Lumping

untitledEntah kenapa saya merasa sangat ‘kesal’ melihat beberapa anak di sekitar lingkungan saya ikut-ikutan belajar kuda lumping. Entah siapa pengajarnya, tapi mereka latihan rutin di dekat sungai (Deli), katanya.

Saya tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi jujur saya sangat amat terganggu melihat kenyataan seperti ini.

Saya kira pertunjukan semacam ini adalah tradisi yang harusnya diteruskan kepada generasi di sekitar orang-orang yang telah lama mempraktekkannya dan ingin mengajari generasi penerus, entah itu keturunan atau kerabat dekat yang sudah kenal baik dengan pengajarnya, tapi bukannya asal menggaet anak-anak orang.

Karena yang namanya anak-anak apalagi yang memasuki remaja itu sangat gampang terpengaruh, mereka senang karena merasa “melakukan sesuatu yang hebat”.

Beberapa hari sebelumnya guru SMP saya datang sambil menangis dan bercerita kepada Mamak saya tentang anaknya yang rupanya juga ikut-ikutan belajar kuda kepang/lumping itu. Beliau ini adalah guru agama Islam, jadi bisa dibayangkan betapa sedihnya seorang ibu yang mengajar agama melihat anaknya berdekatan dengan aktivitas yang melibatkan “kesurupan” dan bersekutu dengan makhluk gaib.

Saya sangat terganggu melihat anak-anak yang cenderung masih gampang dimanipulasi itu begitu antusias mengikuti kegiatan yang ‘tidak lazim’ seperti ini. Dan saya benar-benar berharap tokoh masyarakat sekitar ini ada yang segera menghimbau atau paling tidak meluruskan apakah kegiatan seperti ini layak dibiarkan.

Bisa dimaklumii jika sebagian masyarakat kita di jaman sekarang pun masih banyak yang beranggapan bahwa “ngelmu” dan bersekutu dengan makhluk gaib adalah cara instan agar dirinya menjadi powerful dan dikagumi/dihormati orang lain. Namun yang terbaik adalah jika kita bersikap senantiasa percaya kepada Yang Maha Kuasa dan jangan langsung tergiur dengan kekuatan dan kekuasaan yang instan.

Masih percayakah kamu dengan pertunjukan bernuansa gaib seperti kuda lumping? Bagaimana reaksi dan tindakamu seandainya adik atau anakmu mengikuti kegiatan seperti ini?

8 Makna Ikhlas

Kemarin saya menyempatkan ke toko buku dan membeli sebuah buku berjudul “Tips Jitu Menguasai Ilmu Ikhlas” karya Abdul Aziz Sa’du. Ceritanya meneruskan amanat dari sinshe kepada saya untuk belajar lebih ikhlas.

Saya memilih buku ini karena ringkas dan penjelasannya mudah dipahami. Disini saya mau membagikan sedikit isinya. Semoga bermanfaat.

Kata “Ikhlas” berasal dari bahasa Arab akhlasa, yukhlisu dan ikhlasan yang berarti “memurnikan”. Menurut para ulama ada beberapa makna dari ikhlas, diantaranya sebagai berikut.

  1. Menyendirikan Allah SWT sebagai tujuan dalam ketaatan.
  2. Membersihkan perbuatan dari perhatiakn makhluk/manusia.
  3. Menjaga amal dari perhatian manusia, termasuk diri sendiri.
  4. Melalui ibadah, seseorang ebrmaksud ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT dan mendapatkan keridhaan-Nya.
  5. Sesuatu yang paling mulia di dunia.
  6. Rahasia antara Allah SWT dan hamba-Nya yang tidak diketahui, kecuali oleh malaikat yang mencatatnya.
  7. Membersihkan amal dari segala “campuran”.
  8. Orang yang ikhlas adalah orang tidak peduli pada sesuatu, meskipun seluruh penghormatan dan penghargaannya hilang dari dirinya dan berpindah ke orang lain. Hal ini bertujuan memperbaiki hati yang hanya untuk Allah SWT dan ia tidak senang jika amalan yang ia lakukan diperhatikan oleh orang lain, meski terlihat sepele.

Intinya, ikhlas adalah beribadah dan beramal dengan tujuan semata-mata untuk Allah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Serta memurnikan niat dari “kotoran” yang bisa merusak nilai suatu amalan.

Ikhlas adalah menyerahkan segala perbuatan, amalan, pekerjaan hanya untuk Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Pelajaran yang bisa saya petik dari sini adalah: kita hendaknya menyerahkan segalanya kepada Allah SWT.

