiwaan. Jangan biarkan gangguan kejiwaan ‘mendefinisikan’ cara pandangmu. It’s not you. Karena pada dasarnya kita nggak pernah mau menyakiti atau membuat siapapun sedih.

Penyakit ini hanyalah ketidakseimbangan kimiawi di otak, trauma masa lalu yang tak lagi bisa menyentuh dan menyakitimu. Jangan biarkan dia menjadi kelemahan pribadi, meski dia ingin kita begitu. Sebaliknya, jadikan diri kamu ahli dalam menjinakannya.

Sementara itu, saya masih harus belajar hidup bersama orang lain.

WBD Logo

Topeng

topengSebagian orang berpendapat bahwa manusia memakai “topeng” setiap hari. Sikap yang ditunjukkan seseorang belum tentu sama di waktu dan tempat yang berbeda. Dan akhirnya kita cuma bisa berkomentar apakah tindakan orang tersebut munafik atau tulus. Padahal kita nggak bisa mengharapkan dunia nyata ini seperti sinetron. Yang baik ya baik terus, yang jahat ya jahat mulu.

Menurut saya tindakan memakai “topeng” atau persona merupakan sekedar usaha yang berasal dari niat, situasi, ego dan gagasan tertentu (kata saayaa).

Kita mampu menilai sebuah situasi dan memutuskan tindakan yang kita ambil, serta menentukan tujuan yang ingin kita dapatkan dari situasi tersebut.

Kita sebagai manusia punya kebutuhan dan keinginan. Kita boleh jadi berkualifikasi untuk punya jabatan dalam sistem yang mengorganisir hak orang sipil. Tapi belum tentu ego kita membuat semua orang mendapatkan haknya secara adil. Kita boleh jadi menginginkan sesuatu yang baik untuk diri kita, tapi belum tentu ego mendorong kita menjalani usaha yang halal dan sehat untuk mendapatkannya.

Kalo boleh jujur, saya pikir kita sebagai manusia belum cukup humanis dan empatetik untuk otomatis jujur dengan emosi dan perasaan kita terhadap sesama, terutama orang asing. Kita nggak bisa baca pikiran satu sama lain dan masih takut sehingga harus bertaktik agar tidak dirugikan orang lain. Apalagi kenyataannya nggak semua orang punya tingkat kesejahteraan yang sama. Sehingga yang “lebih” takut dirampok oleh yang “kekurangan”, yang merasa tidak punya apa-apa takut di-bully dan dieksploitasi orang yang punya kepentingan.

Jadi memakai ‘topeng’ menurut saya adalah gejala yang biasa. Kita juga nggak perlu terlalu menyorotnya sebagai watak yang tak bermoral atau munafik. Kita semua descent dan berkelas dengan cara yang berbeda-beda, memiliki kualitas dan watak positif yang baik dan bisa menyenangkan orang lain dengan cara yang unik. Meski di sisi lain kita juga tak lepas dari kekurangan dan kesalahan. Itulah yang membuat kita manusia…sejauh ini.

5 Tanda Kamu Kesepian Kronis

kesepian kronis

Berikut 5 tanda kamu mengalami Kesepian Kronis. (Sebenernya ini agak-agak nggak penting banget tapi yah lumayan buat nambah-nambah postingan ha.)

1. Lintasan Mood

Ketika kamu menderita kesepian kronis, kamu menghadapi lintasan mood seorang diri. Ketika mood kamu cuma pengen ngeremin telor alias diem nggak beraktivitas, kadang kamu berharap ada yang nanya kenapa kamu diem aja dan nggak kemana-mana. Tapi kamu juga terlalu malas untuk mencari seseorang yang peduli. Ketika kamu gelisah nggak bisa diem dan mood-nya selalu pengen ngelakuin sesuatu, itu bisa sangat menyiksa karena kamu nggak punya siapa-siapa untuk bisa diajak menyusun jadwal atau rencana kegiatan. Paling bagus ujung-ujungnya kamu jalan-jalan sendirian di mall, trus mendadak statis bak patung saat browsing-browsing celana dalem dan mempertanyakan makna eksistensimu.

