Halloween Status Story

Waktu temenku ngomongin tentang Halloween di statusnya, aku spontan bikin cerita di komentarnya. Cerita horor komedi yang bener-bener iseng. Tapi, setelah itu temenku minta aku bikin cerita lagi di komentarnya. Dia lagi bikin ‘arisan’ di statusnya, yang memuat cerita-cerita seram dari temen-temennya yang lain. Hehe.

Akhirnya aku berusaha bikin juga cerita yang seram. Tapi kayanya usahaku nggak berhasil. Haha.

Berikut aku bagikan dua cerita yang kutulis di status temenku. Semoga bikin senyum, nyengir, ataupun ketawa. Yang penting semoga menghibur lah.πŸ˜€

Cerita #1

Gogol hampir berusia 10 tahun ketika ia berdiri melompat2 di beranda kamar seorang pemuda dalam kostum Power Ranger merah-nya. Laki-laki berusia 24 tahun itu menawarkan permen asal Gogol mau masuk kedalam kamarnya. Sebagai anak kecil, dia menuruti meski ragu-ragu.

Masa kecil Gogol pun terenggut sejak malam itu. Pemuda itu tidak pernah ditemukan.
24 tahun kemudian, Gogol menjadi Presiden AS dan terkenal karena kontroversi setelah ia meniadakan Halloween di seluruh Amerika.

Di kantornya, Gogol menyapa seorang pria tua yang duduk di sebuah kursi, yang diundangnya secara khusus. Pria tua itu adalah seorang pensiunan pejabat daerah, pria yang sama yang dulu memberinya permen, asal mau masuk ke kamarnya. Gogol mengambil sebuah pistol Magnum .44 dari lacinya. Terdengar suara yang keras dari kantor itu. Tapi terdengar sebagai musik yang indah bagi Gogol. Begitu indah sehingga kemudian ia menodongkan pistol itu ke pelipisnya sendiri. Dan ‘musik yang indah’ itu terdengar lagi.

Dua pria tewas di ruangan kantor itu di sore yang dingin bulan Oktober. Presiden yang baru mengembalikan Halloween dan semuanya kembali normal. Kecuali beberapa pelayan Gedung Putih yang mengaku melihat sosok transparan mantan Presiden Gogol berjalan keluar-masuk kantor Kepresidenan lalu menghilang kedalam tembok, dan mendengar suara laci yang terbuka sendiri. THE END

HAPPY HALLOWEEN… kikikikikik….πŸ˜€

Cerita #2

1982.

Inspektur Anwar adalah polisi yang berencana pensiun lebih awal ketika sebuah kasus kembali muncul. Cerita yang sama lagi sejak setidaknya 1973. Anak laki-laki diculik dari sekolahnya pada siang hari. Anak-anak ini tidak pernah berasal dari keluarga kaya. Usia mereka antara 9 hingga 11 tahun. Pelakunya semakin membuat polisi gila karena beberapa dari mereka ditemukan tersesat di suatu tempat yang acak, tanpa tanda-tanda kekerasan apapun. Kecuali, mereka bertingkah aneh. Setelah kembali kepada orangtuanya, anak-anak ini dilaporkan tak pernah bicara dengan keluarganya kecuali diperlukan untuk menjawab kata-kata singkat.

2011.

Putri dan rekan-rekannya bertepuk tangan, memenuhi ruang kontrol yang agak sempit itu dengan riuh sorak sorai yang meriah. Mereka baru saja sukses mengerjakan sebuah acara untuk sebuah produk di mal.

Dia pulang ke rumah, lelah namun puas. Sebuah foto masa kecilnya terpajang diatas sebuah buffet, mengingatkannya akan dirinya sendiri, seorang event organizer muda yang betah melajang meski usianya sudah menjelang 28 tahun.

Pada kesempatan berikutnya, timnya kembali dipekerjakan untuk sebuah acara pameran buku. Ada bilik-bilik yang berbentuk box tanpa atap dengan rak-rak tempat para penulis akan memamerkan dan membacakan karya-karyanya.

Putri memasuki aula itu untuk menyediakan sebuah kursi untuk seorang penulis berusia 70 tahun yang menulis tentang kecintaannya pada dunia kelautan. Saat itulah Putri mendengar seorang pemuda di seberang bilik itu membacakan bab pertama bukunya. Sejumlah pengunjung nampak berkerumun mendengarkannya.

Pemuda bermata sipit seperti orang Jepang itu membacakan bukunya yang berjudul “Be Found!” Yang nampaknya mengisahkan pengalaman masa kecilnya ketika ia diculik selama beberapa bulan pada tahun 1980-an, lalu ditemukan oleh seorang pria tua di pinggir sebuah perkebunan coklat. Namun Putri harus menyimpan rasa penasarannya. Terlebih ketika pemuda itu menangkap tatapan perempuan Sunda itu, yang membuatnya malu dan serba salah. Tapi justru dibalas dengan senyuman oleh laki-laki bernama Bobby Harvey itu.

Malam itu, Putri menelepon ayahnya. “Yah, apakah ayah ingat ada kasus penculikan anak… Di tahun 1980-an…”

“Ya… Penculikan itu tiba-tiba berhenti pada ahkhir tahun 1982. Memangnya kenapa, Nak?” jawab Anwar.