Kita mungkin sering meragukan masa depan, berprasangka buruk pada nasib, dan tidak yakin dengan diri kita sendiri. Tapi Dia-lah yang paling baik mengetahui tentang diri kita, Dia yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi kita.

Hal-hal sering tidak berjalan sesuai yang kita inginkan. Tapi semua itu bertujuan agar kita kembali pada-Nya dan merevisi ulang niat kita hanya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Hingga pada akhirnya kita menjadi orang yang ikhlas yang menjadikan setiap perbuatan kita sebagai ibadah.

Menjadi orang yang ikhlas memang tidak mudah dan membutuhkan proses. Terkadang kita harus dihadapkan dulu dengan berbagai kejadian yang tidak menyenangkan, seperti kegagalan, kehilangan, dan sebagainya, agar kita belajar ikhlas dari peristiwa-peristiwa itu.

Semoga saya dan kita semua bisa menjadi orang yang ikhlas agar hati ini senantiasa lapang dan tentram. Amin.

gambar: inspiringbetterlife.blogspot.com

Hari Buruk [Itu Nggak Ada]

Apa yang kalian pikirkan jika membaca ayat-ayat ini:

“Kami menghembuskan badai dalam beberapa hari yang
nahas, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang
menghinakan dalam kehidupan dunia. Dan sesungguhnya siksaan di akhirat lebih menghinakan sedangkan mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushshilat/41: 16)

“Sesungguhnya Kami menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus.” (Al-Qamar/54: 19).

Saya sempat browsing sedikit tentang topik ini dan akhirnya menemukan jawaban yang mencerahkan disini. Sementara ironisnya, saya mencopas kutipan ayat diatas dari artikel ini.

Walau artikel dalam link pertama membahas tentang kaitan hari baik/buruk dengan pernikahan, saya mencari pembahasan dalam kaitannya yang lebih umum.

Karena saya sering mengalami semacam pola-pola seperti ini dimana pada hari tertentu saya seolah mendapatkan ujian yang lebih dari hari-hari lainnya. Entah itu bertemu dengan orang-orang yang bikin saya keder, emosional, atau orang-orang di sekitar saya jadi lebih ‘menyebalkan’ dari biasanya.

Tapi yang kemudian mengubah pemikiran itu sebenarnya adalah saya sendiri.

Bahkan sebelum saya mulai intensif menjalani pengobatan untuk Bipolar, hari-hari saya nggak jauh-jauh dari masalah mengontrol emosi. Biasanya dalam satu minggu hanya satu atau dua hari adalah hari tenang bagi kondisi emosional saya, biasanya hari tenang itu dimulai dari hari Senin. Selasa hingga Kamis adalah hari ‘penumpukan pemicu’, dengan Kamis sebagai puncaknya. Sementara tiga hari sisanya, terutama Jum’at dan Sabtu adalah penentu hasil akumulasi selama hari-hari yang penuh gonjang-ganjing. (Haha memang sangat koplak tapi begitulah yang terjadi.)

Satu hal yang bisa disimpulkan adalah: hasil dari pola mingguan ini benar-benar tergantung pada bagaimana saya menanganinya.

Karena itulah dalam beberapa kesempatan kemudian, saya mencoba menguatkan diri saya lebih dari biasanya untuk tidak menuruti pola tersebut. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa melawan apa yang dulu saya sebut “kutukan rutin” setiap minggu.

Dan saya pun berhasil melewati akhir pekan tanpa meledak ataupun self-destruction. Walau dalam sebagian besar kesempatan itu, polanya jadi bergeser, sehingga saya tetap kebablasan justru di hari-hari tenang seperti Senin dan Selasa. (Semoga pembaca yang menyimak tulisan ini nggak bingung membayangkannya. :D ) Tapi yang penting saya jadi tahu bahwa itu bukan kutukan ataupun hukuman dari Allah terhadap saya. :?

Sampai sekarang ini pun tampaknya saya masih mengalami pola-pola seperti itu. Dan saya ungkapkan bahwa “hari buruk” itu adalah hari Kamis, dan hari ‘pengumuman hasil’-nya adalah Jum’at hingga  beberapa hari setelahnya. Bentuk ujian itu biasanya datang dari kehadiran orang-orang yang memicu stres saya atau perilaku orang-orang di sekitar saya.

