Hari Terakhir Puasa

Sejujurnya aku udah linglung dan nggak begitu ngeh lagi sama hiruk-pikuk Idul Fitri yang menjelang besok. Pertama, karena sakit. Kedua, perbedaan penentuan 1 Syawal yang setelah kutelusuri melalui tulisan-tulisan di blog-blog, cukup membuatku gugup dan mempertanyakan kepastian mana sebenarnya metode penanggalan yang paling bisa diandalkan. Ini sama seperti menyimak sudut-sudut pandang manusia yang berbeda-beda yang masing-masing punya teori mengenai apa yang mereka amalkan.

Aku membagikan apa yang kubaca di Internet kepada Makku lewat obrolan. Berkaitan dengan pergantian bulan yang terjadi pukul 10 pagi ini, aku bertanya, “Jadi puasa hari ini sah, nggak?” Satu jawaban Mak yang menurutku sudah cukup bagiku, “Ya niat karena Allah aja.” Dengan anggapan bahwa ibadah yang mungkin dihitung berlebihan lebih baik daripada kurang dari yang diwajibkan. Meski tentu saja ini masih belum cukup untuk mencapai keputusan global mengenai isu perbedaan yang kerap terjadi.

Ada analogi yang menurutku menarik yang dilontarkan Makku tadi. Yaitu mengenai peristiwa peletakan batu hitam atau hajar aswad. Rasul SAW meletakkan batu tersebut dengan mengangkatnya menggunakan kain selendang yang dipegang di empat sudut oleh pihak-pihak yang pada waktu itu berselisih mengenai peletakan hajar aswad ini. Mungkin ini bisa jadi teladan ataupun petunjuk agar kita, umat Islam modern dengan teknologi yang semakin berkembang, bisa segera mencapai keputusan bersama yang mengglobal mengenai penetapan waktu Idul Fitri tanggal 1 Syawal Hijriah.

Lain cerita, satu hari puasa terakhir ini Insya Allah aku sanggup selesaikan tanpa kendala. Aku masih rada lemes tapi toh aku nggak punya banyak kegiatan fisik yang berarti. Kalau dihayati, aku merasa agak rancu juga mau meninggalkan Ramadhan. Ini seperti bertemu seorang kenalan yang menyenangkan dan harus berakhir dengan perpisahan yang agak melankolis. Haha. Lebay. Tapi kita katakan saja, selepas Ramadhan, kita akan mulai menjalani hikmah yang kita dapat darinya dan inspirasinya tetap melekat dalam bentuk amalan maupun kreatifitas yang bernilai baik, sebagai bagian dari pribadi kita yang baru.

Semoga Allah memberkahi negeri ini dengan kemuliaan dan menerangkan jiwa-jiwa kita dan para pemimpin kita di hari yang fitri esok. Amin.

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s