Big Show, Big Syukron

Alhamdulillah banget untuk karunia besar Allah hari ini. Lagi-lagi, aku pulang sambil senyum-senyum diatas motor setelah konsultasi hari ini. Di jalan, aku ngingetin diri untuk banyak-banyak ngucap Hamdallah karena karunia-Nya yang begitu… aku akan menyebutnya… keren!๐Ÿ˜€ Yang kemudian membuatku berbisik kepada Allah, “Thanks. Big show.”

Hari ini adalah kali pertama aku pergi konsultasi ke dokter sendirian, tanpa ditemani Makku. Tampaknya aku memilih hari yang bagus karena sore ini cuaca begitu cerah, hanya nampak sedikit awan hitam di ujung selatan. Saking bagusnya cuaca, aku sampe rada-rada berharap bakal hujan, karena aku udah sedia-sedia bawa jas hujan punya Bapak. Selama ditemani Makku, hampir setiap kali kita pergi konsultasi pasti kehujanan. Seingatku cuma satu hari kami bebas dari guyuran hujan. Karena itu aku rada ngerasa ngorbanin doi, tapi, sepanjang jalan, Makku justru sibuk ngerapetin bagian depan jaketku biar aku nggak masuk angin. Bagus banget yah jiwa seorang ibu. Hehehe.๐Ÿ™‚

Saat aku datang ke tempat praktek, suster masih bersih-bersih. Dokternya masih di rumah. Maklum, baru buka. Dokter buka praktek dari jam 4 sore sampe jam setengah tujuh atau jam tujuh, aku lupa. Rumah dokternya juga deket banget, cuma tinggal nyebrang doang, agak ke kiri dari rumah prakteknya. Istilahnya, kepleset kulit pisang juga udah bisa nyampe. Hehe.

Suster dan dokter langsung notice alias meratiin bahwa aku nggak dateng bareng Makku. “Belajar pergi sendiri, Dok,” kataku, setengah berbohong. White lie! Haha. Sori, Dok, ane kagak kamsud bohong. Cuz you’re a great person: my doc and motivator.๐Ÿ˜€ Alasan aku setengah bohong sebenernya karena Makku sempat pesen, ntar kalo aku pergi konsul sendiri, jangan bilang kalo doi pergi Haji, ntar takutnya obatnya dimahalin karena dikira kita orang kaya raya. Hahaha.

Itu mungkin common sense-nya ibu-ibu yang terbiasa ngatur perekonomian kerajaan keluarga. Tapi menurutku pribadi, kalau aku total bohong sama dokter, itu artinya aku merusak rasa hormatku sama beliau. Makanya aku karang alasan yang lebih bisa kuterima sendiri. Sungguh bukan sikap seorang samurai yang terhormat, tapi biarlah. Cukup jadi SEMURAIYAM aja. Haha. Maksa.๐Ÿ˜›

Awalnya aku rencana mau bilang kalau Makku ada pengajian ibu-ibu. Tapi itu kan botot, alias bohong total namanya.

Nah, berkah terbesarnya hari ini adalah, obatku udah dikurangi lagi dokter! Alhamdulillahirabbil’alamiin….๐Ÿ˜€

Sekarang obatku cuma dua macem. Zerlin dan Seroquel XR. Alganax alias Alprazolam dihilangkan dari resep. Dokter juga ngubah aturan minum. Karena aku bilang aku masih susah tidur teratur kalau tanpa Seroquel. Mungkin dengan tujuan supaya aku melatih jam tidur normal, sekarang aku kembali harus nenggak dosis penuh Seroquel 300mg, tapi dikelang sehari, jadi dua kali sehari aja. Belum tahu deh gimana nanti hasilnya. Moga-moga aku bisa ngatur jam tidurku.

Subhanallah… Bagiku, ini adalah berkah yang sangat, sangat menggembirakan. Aku harap Makku menelepon segera, supaya aku bisa nyampein perkembangan pengobatanku.

Aku senang dokter masih menanyakan beberapa hal yang menjadi concern utamanya. Bagiku dokter adalah perantara karunia besar Tuhan dalam hidupku. Dan orangtuaku adalah samurai-samurai pengasih yang tidak cukup jika kehormatan mereka sebagai ksatria digambarkan dengan kata-kata apalagi bentuk baktiku yang amat sangat sedikit sebagai anak.

Yang paling membuatku tergugah adalah bagaimana cara Allah mempersembahkan ‘pertunjukan besar’-Nya hari ini. Awalnya aku merasa ada sesuatu yang mengganjal, khususnya pas shalat Ashar sebelum aku berangkat. Aku ngerasa sulit sekali berkonsentrasi saat shalat dan dzikir. Pikiranku ngeloyor kemana-mana. Aku langsung teringet sama kata-kata dari kitab Al-Hikam, yang mengatakan bahwa salah satu tanda kekuasaan Allah adalah dengan menghijab diri-Nya dari kita dengan sesuatu yang fana/duniawi.๐Ÿ˜ฆ Tapi akhirnya aku sadar, hikmah dari berkah hari ini, setidaknya ada dua: bahwa Allah menghalangi ‘pandanganku’ terhadap-Nya, agar aku menyadari kuasa-Nya. Dan Dia memberiku berkah yang menyenangkan tanpa kusangka-sangka, agar aku, sebagai manusia, tidak mengklaim bahwa karunia itu adalah hasil dari usahaku sendiri. Subahanallah…

Sungguh, nafas pertama kita di pagi hari hanyalah satu dari karunia-Nya yang tak terbatas. Sekali lagi, Alhamdulillah…๐Ÿ™‚ *bukan syahrini mode on*๐Ÿ˜€

4 pemikiran pada “Big Show, Big Syukron

  1. itulah mengapa Dia mencipta alam semesta ini setelah Ia mencipta alam washilah, jabarut, malakut, mulki, baru alam semesta.. karena kita memang di beri keterbatasan pemikiran.. ibarat gardu listrik, gag mungkin dari rumah kita tarik kabel langsung ke PLTU๐Ÿ™‚

    makasii juga ampirannya di tempat saiia kang๐Ÿ™‚

    • oh gitu toh. saya baru tahu tentang tingkatan alam diciptakan seperti itu. terimakasih sharingnya mas.๐Ÿ˜€
      betul, kita, manusia memang memiliki banyak batasan dan selalu berubah-ubah. sementara Sang Khalik abadi dalam kedudukan-Nya, tidak memiliki awal dan akhir, tidak dipengaruhi ruang dan waktu.
      sama2. moga menjalin silaturahmi antar-blogger. hehe.๐Ÿ™‚

Tulis Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s