Karena kita nggak boleh percaya pada hari buruk, saya pun kembali pada pemahaman yang lebih sederhana yang selama ini agak-agak saya acuhkan dari hati kecil saya. Bahwa “ujian rutin di hari Kamis” ini sekedar untuk mengingatkan saya, lagi dan lagi, bahwa inilah pekerjaan utama yang mesti saya kerjakan, dengan kondisi mental saya, sebagai berkah positif dan negatif kehidupan.

Saya cenderung berkhayal bahwa saya bisa punya kehidupan seperti orang lain, dan akhirnya mengabaikan apa yang ada di tangan saya sendiri. Sepertinya kesalahan seperti ini sepele, tapi akibatnya bisa menjauhkan kita dari petunjuk-petunjuk yang udah dikasih Allah untuk hidupmu.

Terkadang masalah yang kita hindari justru bisa mengajarkan hal-hal terbesar tentang anugerah yang ingin/sudah Allah berikan kepada kita.

Yang kedua, alasan mengapa ujian-yang-agak-lebih-berat ini diberikan pada saya di hari Kamis adalah sebagai teguran dan himbauan untuk membaca Al Qur’an walau sedikit di malam Jum’at yang berkah. Karena saya memang udah nggak pernah lagi ngaji (walau hanya satu ‘ain) di malam Jum’at.

Mungkin sebagian besar dari pemikiran tenang hari buruk atau pola hari buruk yang datang secara rutin ini kedengaran konyol. Tapi saya inget dulu kakak kelas saya di SMA juga cerita kalo dia ngerasa hari sial-nya itu adalah hari Kamis.

Apapun penjelasannya, saya yakin alasan semua itu cuma satu: yaitu supaya kita mengamati petunjuk yang sedang coba ditunjukkan Allah kepada kita tentang apa yang kurang kita kerjakan dan apa yang harus kita perbaiki.

Inti yang bisa saya sampaikan disini adalah: apapun bentuk cobaan dan seberat apapun cobaan itu, sejatinya itu adalah fasilitas untuk kita naik ke level yang tinggi dalam pemahaman dan kehidupan, asal kita mau coba menghadapinya dengan sabar.

Tentang ayat-ayat yang saya sebutkan di awal, saya pribadi berpemahaman bahwa “hari yang nahas” yang disebutkan itu bukan bermakna bahwa ada hari-hari yang sengaja di-nahas-kan oleh Allah SWT. Tapi lebih sebagai keterangan pelengkap terhadap ‘beberapa hari’ yang disebutkan dalam ayat-ayat tersebut. Penjelasan lebih jelasnya mungkin butuh pengkajian lebih lanjut. Hehe. Silahkan jika ada yang mau membantu.

Tahun Baru Dalam Pandangan Islam

Sebenernya postingan berikut ini udah lama aku tulis, tepatnya bulan Desember 2010 di blog lamaku. Tapi supaya memudahkan aku copas aja kesini. Hehe. :mrgreen:

Sebenarnya ini saya dapat dari khotbah Jum’at hari ini. Topiknya tentang perayaan tahun baru, dan bagaimana pandangan Islam tentang perayaan-perayaan yang sering dilakukan orang dengan cara hura-hura.

Intinya sih, dalam Islam nggak ada istilah merayakan tahun baru dengan cara-cara yang kita kenal sekarang; seperti pesta-pesta, hura-hura, dan sebagainya. Mungkin agak terdengar fanatik, nggak modern dan sebagainya. Tapi ada alasannya mengapa Islam tidak menganjurkan budaya barat ini.

Resolusi HARIAN

Tahun baru umat Islam jatuh pada tanggal 1 Muharram penanggalan Hijriah (1 Desember lalu), dan tidak ada, dalam Islam, ajaran maupun kebiasaan merayakannya seperti merayakan tahun baru Masehi. Kenyataannya, Allah SWT mengajarkan umat Islam untuk melakukan evaluasi diri berdasarkan pergantian siang dan malam. Ini artinya, manusia haruslah menjadikan hari esok lebih baik dari hari ini dan hari kemarin. Jadi, kalau kita biasa membuat resolusi setahun sekali, dalam Islam kita membuat resolusi SETIAP HARI.

Waktu

Seperti yang disebutkan dalam surat Al-Ashr, bahwa orang yang tidak menghargai dan memanfaatkan waktu untuk kebaikan adalah orang-orang yang celaka dan merugi. Tapi ini jangan diartikan secara material, seperti kata-kata bijak “time is money”-nya orang barat. Kerugian disini jangan diukur dengan harta benda, melainkan dengan kemanfaatan diri kita bagi diri sendiri dan orang lain.