2. Penampilan

Kamu berhenti memerhatikan penampilan diri. Kamu mungkin bakal makan sesuka kamu, sebanyak atau sesedikit yang diinginkan mood. Kamu bisa jadi kegemukan atau malah kekurusan. Rambut kamu dibirkan mbiak-biak kayak Suketi baru bangkit dari kubur. Kamu juga berhenti pake parfum, dandan dan membeli pakaian baru, karena kamu nggak tahu mau menunjukkan itu semua sama siapa. Rasanya nggak ada gunanya, jadi ya, prinsip “jadi diri sendiri” berarti lepas tanggungjawab terhadap penampilan dan jadi apa adanya seperti saat kamu masih bayi (yang berarti kemungkinan kamu juga seliweran di rumah tanpa busana [semoga nggak]).

3. Percakapan Imajiner

Ini satu hal yang mungkin agak aneh tapi terjadi pada saya sendiri. Kamu mungkin bakal mulai banyak bicara sendiri di dalam pikiranmu. Terkadang cuma monolog, terkadang seolah bicara dengan seseorang, yang bisa jadi orang khayalan atau seseorang yang kamu kenal seperti teman atau saudara. Dan setiap kamu melakukan tindakan tertentu, kamu akan berfantasi orang itu meminta penjelasan pada kamu mengapa kamu melakukan apa yang baru saja kamu lakukan. Dan kamu akan mulai menjelaskan panjang lebar alasan dan motivasi dari tindakanmu. Silahkan terkikik geli atau mengernyit tapi itulah yang saya lakukan hampir setiap hari. (Oh God I need friends.)

4. Semakin Introvert

Kamu merasa semakin introvert setiap harinya. Dan ketika dihadapakan pada situasi sosial, kamu merasa kemampuan kamu dalam berinteraksi dengan orang lain telah banyak berkurang. Kamu jadi mudah gugup, nggak fokus dan susah nyambung sama obrolan. Apalagi kalau orangnya ngobrol soal hal-hal sederhana tentang dunia nyata seperti pekerjaan, tempat/lokasi/alamat, cuaca, dan sebagainya.

5. Merindukan Sisi Komedi Dari Konsep Kesepian

Kalo dulu kamu bisa bilang dengan setengah bercanda, “Buat apa gaul banyak-banyak, ane udah punya temen kok, dua orang.” atau “Ane males keluar. Ada manusia diluar sana.” Sekarang kamu cuma bisa nyengir-nyengir merindukan saat komentar-komentar kamu itu terasa lucu dan imut. Karena saat ini kamu nggak yakin lagi apa yang kamu inginkan. Pengen punya temen banget, tapi kemampuan bersosial kamu terlanjur menurun dan kamu takut cuma bakal bikin suasana jadi garing atau canggung, dan akhirnya temen kamu nggak menikmati kehadiranmu. Ujung-ujungnya kamu malah mengecewakan diri sendiri dengan ‘performa’ yang buruk.

Kamu adalah jiwa malang yang tangguh dan mandiri

Tapi tidak ada kata terlambat untuk melatih kembali artikulasi pikiran dan tubuhmu agar kembali siap bersosialiasi. Kamu bisa mulai menarik satu atau dua temen untuk menemani kamu di rumah atau kosan. Buat rencana untuk main bersama yang santai dimana mereka bisa melakukan apapun yang mereka mau tapi hasilnya bisa dinikmati sama-sama. Misalnya masak bareng, nonton DVD bareng, dan sebagainya.

Takut gagap atau salah ngomong? Berlatihlah dengan membaca dengan bersuara lantang seperti saat berlatih pidato. Menyuarakan ide atau pikiran bakal membantu kamu menaruh kepercayaan pada dunia luar di sekitarmu sehingga kamu nggak akan canggung atau ragu-ragu lagi.

Salah satu faktor yang membuat kamu gugup adalah kamu selalu takut kamu tidak siap ketika orang lain menginginkan sesuatu darimu. Modifikasilah pemikiran itu. Berpikirlah “selalu siap menerima” dan bukannya “harus siap melayani” ataupun “selalu meminta”. Kenali dan hargai kehendakmu sendiri demi kebahagianmu sendiri. Hargai pula hak dan kebahagiaan orang lain.

Selain masih bisa bersenang-senang dengan teman-teman, kamu akan selalu dikenal sebagai orang yang mandiri dan menjadi sosok yang menguasai baik dunia nyata maupun dunia imajinasi. ;) Dan siapa tahu di masa depan kamu akan jadi sosok yang diandalkan teman-temanmu ketika mereka butuh pertolongan atau ‘pundak untuk menangis’.

