Family Thingy: Recovery

Udah beberapa lama sejak insiden yang menjadi mimpi burukku selama ini: “kumat” di depan keluarga saudara ibuku. Aku telah melakukan banyak hal mengecewakan dari segi perilaku. Namun insiden di depan keluargaku itu adalah yang pertama dalam usia ‘menjelang dewasa’-ku. Yang artinya tindakanku saat itu memiliki bobot tanggungjawab yang lebih berat bagi diriku ketimbang jika aku melakukannya sebagai anak yang lebih muda usianya. Tapi hikmahnya, bisa dikatakan saat itu merupakan titik balik bagi dedikasi yang lebih penuh terhadap penangangan medis atas kondisiku.

Tahun ini Allah mengijinkanku mencoba memulihkan hasil kerusakan yang kuciptakan dari insiden itu dengan keluargaku. Aku mulai menghubungi kembali keluarga besarku dalam rangka Hari Raya Idul Fitri. Plus, aku menikmati perjalanan ziarah hanya dengan orangtuaku. Dan aku mengambil sisi positif dari semua itu, meski aku akui menjalankannya tidak semudah menyapa, “Halo, apa kabar?”

Tapi itu semua sudah kulakukan. Aku percaya semua orang telah menempatkan diri mereka dalam posisi terbaik untuk menunjukkan dukungan mereka padaku selama ini. Dan meski tidak ada yang berubah mengenai ‘perbedaan umum’ antara diriku dan keluarga besarku, bisa dikatakan everything tends to turn out to be pretty cool.

Dan singkatnya, Alhamdulillah for everything. 🙂

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s