Sebagai perbandingan, Rasulullah, manusia yang memberikan begitu banyak manfaat bagi umat hanya diberikan waktu 63 tahun untuk hidup di bumi. Sementara banyak diantara kita yang diberikan ‘bonus’ hingga mencapai 100 tahun lebih, tapi belum tentu bermanfaat bagi orang lain.

Ada satu poin menarik tentang mengapa Allah SWT menyebutkan “Demi waktu ashar” pada awal surat tersebut. Alasannya, (ini dari Emak saya yang doi simak dari pengajian) karena waktu ashar adalah salah satu waktu shalat yang paling banyak ditunda-tunda orang dalam kehidupan sehari-hari.

Biasanya kita berpikir waktu ashar cukup panjang sehingga kita cenderung malas-malasan atau memilih meneruskan kesibukan saja dulu. Tapi, ujung-ujungnya malah nggak jadi shalat, karena keburu habis waktu. (Hahaha ini sih aku banget.)

Alasan kedua, (yang ini dari khotbah Jum’at-an yang aku denger tadi) ashar menyimbolkan masa usia manusia yang sudah menginjak paruh baya. Bahwa supaya kita jangan menunda-nunda bertobat dan berbuat baik karena merasa umur belum terlalu uzur.

Jangan sampai kita (pada akhirnya) tobat dengan motivasi yang salah; misalnya karena sudah terlalu tua untuk berjudi, terlalu tua untuk jadi maling. Naudzubillah. Jangan sampe deh kita begitu. Jangan sampe amal ibadah kita yang mungkin udah total banget pengerjaannya, tapi malah jadi nggak berkah.

Kesimpulannya:

  • Dalam Islam kita diajarkan untuk mengevaluasi diri setiap hari, bukan hanya di akhir tahun.
  • Hari esok harus lebih baik dari hari ini dan hari kemarin.
  • Jangan sia-siakan waktu sebelum terlambat.
  • Tidak ada gunanya kita merayakan pergantian waktu jika itu berarti kita merayakan hal-hal kurang baik yang kita lakukan di masa lalu.

Dalam Islam, waktu adalah ruh.

Karena itu kita harus menghargainya dan mengisinya dengan kebaikan. Bukan merayakannya.

Oke, aku nggak mau jadi perusak pesta. :oops: Tapi aku akan lebih senang jika kita, aku dan temen-temen sesama Muslim memahami dan mengamalkan hal ini. :)

Pelajaran Baru: Al-Hikam

Selama ditinggal sendiri lebaran kemarin, Makku meninggalkan sejumlah uang: syukur-syukur kalo tempat deposit pulsa udah buka jadi bisa langsung setoran; tapi kalo aku mau pake buat yang lain juga boleh.

Akhirnya agak sore aku pergi ke Gramedia, berburu bacaan baru. Sekitar setengah jam aku menelusur dan akhirnya kuputuskan mengambil dua buku dan membawanya ke meja kasir. Harganya juga cukup murah. Total harga keduanya tak sampai 80ribu rupiah.

Inilah kedua buku yang sangat kusukai itu:

Al-Hikam oleh Ibnu ‘Athaillah dan The Overcoat oleh Nikolai Gogol.

The Overcoat adalah kumpulan cerpen dari penulis Rusia Nikolai Gogol. Naskahnya pertama kali diterbitkan pada tahun 1842. Sudah lama aku ingin membaca karyanya ini. Salah satunya karena “Gogol” sendiri adalah nama panggilanku semasa kecil dan dikalangan teman-teman. Hehehe.

Gaya bercerita buku ini sangat menarik, ringan dan lucu. Mengangkat fenomena sosial di jaman itu dimana mantel (overcoat) dianggap sebagai tanda seseorang itu memiliki status sosial yang “tinggi” di kalangan masyarakat. Aku baru selesai membaca cerita pertama dan tengah membaca cerita kedua.

Namun sebenarnya buku pertama yang kubuka dan kubaca adalah Al-Hikam. Dan segera saja buku ini membuat aku tertegun oleh isinya.

Buku ini ditulis oleh Ibnu ‘Atha’illah al-Sakandari, seorang tokoh tasawuf yang merupakan murid dari Abu al-Abbas al-Mursi.

