Yang Gede Menginspirasi Yang Kecil-Kecil

Kemarin sambil-lalu aku menyimak sebuah acara bincang-bincang yang membahas tentang pendidikan, khususnya ‘fenomena’ tradisi tawuran yang kerap terjadi, yang biasanya tiap pergantian tahun ajaran.

Ada anekdot yang dilontarkan salah seorang narasumbernya dari kalangan pendidik yang aku nggak ingat namanya: kalau pelajar di Singapura, menjelang pulang mereka sekolah berdiskusi dengan teman-temannya untuk membuat karya ilmiah, sementara pelajar Indonesia, kalau pulang sekolah itu yang diobrolin, “Anak sekolah mana nih yang bakal kita bacok….?” Itu gambaran kasar, meski kenyataannya memang benar.

Pemerintah kita biasanya merancang solusi-solusi pendidikan yang sifatnya sistematis. Dengan demikian, penerapan sebuah program atau sistem baru dilakukan untuk membentuk kepribadian pelajar yang lebih bermoral dan ‘akur’ dengan ilmu yang diajarkan di sekolah. Ada banyak studi banding yang sudah dilakukan, tapi secara luas tidak menunjukkan perubahan yang signifikan, khususnya mengenai kecenderungan kekerasan diantara pelajar.

Kalau menurutku, pembentukan moral dan mentalitas pelajar di Indonesia itu nggak cukup hanya dengan penerapan sistem-sistem baru. Lagipula sosialisasi dan penerapan program-program pendidikan itu bukan hal instan. Ada aja isu-isu yang mengindikasikan kemundurannya.

Dalam sebuah jurnal-berbayar di situs Journal of Cross-Cultural Psychology, beberapa orang dari Brunel University membandingkan budaya orang-orang Hongkong dan Ingggris dengan orang-orang dari Malaysia dan Indonesia. Menurut jurnal tersebut, orang Eropa memiliki pandangan yang lebih beragam terhadap sebuah ketidak-pastian, baik secara lisan maupun angka, daripada orang Asia dalam situasi-situasi yang tidak pasti. Ini dipengaruhi juga oleh perbendaharaan ekspresi probabilitas dalam bahasa Indonesia dan Melayu. Dan bahwa orang Asia menghadapi suatu ketidak-pastian tidak dengan cara lisan maupun angka.

Dari jurnal berjudul “Cultural Differences in Probabilistic Thinking” itu, aku mengambil kesimpulan bahwa orang Asia kurang bisa terbuka terhadap berbagai kemungkinan yang tidak pasti. Sementara orang Eropa lebih terbuka dan memiliki pandangan masing-masing ketika dihadapkan pada sebuah probabilitias.

Orang bule biasa melakukan ‘hal-hal hebat’ sekedar untuk diri mereka sendiri. Mereka menunjukkan pada orang lain bagaimana cara memperlakukan diri mereka melalui kegiatan-kegiatan yang lebih luas jangkauannya yang sering mereka lakukan. Sementara orang Asia, selain karena batasan-batasan dalam norma agama dan budaya, lebih bergantung pada sesuatu yang lebih besar seperti komunitas dan masyarakat, misalnya pola pikir atau trend yang dianut oleh orang banyak.

Kita lebih suka jika diberi sajian-sajian yang menginspirasi, tapi agak kurang bertenaga dalam mewujudkan inovasi-inovasi besar dan signifikan yang kontribusinya benar-benar nyata dalam komunitas yang lebih luas.

Karena itulah, aku berpikir, sistem dengan gagasan sebesar apapun, tidak bisa berjalan dengan sendirinya tanpa dorongan praktis, tegas dan bertenaga serta mampu menciptakan keterhubungan secara individual sebagai subjeknya.

Atau, gagasan yang sebenarnya ingin kusampaikan yaitu, kita bisa mendorong para ilmuwan dan cendikiawan kita yang memiliki dedikasi tinggi untuk menciptakan inovasi-inovasi besar dan signifikan yang kontribusinya meluas dan disahkan secara nasional.

Dan nggak usah jauh-jauh nyari tenaga atau SDM dari luar negeri.

Anak-anak bangsa kita sudah banyak kok memenangkan olimpiade sains dan teknologi. Itu tandanya kita adalah negara yang penuh dengan orang-orang ‘jenius berotak-kiri’ yang siap digabungkan untuk menghasilkan sumbangsih yang nyata dari mereka bagi kemajuan bangsanya. Demi mewujudkan budaya progresif yang tidak hanya menguntungkan orang-orang yang bekerja untuk negara saja.

Ciptakanlah hal-hal besar. Karena sifat umum masyarakat sangat kritis terhadap fasilitas atau apapun ‘produk’ yang dibuat, dirilis dan disahkan oleh pemerintah. Tapi biasanya pembahasannya nggak jauh-jauh dari vandalisme yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Jarang kita benar-benar membahas keefektivan fasilitas-fasilitas yang dibuat oleh pemerintah itu sendiri, karena masih banyak golongan masyarakat yang bahkan nggak ngeh dengan teknologi dan/atau mekanismenya. Jadi kesannya asal mengadaptasi apa yang ada di negara lain, tanpa penyesuaian yang berarti dengan kondisi masyarakat lokal.

Coba pikirkan bagaimana peluncuran astronot ke bulan menginspirasi anak-anak di Amerika. Bagaimana teknologi-teknologi yang katakanlah ‘digembar-gemborkan’ negaranya sendiri menginspirasi rakyatnya untuk menciptakan sesuatu dari gagasan mereka sendiri.

Karena itu, pemerintah harusnya menyingkirkan sejenak jabatan atau mungkin ‘harga dirinya’ dan ngobrol santai tapi serius dengan penggagas-penggagas muda yang memiliki visi-visi besar. Produk yang dihasilkan kiranya akan lebih mudah akrab dengan masyarakat karena visi mereka biasanya berasal dari pengamatan terhadap lingkungan hidupnya sendiri.

Produk-produk besar inilah yang akan menginspirasi sekaligus menantang masyarakat untuk  “menciptakan-kembali sesuatu yang hebat versi mereka sendiri.”

Negara perlu sedikit ‘sombong’ dan sekaligus naif dalam mematenkan berbagai inovasi sarana dan prasarana umum untuk merangsang masyarakat yang lebih kritis dan ‘gatal’ untuk berinovasi secara mandiri demi komunitasnya. Inilah yang kiranya akan menciptakan desentralisasi lokal yang berlaku secara luas dan menjadi trend komunitas sosial di semua daerah.

Produk-produk besar dari pemerintah akan merangsang terciptanya masyarakat yang berani menciptakan inovasi-inovasi skala kecil bagi komunitasnya dan juga dalam sektor pendidikan. Membentuk mentalitas yang kreatif serta mengikis budaya destruktif dan kekerasan dari wajah pendidikan Indonesia.

Iklan

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s