Kebutuhan Akan Shalat

Lecet-lecet di tangan kananku tampak lebih parah dari yang sebenarnya. It looks awful. Kayak yang kecelakan parah gimanaa gitu. 😦  Bahkan saat ini aku masih menahankan perih yang menusuk-nusuk dan lumayan mengganggu. Aku harap sih besok luka-lukanya udah nggak terasa pedih lagi, khususnya kalau harus terkena air.

Karena itu, sejenak sebelum shalat Isya tadi, aku menimbang-nimbang apakah harus tetap menyegerakan shalat atau menunggu sebentar sampai gel obat  luka yang kuolesin ke tangan rada kering dulu. Di saat itulah muncul perasaan khawatir dan ganjil, rada-rada ngerasa berdosa gimana gitu karena harus nunda-nunda shalat. (Lagi latihan shalat tepat waktu. Karena menurut yang aku tahu itu adalah salah satu bentuk jihad fii Sabilillah. :))

Karena itulah aku ngerasa nggak enak karena luka-lukaku bikin aku ragu untuk segera shalat. Dan selama menunda itu, sambil nonton On The Spot di TV, diskusi kecil ini terjadi di dalam kepalaku:

Mungkin ini ada hubungannya dengan kecelakaan kecil siang tadi yang bikin tanganku lecet-lecet. Itu poin nomor satu. Cek! (Aku jatuh dari motor karena ngerem mendadak saat ada orang yang tiba-tiba nyeberang dengan santai di depanku.)

Tapi, aku juga mikir, mungkin Allah sedang menguji apakah aku akan tetap berusaha shalat tepat waktu dengan luka-lukaku yang bakal terasa perih kalau kena air. Itu poin nomor dua. Cek! Memang masuk akal, tapi aku masih merasa ini nggak sesimpel itu. Mungkin ada sesuatu yang lain; hikmah dibalik peristiwa kecil ini.

Poin ketiga, aku mikir bahwa mungkin aku dibiarkan istirahat sejenak dari mengejar shalat tepat pada waktunya karena, yah well, Allah maklum dengan lecet-lecetku yang tak seberapa ini. Gagasan yang lumayan sedikit mencerahkan, tapi pemikirian itu justru bikin aku makin nggak enak karena merasa nggak layak banget di-‘manja’ begitu. Haha. – Cek!

Setelah itu…snap! Seketika itu pun aku tersadar.

Poin terakhir yang menurutuku adalah hikmah sebenarnya dari peristiwa hari ini: Aku berpikir bahwa Allah memberiku lecet-lecet ringan ini agar aku merenungkan “lecet” lain dalam tindakanku: yaitu rasa “keterpaksaan” dalam menjalankan shalat tepat waktu. Allah pasti ingin menyadarkanku tentang hal itu dalam ibadahku. Aku tidak sadar bahwa itu telah menjadi semacam “syahwat samar” kalau istilah Islami kerennya. Aku memang sesekali mulai merasakan itu, bahwa ketika mendengar panggilan adzan, aku agak merasa punya tugas yang harus segera dikerjakan dan itu membuatku makin sering dan gampang nge-blank saat shalat maupun berdoa. Aku seakan diingatkan kembali bahwa hakikat yang sebenarnya dari shalat itu adalah kebutuhanku sebagai manusia yang begitu tidak signifikan di jagat raya yang luas ini.

Shalat adalah seperti nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. (Kamu bisa aja nggak mengambilnya/melakukannya, tapi kamu akan kekurangan dan rugi besar.)

Dan yah, itulah hikmah dibalik peristiwa kecilku hari ini. Aku diingatkan untuk membenahi ibadah, mengembalikan “the right head” atau pola pikir serta niat yang benar dalam menjalankan ibadah yang merupakan kewajiban sekaligus kebutuhanku.

Ini kemudian mengingatakanku pada salah satu poin dalam potongan kata-kata mutiara kitab Al-Hikam, yang kira-kira intinya, Allah SWT tahu kita bisa lalai dan ibadah kita nggak bisa selalu sempurna, karena itu Dia melipatgandakan pahala ibadah yang kita lakukan. Subhanallah… Sungguh karunia Allah itu nggak putus-putus selama kita tetap mengarah kepada-Nya. Dan selalu ada hikmah dalam setiap persitiwa kecil maupun besar dalam kehidupan jika kita mau membuka mata hati dan pikiran. Aseekk… 😀

Iklan

4 pemikiran pada “Kebutuhan Akan Shalat

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s