Ada lagi ciri-ciri orang kesepian? Jangan lupa klik Suka, komen dan +Ikuti karena…yah itu bikin saya seneng. *tepok jidat pake piring terbang*

Rahasia Sains Periklanan

 

Mau tahu bagaimana cara kerja iklan memengaruhi calon pelanggannya? Berikut saya coba rangkum isi video diatas.

Perusahaan-perusahan di Amerika menghabiskan $170 triliun per tahun.

Iklan menggunakan teknik-teknik yang menanam memori positif serta merangsang emosi penonton sehingga tergerak untuk membeli produk mereka. Hal yang mendasari ini adalah level atau tingkatan bawah sadar manusia.

MODEL

Pada dasarnya kita cenderung tidak ingin mudah dipengaruhi untuk melakukan sesuatu. Tapi kita cenderung memerhatikan apa yang dilakukan oleh orang lain sehingga model digunakan untuk menyampaikan pesan dengan cara tersebut.

Ekspresi senang paling sering digunakan dalam iklan sebab kita memiliki “syaraf cermin” dimana kita cenderung meniru ekspresi yang ditunjukkan orang lain.

Pupil yang melebar tampak lebih ataktif sehingga foto-foto model iklan seringkali di-Photoshop agar pupil mata mereka tampak lebih lebar.

Para ahli juga mengatakan posisi tangan tangan saat memegang produk dalam iklan juga berpengaruh. Dalam hal ini tangan yang dominan yaitu kanan.

WARNA

Warna digunakan perusahaan dalam logo mereka untuk mewakili pesan yang ingin mereka sampaikan tentang produk mereka. Merah menandakan tindakan, semangat dan masa muda.

Hijau menunjukkan kesegaran, pertumbuhan dan kesehatan. Sementara biru menunjukkan kepercayaan, percaya diri dan kenyamanan.

BAHASA

Teknik lainnya adalah klaim yang tidak benar-benar teruji. Misalnya “lebih harum” atau “lebih nikmat” meskipun tidak ada perbandingan resmi yang dilakukan. Selain itu juga testimoni palsu yang mereka klaim berasal dari tokoh publik atau selebriti.

PERTANYAAN RETORIS

Iklan terkadang menggunakan pertanyaan-pertanyaan retoris untuk membuat orang tergerak menggunakan produk mereka. Contohnya: “Got Milk?”, “Mau?”, “Sudahkah Anda Minum Yakult Hari Ini?”

Nah, udah tahu ‘kan gimana perusahaan menggoda kita melalui iklan-iklan mereka? Tertarik membuat perusahaan dan iklan untuk produkmu?

How To Be Young Again

Daily Prompt: What are your thoughts on aging? How will you stay young at heart as you get older?

quote

Aging is an amazing and scary at the same time to me. You feel like you can do a lot more things with more energy, longer limbs, stronger heart, brain, skill, etc. But you’d also feel like have missed a lot in your life.

I  experienced my life mostly in the ‘inside’ where emotions and ideas collide. I didn’t and don’t really get out a lot. As an only child who likes reading ghost stories more than playing soccer with my cousins, I felt like it would be amazing to be able to create my own world, my own kingdom. It doesn’t have to be a medieval-themed kingdom, it can be as mystical and impossible as you want. I would create portal or magical wooden door appears in my room’s wall and someone would beg me to go in there for a quest involving magical items and wizardy or psychic powers that would possess me.

But then even at the time, I felt like I had not enough time and space to live in my own dream world. I enjoyed reading before bed. I liked it when I had to add another collection into my shelf. I still feel the same about books. I like to read, though ye classic attention span decreasing almost stopped me from reading at all.

Yet, realizing I wasn’t in a kind of environment that support so much imagination and impractical way of thinking, I ended up trying to hard to be “normal” which then became one of the reason why I’m having a few mental problems today. Oh yeah, I’m telling this with all dignitiy and respect. I don’t mind. So don’t worry.

I started to feel young “again” actually just recently when I hit 25. I don’t know why, I just kinda feel like, like I said in the first part, that I’ve missed a lot in my early years of life. I didn’t go out enough, I didn’t touch and interact with enough people, I didn’t talk and stand for my voice enough…everything isn’t enough! Yes, that makes me pretty emotionally insufficient to support my own security and happiness.

