Fiksi

Ngomongin keinginan menulis fiksi seperti yang sedang aku lakukan sekarang ini sebenernya hanya alasan untuk menjauhi dari memulainya. Hahaha. Habisnya banyak ‘kotoran’ yang mengganjal motivasi untuk itu. Salah satunya trauma halus akibat beberapa kali ditolak penerbit.

Waktu itu aku sebenernya sadar karya-karyaku tidak ada yang prima. Maksudku, itu penting (mengirim naskah yang paling prima yang kita miliki) ketika kita mau mengirimkan naskah ke penerbit, apalagi penerbit besar seperti Gramedia.

Masalahnya aku tidak pernah bisa mempertahankan intensitas dan motivasi dalam membuat karya tulisan. Karena itu aku butuh sesuatu yang benar-benar longgar sehingga membuatku nyaris lupa pernah membuatnya ketika selesai dikerjakan. Untuk itu dibutuhkan inspirasi yang besar. Bisakah itu dilakukan? Hanya Tuhan yang tahu.

Sebenarnya aku pernah melakukannya sekali. Pekerjaan menulis yang menyenangkan meski aku sadar karya itu ringkih dan tidak sebaik aspek imajinasinya. Berakhir dengan sebuah ‘novel’ 200-an halaman HVS dan ‘kucetak’ menjadi buku 400-an halaman ukuran A5. Tapi seperti yang kubilang, karya-karyaku ringkih dan tidak kokoh. Entah karena dibuat saat aku masih sekolah atau karena aku memang selalu tidak ‘sebagus itu’ dalam hal menulis.

Yang terbaik adalah tetap membaca dan membuka pikiran. Mungkin suatu hari aku akan sedang mengerjakan tulisan fiksi yang menyenangkan bagiku dan bagi siapapun yang membacanya.

What a dream.

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s