Al-Hikam adalah kitab yang telah lama jadi bacaan wajib di berbagai perguruan Islam selama berabad-abad. Kitab ini berisi kumpulan kata-kata mutiara yang “menggabungkan kematangan spiritual dan kekuatan keindahan sastra:. Kitab ini berisi panduan dan nasehat yang betul-betul mengena di hati siapapun pembacanya dan tidak mengenal perubahan zaman, yang berarti kapanpun kitab ini dibaca akan selalu sesuai dengan kondisi pada masa itu, diantaranya dikarenakan menyinggung perkembangan spiritual dan kecenderungan sikap seorang umat manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya.

Secara pribadi, aku mendapat banyak sekali hikmah sekaligus “kritik” melalui buku ini terhadap cara-caraku beribadah kepada Allah. Secara keseluruhan, hikmah yang demikian signifikan sehingga aku merasa sulit menggambarkannya dengan kata-kata. Aku baru sadar ini adalah buku yang malam sebelumnya mau aku download ebooknya. Tapi entah kenapa file hasil donwloadnya rusak.

Tapi aku bersyukur pada akhirnya diijinkan Allah untuk mendapatkannya dalam bentuk buku fisik, meski tidak gratis.

Al-Hikam dianggap kitab yang berisi kata-kata mutiara yang ‘agak berat’ dan diperlukan sedikit-banyak proses pengajian untuk memahami maksud dan tujuan dari tiap 264 butirnya. Di pesantren kitab ini sering diajarkan oleh santri-santri tingkat atas. Namun kita sebagai orang umum bisa menganggap diri kita sebagai seorang salik atau seseorang yang mencari jalan menuju Allah dengan menjadikan kitab ini sebagai panduan, setelah Al-Qur’an.

Sejak awal kalimat buku ini langsung menyentuh dan menggelitik akal pikiran. Dan kata-kata mutiara berikut ini mungkin adalah salah satu butir Al-Hikam yang paling ‘tajam’ mengena bagiku:

Jangan engkau meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari suatu kondisi guna dipekerjakan pada kondisi lain. Sebab, jika memang menghendaki tentu Dia akan mempekerjakanmu tanpa harus mengeluarkanmu (dari kondisi sebelumnya).

Hikmahnya bagiku adalah, aku berpikir aku ingin sembuh total dari Bipolar agar aku bisa bekerja seperti orang-orang lain. Aku mengalami peningkatan dalam semangat ibadahku, tapi siapa sangka ternyata motivasiku sejak awal adalah keliru besar. Aku telah lalai dan dibutakan oleh keinginan dangkalku mengenai apa yang kupikir adalah yang terbaik bagi diriku.

Mestinya aku beribadah saja dengan lebih ikhlas dan tawakal sebagaimana tuntunan wajib dan sunnah-nya. Sikapku mengesankan seolah aku meragukan kedaulatan-Nya untuk memberikan yang terbaik bagiku.

Inilah hikmah besar dari kata-kata itu terhadap hidupku dan mengubah sikap dan pola pikirku dalam beribadah 100%.

Berikut ini beberapa lagi contoh mutiara Al-Hikam favoritku. Semoga bermanfaat juga bagi pembaca yang menyimak post ini:

Diantara tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaan.

Ikhtiar dan usaha adalah apa yang bisa kita kerjakan untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan di dunia dan akhirat. Namun sesungguhnya yang ‘mengesahkan’ semua itu adalah Basmalah dan doa yang kita ucapkan pada saat memulai usaha. Itu berarti kita melibatkan Tuhan secara langsung sehingga Ia akan selalu memerhatikan langkahmu dan senantiasa memberikanmu jalan yang terbaik.

Jika engkau tidak bisa berbaik sangka kepada-Nya lantaran keindahan sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya lantaran karunia-Nya kepadamu. Bukankah Dia selalu berbuat baik kepadamu dan mencurahkan berbagai karunia?

Kegagalan dan ketidakpuasan sering membuat kita berburuk sangka kepada Tuhan, tanpa memikirkan bahwa sebenarnya Dia sedang mengalihkan kita ke jalan yang lebih baik. Karena itu, untuk memperbaiki hubunganmu dengan Tuhan, lihat sekelilingmu, lihat kedalam dirimu, setiap sel yang bekerja di dalam tubuhmu dan alam sekitarmu adalah atas seizin-Nya. Bukalah mata hatimu untuk menyaksikan limpahan karunia-Nya yang luput dari penilaianmu terhadap-Nya.