But then suddenly…I learned to laugh again, I learned to cry again, I learned to smile that feels like for the very first time in my life. I think this is generally what is called “growing up”. The shirt fits better on your growing body. The soul gets more room to elaborate and use everything you’ve learned so far and burns it into a sum of energy for another business of life. I know, I’ve had this type of deal each year. But this, at this quarter of century of my age, I learned a lot to use ME. To function myself FOR myself. To live a little more than just, “Ah…I’m glad I learned to do this better.” I felt that I started to live for the first time. How did I do it?

I’m still doing it now. Smile. Laugh. Cry. A LOT MORE. Be more receptive and empathetic towards your surrounding. Watch it in alert. They’re all around you. Trees, sun light, trunks, river, kids, boys, girls, and old lady, 90s used Toyota, your mother on the couch, a bowl of salad on her hand… They’re there to be functional and activated by your loving gesture.

Go out and lurk inside. You can jump and you’ll survive. You can hug and you’ll grow love and not everyone has to understand that feeling. You can smile to laugh and clear your mind from negative judgments about the world.

If you think growing up is scary. It is. In a way that you would see things you could have been done earlier. Things you still can do now in any way. You can start with recalling your dreams and fantasies, smile at them and say, “Remember when we used to hang out and have fun? Wanna start again?”

  1. Secrets of the universe | Perspectives on life, universe and everything
  2. Child’s play :-) | Perspectives on life, universe and everything
  3. Coffee-drinking on a bench, in a Sunny Morning | НЕКОИ МАЛИ НЕШТА ПИСАТЕЛСКИ
  4. Age is relative… | Hope* the happy hugger
  5. Forever Old | Musings | WANGSGARD
  6. Forever Young | Knowledge Addiction
  7. Daily Prompt: Young At Heart | The WordPress C(h)ronicle
  8. The Daily Prompt & Being First | The Jittery Goat
  9. Young at Heart | Kate Murray
  10. HIGH HOPES | Seif Salama Karem
  11. Seconds | INKLINGS
  12. Daily Prompt: Young At Heart | seikaiha’s blah-blah-blah
  13. The Click-Over | jigokucho
  14. Daily Prompt: Young At Heart | Awl and Scribe
  15. “Young at Heart” | Relax
  16. Aging With Grace | The Giardino Journey
  17. Daily Post: Young at heart | Love your dog
  18. Daily Prompt: Young At Heart | Life is not for everyone.
  19. DP Daily Prompt: Young At Heart | Sabethville
  20. Daily Prompt: Young At Heart: When I am an old woman I shall wear purple | Healthy Harriet
  21. Daily Prompt: Young At Heart | tnkerr-Writing Prompts and Practice
  22. Daily Prompt: Young At Heart | littlegirlstory
  23. Aging is Seen Clearest, in the Mirror! | meanderedwanderings
  24. Young At Heart Forever? | Awake & Dreaming
  25. “Emotionally Subnormal”: Comic Book Culture and its Intended Audience | A Wiser Fella Than Myself Once Said…
  26. Young At Heart | Lisa’s Kansa Muse
  27. Daily Prompt: Young at heart. | A cup of noodle soup
  28. Daily Prompt: Young At Heart | wisskko’s blog
  29. Daily Prompt: Young at Hearts- psychology and phylosophy behind getting old | Journeyman
  30. Staying Young… | Haiku By Ku
  31. How To Be Young Again | The Moon Head
  32. Didn’t Die Before I Got Old | I’m a Writer, Yes I Am
  33. I Will Never Grow Old | Flowers and Breezes

How To Be A Positive Person?

how to be positive personPerhatikan di judulnya ada tanda tanya yang berarti saya juga masih mencari jawaban pasti dari pertanyaan tersebut.

Saya mau cerita sebentar soal mengapa saya sempat tiba-tiba kehilangan motivasi ngeblog selama sebulan antara bulan Februari hingga Maret. Bisa dibilang saya mengalami krisis identitas sebagai blogger yang masih tengah mencari jati diri. Padahal saya kira dua tahunan ngeblog sudah menganugerahkan saya momentum ngeblog yang paling pas buat saya. Dan saya pikir saya tidak akan harus khawatir lagi apakah bakal mengalami blogger’s blog dan kekhawatiran-kekhawatiran lainnya.

Tapi akhirnya saya dihadapkan pada masalah identitas ini. Bukan, saya bukannya memalsukan identitas diri saya. Tapi lebih kepada identitas saya lewat tulisan di blog ini. Bagaimana karakter yang terbangun melalui cara penyampaian saya yang masih patah-patah, imej yang dilihat orang sebagai teman sesama blogger maupun pengunjung baru.

