Bagaimana Sih Hidup Sebagai ODB?

Menderita Bipolar berarti berurusan dengan PIKIRANMU sendiri. Your mind plays tricks to you tanpa kamu sadari. Nggak heran ODB (Orang Dengan Bipolar) bisa punya keyakinan yang aneh-aneh. Karena termakan sama konsep-konsep dan ide-ide yang dihasilkan dari kondisi gelisah yang berkepanjangan.

Aku biasanya paling betah ngeladenin pikiranku sendiri yang berdebat tentang banyak hal. Aku merasa AKU yang memegang kebenaran dan AKU yang memiliki jawaban paling waras dan bukan ‘dia’.

Bipolar juga identik dengan maknanya sendiri yaitu ‘dua kutub’. Kedua kutub itu adalah dua episode yang datang bergantian dalam frekwensi yang beragam. Ada yang ‘dapetnya’ sering, ada yang jarang. Dan ada yang ringan, ada yang berat.

Yang pertama adalah episode manik atau mania. Dalam kondisi ini perasaanmu penuh dengan keinginan yang menggebu-gebu. Entah itu untuk menyampaikan sesuatu hal atau melakukan kegiatan-kegiatan yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya.

Episode ini mendorong kamu jadi lebih sosial dari biasanya. Kadang aku sampai terpikir bahwa ini menandakan aku sudah sembuh/normal. Tapi kesenangan yang berlebihan itu nggak bertahan lama.

Kamu mulai menandai sikap orang lain yang nggak nyaman dengan semangatmu yang berapi-api. Kata-kata yang keluar dari mulutmu jadi memburu dan nggak jelas arah tujuanhnya. Pikiranmu ingin memahami semuanya sekaligus yang menyebabkan rushing thoughts. Kamu pun akhirnya sadar bahwa orang nggak ngeh atau antusias dengan yang kamu bicarakan.

Maka dengan gampangnya perasaan itu berubah menjadi perasaan down yang amat sangat, sampai-sampai kamu menyesali dan rasanya ingin menangisi semua yang sudah kamu lakukan. Disinilah kamu masuk kedalam kutub lain Bipolar, yaitu episode depresi.

Kondisi depresi ini jika dibiarkan berlarut-larut bisa berbahaya. Pikiran-pikiran tentang kesia-siaan hidup bisa berujung pada kesimpulan untuk mengakhiri hidup alias bunuh diri. Biasanya akan muncul gagasan-gagasan yang terdengar masuk akal, seolah mengeneralisir/menghalalkan tindakan bunuh diri. Dan waktu berlangsungnya juga bervariasi.

Fakta lain yang meliputi penderita Bipolar adalah masalah persepsi dan sensitifitas yang berlebihan. Kita suka mengira orang yang bisik-bisik di pojokan sedang ngomongin kita; ngomongin keanehan dan ke-“alien”-an kita. Dan kita juga suka nggak bisa toleran sama sikap orang yang kelewat cuek atau ekspresif sedikit aja bisa bikin kita berprasangka yang jelek-jelek, yang ujung-ujungnya cuma bikin stres dan masuk ke depresi lagi.

Tapi sisi positifnya, banyak yang mengklaim bahwa penderita Bipolar sangat kreatif dan inovatif. Mungkin karena terbiasa hidup dengan cara-caranya sendiri dan/atau ‘mengarang’ konsep-konsep tuntutan pikiran yang maunya mendefinisikan dan merumuskan segala hal.

Dengan Bipolar kita juga jadi lebih ‘nggak kaget’ dengan emosi-emosi ekstrim.

Seiring waktu aku merasa frustasi karena kehilangan perasaan-perasaan seperti kaget ataupun bahagia. Bukan kehilangan sih, tapi hatiku tidak memprosesnya secara alami, sehingga yang ada aku kelihatan biasa saja sama kejadian-kejadian yang seharusnya bikin orang merasa demikian. Otak menuntut kita memproses perasaan-perasaan itu dalam sekejap, entah karena menganggapnya “dangkal”  atau “kurang penting”. Tapi akhirnya jadi keder sendiri karena nggak bisa enjoy sama banyak hal kayak orang lain.

Episode-episode yang aku alami terbilang cukup rutin. Misalnya aku merasa hari “kumat”-ku itu berkisar Senin sampai Selasa. Rabu “libur”. Lalu Kamis sampai Jum’at, atau Jum’at sampai Sabtu. Tapi terkadang kalau aku bisa nahan sampai satu hari penuh, efeknya tetep akan muncul di hari berikutnya. Jadi misalnya udah ada tanda-tanda dan masuk episode di Jum’at-Sabtu. Pas hari Sabtunya ternyata aku bisa nahan dengan tekad kuat. Dan saat aku kira aku udah bisa lolos, eh pas hari Minggunya tiba-tiba ngerasa ‘diserang’ secara diam-diam dan tiba-tiba. Terus seperti itu di hari-hari lainnya, termasuk Rabu yang sering kuanggap ‘hari tenang’-ku.

Ending dari tiap episodenya beragam. Kadang-kadang dengan tindakan destruktif, baik itu ke perabotan (=.=’) ataupun ke diri sendiri. Tapi kebanyakan sih aku lalui tanpa tindakan yang berarti. Paling mukul-mukul wajah atau teriak kedalam bantal. Cuma kalo pas pengen banget ortu tau atau pas bener-bener klimaks dan nekad aja bisa sampe “berdarah-darah”. Demonstrasi lah istilahnya. Nyari perhatian. Haha.

Bisa disimpulkan bahwa aku melalui episode-episode Bipolar dengan frekwensi yang cukup rutin tapi nggak terlalu berat. Mekanismenya kayak bom waktu. Aku mungkin bisa nahan sampai beberapa bulan. Tapi habis itu meledak semeledaknya! Makku sampai nandain aku kumat yang paling parah itu setiap bulan Maret. Mungkin ada beberapa faktor yang menyebabkan bisa terjadi pola seperti itu. Tapi menurutku itu hanya kebetulan aja karena kondisi yang cenderung berulang.

Sekarang dengan circumstance yang lebih mendukung karena menjalani pengobatan aku jadi lebih peka jika episode manik ataupun depresi mau ‘tegur-semut’. Langsung aku antisipasi biar jangan sampe ‘bertamu’ di dalem. Karena memang nggak ada lagi kok yang bisa ngalahin penyakit yang kita derita selain diri kita sendiri.

Dengan mengikhlaskan hasilnya sama Tuhan dan terus ikhtiar kita akan bisa melewati masa-masa berat dengan lebih ikhlas, dan siap ketika Tuhan hendak menurunkan berkah-Nya. Amin. 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Bagaimana Sih Hidup Sebagai ODB?

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s