Ikhlas Dalam Beribadah

Agak mengulang topik yang pernah kubicarakan, aku akui aku belajar banyak dari Al-Hikam. Belum pernah aku belajar sebanyak itu dari sebuah buku. Kitab ini memang sungguh powerful dan penuh makna. Tidak heran jika kitab ini dijadikan panduan oleh banyak orang dalam membenahi sikap dan cara beribadah kepada Allahu ta’aala.

Aku jadi sadar bahwa banyak tindakan dan sikap kita dalam beramal  yang justru mengganggu aliran karunia Allah kepada kita sebab kita menyalahi dalam prosesnya.

Misalnya, sesungguhnya lebih baik kita susah konsen dan khusuk saat beribadah ketimbang nggak ngelakuinnya sama sekali. Dan bahwa kita nggak bisa meminta Allah untuk mengubah suatu keadaan, sebab hanya Dia yang tahu apa yang terbaik bagi diri kita. Perbuatan baik kita-lah yang menjaga agar kebaikan-kebaikan dari-Nya tetap mengaliri kehidupan kita.

Jujur aku pun, kalau disadari sekarang, sering menganggap kegiatan ibadah itu sifatnya pasif dan hanya berpusat pada diriku, kepentinganku dan harapanku tanpa memikirkan kepada siapa aku meminta. Allahumaghfirlii. Untuk itulah hendaknya kita ikhlas dalam beribadah karena Allah.

Menurut yang aku simpulkan dari Al-Hikam, gangguan dalam beribadah itu (biasanya) ada dua. Pertama, ketika kita sulit khusuk dan berkonsentrasi dalam beribadah. Kedua ketika kita berusaha terlalu keras untuk ‘terhubung’ dengan Allah, sementara kita tahu Allah itu “lebih dekat dari urat leher kita sendiri”. Kedua gangguan itulah yang dapat merusak atau mengganggu kemurnian dan konsentrasi dalam ibadah yang kita lakukan.

Sekilas nampaknya sulit dan jadi serba-salah. Lalu gimana dong ibadah yang ikhlas itu?

Aku bukan ahli, apalagi ustadz atau ulama. Tapi aku biasa menggunakan sebuah ‘trik’ pola pikir yang cukup membantuku dalam mengingatkan diriku kalau udah suka nggak konsen waktu shalat atau dzikir. Yaitu, menganggap diri kita kayak waktu baru belajar shalat dan doa, seperti waktu masih kecil dulu. Dengan begitu kita jadi lebih perhatian sama doa-doa yang kita ucapkan dan gerakan-gerakan shalat yang kita buat. Tujuannya supaya kita beribadah sebagai sepolos-polosnya manusia yang nggak ada apa-apanya diantara jagat raya yang luas ini.

Merasa takutlah ibadah dan doa kita nggak sampai karena saking kecil, mungilnya kita. Tapi sandarkanlah segala keputusan terbaik pada-Nya, sebab nggak ada lagi selain diri-Nya, yang ada di balik gemilangnya cahaya matahari, sampai debu terhalus di angkasa hampa udara; dibalik lahirnya kita ke dunia, sampai dewasa, mengalami berbagai pengalaman hidup, sampai tua dan termangu mengenang masa muda kita. Semua itu nggak lepas dari campur-tangan-Nya.

Karena itulah jangan biarin urusan dunia kita jadi penghalang bagi kita untuk dapat menyaksikan kemulian-Nya. Karena hanya keadaan duniawi dan kita sendiri lah yang selalu berubah. Sementara Dia nggak pernah berubah dengan segala kemuliaan sifat-sifat-Nya. Karena itu, paling baiklah jika kita menaruh standar atas segalanya kepada Dia yang kekal, ketimbang ciptaan-Nya yang nggak stabil dan nggak abadi.

Setuju, nggak? Hehe. Semoga aja apa yang aku sampaikan bisa dipahami dengan sebaik-baiknya bagi siapapun yang membaca.

Semoga kita menjadi Muslim yang lebih baik setiap harinya. Ammiin. Segala puji bagi Allah.

4 pemikiran pada “Ikhlas Dalam Beribadah

    • wah, pak guru rusydi, sepertinya khuruj fi sabilillah ini sangat luarbiasa jika dijalani. meski saya belum bisa membayangkan melakukannya sendiri. hehe. terimakasih atas kunjungan dan komentarnya.🙂

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s