Dan jujur saja, sebulan lalu itu saya mulai merasa terbebani oleh keinginan saya sendiri untuk selalu tampil sepositif mungkin dalam tulisan. Padahal saya sama sekali nggak jago berkomunikasi dengan gaya pep-talk, menghibur ataupun gaya khas lainnya. Saya ini kaku dan canggung. Saya mulai merasa membohongi diri saya sendiri karena berusaha menghibur dan menyemangati orang lain sementara saya sendiri masih memiliki banyak sekali kekurangan.

Saya memikirkan hal ini hingga pada titik akhirnya saya menyerah dan bersikap masa bodoh dengan masalah imej dan kepribadian ini. Saya rehat dan menggunakan Internet secara lebih pasif dengan sekedar menikmati konten sambil sesekali berkontribusi lewat komentar, bukan lagi sebagai pembuat konten lewat blog saya.

Toh saya pikir saya juga bukan blogger seleb yang postingan barunya selalu dinanti-nanti jutaan umat. Dan kalaupun ada momen ketika mood bagus dan bahan tulisan yang sekiranya bermanfaat, saya pasti akan buat dan terbitkan tanpa harus memikirkan dedikasi penuh pada blog atau mengharapkan respon yang tinggi.

Semua ini berujung pada pengalaman saya baru-baru ini dengan gangguan kesehatan yang nano-nano alias campur-campur. Semua pengalaman beberapa hari ini memberi saya petunjuk untuk belajar menjadi seseorang yang lebih positif. Bagaimana caranya? Yah, sebenarnya, singkirkan sebisa mungkin semua hal buruk dari pikiran. Baik itu tentang diri sendiri maupun hal dan orang lain. Judgement, negative comments, gerutuan, etc…

Kita sering nggak mengerti mengapa sebagian orang bertindak dengan cara tertentu, melakukan hal tertentu yang mungkin bertentangan dengan prinsip pribadi kita. Yang bisa kita katakan adalah ada banyak alasan dari “mengapa”. Tapi semua itu memiliki satu kesimpulan yang sama, yaitu: love. Dalam arti suka, cinta, hobi, senang, baik dalam taraf egosentris hingga tulus merupakan minat berdasarkan kepribadian seseorang.

Semua orang suka sesuatu dari suatu hal dan mereka akan mencoba melakukannya dengan cara mereka. Contohnya, orang suka Star Wars. Si Badu mengekspresikannya dengan mengoleksi semua DVD atau home video filmnya. Sementara Si Alex mengoleksi figurin karakter hingga kostum tiap karakternya.

Dengan cara yang sama, itulah mengapa blog dicintai karena orang bebas melakukannya dengan cara yang mereka sukai. Sebagian orang menggunakannya sebagai portofolio untuk profesi fotografer, dokumentasi pernikahan, jurnal pribadi, puisi, cerpen, hingga konten-konten via media unik lainnya seperti kerajinan tangan dan video. Jadi menurut saya nggak masalah jika kamu nggak begitu sering mengupdate blog selama konten yang kamu tulis adalah hal yang kamu sukai dan dengan cara penyampaian yang kamu sukai.

Jika kamu suka dengan gambar, hey, monggo masukkan saja gambar yang bagus dalam tulisanmu. Jika kamu suka referensi video, silahkan ambil dari sumber-sumber yang dapat diandalkan seperti Youtube, Metacafe, …Vimeo, etc (end of thinking capacity).

Jadi kesimpulannya, untuk menjadi sosok yang positif kamu harus melihat bahwa tiap orang melakukan semua hal dengan cara yang mereka sukai. Sehingga jika kamu ingin bergabung dalam barisan, kamu tidak perlu terbebani untuk menyamai imej orang-orang lain, melainkan kamu hadir sebagai sosok yang mengerti dan menghargai apa yang kamu sukai karena itulah yang semua orang lakukan disini (jadi diri sendiri). Kita semua bergerak berdasarkan dorongan kecintaan terhadap sesuatu. Dan jika kamu sudah melakukannya, kamu akan menjadi orang yang lebih positif. Semoga saja. Oke.

Bagaimana tipsmu menjadi seseorang yang lebih positif?

