Sehari Tanpa Obat

Sehari kulalui tanpa obat. Efek terakhir Seroquel sebenernya udah mentok dalam arti ‘batas tidur sehat’ pas sekitar jam 9 pagi. Tapi dengan durjananya aku molor terus sampai setengah tiga sore. Hwahahaha.

Sejak mulai mandi sampai selama sisa sore pikiran udah diserbu secara bergerilya oleh memori-memori menyakitkan tanpa kenal ampun. Sampai nyaris terperosok kedalam depresi. Tapi kebetulan aku memang niat buru-buru ngejar shalat dzhuhur yang udah mepet banget. Jadi dibela-belain shalat dengan se-tuma’ninah mungkin, yang memang memberikan manfaat ketenangan. Setelah itu secara inisiatif aku sambung dengan dzikir Hamdallah (lagi mem-favoritkan dzikir ini, biar dibukakan pintu rezeki yang lebih lebar… Amin).

Tapi sebenernya krisis yang kusebutkan tadi terjadi setelah itu. Hampir masuk kedalam episode depresi. Tangan udah ngeremet-remet, garuk-garuk kepala, perasaan berat serasa besi berkarat. Nyaris panik. Tapi langsung aku antisipasi dengan nonton TV. Biar pikiran rame lagi dengan ide-ide kreatif TV swasta di Indonesia-ku ini. Terimakasih buat mbak-mbak dan mas-mas yang udah kerja keras di bidang broadcasting tanah air… T_T

Namun akhirnya aku ngabuburit dengan jalan ngaskus juga. Hehe.

Agak lama setelah ngaskus Makku pulang sambil bawa beberapa makanan untuk buka puasa. Panikku langsung reda karena menyadari Makku udah di rumah. Dan juga agak nggak sabar mau mastiin bahwa besok (yang berarti hari ini) kita memang bakal jadi ke Psikiater lagi.

Makku memang udah jadi kayak konselor sekaligus korban panik (=.=’) di saat aku “kumat”. Tapi juga yang selalu setia mendukung dan mendampingiku menghadapi Bipolar.

Meskipun aku tengah menjalani pengobatanku yang ketiga, aku tetep ngerasa nervous kalo harus berhadapan dengan Psikiater lagi. Terakhir kali aku ngobat adalah tahun 2009 dengan Psikiater yang sama. Jadi hitungannya pengobatan yang baru dimulai seminggu lalu ini memang ngulang lagi dari awal. Dan itu berarti obat-obatannya lebih mahal dibanding kalo emang udah jalan alias nerusin.

Karena itulah aku nggak mau mengulangi kesalahan yang sama. Dan ini mungkin kesalahan yang juga sering dilakukan banyak pasien lainnya, yaitu berbohong atau pura-pura udah sembuh atau merasa jauh lebih baik di depan Psikiater, biar nggak usah pengobatan lagi. Alasannya beragam. Misalnya aku yang memutuskan berhenti dari pengobatan yang pertama dan kedua karena nggak nahan sama efek obatnya, dan lantas nggak tega ngeliat duit ortu habis untuk obat-obatan yang memang nggak murah. Tapi sebenarnya itu tindakan yang salah.

Harga obat-obatan dan biaya konsultasi yang mahal memang kenyataan yang nggak enak. Tapi aku mulai sadar seiring umurku yang udah bukan remaja lagi, hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan. Dan itu bukan berarti aku harus menyerah sama penyakitku dengan anggapan aku bisa survive dalam jurang Bipolar selamanya tanpa bisa lebih merasa sakit lagi. Tindakan itu penting dan merupakan prioritas.

Sangat penting bagi setiap orang untuk menyadari bahwa selama masih bisa diperjuangkan, penyakit mental apapun (BUKAN BERARTI GILA), berat ataupun ringan harus ditindaki dengan langkah yang tegas dan konkret.

Masalah mengambil jalan spiritual atau alternatif itu bisa dilakukan kapan saja selama yang diprioritaskan adalah pengobatan medis. Spiritual dalam arti keagamaan sendiri sangatlah penting. Jujur aku baru menyadari bahwa sebenarnya yang aku butuhkan selama ini nggak bisa datang dari selain Allah. Ini masalah keterbukaan hati kita. Jika kita yakin dan optimis, Allah pasti akan memberikan jalan sesuai dengan kebesaran keyakinan kita itu.

Jika ada pepatah yang mengatakan “hidup itu adalah pilihan”, dalam kasus seperti ini hal itu benar-benar berlaku dan memiliki dampak yang signifikan. Seperti aku, setelah tiga kali pengobatan baru aku mulai sadar betapa meruginya aku selama ini bergantung pada pemikiran-pemikiran ‘produk’ Bipolar (yang memang bisa sangat powerful) tentang apa yang terbaik bagiku. Aku mulai lebih tawakal dan optimis dan menginginkan secara sadar ketersediaan jalan dan rezeki bagi diriku. Agar aku bisa mencoba lagi mengisi hidupku yang tidak kaya ini dengan kemafaatan dan positifitas yang diridhoi oleh-Nya.

Katakanlah! Kami sekali-kali tidak akan ditimpa musibat, kecuali apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kami; dan orang-orang yang beriman hendaklah bertawakal sepenuhnya kepada Allah itu.At-Taubah:51

Iklan

2 pemikiran pada “Sehari Tanpa Obat

  1. Iya ham, slama msh ada jalan utk sembuh, let’s get it..cb bygkan org2 bipolar zaman dulu pas ga ad obat, pdhl pgn smbh..kt yg sdh ada fasilitas medis n obat2an yg bs handle our disease, tp kadang tdk mau memanfaatkannya..kt ga ambil peluang utk sembuh..suka bandel ga mo mnm obt..

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s