Baddest Day

Saking kacaunya judul bahasa Inggris-nya otomatis jadi selenge’an.

Apa yang telah kulakukan adalah suatu perbuatan yang bodoh dan tidak pantas ditiru, terutama jika kita sedang ngobat untuk masalah mental. Hasil dari apa yang kita putuskan beberapa hari yang lalu ternyata membuahkan hasil yang menyengsarakan. Di akhir-akhir aku sampai berpikir aku benar-benar akan meninggal! #PLAK!

Tiga hari tanpa obat karena menunggu pesanan Alprazolam yang telat (mungkin karena jasa titipan kilat jadi sangat sibuk di musim lebaran) menghasilkan malam-malam yang membuatku gelisah dan ngeri terhadap apa yang sedang terjadi padaku. Tiba-tiba putus dari ngobat itu ibarat kaca yang yang sudah dipoles dengan shampo sampai mengkilat dan berdecit jika digosok dengan ujung jari; tiba-tiba dari arah depan ada tabung gas yang terbang dan menabrak kaca yang sudah bening kesat tadi.

Di malam ketiga aku bener-bener bikin orangtuaku repot habis-habisan. Setengah satu dini hari di tengah udara yang sangat dingin, apalagi aku juga sedang agak sakit, Bapak dibujuk untuk mengantarku berkeliling mencari Alprazolam generik di apotik 24 jam dan rumahsakit. Akhirnya jelas, kita nggak bisa dapat karena nggak punya resep dari dokter.

Dengan kondisi yang sudah kayak gedung runtuh ala film Inception didalam badan dan pikiran, akhirnya aku mutuskan kita pulang aja. Bahkan kita nggak bisa dapet obat Lelap yang diharapkan bisa bikin aku beristirahat. Fuh, sisa-sisa perasaan malam itu masih bisa kurasakan di perutku.

Yang paling kutakutkan semakin menjadi. Kekuatan tubuhku kembali, seperti dulu, sangat penuh energi dengan tempramen yang mulai naik. Tapi masalah sebenarnya adalah krisi energi dan kegelisahan yang meninggi yang membuatku sulit bernafas. Aku nggak tahan sampai nangis-nangis di ribaan Makku.

Yang paling kutakutkan adalah, aku takut aku tidak bisa selamat dari diriku sendiri. Meski aku praktis tidak memiliki pemikiran untuk benar-benar bunuh diri atau semacamnya. Sempat terpikir bahwa sedikit nyilet bakal “membantu”, tapi aku pikir…tidak, itu tidak akan membantu meskipun dengan alasan terdesak atau terpaksa. Aku terlalu lemah atau tidak peduli lagi untuk melakukan hal-hal seperti itu lagi.

Akhirnya kita putuskan untuk nekad nyoba minta obat ke dokterku sementara kita tahu di hari Minggu (dan hari-hari libur) seperti ini beliau nggak buka praktek. Jadi intinya, karena mengetahui bahwa profesionalisme beliau demikian absolut sehingga adakemungkinan kita tidak akan digubris sama sekali, maka kita pun harus berlutut, memohon-mohon untuk minta sedikit waktu dan tenaganya untuk sekedar nebus resep yang biasa, lalu pergi menghilang dari jadwal liburnya.

Aku berdoa terus sama Allah, biar dilindungi dari segala hal-hal yang nggak diharapkan di saat genting seperti ini. Di dalam hatiku, entah bagaimana aku mendengarku suaraku sendiri yang mengatakan padaku agar aku bersabar, sebab ada kekuatan besar yang sedang menungguku. Aku percaya pada campur tangan Allah dalam kebanyakan urusan, terutama dalam hal seperti ini. Didalam kekalutan dan kehancuran yang tengah berlangsung didalam jiwaku, aku merasakan kekuatan besar-Nya yang sungguhlah tiada ‘kan enyah sebab sejatinya Dia selalu berada dibalik semua urusan manusia. Subhanallah.