Pendengaran

DSC01210Satu hal lagi yang saya syukuri dari pengalaman belakangan ini yaitu adalah: pendengaran.

Saya sering berpikir bagaimana seseorang yang tunarungu bukan sejak lahir (alias ada insiden yang menyebabkannya kehilangan pendengaran atau mengurangi kemampuannya mendengar) membiasakan diri dengan lingkungan yang terdengar berbeda. Menurut saya itu pasti sangat tidak menyenangkan terutama jika membayangkan diri saya mengalaminya.

Saya tahu sejak kecil saya selalu mudah panik dan anxious. Kalo anak kecil takut badut atau hantu, saya takut kalo pesawat terbang lewat. :lol: Guyuran/keramas saat mandi adalah momen yang heboh karena saya bakal  panik seolah ada monster yang mau menerkam dari belakang ketika saya pejam mata. I’m so insecure about everything.

Karena itu ketika telinga kanan saya mengalami infeksi, ditambah kondisi mental yang memang udah kacau selama beberapa bulan belakangan, saya mudah terpicu panik ketika menyadari kemampuan pendengaran saya berkurang.

Jujur selama perjalanan mencari pertolongan dari dokter, suster, sampai rumah sakit, saya sempet berpikir jika pendengaran saya akan selamanya seperti ini dan harus menjalani pengobatan yang panjang atau menggunakan alat bantu dengar. Tapi kemudian saya buru-buru menghilangkan pemikiran itu dan mencoba fokus pada mencari bantuan pada waktu itu.

Sekarang ketika panik dan kecemasan saya sudah mereda, saya sudah lebih terbiasa dengan pendengaran yang terganggu ini. Setidaknya nggak sepanik sebelumnya. Saat ini saya mulai membayangkan mungkin beginilah orang-orang yang memiliki gangguan pendengaran merasakan dunia di sekitarnya, kecuali tentunya apa yang saya alami nggak sebanding dengan disabilitas pendengaran yang sebenarnya.

Saya mengingat melihat karakter-karakter di film yang terkadang digambarkan memiliki masalah pendengaran dan harus menggunakan alat bantu dengar. Mereka masih beruntung karena memiliki keluarga dan dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhannya dengan pendengarannya.

Lalu saya ingat lagi almarhumah Nenek yang pendengarannya juga kian menurun seiring umur. Saya bahkan merasa ingat ketika Nenek mulai mengalami penurunan pendengaran. Mungkin waktu itu saya masih SMP.

Saat itu kadang Nenek yang justru menyergah orang lain, “Lah wis lah Nenek nggak denger!” dan pergi meninggalkan percakapan. :lol: Tapi kebanyakan sih kita yang harus deketin ke telinganya supaya Nenek ngerti apa yang diomongin atau ditanyain hehe. Begitulah sosok yang saya sebut Little Princess.

Satu lagi sosok yang memiliki masalah pendengaran yang saya kenal adalah kakak pengasuh ponakan saya dulu. Kita sebut aja namanya Kakak Until (ini julukan iseng ponakan saya sama nanny-nya). Kalau Kak Until ceritanya dulu waktu masih lebih muda pernah telinganya kena pukul pelepah kelapa sawit sampai gendang telinganya pecah (kurang tahu telinga sebelah mana).

Jadi dulu itu kita bisa lihat lucunya ponakan saya yang masih kecil kadang harus bicara keras di telinga kakaknya kalau mau minta sesuatu atau menyampaikan pesan dari orang lain.

Saat ini saya masih ngerasain nyeri dan nggak nyamannya infeksi di gendang telinga. Tapi semua kejadian ini memberikan saya pelajaran untuk bersyukur dan bersabar sebagai sikap hidup yang teramat penting, terutama dalam menghadapi berbagai masalah dan situasi sulit. Karena ada begitu banyak orang yang menanggung kesulitan yang kita rasakan hampir setiap hari sebagai beban cerita hidupnya.

Oh ya, sekalian mau tanya sama pembaca dan blogger sekalian, sebenernya bagus nggak sih kalo sering-sering pake head/earphone? Saya pernah tahu memakai eraphone bisa memicu perkembangan bakteri di telinga, tapi saya terlanjur lebih nyaman pake earphone ketimbang speaker. Adakah tips dan cara aman menggunakan earphone supaya nggak mengakibatkan efek buruk bagi telinga?

Trims sudah membaca. Semoga kita semua dianugerahi kesehatan hingga akhir usia. Amin.

