Film “HereAfter”

Hari ini aku untuk pertama kalinya aku telat balikin film-film sewaan dari rental langganan. Terpaksa ditagih 3,000 rupiah untuk tiga film berbayar (1 film bonus), jadi dendanya 9,000 rupiah.

Dua kali aku menyewa film setelah sekian lama. 7 film kutonton selama masa sewa masing-masing dua hari (biar hemat, hehe). Tapi hanya satu film yang, seolah-olah menjadi standar penilaianku terhadap film-film yang kusewa, aku salin ke hardisk laptop.

Filmnya memang bagus kok. Setidaknya menurutku. Judulnya HereAfter.

Film ini disutradarai sama Clint Eastwood loh! Aktor senior yang udah membintangi banyak film sejak mudanya itu, meski jujur aku nggak hafal filmnya apa aja. Hihi. Film ini sebenernya rilis tahun 2010. Tapi karena aku bukan moviegoer yang senantiasa ngantri di bioskop, aku biasanya cuma tahu film-film baru dari yang ada di rak rentalan doang.

Film Hereafter ini cukup unik. Formulanya seperti film Crash dimana beberapa tokoh yang berbeda latar-belakang diceritakan dari sudut pandang mereka masing-masing, lalu akhirnya dipertemukan oleh sebuah kejadian. Bedanya, di HereAfter tokoh-tokoh utamanya nggak sebanyak di Crash. Tepatnya ada tiga tokoh utama. Dan tema atau subyek yang diangkat adalah fenomena ‘kehidupan setelah kematian.’

Tokoh yang pertama yang diperkenalkan adalah Marie, seorang wanita Perancis yang terkenal di negara asalnya, karena ia adalah seorang pembawa berita yang tersohor dan merupakan bintang iklan billboard ponsel Blackberry. Hehe. Keren euy. Setingnya, kayaknya sih, waktu bencana gempa tsunami pada 26 Desember 2004 lalu. Marie yang sedang berjalan-jalan di salah satu tempat di Asia Tenggara (nggak tahu lokasi tepatnya, tapi yang jelas bukan Indonesia), menjadi salah satu korban tsunami yang merenggut nyawa banyak orang itu. Namun Marie mendapatkan sebuah pengalaman khusus. Yaitu disebut near death experience alias mati suri.

Tenggelam dalam air bah yang ganas, Marie ‘sempat’ meninggal, tapi hanya beberapa saat, sampai kemudian ia berhasil disadarkan.

Sejak peristiwa itu hidupnya pun berubah. Pengalamannya itu mulai memengaruhi kehidupannya, termasuk karirnya.

Masih di Eropa, tapi berbeda negara, yaitu Inggris, sepasang anak kembar Marcus dan Jason terpisah oleh maut ketika Jason, abangnya yang “lebih tua beberapa menit” tewas tertabrak mobil di jalan raya. Ibunya yang orangtua tunggal dan suka mabuk-mabukan tidak sanggup membiayai kehidupan mereka berdua sehingga terpaksa dipisahkan oleh dinas sosial dan Marcus dikirim ke keluarga barunya: sepasang suami-isteri yang sudah memiliki anak yang bekerja sebagai sekuriti.

Meski demikian Marcus masih merasa sedih dan hampa setelah kehilangan saudara kembarnya, Jason. Marcus memulai penelusurannya yang panjang dan secara sembunyi-sembunyi yang mengantarnya pada mengenal dunia metafisika dimana ia mulai berpikir bahwa, dengan suatu cara ia dapat berkomunikasi dengan arwah Jason!

Sementara itu, di seberang Samudera Atlantik, Amerika, George Lonegan (Matt Damon) adalah seorang pemuda lajang yang memiliki anugerah mampu melihat masa lalu orang lain dan berkomunikasi dengan arwah orang yang sudah meninggal. Namun karena merasa jengah oleh pekerjaannya sebagai cenayang, ia mencoba menjalani pekerjaan baru sebagai buruh bangunan, serta mengambil kursus memasak di malam hari dimana ia bertemu seorang gadis kharismatik bernama Melanie, yang baru pindah ke kota itu.

Awalnya hubungan George dan Melanie nampak berjalan mulus. Namun setelah Melanie mengetahui kemampuan spesial George dan berhasil memaksanya melakukan ‘pembacaan’ terhadap dirinya, Melanie jadi emosional sendiri karena ternyata George menyampaikan bahwa ia melihat sosok kedua orangtuanya, termasuk ayahnya yang belum lama ini meninggal dunia.

Gadis itu mulai emosional ketika George menyampaikan bahwa ayahnya ‘menyampaikan’ permintaan minta maaf atas “tindakan yang selalu dilakukan terhadapnya dulu”.

Kita bisa menduga maksud dari pesan itu. Misalnya, mungkin saja ayah Melanie dulu suka berlaku kasar terhadapnya saat masih kecil. Dan sejak malam itu Melanie tak pernah lagi menemui George.

Di Perancis, ketika Marie terancam kehilangan pekerjaan, terlebih ketika ia memutuskan untuk menulis ‘pengalaman istimewa’-nya di Asia Tenggara dimana ia mengalami ‘mati suri’ sebab atasannya sempat menekankan penolakan, meski pada akhirnya, setelah mengirimkan naskah buknya ke beberapa penerbit, ternyata ada dua penerbit yang tertarik menerbitkan buku Marie.

Kehidupan Marie kembali pulih meski dengan cara yang berbeda. Ia diminta oleh penerbit yang berbasis di New Mexico untuk datang ke sebuah pameran buku untuk sesi tanda tangan dan public reading yang diadakan di London, Inggris. Nah, disinilah ketiga tokoh utama itu bertemu.

George memutuskan meninggalkan penawaran abangnya untuk kembali menjalani profesinya sebagai cenayang dan pergi ke Inggris untuk menghibur diri, mengikuti sebuah tur yang menapak tilas tokoh sastra Charles Dickens yang menjadi idolanya. Melihat poster tentang pameran buku yang sedang berlangsung, George bergegas pergi kesana dan bertemu dengan Marcus. Bocah itu langsung mengenalinya setelah melihat website George di Internet sebagai cenayang. Selanjutnya, aku hanya bisa bilang, ceritanya tentu semakin menarik.

Harus kukatakan kisah Marcus dan saudara kembarnya adalah bagian cerita yang mungkin paling heart-breaking, bahkan mungkin bakal sampai menguras airmata. Aku aja masih merinding disko kalau mengingatnya. Hihi. Lebih jelasnya silahkan lihat sendiri filmnya. Hehe. (Nggak mau spoiler.)

Kesimpulan akhir: saat menonton film ini, bisa jadi keingintahuan kita mengenai subjek yang diangkat di film ini sendiri seolah terjun bebas di tengah-tengah film ketika kita terhisap kedalam situasi-situasi emosional para tokoh utamanya yang lumayan mengaduk-aduk emosi. Tak lupa, plot dan ending-nya juga prima untuk sebuah film drama kemanusiaan. Hahalaa… kayak yang bener aja nih komentarnya. Haha.

Pokoknya nggak nyesel deh kalau nonton film ini. Wajib dikoleksi, baik dalam bentuk DVD atau minimal ngopy dari VCD rentalan. Hehe.

Satu pemikiran pada “Film “HereAfter”

  1. Ping balik: Kafein? | The Moon Head

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s