“Apakah Ayah ingat ada anak yang diculik bernama Bobby Harvey?”

“Um… Ayah nggak ingat tuh. Semua file sudah dipindahkan ketika Ayah pensiun. Memangnya kenapa, Putri?”

“Nggak apa-apa, Yah. Putri lihat orang itu hari ini. Dia menulis buku tentang pengalamannya…”

‘”Oh. Ya. Ayah juga pernah mendengar beberapa orang menceritakan pengalamannya pada tahun 1970-1980-an ketika menjadi korban penculikan.”

“Hm. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak-anak itu?”

“Mereka mengatakan, ada banyak cerita, perlakuannya berbeda-beda, meski Ayah yakin pelakunya adalah sama, melihat dari skema penculikannya. Ada yang mengatakan dia hanya tinggal di rumah si penculik selama beberapa minggu, diberi makan dan pakaian layaknya anak sendiri, lalu dilepaskan. Ada yang mengatakan mereka sempat disekolahkan, dan identitas mereka diganti, tapi pada akhirnya tetap dilepaskan.”

“Putri ingat Ayah bilang mereka bertingkah aneh.”

“Ya, ya. Betul. Tapi mereka kembali normal setelah beberapa bulan, bahkan tahun. Dan mereka tidak pernah mengatakan apa-apa tentang siapa penculiknya atau bagaimana semua penculikan itu terjadi pada keluarganya.”

“Hm. Oke, trims, Yah. Putri cuma penasaran aja.”

Keesokan harinya, ketika pameran buku itu akan berakhir, Putri dan timnya bersiap membereskan tempat itu karena akan segera dipakai lagi untuk penyambutan seorang tokoh politik.

Saat pameran itu baru mulai ramai, Putri mengintip dari sebuah sudut, kalau-kalau ia bisa melihat si Bobby itu lagi. Tapi satu setengah jam kemudian, ketika ia kembali mengecek, ia tidak menemukannya. Box-nya yang semula kosong, kini ditempati oleh seorang penulis novel wanita.

Putri menerima pesan singkat di ponselnya, yang mengatakan bahwa ia dibutuhkan di gudang tempat mereka menyimpan properti. Setelah tiba di tempat, nampaknya ia membutuhkan penerangan karena gudang itu begitu gelap. “Halo…? Jun…? Santi…? Jangan bercanda deh…” Kesal, ia membalik badannya. Saat itulah ia menyaksikan pintu satu-satunya di gudang itu ditutup dengan kecepatan yang mengerikan. Lalu terdengar langkah yang berlari-lari kearahnya! Putri gemetar. Ia melindungi wajahnya dengan kedua tangan sambil berteriak lirih. “Aaaaa…!” Kini ia bisa mendengar suara nafas orang di depannya, dan itu membuatnya jatuh terduduk.

“Ini aku,” kata suara seorang laki-laki.

Putri membuka mata dengan hati-hati. “Jun?”

“Bukan. Namaku Bobby Harvey.”

Nafas Putri tercekat. “Kamu penulis itu?”

Ia tidak menjawabnya. “Dengar, kau harus mengetahui sesuatu.”

“A..Apa?”

“Aku adalah korban penculikan lebih dari sepuluh tahun yang lalu.”

“Ya, a..aku tahu itu.”

Hening.

Tiba-tiba saja Bobby menarik lengan Putri hingga ia berdiri.

“Apa yang terjadi padamu saat kamu diculik?” tanya Putri, takut-takut, merasa lengannya nyeri oleh cengkraman laki-laki itu.

“Oh, itu. Sebenarnya dia menyuruhku, dan mungkin anak-anak yang lain, untuk tidak pernah menceritakannya pada siapapun. Dia punya cara-cara khusus untuk meyakinkan kami. Dia… Dia mengajari kami satu hal yang ia bilang akan berguna di masa depan. Seperti sekarang.”

“Apa…yang diajarkannya pada kalian?”

“Menyelesaikan sesuatu,” potongnya, terdengar tidak sabar.

Putri terdiam, bingung. “Menyelesa-…kkhhhh….!!”

Bobby menyerang leher perempuan itu dengan cengkraman sekaku baja. Cekikan tangan laki-laki itu seolah akan menghancurkan batang tenggorokannya kapan saja. Kedua bola mata Putri tenggelam kedalam kelopaknya yang terasa dingin oleh keringat, hanya menampakkan bagian putihnya dengan garis-garis urat yang merah darah. Kepanikannya membuatnya semakin tidak berdaya. Ia merasakan sakit yang membuat dirinya sendiri ngeri. Bobby membunuhnya dengan suara hentakan teredam dari dalam leher perempuan itu.

“Menyelesaikan apa yang dikerjakan orang-orang seperti ayahmu.”

Jangan bilang tulisanku nggak bagus, karena aku udah tahu itu. Wakaka. Makanya aku terus belajar nulis supaya lebih bagus. Aku yakin bisa, walau membutuhkan waktu bertahun-tahun. (Si malang yang optimis.)πŸ˜€

Ini ceritaku, mana rumahmu? Hloh!

Ayo, bagikan ceritamu juga yah.πŸ™‚

6 pemikiran pada “Halloween Status Story

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s