What Is Life?

Life is a characteristic that distinguishes objects that have signaling and self-sustaining processes from those that do not, either because such functions have ceased (death), or else because they lack such functions and are classified as inanimate. Wiki

what is life

Menelusuri kisah dan pengalaman orang lain dengan Bipolar dan depresi, selain jadi merasa nggak sendirian dalam perjalanan, saya jadi mempelajari betapa beragam cara orang mengekspresikan pandangannya tentang kehidupan.

Sebagian orang memandang hidup sebagai sesuatu yang simply doesn’t work for them, tidak adil dan penuh paksaan. Sebagian lagi mencoba memberi pandangan yang lebih positif dan mengevaluasi nilai-nilai yang dimiliki kehidupan. Sebagian lagi, terjebak diantara usaha untuk memihak salah satu sudut pandang.

Dari sini saya mengartikan bahwa kehidupan adalah sebuah kondisi yang tidak secara harafiah memiliki kendali atas diri pelakunya, kecuali mengaplikasikan aturan berbasis sebab-akibat.

Sebaliknya saya rasa kita secara sederhana memiliki kuasa penuh atas kehidupan. Tidak terlalu penting jika saat ini kita tidak tertarik atau terlalu lemah untuk membuat diri merasa memegang kendali, ataupun mencapai hal-hal menakjubkan yang kita inginkan. Kita mungkin menyaksikan arus orang-orang yang mencapai hal-hal baik dalam hidupnya, sementara kita tahu kita hanya akan berhasil sedikit saja atau tidak sama sekali, kemudian menyalahkan kehidupan seolah kehidupan itu adalah sosok tiran yang tidak bertanggungjawab.

Kehidupan adalah kondisi yang dialami secara berbeda-beda oleh tiap orang. Dan kondisi ini bukanlah vonis, melainkan status yang masih selalu bisa dimodifikasi dan diperbaiki.

Ya, kamu memang punya masalah kejiwaan, Ya, kamu punya banyak masalah lainnya yang belum bisa kamu singkirkan. Lebih spesifik lagi, kamu nggak yakin apakah bisa masuk universitas impian, dapet pekerjaan untuk menghidupi diri, berbaikan dengan keluargamu, menghadapi trauma psikologis, membesarkan anak dan menghidupi keluarga, di tengah naik-turun kondisi kejiwaan yang sulit diprediksi dan bisa jadi destruktif.

Yang membuat kita frustasi dalam keadaan-keadaan ini adalah kita terlalu fokus pada harapan-harapan yang direnggut dari jangkauan kita. Kita sering lupa pada usaha-usaha kecil untuk merawat kondisi diri kita sebagai pribadi yang unik dan memiliki kebutuhan dan cara perlakukan yang khusus. Ingatlah bahwa pilihan itu tidak hanya terbatas pada apa yang “layak” bagi pandangan umum. Ada banyak hal yang bisa kamu coba sesuai dengan kepribadianmu.

Fokus pada dirimu dan sadari bahwa kamu harus menciptakan ruang dimana kamu bisa berpikir secara luas dan terbuka. Kesejahteraanmu adalah yang paling penting. Kamu harus cukup kuat secara mental sebelum mulai menyusun prioritas dan mencoba menyelesaikan masalah. Usahakan pengobatan, terapi, atau apapun untuk merawat kondisi mentalmu. Hasilnya mungkin bukanlah kesempurnaan yang instan, melainkan pengalaman dan gagasan baru tentang standar pencapaian yang lebih tinggi ketika kamu merasakan kondisi yang setahap lebih baik dari sebelumnya.

Saya tidak akan pernah mengatakan bahwa kehidupan itu sebenarnya indah dan penuh harapan. Tapi kita juga harus berhenti mempersonifikasi kehidupan sebagai sosok bully yang harus menebus perilaku tidak adilnya terhadapmu. Kehidupan hanyalah sebuah kondisi. Kamu yang menentukan bagaimana memperlakukan kondisi ini.

Take your time. Take what you deserve. Don’t try to achieve one big shiny thing in your whole life. Try to experience various things that interest you, instead. Pada akhirnya kamu akan sadar bahwa kamu memberi imej pada kehidupan berdasarkan bagaimana kamu memperlakukannya, bukan bagaimana kehidupan memperlakukanmu.

Bagaimana definisi kehidupan bagimu sejauh ini?