Paradoks Obat

Hari ini Alhamdulillah aku pergi konsultasi lagi ditemani Makku. Hujan yang mengguyur lebat membuatku khawatir Makku jadi sakit, sementara doi udah makin disibukkan dengan kegiatan persiapan menjelang keberangkatan Haji-nya, yang Insya Allah dimulai dari tanggal 15 bulan depan. Tapi Makku bilang keadaannya baik-baik aja. Lagian hujan turun deras-derasnya pas kita udah lumayan deket, jadi nanggung kalo berhenti-berhenti dulu.

Selama konsultasi yang singkat, kami membicarakan beberapa hal dengan dokter. Khususnya tentang apa yang kurasakan setelah hilangnya Zerlin dari resep; yang membuat tempramenku lepas kendali dan suicidal thoughts yang kembali menghantui…

Dokter ingat (atau dengan cara memeriksa dokumen di komputernya) bahwa ia memang memotong resepku dalam ‘konsultasi dadakan’ di hari Minggu itu. Dan akhirnya, Zerlin dikembalikan lagi kedalam resep. Dokter juga menambahkan bahwa aku bisa mulai minum Alganax (alprazolam) satu kali aja sehari kalau memang merasa bisa stabil, serta menerima inisiatifku untuk minum setengah Seroquel aja setiap malam sebelum tidur. Sero pun dipotong jadi hanya lima butir untuk resep 10 hari. Rasanya agak janggal ketika melihat bungkus Seroquel tampak mengecil dari biasanya. Seperti ada yang kurang, begitu… Tapi itu untuk yang terbaik dan kita juga senang karena dengan begitu resep bisa tetep lebih murah seperti ketika Zerlin dipotong.

Waktu kita tanya apakah bisa minta resep dari dokter supaya bisa beli obat dari luar/apotek, beliau bilang kalau beli obat dari luar itu bisa lebih mahal. Makanya banyak pasiennya justru minta beli dari dia, katanya.

Kalau diingat-ingat lagi, memang benar perkataan dokter. Sewaktu aku dan Bapak pergi di tengah malam menjelang ‘kehancuran’-ku tanpa obat beberapa waktu lalu, kita diberi informasi sama seorang bapak-bapak yang bekerja di rumah sakit Dr. Rusdi, Jl. Glugur, bahwa kalaupun kami bisa tebus obat tanpa resep dari apotek pada waktu itu  (dia merekomendasikan dua apotek besar untuk membantu pencarian kami), mereka (orang apotek-nya) biasanya ‘ngambil’ komisi 30% dari harga asli obatnya, alias dinaikin, untuk pemasukan mereka.

Jadi, kesimpulannya,…oke, kita udah settled dengan keputusan untuk memprioritaskan ngobat lewat psikiater. Mungkin memang belum saatnya aku bisa ngobat dengan cara yang lebih ‘fleksibel’, demi kebutuhanku sendiri.

***

Kenapa judulnya aku sebut “paradoks”, yaitu karena selama ini aku mengira aku selalu dan hanya bisa mengandalkan alprazolam, sampai sempat terpikir untuk minta naikin dosisnya. Tapi ternyata, Zerlin (sertraline), yang awalnya aku nilai hanya sekedar antidepresan dengan efek samping lebih minim yang diminum di pagi hari; nggak kalah gede, masiv dan besar perannya bagi kestabilan emosiku.

Sekarang aku udah lebih ngerti pentingnya kontinuitas ngobat. Pengobatan itu memang  harus dijalani dengan sabar dan tawakal, biar perkembangan kesembuhannya nggak ngadat-ngadat dan harga resepnya nggak semahal jika harus ngulang ngobat dari awal, baik karena baru mulai atau putus-putus seperti yang pernah kulakukan di tahun-tahun sebelumnya.

Di balik itu semua, aku percaya Allah ta’aala masih mau melibatkan berkah-Nya dalam perjalanan ngobatku. Lillahi rabbil ‘alamin. Walhamdulillah…

Iklan

4 pemikiran pada “Paradoks Obat

  1. Iya ham, sptnya susah utk bipolar lepas dari obat..kt sabar aja minum obat smpe gejala2 bener2 ga ada lg (minimal 6 bulan),br bs coba utk lepas sedikit2..ini demi kebaikan jangka panjang kesembuhan kt jg, spy ga bolak balik relaps..

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s