“Gaya Baru” Ngobat

Aku kira hari ini tidak akan pernah tiba: kita memutuskan untuk beli obat dari luar!

Mungkin bukan hal baru bagi yang udah suka ngedrugs dengan Alpra dan obat-obatan lainnya, dalam arti dengan sengaja mengonsumsi obat-obatan ini tanpa resep dokter. Aku mengatakan ini dengan segala respek, tanpa maksud mendiskreditkan siapapun. Karena nggak semua orang pakai obat ini buat narkoba-narkobaan. Sebagian orang sengaja menggunakan obat sekedar sebagai obat penenang.

Nah, dalam kasusku, tentu saja kami meletakkan batas-batas medis dalam hal ini. ‘Tujuan mulia’-nya tak lain adalah biar kita bisa memotong biaya pengobatan seminimal mungkin. Dan menghindari konsultasi sampai tahunan.

Aku tahu minimal terapi pengobatan untuk penyakit mental umumnya 4-6 bulan keatas. Tapi karena kami selalu nebus resep untuk 10 hari, keseringan konsul lama-lama jadi momok tersendiri secara ekonomi. Karena udah pasti ditambah biaya konsultasi yang biasanya sekitar 100 ribu.

Nekadnya, dengan rencana gaya baru ngobat ini kita bakal motong Seroquel XR, yang notabene obat utama buat Bipolarnya, tapi juga yang paling mahal diantara ketiga obat yang kuminum. Alprazolam biasanya hanya dijadikan pendamping sebagai antidepresan. Sama dengan Zerlin (Sertraline) yang diminum di pagi hari. Bedanya, Sertraline diklaim punya efek samping yang lebih sedikit dibanding Alpra, dan memang ‘kodratnya’ adalah antidepresan. Sementara Alpra lebih berfungsi sebagai obat penenang dan anti-anxietas, tapi juga bermanfaat buat antidepresan. Kalau kalian tahu, salah satu merek dagang terkenalnya adalah Xanax.

Nah, mereka dagang ini juga nampaknya berpengaruh sama harga. Alprazolam 1mg yang generik harganya lebih murah. Harga satu strip (isi 10 butir) Rp75ribu, dibanding dengan yang bermerek dagang (Xanax, Alganax, dll) bisa Rp100ribu lebih. Alganax dalam resepku mengandung Alprazolam 0.5mg tiap butirnya. Jadi anggapan kasarnya sebagai orang awam, kan lumayan kalo bisa dapet Alpra yang 1mg dengan harga lebih murah, dan cukup diminum satu kali aja setiap hari.

Sebenernya kalo hal ini diketahui sama “sebagian orang” yang ketat banget soal perawatan medis mereka bisa flamming alias ngomel-ngomel atas ‘kenaifan’ kami (yang justru bikin orang dengan Bipolar jadi stres denger omelannya). Hahaha. Tapi kami melakukan cara ini secara sadar sebagai ikhtiar aja biar: 1. aku nggak jadi ketergantungan sama obat banyak dan dalam jangka panjang, 2. menghemat pengeluaran, 3. tentu saja meredam gejala-gejala Bipolar-ku.

Aku merasa (atau tidak merasa) sudah melewatkan semua masa-masa yang ‘biasanya’ tanpa/sebelum ngobat. It’s just…aku nggak peduli lagi sama seberapa menariknya gagasan-gagasan tentang bunuh diri dan tetek-bengeknya, dan semua keburukan yang menempel padaku. Kasarnya, biarlah aku berusaha survive dengan semua ke-“aneh”-ku. Setidaknya aku sudah berada di jalur yang positif. Jadi, yang ingin kukatakan pada dunia adalah: jangan “bujuk” aku mengenai kekuranganku, tapi bantulah aku mempergunakan kebaikan-kebaikan yang mungkin bisa kulakukan.

Jadi, intinya yang kami lakukan adalah membantuku hidup dalam semua kondisi yang ada. Karena bukan hak kita untuk menutut dikeluarkan dari suatu kondisi yang kita rasa kira buruk bagi kita, untuk dipindahkan ke kondisi lain yang kita pikir lebih baik. Sebab Allah mampu menempatkan kita pada kondisi yang lebih baik itu tanpa harus dikeluarkan dari kondisi sebelumnya. Don’t expect against His wisdom. (Ilmu dari Al-Hikam tuh. Hehehe.)

Aku udah pesan Alprazolam generik sama seorang penjual. Tapi Insya Allah baru bisa transaksi besok. Dia belum mau ngasih nomor rekening sebelum bener-bener serius. Rencananya kita mau pesan beberapa strip dulu. Keberhasilanku tidur nyenyak semalam kita jadikan prestasi yang memotivasi cara alternatif ini (menghilangkan Seroquel yang biasanya membantuku tidur di malam hari).

Dan aku yakin, jika Allah mengijinkan ikhtiar ini pasti Dia sudah sibuk mengatur segalanya untukku. Insya Allah. Amin.

Sungguh, ibadah dan dzikir manusia tidak akan bisa membalas karunia dan rezeki yang dilimpahkan-Nya pada kita.

Have a good life, all! πŸ™‚

Iklan

7 pemikiran pada ““Gaya Baru” Ngobat

  1. Ping balik: Baddest Day | The Moon Head

  2. aq jg bipolar lho mas.. ….bnrn seroquil itu ampuh bgt….hrgnya jg wuihhhh…tp cow q apoteker jd sebiji paling 20…..seroquil jg g bgtu brshbt bwt krj….q dpt yg dosis 5oogr…..uda ky sleping beauty….bayangin tdr 8-12 jam…tp
    ati2 y mas….tmn2q yg uda cnta mati am camlet….y tiap hri bsa abz 3 butir ngerasain kontra indikasinya….badan jd lemes 3hri mlz bgn….jd bulan2nanlah aq….keep spirit…ssma bipolar sling tuker pngalaman y:)

    • wah trims ya sharingnya. πŸ˜€
      walah kok sampe 3butir… saya seroquel 150mg (300mg dibagi dua) aja bangun tidur itu udah lemes banget. kalo tidurnya nambah lagi makin lemes…
      sip keep spirit. πŸ™‚

  3. Karena bukan hak kita untuk menuntut dikeluarkan dari suatu kondisi yang kita rasa kira buruk bagi kita, untuk dipindahkan ke kondisi lain yang kita pikir lebih baik. Sebab Allah mampu menempatkan kita pada kondisi yang lebih baik itu tanpa harus dikeluarkan dari kondisi sebelumnya. πŸ™‚ Sip Ham, bgs bgt tuh kata2nya, keep empowering people with powerful words…

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s