Egoisme

Aku bersyukur ketika aku menyadari egoisme seseorang. Meski rasanya masih mengecewakan. Aku tidak tahu darimana akarnya pembawaan sifat “Drama Queen” yang ada pada semua orang, termasuk diriku. Ada saja orang-orang yang egoisme-nya begitu jelas dan membuat kita sulit mengeluarkan pendapat untuk menciptakan diskusi yang mendukung suatu topik, karena orang itu maunya hanya pengalamannya saja yang diakui, dan orang lain tidak mungkin menyamainya.

Di satu sisi egoisme yang kentara seperti itu tampak seperti sesuatu yang dangkal, naif dan menyedihkan, namun lebih baik ketahuan dari awal ketimbang ketahuan belakangan dari egoisme yang terpendam. Hanya saja sifat egois yang membuat orang selalu menekankan pendapatnya sendiri tidak akan membantu menyelesaikan apapun. Mereka hanya menggebu untuk menyampaikan pendapatnya, sambil mempersiapkan bantahan terhadap pendapat orang lain. Itu membuat orang-orang lain yang berharap menemukan jawaban menjadi bingung karena orang egois menciptakan kebuntuan dan ia mempertahankan itu dalam diskusi. Sehingga sebenarnya ia tidak menginginkan diskusi, tapi hanya ingin memancangkan otoritas dirinya seorang.

Aku sangat benci ketika terlibat dengan orang-orang seperti ini. Aku bisa sangat frustasi dan marah karena orang egois seperti ini sangat menyulitkan. Dan ia memaksakan kesulitan itu untuk ditimpakan pada orang lainnya, sementara ia berandai-andai sendiri mengenai apa yang dimilikinya. Bahkan sangat sulit, dan memberatkan, ketika aku ingin menyampaikan kecemasanku pada masalah yang terjadi karena mereka akan menganggap itu sebagai sesuatu yang akan menyaingi pendapatnya. Bodoh sekali. Orang egois semacam itu selalu menempatkan beban di kepalaku, membuatku stres dan emosi lalu meninggalkanku, mencegahku untuk mengeluarkan pendapat. Itu terlalu konyol untuk kuurus karena aku punya masalah yang tidak dipahaminya. Dan di situasi seperti ini aku hanya bisa pergi menjauh dan berusaha melupakannya sebelum aku meledak karena depresi.

3 pemikiran pada “Egoisme

  1. terkadang sulit ketika kita dalam keadaan seperti itu. Disatu sisi, manusiawinya kita mencoba membela diri walau dalam keadaan salah dan terkadang kita merasa munafik ketika mempertahankan diri tersebut. Dari tulisan mas, saya bisa merasakan itu semua. Justru ketika menghadapi suatu ke egoisan, saya justru diam dan membuktikan apa yang menjadi pendapat saya ketika menanggapi orang yang memiliki tingkat ke-egoisan tinggi. Ego juga penting, tapi ada kadarnya.🙂 semangat yah

    • saya cuman bingung aja mas. apa yang diomongin orang itu seharusnya lebih membuat saya khawatir. tapi ketika saya menyampaikan pendapat, seolah-olah dia yang memegang kendali atas semuanya dan mencoba mengeneralisir omongan. saya kan bingung. wong maksud hati gimana supaya semua orang merasa tenang, tapi dia sibuk merasa istimewa karena mengalami sesuatu yang berhubungan dengan masalah. yah akhirnya kan saya lebih baik udahin aja ngobrol sama orang seperti itu, daripada pegel hati, karena yang saya pentingkan adalah masalah yang sebenarnya. terimakasih atas komentarnya mas.

  2. maaf jika post ini terlihat ‘tidak ramah’. saya hanya sedikit frustasi menghadapi beberapa orang yang tidak berubah dan menyulitkan perasaan saya tanpa diminta. bagaimanapun ini semua sebenarnya berhubungan dengan keluarga saya. jadi saya harap siapapun yang mungkin akan membaca post ini tidak merasa tersinggung atau tidak nyaman. salam sejahtera.🙂

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s