I Can Be Anything! Or Can’t I?

Sebagai anak kecil, aku sudah ngerasa hidupku nggak kokoh, karena aku nggak punya karakter yang solid. Aku menghabiskan sebagian besar masa kecil dan remajaku meniru hampir semua orang. Maksudku, aku pikir aku bagian dari sebagian orang, kemudian bagian dari sebagian orang lainnya. Tapi ketika sendiri, aku merasa begitu kesepian, bahkan dari diriku sendiri. Seolah pada akhirnya aku harus menerima bahwa aku bukan siapa-siapa, hanya figuran yang hadir di kehidupan orang-orang lain. Setelah adegan selesai, aku akan kembali mendekam di gudang properti seperti benda mati.

Orangtuaku, meski mereka adalah figur-figur istimewa dalam hidupku, nampaknya tidak membinaku sedemikian rupa sehingga aku memiliki karakter yang kuat, atau mungkin kita bisa salahkan semuanya pada ketidakseimbangan kimiawi otakku. Hehe. Orangtuaku, mereka memiliki latar-belakang yang kompleks dan cukup untuk hidup mereka sendiri. Masing-masing dari mereka memiliki berbagai pengalaman yang banyak dipengaruhi oleh gagasan pribadi, orang lain dalam pergaulan dan kehidupannya. Tapi mereka mungkin tidak menyangka bahwa ternyata aku butuh hal-hal yang paling mendasar untuk hidup, sesuatu yang mungkin bisa mereka persiapkan untuk diajarkan padaku. Ketika sebuah keluarga ‘terjadi’, pada akhirnya mereka harus dialihkan oleh tekanan dan tuntutan seputar uang, biaya, dan tagihan. Dan kemudian aku datang dengan cara-cara ngelanturku dan ledakan emosiku dan segera membuat hidup mereka menjadi lebih absurd dari yang mereka butuhkan.

Kebanyakan orang adalah orang-orang rasional dan logis, seperti yang selalu kuocehkan dalam kepalaku. Termasuk keluarga ibuku, Makku. Tapi meski begitu, Makku dan abangnya, Pakdeku memiliki cara yang berbeda-beda dalam sedikit atau banyak hal. Pakdeku mengalami kehidupan yang lebih keras, penuh perjuangan dan jatuh-bangun selama masa mudanya. Dia menjadi lelah di usianya sekarang, bekerja sebagai kontraktor, meski dengan berbagai kecukupan. Dan dia sering membagikan pandangan hidupnya kepada keluarganya. Pandangan-pandangan dan aturan-aturan hidup yang ia pahami dari pengalaman hidupnya sendiri, misalnya satu yang merasukiku baru-baru ini.

Berbeda dari Makku yang bisa sampai menangisi berbagai masalah yang diderita keponakan-keponakan dan keluarganya, Pakde, abangnya, ia benar-benar menjadi seseorang cenderung untuk ‘cukup memikirkan kebutuhan dirinya sendiri’; tidak perlu mengurusi urusan orang lain jika memang kita tidak memiliki tanggungjawab untuk itu. Bukan berarti egois, meski aku sering berpikir orang-orang yang terlalu logis itu cenderung menjadi ‘picik’, tapi membentuk pola pikir bahwa kita tidak bisa selalu bergantung pada orang lain. Kita hanya perlu melakukan semuanya sendiri, meski itu akan berakhir buruk, memalukan atau gagal total. Pencapaian utamanya bukan lagi keberhasilan atau kesuksesan dalam hal apapun, tetapi bagaimana kita bisa selalu menemukan jalan untuk berubah dan keluar dari keadaan yang terlanjur menjadi kacau dan hancur. Itu yang akan secara otomatis membawa kita pada hal-hal yang lebih baik dan pada akhirnya kesuksesan, apapun definisinya.

Setidaknya itu yang aku cerna dari kata-katanya. Ia mengatakan betapa pentingnya untuk hijarah. Yang bisa berarti pindah secara harfiah, berubah, berganti dan mencoba hal-hal lain yang lebih membaikkan diri kita dari cara-cara sebelumnya. Dan kita hanya butuh diri kita sendiri untuk bisa melakukan semua itu. Pemicunya tak lain adalah kemauan.

Itu, bagiku, seperti menubruk tembok hingga hancur pada satu titik di Tembok Besar Cina. Artinya, usaha itu hanya akan signifikan bagi diri kita sendiri, tanpa perlu mengacaukan/mencampuri pikiran semua orang.

Aku tidak bisa membayangkan aku bisa berubah dengan pola pikir semacam itu, meski mungkin sesuatu yang kimiawi dalam tubuhku mengakui bahwa aku bisa menerima itu dengan sangat baik. Itu mungkin sebuah cara yang baik untuk menjadi lebih asertif. Itu bahkan mungkin cara yang sempurna untuk mencerna dan memproses segala ide dan rencana praktis, seperti yang sering dimotivasikan oleh dokterku.

Jadi haruskah aku menjadi seperti itu, menjaga jarak dengan urusan orang lain, atau menjadi lemah-lembut dan suka menawarkan bantuan, atau kembali menjadi badut merangkap properti tak bernyawa seperti saat-saat aku mencari perhatian sebagai badut kelas yang tak bertahan lama?

Mungkin aku masih seperti yang dulu, masih mencari jati diri dan meniru orang lain. Mungkin ini semua, hidup dengan Bipolar, menerima kehidupan kemudian menghancurkannya dengan semua kekonyolan, adalah cara untuk membentukku menjadi sesuatu yang lain. Atau aku hanya perlu selalu menemukan cara untuk keluar dari saat-saat terburuk tanpa menjadikannya trauma di masa depan. Yeah, aku butuh yang satu itu.

Namun, pada titik ini, bahkan, aku rasa aku (masih) bisa menjadi segalanya. Hanya mungkin pilihannya jadi lebih sempit. Dan, tentu saja, itu berarti baik.

2 pemikiran pada “I Can Be Anything! Or Can’t I?

    • iya, mas asop…
      terkadang saya canggung untuk nikmatin apa yang saya kerjakan. saya nggak tahu kapan harus berhenti ketika tindakan dan cara saya nggak sesuai, karena jarang sekali ada yang menilai tindakan saya. jadinya saya nggak tenteram ngerjain entah yang baik ataupun yang kurang baik karna saya nggak tahu mana yang lebih bermanfaat buat saya.

      thnx udah mampir n komen.πŸ˜€

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s