Dan aku mendapatkan kekuatan itu, dan kebaikan hati dokterku yang…super sekali! Setelah menjelaskan dengan singkat dari balik pintu pagar yang masih digembok, dan dokter yang bicara dari balik jendela, dokter mau membukakan pintu dan kunci rumah prakteknya yang jaraknya cuma sekali ngesot dari rumah tinggalnya. Hehe. Beliau membuka pintu-pintu, menyiapkan ruangan, menyalakan komputer, sampai mengukur tensi darahku yang biasanya dilakukan suster asistennya. Beliau melakukan pekerjaannya yang biasa dengan dedikasi dan penguat tekad di jiwa-jiwa labil pasiennya yang tak pudar dari hari-hari sebelumnya.

Kado yang tak kalah menggembirakan dari ‘konsultasi baru-bangun-tidur’ tadi adalah bahwa akhirnya resepku dipotong! Alias ada obat yang dihilangkan. Yaitu obat antidepresan yang biasa diminum pagi, Zerlin (Sertraline). Dan itu murni karena aku sudah nggak membutuhkannya lagi secara analitis dari dokter (secara spesifik, berkaitan dengan pikiran-pikiran tentang harakiri yang menjadi salah satu pertimbangan yang dipandang dokter sangat penting; tapi semua itu udah sayonara… dari pikiranku, hehe).

Dari rumah Makku udah mengutarakan rencana untuk nebus obat nggak usah sampai 10 sehari seperti biasanya. Tapi ternyata, karena pengurangan Zerlin, langsung menghilangkan kekhawatiran kecil itu (karena aku juga diem-diem udah siap-siap nambahin dari uangku sendiri).

Dan akhirnya kita pulang dengan aku menggenggam dua bungkus obat dengan penuh ke-idam-an dibelakang Bapakku seperti anak kecil yang memegang permen lolipop warna-warni yang dibelikan orangtuanya dari pekan raya.

Masa-masa ‘sekarat’-ku pun pulih dengan kecepatan yang signifikan setelah aku tidur dengan begitu nyenyak. Saat ini badanku masih lemas dan kepala pusing, dibarengi rasa kantuk yang sedikit mengganggu, karena aku nggak mau jadi kekenyangan tidur yang bisa bikin pusing saat bangun.

Aku merasa konyol sekali. Kita pesen obat dengan roman udah kayak orang-orang tertentu yang biasa beli obat psikotropika yang dijual bebas untuk alasan-alasan ‘eksklusif’. Meskipun gagasan itu tetap kita junjung sisi positifnya karena kita nggak mau aku ketergantungan obat mahal terus. Seroquel adalah obat yang diformulasikan secara khusus untuk Skizofrenia dan Bipolar. Akan butuh waktu yang sangat lama untuk aku bisa bangkit dari Bipolar sendiri. Yang bisa kami lakukan hanyalah berusaha sebaik mungkin dalam kondisi ini tanpa bermaksud mengkhianati batasan-batasan apapun. Dan aku sangat kagum pada kemuliaan hati dokterku, yang menjadikannya pantas bagi berbagai ucapan syukur dan doa baik dari orang-orang yang ia tolong daripada ‘hal-hal aneh yang mengancam keselamatan jiwa-jiwa yang terinterupsi‘ yang tak terlihat oleh mata orang lain.

Hari ini, Minggu pagi yang dingin ini, adalah my baddest day. But that’s all. Dan aku senang menganggap kesadaran yang aku bangun saat tengah melaluinya saat itu adalah proses yang melibatkan berbagai hikmah yang membentuk satu bagian hidupku; bagaikan fibrinogen yang secara menakjubkan menutup luka dengan membentuk jaringan kulit baru (Bilogi dikit, hehe). Satu bagian hidup yang kusebut…well, ‘my baddest day’.

Iklan

Satu pemikiran pada “Baddest Day

  1. Ping balik: Bisakah Bipolar Dan Skizofrenia Sembuh Total? | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s