Pelajaran Baru: Al-Hikam

Selama ditinggal sendiri lebaran kemarin, Makku meninggalkan sejumlah uang: syukur-syukur kalo tempat deposit pulsa udah buka jadi bisa langsung setoran; tapi kalo aku mau pake buat yang lain juga boleh.

Akhirnya agak sore aku pergi ke Gramedia, berburu bacaan baru. Sekitar setengah jam aku menelusur dan akhirnya kuputuskan mengambil dua buku dan membawanya ke meja kasir. Harganya juga cukup murah. Total harga keduanya tak sampai 80ribu rupiah.

Inilah kedua buku yang sangat kusukai itu:

Al-Hikam oleh Ibnu ‘Athaillah dan The Overcoat oleh Nikolai Gogol.

The Overcoat adalah kumpulan cerpen dari penulis Rusia Nikolai Gogol. Naskahnya pertama kali diterbitkan pada tahun 1842. Sudah lama aku ingin membaca karyanya ini. Salah satunya karena “Gogol” sendiri adalah nama panggilanku semasa kecil dan dikalangan teman-teman. Hehehe.

Gaya bercerita buku ini sangat menarik, ringan dan lucu. Mengangkat fenomena sosial di jaman itu dimana mantel (overcoat) dianggap sebagai tanda seseorang itu memiliki status sosial yang “tinggi” di kalangan masyarakat. Aku baru selesai membaca cerita pertama dan tengah membaca cerita kedua.

Namun sebenarnya buku pertama yang kubuka dan kubaca adalah Al-Hikam. Dan segera saja buku ini membuat aku tertegun oleh isinya.

Buku ini ditulis oleh Ibnu ‘Atha’illah al-Sakandari, seorang tokoh tasawuf yang merupakan murid dari Abu al-Abbas al-Mursi.

Al-Hikam adalah kitab yang telah lama jadi bacaan wajib di berbagai perguruan Islam selama berabad-abad. Kitab ini berisi kumpulan kata-kata mutiara yang “menggabungkan kematangan spiritual dan kekuatan keindahan sastra:. Kitab ini berisi panduan dan nasehat yang betul-betul mengena di hati siapapun pembacanya dan tidak mengenal perubahan zaman, yang berarti kapanpun kitab ini dibaca akan selalu sesuai dengan kondisi pada masa itu, diantaranya dikarenakan menyinggung perkembangan spiritual dan kecenderungan sikap seorang umat manusia dalam hubungannya dengan Tuhannya.

Secara pribadi, aku mendapat banyak sekali hikmah sekaligus “kritik” melalui buku ini terhadap cara-caraku beribadah kepada Allah. Secara keseluruhan, hikmah yang demikian signifikan sehingga aku merasa sulit menggambarkannya dengan kata-kata. Aku baru sadar ini adalah buku yang malam sebelumnya mau aku download ebooknya. Tapi entah kenapa file hasil donwloadnya rusak.

Tapi aku bersyukur pada akhirnya diijinkan Allah untuk mendapatkannya dalam bentuk buku fisik, meski tidak gratis.

Al-Hikam dianggap kitab yang berisi kata-kata mutiara yang ‘agak berat’ dan diperlukan sedikit-banyak proses pengajian untuk memahami maksud dan tujuan dari tiap 264 butirnya. Di pesantren kitab ini sering diajarkan oleh santri-santri tingkat atas. Namun kita sebagai orang umum bisa menganggap diri kita sebagai seorang salik atau seseorang yang mencari jalan menuju Allah dengan menjadikan kitab ini sebagai panduan, setelah Al-Qur’an.

Sejak awal kalimat buku ini langsung menyentuh dan menggelitik akal pikiran. Dan kata-kata mutiara berikut ini mungkin adalah salah satu butir Al-Hikam yang paling ‘tajam’ mengena bagiku:

Jangan engkau meminta kepada Allah untuk dikeluarkan dari suatu kondisi guna dipekerjakan pada kondisi lain. Sebab, jika memang menghendaki tentu Dia akan mempekerjakanmu tanpa harus mengeluarkanmu (dari kondisi sebelumnya).

Hikmahnya bagiku adalah, aku berpikir aku ingin sembuh total dari Bipolar agar aku bisa bekerja seperti orang-orang lain. Aku mengalami peningkatan dalam semangat ibadahku, tapi siapa sangka ternyata motivasiku sejak awal adalah keliru besar. Aku telah lalai dan dibutakan oleh keinginan dangkalku mengenai apa yang kupikir adalah yang terbaik bagi diriku.

Mestinya aku beribadah saja dengan lebih ikhlas dan tawakal sebagaimana tuntunan wajib dan sunnah-nya. Sikapku mengesankan seolah aku meragukan kedaulatan-Nya untuk memberikan yang terbaik bagiku.