Jangan tinggalkan zikir lantaran tidak bisa berkonsentrasi pada Allah ketika berzikir. Karena kelalaianmu (terhadap Allah) ketika tidak berzikir lebih buruk dari kelalaianmu ketika berzikir. Mudah-mudahan Allah berkenan mengangkatmu dari zikir penuh kelalaian menuju zikir penuh kesadaran, dan dari zikir penuh kesadaran menuju zikir yang disemangati kehadiran-Nya, dan dari zikir yang disemangati kehadiran-Nya menuju zikir yang meniadakan segala selain-Nya. “Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar” (Q. 1:20)

Ini juga terjadi padaku tepat sebelum aku sampai pada butir ini. Aku memutuskan untuk tidak berzikir yang mulai kubiasakan setiap habis shalat, karena aku merasa (pada saat itu dan saat-saat tertentu) pikiranku sulit fokus dan mudah teralihkan oleh pikiran-pikiran yang bermacam-macam. Aku ragu itu membuat nilai zikirku sia-sia saja, jadi aku putuskan lebih tidak usah berzikir dulu daripada berzikir tapi dianggap tidak sopan di hadapan Allah. Namun sekali lagi aku salah menilai kebijaksanaan dalam ikhtiar kehadirat-Nya.

Dalam buku ini juga disertai penjelasan yang ditulis oleh Imam Sibawai El-Hasany. Tapi penjelasan yang disertakan itu hanyalah referensi. Bagiku ada baiknya jika masing-masing pembaca memaknai sendiri kata-kata indah Al-Hikam sebab aku percaya setiap orang yang berbeda bakal dapat merelasikan isinya dengan permasalahannya masing-masing.

Al-Hikam telah mengubahku, merengkuhku begitu erat dengan jalinan pemahaman dan kearifan yang demikian tepat sasaran. Seperti perjalanan yang mengungkap setiap kegelapan diri, sementara menyadari bahwa masih selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Hikmah dari semuanya adalah kita tidak dapat menggantungkan kebaikan, kesabaran, ketenangan batin, serta anugerah kepada selain-Nya. Carilah solusi di jalan-Nya, maka niscaya kita akan diberi pandangan dan hati yang lapang sebab selama kita berpihak pada kebaikan dan kelembutan karunia-Nya, kita akan disambut dengan mesra di surga-Nya kelak dan senantiasa diberi kemudahan di dunia. Amin ya rabbal ‘alamin.

“Allahuakbar”

Tahukah kamu mengapa kita harus merasa kecil di hadapan Tuhan, selain karena ukuran kita?

Allahuakbar. Allah Maha Besar. Ketika melafalkan dzikir ini seusia shalat, aku mencoba membayangkan dan merasakan bagaimana kebesaran Allah SWT. Alih-alih membayangkannya secara harafiah dalam ukuran dan benda-benda yang Dia ciptakan, aku merasa bahwa tujuan lain dari kita memahami “Allahuakbar” adalah menyadari tentang kekerdilan hati kita yang mengharap agar diisi oleh kemuliaan-Nya.

Betapa kecilnya kita di hadapan Allah, tapi dengan melafalkan dan menghayati “Allahuakbar” kita meminta untuk diberi hati yang lapang di tubuh kecil kita, dipantaskan bagi kemuliaan dari kebesaran Tuhan lebih dari sebelumnya.

Allah Maha Besar juga berarti bahwa Tuhan adalah sumber yang tak akan habis bagi pertolongan dan peningkatan derajat seorang manusia.

Sama seperti kita yang mengharap naik jabatan atau gaji kepada atasan. Kan nggak mungkin kita meminta naik jabatan dari OB atau satpam yang tidak punya wewenang untuk hal itu. Untuk mendapat kebesaran yang lebih kan tentu harus meminta dari yang lebih besar dari kita.

Jadi bayangkan saja. “Allah Maha Besar…” Kebesaran seperti apapun yang kita minta, Allah punya. Naik jabatan, pekerjaan baru, lulus ujian dengan nilai sempurna, pasangan yang menyenangkan hehe, dan sebagainya.

Maka dari itu kebesaran Allah tidak hanya dapat diukur dari diri-Nya maupun ciptaan-Nya. Tapi juga dari kelapangan hati kita menerima kemuliaan Tuhan dan keikhlasan untuk memihak yang benar di jalan Allah

Kemudian akan Kami tunjukkan tanda tanda kekuasaan kami pada alam dan pada diri mereka, sampai jelas bagi mereka ini adalah kebenaran. Fussilat:53.