Inilah hikmah besar dari kata-kata itu terhadap hidupku dan mengubah sikap dan pola pikirku dalam beribadah 100%.

Berikut ini beberapa lagi contoh mutiara Al-Hikam favoritku. Semoga bermanfaat juga bagi pembaca yang menyimak post ini:

Diantara tanda sukses di akhir perjalanan adalah kembali kepada Allah sejak permulaan.

Ikhtiar dan usaha adalah apa yang bisa kita kerjakan untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan di dunia dan akhirat. Namun sesungguhnya yang ‘mengesahkan’ semua itu adalah Basmalah dan doa yang kita ucapkan pada saat memulai usaha. Itu berarti kita melibatkan Tuhan secara langsung sehingga Ia akan selalu memerhatikan langkahmu dan senantiasa memberikanmu jalan yang terbaik.

Jika engkau tidak bisa berbaik sangka kepada-Nya lantaran keindahan sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya lantaran karunia-Nya kepadamu. Bukankah Dia selalu berbuat baik kepadamu dan mencurahkan berbagai karunia?

Kegagalan dan ketidakpuasan sering membuat kita berburuk sangka kepada Tuhan, tanpa memikirkan bahwa sebenarnya Dia sedang mengalihkan kita ke jalan yang lebih baik. Karena itu, untuk memperbaiki hubunganmu dengan Tuhan, lihat sekelilingmu, lihat kedalam dirimu, setiap sel yang bekerja di dalam tubuhmu dan alam sekitarmu adalah atas seizin-Nya. Bukalah mata hatimu untuk menyaksikan limpahan karunia-Nya yang luput dari penilaianmu terhadap-Nya.

Jangan tinggalkan zikir lantaran tidak bisa berkonsentrasi pada Allah ketika berzikir. Karena kelalaianmu (terhadap Allah) ketika tidak berzikir lebih buruk dari kelalaianmu ketika berzikir. Mudah-mudahan Allah berkenan mengangkatmu dari zikir penuh kelalaian menuju zikir penuh kesadaran, dan dari zikir penuh kesadaran menuju zikir yang disemangati kehadiran-Nya, dan dari zikir yang disemangati kehadiran-Nya menuju zikir yang meniadakan segala selain-Nya. “Dan yang demikian itu bagi Allah tidaklah sukar” (Q. 1:20)

Ini juga terjadi padaku tepat sebelum aku sampai pada butir ini. Aku memutuskan untuk tidak berzikir yang mulai kubiasakan setiap habis shalat, karena aku merasa (pada saat itu dan saat-saat tertentu) pikiranku sulit fokus dan mudah teralihkan oleh pikiran-pikiran yang bermacam-macam. Aku ragu itu membuat nilai zikirku sia-sia saja, jadi aku putuskan lebih tidak usah berzikir dulu daripada berzikir tapi dianggap tidak sopan di hadapan Allah. Namun sekali lagi aku salah menilai kebijaksanaan dalam ikhtiar kehadirat-Nya.

Dalam buku ini juga disertai penjelasan yang ditulis oleh Imam Sibawai El-Hasany. Tapi penjelasan yang disertakan itu hanyalah referensi. Bagiku ada baiknya jika masing-masing pembaca memaknai sendiri kata-kata indah Al-Hikam sebab aku percaya setiap orang yang berbeda bakal dapat merelasikan isinya dengan permasalahannya masing-masing.

Al-Hikam telah mengubahku, merengkuhku begitu erat dengan jalinan pemahaman dan kearifan yang demikian tepat sasaran. Seperti perjalanan yang mengungkap setiap kegelapan diri, sementara menyadari bahwa masih selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Hikmah dari semuanya adalah kita tidak dapat menggantungkan kebaikan, kesabaran, ketenangan batin, serta anugerah kepada selain-Nya. Carilah solusi di jalan-Nya, maka niscaya kita akan diberi pandangan dan hati yang lapang sebab selama kita berpihak pada kebaikan dan kelembutan karunia-Nya, kita akan disambut dengan mesra di surga-Nya kelak dan senantiasa diberi kemudahan di dunia. Amin ya rabbal ‘alamin.

7 pemikiran pada “Pelajaran Baru: Al-Hikam

  1. Ping balik: “Gaya Baru” Ngobat | The Moon Head

    • Ammiin.
      Al-Hikam memang, kalau diresapi, bisa nyekek diri sendiri. hihi. maksudnya isinya bisa bener-bener mengkritik kita yang maha tak sempurna ini, dan Insya Allah juga jadi mendorong kita untuk berbuat dengan lebih baik dari sebelumnya.🙂

  2. Ping balik: Beribadah Yang Ikhlas | The Moon Head

  3. Ping balik: Merindukan Passion | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s